(More) Pratices Make Perfect!

Apa yang membuat seseorang bisa sukses di bidang apapun yang ia tekuni?

Jawaban versi saya salah satunya adalah rajin berlatih.

Tapi tunggu dulu. Rajin berlatih pun tidak lah cukup. Tantang diri Anda berlatih lebih dari tantangan standar yang akan dihadapi. Barulah kesuksesan akan mampir dengan mudah.

Ini cerita pengalamanku saat SD dulu. Aku sekolah di SDN 003 Talang Mandi, Duri-Riau. Aku ingat, mulai suka main volley dan sepak takraw sejak kelas 3. Dulu tanganku rasanya kecil sekali. Rasanya tak mungkin bisa main volley. Butuh energi besar untuk bisa memukul bola volley. Main takraw juga tak pernah terlintas dalam benak. Tapi ternyata bisa dijalani, dan menjadi hobi. Sampai sekarang, aku masih mengingat bagaimana menjadi toser dan juga menguasai bola takraw dengan baik. Aku bahkan mengoleksi bola takraw plastik saat ini. Kalau sedang iseng, main sendirian di Senayan saat weekend.

Latihan Volley Pakai Bola Basket: “Sesuatu deh”

Continue reading

Menjemput Jodoh Part 7 (Lamaran & Seserahan)

Bagaimana proses lamaranku bersama orangtua yang hanya berselang 2 hari jelang akad nikah? Apakah kami pakai adat Jawa saat lamaran? Apa pula cerita di balik sederhananya seserahanku? Apa kesibukanku bersama keluarga sehari jelang akad dan resepsi? Episode ini akan kita kupas tuntas.

Setelah rumah kontrakanku diterjang “Badai Katrina”, keadaan cukup memusingkan. Tinggal belasan hari jelang nikah. Aku hidup tunggang-langgang. Masih numpang di kos bu Bisono. Untung aku bertemu beliau dan baik hati menyediakan tempat penampungan.

Tak terasa, 3 hari jelang nikah. Papa-mama sudah datang dari Riau. Karena aku ada di kos dan persiapan nikah banyak yang belum beres, akhirnya papa mama menginap di kosku saja. Jujur, papa-mama belum begitu tahu apa saja yang musti disiapkan untuk seserahan dan lainnya. Jangankan itu. Calon menantunya saja mereka belum pernah lihat yang seperti apa bentuk-rupa-wujudnya. Jadi, kami perlu konsolidasi lebih erat agar persiapan matang. Kalau Papa-mama tinggal di hotel, tentu ribet urusannya. Koordinasi terbatas.

Untung orangtuaku tipe yang easygoing. Mereka tidak banyak menuntut ini-itu. Aku bertiga dengan orangtua sebenarnya masih terkaget-kaget, bisa menikah dalam waktu singkat dengan jodoh yang tak disangka-sangka. Dan rumah jodohku jauh pula. Dari ujung ke ujung, dari Barat (Riau/ Sumatera Barat) ke Timur (Jawa Timur). Ini seperti ungkapan when west meets east.

Aku kerja seperti biasa. Ketika jam kerja, Papa-mama biasanya jalan-jalan. Aku dibelikan baju baru, celana baru, dan barang-barang serba baru. Saat itu aku tak bisa mikir sebenarnya. Sudah sangat mepet, dan kondisi juga sedang cari rumah kontrakan baru untuk ditempati. Kan ga lucu, setelah menikah, lalu istrinya diajak ke kos yang sempit?

Malam hari, aku, papa, mama saling ngobrol. Kami tukar pikiran. Papa-mama nanya soal bagaimana karakter Andin dan keluarganya. Mereka belum pernah bertemu juga soalnya. Aku ceritakan sebisaku. Karena aku juga terbatas pengetahuan dan interaksi dengan keluarga Andin. Tapi, ditilik dari latar belakang orangtuanya, keluarga kami tidak jauh beda visi-misinya. Menurutku tidak akan jadi masalah untuk ke depannya. Akan mudah menyatukan karakter kami berdua. Itu keyakinanku.

Ini bisa jadi pegangan bagi Anda yang masih bingung, bagaimana menentukan apakah keluarga kedua calon mempelai cocok atau tidak. Bisa dilihat dari bagaimana cara mereka mendidik, visi mereka dalam menyekolahkan anaknya, etos kerja keluarga masing-masing. Semua hal detil bisa jadi pertimbangan. Kalau hampir mirip, bisa dipastikan adaptasi kedua keluarga bisa cepat.

Kembali ke ceritaku. Enaknya papa-mama menginap di kos, kami bisa tidur dempet-dempetan. Sesuatu yang jarang aku rasakan. Maklum, lebih dari 15 tahun aku merantau ke pulau Jawa, pisah dari orangtua. Paling ketemu pas lebaran.

Dipeluk mama saat tidur itu, rasanya nikmat. Rindu terpendam sekian tahun, bisa lenyap dalam sekejap.

Oia, aku hampir lupa. Ketika papa-mamaku datang ke Jakarta, aku sedang bertugas di sebuah pernikahan sepupu temanku, Jefri Abdullah. Ia memintaku mengaji di akad nikah sepupunya. Aku menyanggupi meski waktu persiapan nikahku sudah tinggal mepet. Minimal, dalam hitung-hitunganku, ini sejenis gladi resik jelang aku nikah. Melihat proses menikah orang lain sebelum nikah aku rasa penting, agar tidak nervous saat giliran kita menikah. Aku terbiasa jadi qori di acara nikahan. Jadi, kalau dihitung-hitung, sudah belasan kali aku menjalaninya. Melihat sang pengantin mengucap janji suci dari jarak yang sangat dekat. Kadang, rasa grogi mereka tertular padaku. Aku seolah merasakan bagaimana tegangnya menjadi pengantin.

“Latihan Nikah”

“Belajar” Akad Nikah

Continue reading

#KelasInspirasi: Penyemat Mimpi Siswa-siswi (Part 3)

“Grogol” di Kelas Perdana

Sebelum masuk ke #KelasInspirasi, kami kelompok 6 berkumpul, briefing akhir untuk segera memulai kelas yang sudah hampir jam 7 pagi. Kami terlihat agak nervous. Masing-masing menarik napas panjang mengusir galau.

Kami pun serempak saling memberi semangat. #KelasInspirasi siap dimulai.

Pertama kali akan masuk, ternyata sudah ada wali kelas mereka di kelas. Aku kebagian kelas 2. Imut dan unyuk-unyuk banget. Sebelum masuk, aku sudah siapkan strategi, bahwa di kelas 2 ini, aku harus mendongeng agar tepat dan cepat sampai di pemahaman anak yang masih kecil.

Awalnya ketika masuk, mengucap salam, selama 2 menit di awal, aku panik. Panik karena masih belum terbiasa, bagaimana kenalan dengan anak kecil, yang jumlahnya banyak, lalu bisa mencuri perhatian darinya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Aku jujur saja, takut gagal.

Beberapa kali bolak balik mengeluarkan peralatan “tempur” dari tas, untuk mengusir “grogol”. Tapi tetap tak berhasil. Sampai pada akhirnya, aku mendapatkan ide mengeluarkan bola takraw.

Iseng-iseng, aku tanya ke mereka, “Apakah ada yang tahu, ini bola apa namanya?” Ternyata mereka diam seribu bahasa. Sebagian lagi menggeleng tanda tidak tahu. Karena aku dari Riau, dan dari kecil suka takraw, jadi aku membaca bola ini sebagai alat penarik perhatian mereka. Meski mereka tak kenal itu bola jenis apa. Aku lalu menjelaskan bahwa nama bola unik itu adalah bola takraw.

Akhirnya, anak kelas 2 SD itu aku minta membereskan kursi dan mejanya. Peralatan kursi dan meja digeser sedikit ke arah belakang. Aku ingin anak-anak siswaku duduk melingkar di depan kelas, dan mengerumuniku, persis seperti orang yang sedang tukang jualan obat di terminal-terminal yang penuh sesak. Itu visualisasi yang aku coba bayangkan.

Kenalan dgn bola takraw: langsung senyum-senyum dan “cair”

Continue reading

#KelasInspirasi: Penyemat Mimpi Siswa-siswi (Part 2)

Survey Awal

Setelah selesai pertemuan pertama #KelasInspirasi, kelompok kami (6) yang bakal bertugas di SD Petojo Selatan 01, bersiap untuk bertemu membahas persiapan sebelum hari H. Kelompok 6 berkomunikasi lewat email. Pilihan tempat dan hari pun ditetapkan. Hari Senin, 24 Apr 2012, di Never Been Better Cafe milik salah satu personel kami, Achi.

Senangnya bukan main bisa kerja kelompok lagi seperti anak kuliahan yang punya proyek sosial, lalu ngumpul-ngumpul untuk persiapan. Wow, ini kegiatan yang sangat tepat, di saat kerja sudah terasa jadi rutinitas biasa.

Awal diskusi dengan teman-teman kami akan melakukan survey lokasi untuk mapping hari Senin atau Selasa, sehari-dua hari sebelum hari-H. Namun karena aku pikir waktunya terlalu mepet, aku tawarkan diri jadi surveyor ke sekolah tempat kita bertugas. Teman kelompok menyetujui. Akhirnya Jumat pagi buta sebelum berangkat ke kantor, aku mengajak serta istriku survey lokasi SD Petojo Selatan 01 di jalan Tanah Abang V.

Pagi itu kami disambut kepala sekolah Bu Lucy. Ngobrol tentang kondisi sekolah sebentar, lalu kenalan dan salaman dengan guru-guru yang sedang mengoreksi ujian murid. Kami keliling sekolahan, mencari spot yang bisa dipotret agar bisa diinformasikan nanti ke kelompok. Karena kesibukan Bu Lucy, kami minta tak perlu ditemani. Aku dan istri keliling sendiri, memotret kelas, pohon besar (Saengon) yang terbesar nomor 2 di DKI Jakarta, dan spot lainnya.

Pagi itu juga aku kirimkan foto ke kelompok. Berharap mereka punya gambaran lokasi dan suasana SD tempat mereka beramal di #KelasInspirasi. Aku percaya, persiapan yang matang, mengetahui dan menguasai medan yang akan kita jelajahi, adalah setengah menuju keberhasilan di hari-H.

Namun sayangnya, hari itu memang sudah tak ada kegiatan belajar-mengajar. Siswa baru saja selesai ujian. Mereka punya libur sehari sebelum masuk lagi Senin. Tapi tak apa. Minimal dapat sekilas bayangan dan beberapa informasi mengenai demografi siswa.

Selesai mengirim email foto sekolah, ini momen terberat. Kita pengajar #KelasInspirasi harus berpikir secara kreatif, bagaimana akan mempresentasikan materi yang akan kita bawakan, dengan cara yang tepat, seru, dan tepat sasaran. Indikatornya jelas: siswa mampu menangkap materi kita dengan riang gembira. Kalau mereka diam seribu bahasa, ini bisa gawat. Kalau mereka terlalu cuek atau ramai sendiri, ini juga bisa bahaya. PR terbesar para pengajar #KelasInspirasi adalah bagaimana bisa mencuri perhatian para siswa nantinya. Kalau presentasi di depan orang dewasa, mungkin kita sudah biasa. Tapi kalau di depan anak-anak, perlu trik khusus. Tak bisa disamakan treatment nya dengan orang dewasa.

Anak-anak lebih jujur dalam berekspresi. Kalau ia tak suka, ia akan tunjukkan, begitu juga ketika suka. Ia juga tunjukkan. So, moment mencari creative methode untuk menjalankan #KelasInspirasi ini sangat menegangkan. Bikin resah-gelisah. Aku yakin, pengajar lain juga merasakan hal yang sama. “Kalau begini seru ga ya? Kalau begitu, seru ga ya? Atau malah basi?” Otakku terus berpikir keras jelang hari H. Aku yakin, teman-teman lain juga mengalami dan mengangenkan fase ini.

Continue reading

Quote of The Day

“Jika kau melakukan kesalahan dalam bekerja dengan sebuah tim, maka tiga hal yang harus kau ucapkan: saya minta maaf’; itu adalah kesalahan saya; bagaimana cara saya bisa memperbaikinya? ” (Dr. Randy Pausch)

Galau, Pergi Sana!

Galau, Pergi Sana!

Dear all.

Kali ini aku menuliskan hal yang agak berbeda dari biasanya. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengirim e-mail dan komentar di blog, bernada curhat tentang apa yang dirasakannya mengenai pilihan jurusan kuliahnya. Dia habis membaca tulisanku judulnya “Memilih Pakai Hati”. Aku ingin para pembaca blogku mendengar juga kisah galaunya teman baruku ini. Semoga, kita semua bisa belajar bersama dari kisahnya. Bagi Anda yang masih muda, mudah-mudahan bisa mengambil hikmah. Bagi Anda yang sudah dewasa atau tua, mudah-mudahan bisa memberi nasehat, masukan, saran, kritik terhadap perasaan galau. Intinya Cuma satu: mari usir galau teman baruku ini, apapun saranmu akan sangat membantu. Selamat membaca!

Continue reading

Beri komentar di blog, malah diganjar hadiah. Mau?

Selamat kepada Puspa Wijitomo. Anda mendapatkan hadiah DVD Original “National Treasure 2″ dilakonkan oleh Nicolas Cage. Setelah menyeleksi semua komentar di tulisan “Nasehat Pernikahan Dari Bos”, saya meyakini, praktek “sayang ke mertua” yang dilakukan oleh keluarga Puspa Wijitomo adalah wujud bakti seorang anak manusia pada induknya, terbukti berdampak positif, dan mereka patut diapresiasi. Saya salut, angkat topi!

Segera konfirmasi alamat rumah Anda ke e-mail berikut: umarat.adlil@gmail.com. Hadiah segera dikirim ke TKP.

Mari, baca terus blog www.umarat.wordpress.com, beri komentar dan raih hadiah mengejutkan. Jgn sampai terlewat!

“Biasakan yang benar, jangan benarkan kebiasaan!”

Adlil Umarat

Follow me on twitter: @pukul5pagi

www.umarat.wordpress.com

Kopimu Rasa Lantai!

Selalu ada saja yang bisa kita nikmati di tengah kebosanan seperti menunggu pesawat di Bandara Soekarno-Hatta. Ya, sejak menikah, aku sudah 2 kali harus berpisah sementara dari istri, karena ia harus bolak-balik Surabaya-Jakarta, untuk mengurus thesis dan juga bisnis penyewaan alat bayi.

Jumat malam itu, 6 Januari 2012, aku pulang kerja dan menjemput istri di bandara. Ternyata, penerbangan malam hari tak bersahabat. Delay!

Kesimpulanku, lebih baik beli penerbangan sore. Kalau ada delay, tak terlalu malam menunggunya. Aku hanya bisa pasrah menunggu pesawat delay dari Surabaya. Malam makin larut. Jam digital di hape menunjukkan pukul 23.00 malam. Tapi demi istri tercinta, semua dijalani dengan hati senang. Bertemu dengan istri lagi setelah berpisah beberapa hari, memang ada sensasi tersendiri. Rindu-rindu gimana gitu.

Sembari membunuh waktu, aku keliling bandara. Dari ujung ke ujung terminal lain aku jalani. Mengamati banyak hal. Aku memang suka memperhatikan hal-hal baru, hal unik, hal yang mungkin menurut orang lain biasa, tapi menurutku bisa diambil hikmah di baliknya.

Semua keingintahuanku ini terhadap banyak hal tak lain adalah demi memperbanyak bahan bakar ide untuk menuliskannya. Mulai dari calo tiket, polah tingkah petugas cleaning service, calo taksi, dan lain sebagainya. Namun, terakhir yang paling menarik diamati olehku adalah saat ada pembersihan vending machine berisi kopi, milo, dan minuman hangat lainnya.

Vending Machine

Continue reading

Nasehat Pernikahan Dari Bos

Beberapa hari sebelum menikah, aku dipanggil bos ke ruangan. Aku kira kami akan bahas soal kerjaan. Eh, ternyata nyerempet ke arah jelang pernikahan. Bos mulai tanya soal bagaimana persiapanku, apakah masih ada yang kurang, atau sudah siap semua. Akhirnya pembicaraan kami mengarah ke pemberian tips menjalankan rumah tangga dengan baik. Bosku, pak Roziqin, telah menikah belasan tahun. Jadi, aku cukup yakin nasehatnya datang di saat yang sangat tepat. Di saat aku sedang sibuk baca-baca buku, mengumpulkan ilmu tentang menikah & berumah tangga.

Pertama, Pak Roziqin cerita tentang momen paling penting jelang nikah. Katanya, waktu antara Subuh dan Zuhur di saat aku yang rencananya nikah jam 8 pagi, itu adalah masa penting. Pentingnya, di saat Subuh, aku masih single. Semua pahala dan dosaku, aku yang tanggung. Aku murni hanya orang merdeka yang punya tanggung jawab pada diri sendiri. Namun, setelah Zuhur nanti, statusku sudah berubah. Tanggung jawabku juga sudah berubah. Aku tak single lagi. Aku nanti punya tanggung jawab atas orang lain. Aku bertanggung jawab penuh pada istriku. Baik-buruknya istriku, semua akan aku tanggung sebagai kepala keluarga. Perubahan status itu, tak bisa dipikirkan mendalam. Hanya bisa dirasakan sensasinya ketika menjalani kejadiannya sendiri. Continue reading

Menjemput Jodoh Part 6

Bersih-bersih Kontrakan

Pagi harinya aku agak pusing juga. Setelah bangun subuh, lalu shalat, aku bergegas pergi dari rumah kontrakan mbak Sari. Bingung entah kemana akan pergi. Mbak Sari pun aku sms, untuk rencana recovery  rumah kontrakan yang ambruk. Jawaban mbak Sari cukup mengagetkan. Ia ternyata masuk kerja pagi ini. Ia tak punya tukang untuk membenarkan rumah yang rusak. Malahan, aku dimintanya untuk mencari tukang. Sungguh, panas hatiku menerima jawabannya. Rasanya ia tak bertanggung jawab. Aku kan korban, kok malah disuruh mencari tukang untuk membenarkan rumah?

Aku sarapan dulu di warung. Makan indomie rebus seadanya. Belum mandi, belum sikat gigi, belum berbenah. Aku ingat, di rumah Bu Bisono ada ayah temanku-Dhuha—yang ahli pertukangan. Barangkali ia bisa membenarkan rumah yang plafondnya hancur. Ia kan punya rekanan juga yang bisa diajak membantu.

Akhirnya aku datangi rumah kos lama, rumah Bu Bisono. Aku ingin bertemu ayahnya Dhuha minta bantuan supervisi pertukangan. Minimal, ia bisa menaksir, berapa ongkos perbaikan rumah kontrakanku yang ancur lebur. Begitu masuk ke pagar lalu mengetok pintu, ternyata Bu Bisono sedang ada di luar rumah. Walhasil, aku berbasa-basi menyapa ibu Bisono. Aku bilang mau ketemu ayahnya Dhuha. Bu Bisono bertanya, ada apakah gerangan. Lalu tak sengaja, aku ceritakan niatanku untuk meminta bantuan supervisi pertukangan untuk rumahku yang kena musibah. Bu Bisono mengambil langkah cepat. Ia memanggil ayahnya Dhuha. Lalu memintanya untuk segera ke rumahku, minimal mengecek dan mengestimasi berapa lama dan berapa biaya perbaikannya. Padahal ayahnya Dhuha sedang memperbaiki aliran air yang macet di rumah Bu Bisono. Bu Bisono mengikhlaskannya.

Ayah Dhuha mengecek kerusakan rumahku. Ternyata menurutnya, tukang yang memborong rumahku ngibulin pemilik rumah. Kerangka atas rumah sangat ringkih. Saat plafonnya jatuh semua, besi rangkanya malah bengkok dan patah. Mengenaskan.

Hasil pemeriksaan Ayahnya Dhuha menyimpulkan bahwa kondisi kerusakan sangat parah. Perlu waktu cukup lama untuk mengganti semua rangka dan plafond. Tidak bisa hanya satu orang. Harus beberapa. Ayahnya Dhuha kemudian melaporkannya ke Bu Bisono perihal rumahku itu. Setelah itu, ternyata secara mengejutkan, Bu Bisono mengajakku tinggal di rumahnya. Kebetulan ada kamar kos yang kosong. Ia langsung memberi kunci kamar dan pagar. “Sudah, tinggal di sini saja dulu sementara. Silahkan pakai kamarnya,” ujar Bu Bisono. Wah, alhamdulillah. Aku sangat bersyukur. Seumur hidup, rasanya, aku sering bertemu orang-orang super baik seperti bu Bisono. Apalagi saat-saat genting. Dulu di Depok, aku dekat dengan Mpok Ani penjual nasi uduk yang sangat akrab. Sekarang, Bu Bisono juga demikian. Baiknya sudah seperti ibu sendiri. Allah mendatangkan pertolongannya tepat di saat hambaNya membutuhkan. Terima kasih Allah.

Aku segera naik ke kamar yang kosong itu. Ketika ke toilet, aku ketemu mas Zul. Tetangga kosku sebelumnya. Ia menyapaku. Aku bilang sudah pindah, namun lagi ada musibah. Ia pun menawarkan agar aku istirahat di kamarnya saja. Mungkin ia kasihan juga melihat tampangku yang kusut. Kebetulan aku bawa laptop dan peralatan elektronik lainnya yang basah. Aku pun menerima tawarannya. Di kamarnya ada tv, kulkas, dan lengkap. “Mas, silahkan dipakai. Ada makanan juga di kulkas.” Wah, dapat kebaikan lagi dari orang lain lagi. Alhamdulillah. Barang-barang elektronik  segera aku jemur di kamar mas Zul. Kamarnya terkena sinar matahari pagi. Ia tak ragu memberi kunci kamar cadangan kepadaku. Ia pun lalu berangkat kerja.

Aku tinggalkan semua barang di kamar mas Zul. Lalu aku mulai bergegas ke kontrakan yang hancur lebur. Kali ini tujuannya untuk membersihkan puing-puing yang tersisa, lalu mengepel rumah tersebut.

Pertama kali masuk rumah kontrakan sangat shock. Ternyata, di saat terang, kondisi rumah terlihat lebih parah. Tetanggaku yang rumahnya juga rusak, kebetulan dihuni banyak orang. Sekitar 5 orang. Jadi mereka gotong-royong membersihkan rumah mereka dari puing-puing. Sementara aku sendiri, dengan kerusakan yang nyaris hampir sama, hanya membersihkannya sendiri. Seharusnya ini tanggung jawab mbak Sari selaku pemilik rumah.

Pertama Kali Buka Pintu Pagi Hari

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 324 other followers