Lost in the USA: “Ini Film, Bukan Buku!”

“Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan” (Friedrich Schiller, Penyair Jerman)

Itulah ungkapan filusuf ternama Jerman, yang rasanya bisa sangat pas menggambarkan apa yang diceritakan penulis Lost in The USA. Ini merupakan novel yang based on true story, yang benar-benar membuat mata terbelalak membacanya, jantung selalu berdegup kencang, dan tak bisa stop, hingga kita “dipaksa” harus hari itu juga menyelesaikan bacaan kita hingga tamat. Lalu ketika selesai membaca keseluruhannya, kata-kata yang terucap dari mulut saya adalah:

“Ini novel keren pake BANGET!”

Buku Lost in The USA

Apa yang membuat novel ini keren banget? Menurut saya ada beberapa hal yang berhasil saya tandai sebagai nilai kuatnya. Pertama, novel ini merupakan salah satu bentuk cerita bagaimana ada kegilaan tindakan dari seorang anak muda, nekat keliling dunia, bermodal tekad saja. Yang lebih gila lagi adalah ayahnya. Ayahnya memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada anaknya untuk keliling dunia, tanpa ada kepastian yang meyakinkan. Apa ia tidak khawatir terhadap nasib anaknya? Bagaimana kalau nanti anaknya…..bla bla bla… Ketakutan-ketakutan itu tidak meruntuhkan rasa percaya ayah terhadap anaknya. Keren, luar biasa.

Kedua, novel ini sangat inspiratif karena mengajarkan kita untuk bisa bangkit lagi, meski kegagalan datang silih berganti. Fathi, si aktor utama, benar-benar memegang teguh bagaimana ia yakin dan tidak putus asa mencoba sampai berhasil. Daya tahan, daya banting, daya kerja, benar-benar teruji di sini. Ini sebuah karakter yang seharusnya banyak dicontoh oleh gen Y dan Z sekarang yang rata-rata dianggap gampang menyerah ketika “disentil” sedikit oleh pihak lain.

Ketiga, banyak sekali twist cerita yang membuat novel ini begitu menarik untuk segera dituntaskan hingga akhir. Ketika Anda sedang terjebak dalam satu twist cerita, jangan khawatir, ada twist yang lebih ‘edan’ lagi, yang akan mengagetkan Anda. Seperti misalnya ketika aktor utama bertemu Fahmi di jamuan meeting. Fahmi dulu menolak Fathi untuk bekerja dengannya. Namun sekarang, si aktor utama malah sudah jadi ahli mengoperasikan mesin TCR15. Di sana terlihat, bagaimana jiwa besar bisa tetap dikedepankan, meski bisa saja membalas perlakukan Fahmi secara negatif. Ini seperti pembuktian yang ciamik nan elegan.

Keempat, membaca buku ini membuat kita kangen sama orangtua kita. Khusus buat perantauan seperti saya, dimana orangtua saya di Sumatera, sementara saya di Jawa, maka membaca buku ini adalah pemantik yang memanggil saya untuk pulang ke Sumatera. Bagaimana kangennya aktor utama kepada orangtuanya saat-saat dia menelpon, lalu bagaimana si aktor utama melayani orangtuanya saat mereka datang mengunjungi negara mukim dan diberikan fasilitas terbaik, tanpa tedeng aling-aling memikirkan harga yang harus dibayar. Itu something yang ngena banget. Mumpung masih punya orangtua lengkap, saya terdorong untuk menerapkan ilmu yang diberikan oleh penulis dalam hal bagaimana cara melayani orangtua kita selagi mereka masih hidup. Penulis berhasil mengajarkan kita cara birrul walidain, tanpa menggurui.

Kelima, jika Anda jeli ketika membaca, Anda akan menemukan titik dimana Anda harus ambil napas, merenungkan paragraf per-paragraf, dan merasakan bahwa kalimat yang barusan Anda baca adalah quote yang sangat powerful, tajam, reflektif dan menggerakkan. Anda akan diajak menjalani PIT STOP lewat quote inspiratif dalam novel Lost in The USA.

Keenam, saya ingin menegaskan bahwa dari pengalaman saya sebagai Program TV Analyst di stasiun tv swasta selama 7 tahun 8 bulan–dimana tugas saya salah satunya adalah menjadi reviewer terhadap film yang akan dibeli—maka saya harus katakan bahwa sesungguhnya ketika saya membaca novel Lost in The USA, saya sebenarnya tidak sedang membaca sebuah novel, tapi saya seperti sedang menonton film. Pikiran saya menerawang dengan sendirinya. Ceritanya hidup. Twistnya menarik. Temanya kuat. Pesan moral tumpah ruah tersebar dimana-mana. Novel ini sangat menggerakkan. Saran saya, sebaiknya semua Production House di Indonesia siap-siap antri untuk membeli lisensi dan tanda tangan penulis novel ini. Novel yang sangat Filmable banget alias layak difilmkan.

Sekali lagi saya tegaskan perasaan saya ketika membaca novel ini, “Ini film, bukan buku. Ya film Lost in The USA”. Selamat hunting bukunya kawan! Manfaatkan momentum ramadan ini untuk berubah. Salah satunya berubah lewat pemicu yang tepat: membaca buku Lost in The USA.

Salam,

Adlil Umarat

–Childhood Optimizer Trainer—

08111170128

Beli 1 Comel, Manalah CUKUP?

Sudah lama saya kagum sekali dengan teman saya yang satu ini. Kita tidak pernah kopi darat, tapi kita pernah satu organisasi di kampus dulu. Dia lalu bekerja di sebuah stasiun televisi ternama. Aku terus memantau kiprahnya dari jauh.

Tak berapa lama, waktu terus berjalan. Dia memutuskan resign dan memulai usaha baru. Aku tetap memantaunya. Apa sebenarnya yang ia lakukan? Kenapa ia berani resign dari perusahaan bonafid, yang sebenarnya satu grup dengan tempat kerjaku dulu? Aku akui, keputusan itu butuh nyali yang besar di tengah perekonomian yang tak terlalu baik. Semua status update-nya kuikuti. Ada nomor Whatsapp, aku ikuti. Aku ikuti inovasi-inovasi produk yang ia buat.

Sepertinya ia begitu passionate berkecimpung di dunia karya ilmiah. Agaknya sejak dulu itu adalah ekspertisnya. Beberapa kali jadi pembicara atau juri atau mentor, entahlah. Tapi semakin hari, peran dan karyanya semakin jelas. Ia memainkan peran sebagai entrepreneur muda yang juga jadi dosen di universitas swasta. Bisnisnya makin berkibar.

Suatu kali, aku lihat produknya di website. Aku pesan. Afiqah penasaran melihat botol jar lucu gambarnya, karena ada cokelat-cokelatnya. Setelah pesan sekali, Afiqah ketagihan. Kalau ia makan, selalu cemang-cemong. Sekali pesan, tidak bisa hanya pesan 1-2, tapi harus 6. Kenapa? Karena selain Afiqah, emak bapaknya juga ketagihan. Satu rangkaian frase buat produknya adalah: ENAK BANGET!

Nama produknya adalah COMEL. Websitenya adalah: http://www.steakotakingdom.com/

Nama teman saya itu adalah Andy Setyawan.

Dan ini adalah foto Afiqah, sedang makan COMEL yang lezat. Beneran, kangen COMEL, nih!

Comel

Alhamdulillah, Afiqah Anak Singkong

Saya sedang di rumah menemani Afiqah bermain. Teman Afiqah, tetangga kami, turut serta bermain di ruang tamu. Terjadilah percakapan.

Afiqah: Ayah, aku mau singkong.

Ayah: Oh ya. Silakan ambil sendiri.

Ucuk-ucuk Afiqah ambil sendiri piringnya dan mengambil singkong yang sudah direbus manda Andin Garindia tadi pagi. Afiqah melahap 2 potong besar singkong.

Lalu di sela-sela makan, ia promosi ke anak tetangga. “Singkong ini lezat lho? Enaaaaakkkk sekali.”

Saya menawarkan kepada anak tetangga itu, apakah ia mau singkong juga atau tidak. Ia mengernyitkan dahinya tanda heran. Lalu dijawab, “Nggak suka singkong. Sukanya roti #$XYZ* yang di mall. Ada keju, ada cokelatnya.”

Illustration picture is taken from bing.com

Illustration picture is taken from bing.com

Setelah itu saya merenung, betapa setelah Afiqah masuk sekolah ke Batutis Al-Ilmi, ia sudah berubah jadi anak singkong. Ia jadi penyuka jajanan pasar yang dibuat homemade. Ia suka juga pisang kepok rebus. Ia juga suka sayur bening, dan jenis sayuran lain yang dimasak ala rumahan. Di sekolahnya, ia terbiasa makan makanan yang dibuat oleh orang dapur Batutis. Afiqah jadi tidak susah lagi makannya sekarang. Ia bisa bersyukur atas semua nikmat yang terhidang di meja makan karena di sekolah, guru menstimulus murid agar bersyukur atas makanan yang bisa hadir di atas meja makan. “Alhamdulillah, teman-teman, hari ini rezeki kita adalah tempe, tahu, sayur oyong,” begitu pijakan dari gurunya sebelum makan dan sebelum memulai doa.

Dari sini, murid harus makan sesuai kebutuhannya. Kalau ambil banyak, ditungguin sampai piringnya licin. Kalau ambil sedikit, dan masih lapar, bisa tambah nasi lagi. Kalau ada lauk tersisa, harus dibagi ke sejumlah murid (besaran potongannya). Bisa sekalian belajar matematika dalam wujud kongkret. Kecuali jika ada murid yang mengikhlaskan untuk tak ambil bagiannya. Ternyata, dari meja makan saja, kita bisa belajar banyak hal.

Alhamdulillah, Afiqah bisa diajak makan apa aja. Makanan mahal, makanan murah, semua bisa. Ia mengerti apa tujuan makan. Ia juga tahu khasiat yang terkandung di dalam makanan. Ia mengerti karbohidrat buat energi ketika bermain, protein yang bisa bikin tinggi badan, vitamin yang bikin sehat dalam buahan dan sayuran.

Alhamdulillah, Afiqah adalah anak singkong. Saya bersyukur atas hal itu. Orangtuanya merasakan betul manfaatnya. Selain hemat, tidak perlu beli makanan mahal di mall, kami juga terhindar dari makanan berpengawet dan merusak badan.

Adik Untuk Afiqah

Hari Kamis, 26 Mei 2016, saya baru saja pulang dari roadshow sebagai Ketua Ikatan Alumni Rumah Kepemimpinan (IA RK) sekaligus melaksanakan riset MONEV (Monitoring dan Evaluasi) ke Alumni RK Jogjakarta dan Surabaya. Saya pergi sejak hari Minggu, dan baru tiba kembali setelah berpisah dengan Afiqah selama 4 hari 4 malam.

Sesampainya di bandara Halim Perdanakusuma, saya naik Grabcar menuju Batutis Al-Ilmi di Pekayon-Bekasi. Saya sudah rindu sekali rasanya bertemu buah hati nan ceriwis, Afiqah Humayra Umarat.

IMG-20160528-WA0003

Sesampainya di Batutis, saya mengendap-endap, mengintip dimana Afiqah berada. Lalu saya berdiri seperti patung di pojokan sekolahnya. Saya mengamati, Afiqah sedang mengambil air minum bersama tantenya, Amirinnisa. Oh ya, si tante kebetulan sedang belajar dan mendalami ilmu Metode Sentra di Batutis. Praktis, hampir seluruh keluarga kami ingin terjun mendalami ilmu pembangunan karakter anak usia dini ini.

Dalam beberapa detik, Afiqah sadar, ada orang yang mengamatinya dari jauh. Mata ketemu mata, ia pun kaget, dan langsung melonjak girang-gembira. Ia langsung berlari ke arah saya, “Ayaaaaaah…….”

Afiqah memeluk erat tubuh saya, dalam dekapan penuh makna. Ada rasa kangen yang membuncah, yang kemudian pecah, ditutup dengan senyuman yang sumringah.

“Kirain Afiqah siapa tadi….eh tahunya Ayah datang….” Ia lalu memperagakan ulang kekagetannya melihat ayahnya ketika sedang asyik mengambil minum dari galon di pojokan sekolah. “Tadi Afiqah kan lagi di sini…..lalu ayah….bla bla bla…” sambil ia reka ulang.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah sebuah kenikmatan luar biasa. Klasik. Seorang ayah pulang dari sebuah perjalanan, ia kangen anaknya, dan anaknya juga kangen, lalu terjadilah peluk-pelukan ala India-Indiaan. Sedikit bumbu drama, tapi saya menyadari bahwa itu adalah my very precious moment sebagai ayah. Saya senang, bahagia, bangga, pulang disambut anak saya dengan kondisi ia sudah menanti-nanti sebelumnya. Saya merasa menjadi ayah yang dirindukan, bukan ayah yang menyeramkan.

Dalam sebuah seminar parenting yang disampaikan oleh Ustadz Arifin Jayadiningrat beberapa tahun lalu, beliau menyampaikan tips parenting, bahwa untuk mengetes apakah anak kita dekat dengan kita, coba lihat dan amati, apakah anak kita berteriak girang ketika kita pulang kerja, atau malah ia memperlihatkan gelagat ketakutan dengan “kabur” atau masuk kamar, menghindar bertemu dengan kita. Apakah ketika kita datang, senyum bahagia, gelak tawanya tetap tersungging di mulutnya, atau suasana berubah jadi tegang benderang dan penuh hening? Alhamdulillah, saya dan istri bersepakat untuk menciptakan suasana bahagia, ceria, penuh canda tawa di rumah. Tidak ada ketegangan. Anak harus bahagia bertemu saya. Bertemu ayah artinya akan bertemu kesempatan main penuh makna bersama. Itu strategi kampanye yang kami atur buat Afiqah. Alhamdulillah, so far berhasil. Saya ingin kebahagiaan ini tetap berlangsung hingga kapanpun.

Karena belum shalat, akhirnya saya memutuskan untuk berwudhu, dan numpang shalat di Sekolah Batutis. Begitu mau shalat, Afiqah berkomentar, “Yah, ayah shalatnya sendiri, dapat pahala satu donk?” Hah? Benar juga nih perkataan anak kecil. “Ayo makanya, Afiqah ikut shalat sama ayah ya?” rayu saya padanya.

“Kalau jemaah, dapat pahalanya berapa?” selidik Afiqah. Sebenarnya ia sudah tahu, tapi pengen ngetest ayahnya. “Oh, kalau berjemaah, pahalanya 27 kali.”

“Kalau jemaah, Allah bilang apa?” tanya lagi. “Oh, kalau shalat jemaah, Allah bilang, nah….ini shalat jemaah, dapat 27 kali pahala…”

Sepertinya ada materi pijakan dari sekolah yang menempel di kepalanya, hingga ia ingin mengulang-ulang hal ini, terkait pahala shalat berjemaah.

Afiqah akhirnya ambl wudhu juga. Seperti biasa, anak kecil ini tidak mau dibantu. Ia terbiasa dididik di sekolahnya untuk mandiri. Meski percikan air itu membasahi beberapa bagian bajunya, tak apa. Ia butuh diberi kepercayaan dan kesempatan untuk berwudhu sendiri. Ia berkuasa atas dirinya sendiri. Saya percaya itu.

Selesai wudhu, kami pun shalat berjemaah, setelah menggelar sajadah yang dibagi satu berdua. Saya shalat, Afiqah ada di samping. Tak sampai beberapa rakaat, ia sudah kabur main ke tempat lain. Akhirnya saya tetap lanjut shalat sendiri. Ternyata, ia belum bisa fokus saat itu. Tak apa. Tadi shalat Zuhur di sekolah, pasti ia sudah shalat berjemaah juga, pikir saya. Tapi, begitu shalat hendak berakhir di rakaat empat, Afiqah muncul lagi. Selesai salam, Afiqah turut serta berdoa. Bahkan, ia meminta saya untuk berdoa khusus agar segera diberikan adik, “Ayo ayah minta adik, doa sama Allah…” Di dalam hati saya tersenyum, kenapa ini Afiqah? Selesai saya berdoa, giliran Afiqah berdoa dalam lafal yang terdengar jelas oleh saya. Setelah mendoakan kedua orangtuanya dalam bahasa Arab, lalu ia terjemahkan ke bahasa Indonesia. Rasanya saat itu, mendengar kefasihan doanya, melihat kepolosannya sebagai anak kecil, jadi gemeeeeessss banget. Terlebih doanya ditutup dengan doa minta diberikan adik. “Ya Allah, berikanlah Afiqah adik yang pintar, yang nurut…..Amin…”

Dari belakang saya hanya senyum-senyum saja. Anak kecil ini, benar-benar deh.

Pun ketika shalat Ashar tiba dan saya selesai shalat, Afiqah mengingatkan kembali perihal doa minta adik ini. What? Ini sudah jadi rutinitas setiap selesai shalat jadinya. Afiqah sudah ada di level pengen banget nget nget punya adik.

Tidak cukup Ashar, saat kami shalat jemaah di waktu Maghrib, selesai pulang dari Batutis, lagi-lagi Afiqah meminta saya berdoa tentang minta adik. Lengkap sudah. “Teror dilancarkan di semua shalat fardhu”. Segitu persistence-nya Afiqah ingin punya adik. Mungkin ini saatnya kami tancap gas lagi untuk berikhtiar menghadirkan adik bagi Afiqah. Kami lihat, beberapa kolega dan sahabat kami sudah ngebut nambah anak jadi 2, 3, 4. Rasanya kok seru juga ya punya banyak anak. Hidup keluarganya pasti lebih dinamis. Bayangkan, ada 2, 3, 4 krucil yang mengerumuni Anda, saat Anda pulang bekerja. Rasanya pasti lebih maknyus dan makjleb daripada hanya satu krucil saja. Nambah anak lagi, akan menaikkan level hidup jauh lebih tinggi, karena tantangan dan keseruannya akan sangat berbeda.

Bismillah, jika Allah berkenan, kami ingin memberikan Afiqah seorang adik, lewat proyek besar berhastag #AdikUntukAfiqah.😉

Doakan proyek besar kami sukses ya, kawan-kawan…..

Kepingan Koin Itu, Bikin Haru

Banyak orang bertanya, mengapa saya begitu berani pindah haluan ke dunia pendidikan di Batutis Al-Ilmi yang notabene sekolah untuk kaum dhuafa? Padahal sebelumnya karir sudah enak di TV. Pertanyaan-pertanyaan ini memang tidak mudah dijawab dengan gamblang. Namun kisah pagi ini sepertinya mampu menjawab salah satu alasan mengapa keputusan berani itu saya ambil.

Rupiah demi rupiah

Pagi ini saya dikejutkan dengan cerita dari Pak Yudhistira tentang orangtua murid Batutis Al-Ilmi yang tiba-tiba datang ke sekolah dan menyerahkan segepok kumpulan uang koin sejumlah Rp 150.000. Uang tersebut diberikan oleh orangtua murid tersebut sebagai infaq uang makan anaknya selama sebulan. Bu Siska dan Taya awalnya tidak ngeh tentang segepok kumpulan koin itu. Mereka bertanya-tanya, siapa yang mau tukaran uang koin? Ternyata, petugas TU sekolah menyampaikan bahwa uang tersebut adalah hasil keringat dari salah satu orangtua murid yang diserahkan tadi pagi.

FYI, Sekolah Batutis Al-Ilmi adalah sekolah bagi kaum dhuafa. Jumlah persentase siswa dari keluarga dhuafa sebanyak 70% dan 30% sisanya adalah kalangan mampu. Ada subsidi silang dari siswa dari kalangan yang mampu untuk biaya operasional sekolah. Banyak juga infak, shadaqah, zakat dari banyak orang yang concern dengan dunia pendidikan anak usia dini.

Pendanaan lain dari mana? Sisanya, Tim Batutis Al-Ilmi berjuang peras keringat banting tulang mencari pendanaan sana-sini. Lewat pelatihan Metode Sentra, penjualan buku, penjualan majalah, konsultansi sekolah yang ingin hijrah ke Metode Sentra, seminar parenting dengan tema based on request, dan kegiatan kreatif lainnya untuk menghasilkan pundi-pundi bagi pembiayaan operasional sekolah.

Kembali ke cerita di atas. Istimewanya dari infaq koin senilai Rp 150.000 itu dilakukan oleh orangtua dari tergolong dhuafa. Anda bisa bayangkan, bagaimana proses orangtua tersebut secara telaten mengumpulkan satu demi satu koin tersebut. Jika dalam sebulan ada 30 hari, maka 150.000/30 hari = Rp 5.000/ hari. Artinya, orangtua murid itu mengumpulkan 10 koin Rp 500 untuk biaya makan siang dan snack setiap hari di sekolah dalam sebulan.

Orangtua murid itu boleh saja tak mampu secara ekonomi, tapi semangat dan perjuangannya untuk tak melulu menengadahkan tangan agar terus dibantu, dikasihani, patut diacungi jempol.

Saya membayangkan bagaimana perjuangan yang persistence dari orangtua murid tersebut. Itu sangat mempengaruhi semangat kami di Tim Batutis Al-Ilmi. Temuan-temuan ajaib ini kadang jadi charger yang memenuhkan lagi semangat kami untuk berjuang membangun Batutis Al-Ilmi jadi lebih baik lagi.

Saya ingin sekali bertemu dan mewawancarai orangtua wali murid tersebut. Nantikan reportase mendalam tentang koin perjuangan yang bikin haru itu.

Anda ingin turut serta membantu Batutis Al-Ilmi agar lebih maju? Hubungi saya di nomor 08111170128 atau kontak ke email saya: umarat.adlil@gmail.com. Bantuan tidak harus berupa uang. Bisa memberikan tenaga, link jaringan sosial, mempertemukan kebutuhan training parenting di lingkungannya (tempat kerja atau rumah), bisa sharing soft skill, atau bisa macam-macam bentuknya. Yuk, turun tangan bantu Batutis Al-Ilmi. Saya tunggu ya, bro and sis!

Bakso U* & Adu Main Peran

Bakso U* pertama kali istilah itu muncul lewat kejadian spontan dialog singkat antara Afiqah dan Bu Imas, guru Main Peran di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Pekayon-Bekasi. Awalnya saya menjemput Afiqah pulang sekolah. Pas jalan menuruni tangga, ternyata kami bertemu Bu Imas yang sedang duduk di sebuah kursi panjang. Ia terlihat lelah, matanya sayu. Bu Imas itu kalau ngajar sepenuh hati. Wajar jika energinya terkuras habis.

Saat kami berpapasan setelah turun dari tangga, terjadilah dialog antara Bu Imas dengan Afiqah. Intinya, Bu Imas menyebutkan dirinya ingin sekali makan bakso. Entah siapa yang memulai duluan, tapi ujung pembicaraan tersebut mengarah pada sebuah kesepakatan. Afiqah berjanji untuk membawakan bakso U* untuk Bu Imas. Ia berdialog sebentar dengan abang Bleki (tokoh imajiner Afiqah yang direpresentasikan lewat boneka beruang hitam dan saat itu Bu Imas tidak tahu bahwa Abang Bleki adalah fiktif bukan tokoh nyata).

Alamak, kalau sudah berjanji, mesti ditepati. Bagaimana ini Afiqah berjanji pada Bu Imas? Ayahnya yang pusing. Hari itu kalau tidak salah Afiqah baru saja ikut kelas Main Peran bersama Bu Imas. Jadi materi Main Peran mungkin masih melekat hangat di ingatan Afiqah. So, wajar saja terjadi pembicaraan akrab diantara kedua insan tersebut. Aku pasrah saja menjadi pendengar sambil senyum-senyum meringis. Kenapa? Karena setiap janji harus ditepati. Kembali ke sana lagi pikiranku melayang. Meskipun aku tahu bahwa Bu Imas sedang bercanda.

Bu Risna & Bu Imas (pink) outing ke Bandung

Bu Risna & Bu Imas (pink) outing Batutis ke Bandung

Menjadi orangtua dengan pendidikan anak Metode Sentra, kita tidak boleh terlalu reaktif dalam merespon apapun kejadian. Dulu mungkin aku dan Andin masih tertanam tipe kaget-kagetan, “Masya Allah….Afiqah… Astaghfirullah…Afiqah…Ya Allah…Afiqah….”. Nah kalau sekarang, sudah ada remnya. Kami bisa kontrol diri. Tidak semua hal itu harus ditanggapi berlebihan. Biasa aja. Santai. Hadapilah hidup ini dengan santai. Jangan panikan. Beri anak ruang untuk berekspresi dan mengeksplorasi hal yang ia sukai. Meski dampaknya akan berimbas kepada kami. Misalnya rumah jadi lebih berantakan, tembok jadi tercorat-coret, atau si anak main kotor-kotoran tanah dengan senyum nyengir. Kami benar-benar belajar hal yang esensial dengan mengadopsi Metode Sentra ini sebagai salah satu tools dalam membangun karakter Afiqah.

Hari “Penagihan”

Keesokan harinya, tak sengaja Afiqah berpapasan lagi dengan Bu Imas. Kebetulan aku juga sedang berada di lokasi Batutis Al-Ilmi. Tempatnya kan tidak luas, jadi mudah menangkap kejadian apapun di lingkungan sekolah.

“Eh Afiqah….kebetulan ketemu lagi. Mana bakso U* yang dijanjikan? Bawa gak?” tanya Bu Imas.

“Hmmm…” Afiqah tampak sedang mikir.

Dalam hati aku berpikir, nah bagaimana nih Afiqah menanggapi janji yang telah ia utarakan sendiri kemarin. Kira-kira akan seperti apa responnya? Aku masih harap-harap cemas melihat respon natural anakku si pipi mentul ini.

Sejenak Afiqah berpikir, lalu ia segera merespon sapaan Bu Imas. “Ada kok.” Afiqah menggerakkan badannya ke arah belakang. Ia seolah-olah sedang membawa bakso dalam box yang diselempangin ke belakang punggungnya. Ia putar box bawaannya ke arah depan, lalu ia buka tutupnya dan ia berujar, “Ini bakso U*”

Aku kaget bukan kepalang. Tak menyangka, Afiqah ternyata menjawab tantangan dari Bu Imas itu dengan bermain peran, karena ia tahu sedang berhadapan dengan guru Main Peran dan pembicaraan kemarin adalah bagian dari pembicaraan dolan-dolanan Main Peran diantara mereka berdua. Bu Imas sejatinya memang bernada bercanda dalam meminta bakso karena Afiqah pamer cerita bahwa punya bakso U* yang enak untuk ditawarkan.

Kalau dipikirkan serius, maka rumusan bakunya adalah semua janji harus ditepati. Tapi untuk kasus Afiqah dan Bu Imas, ada kadar candaan yang tak perlu ditanggapi terlalu serius banget. Ada ruang imajinasi yang bermain diantara Bu Imas dan Afiqah di hari kemarin dan hari ini. Namun, diriku masih terjebak pada pemikiran, Afiqah sudah kadung berjanji. Kira-kira bagaimana menepatinya ya?

Bu Imas yang melihat respon Afiqah ternyata juga kaget. Ia kira Afiqah takkan bisa berkelit karena sudah kadung janji. Mungkin ia juga penasaran bagaimana si anak ini menepati janji yang sudah ia buat. Ternyata, candaan main peran yang dilontarkan oleh guru Main Peran, dibalas “secara tunai” oleh Afiqah dengan Main Peran juga. BRAVO! 1-1 skor kedua belah pihak. Tadinya Bu Imas udah girang melihat Afiqah kemungkinan tak bisa berkelit dan di awal Bu Imas bilang, “Ayo…..mana baksonya…kemarin udah janji…..”

Artinya apa? Artinya, dalam kondisi terdesak, otak Afiqah ternyata “jalan” untuk bagaimana memberikan respon terbaik dalam menghadapi kasus pelik “terjerat janji sendiri”. Aku gak kepikiran semua skenario pembicaraan itu bisa diarahkan ke Main Peran.

Bu Imas tidak mau kalah. Setelah ia mengucapkan terima kasih karena sudah dibawakan bakso U* oleh Afiqah meskipun sifatnya “virtual” samar-samar, di ujung pembicaraan Bu Imas menyisipkan pesan lanjutan, “Besok-besok bawa bakso lagi ya….” Afiqah mengangguk tanda setuju. Yah, Afiqah, kenapa menanggguk pula? Kan artinya janji lagi??? Si ayah kembali pusing.

Hari “Penodongan” Janji

Hari-hari berikutnya, aku datang bersama Andin untuk jemput Afiqah. Afiqah bertemu Bu Imas lagi di halaman sekolah. Nah lho…. “Afiqah, mana bakso U* nya? Bawa gak? Kemaren kan sudah janji mau bawakan bakso dari Abang Bleki?”

Aku penasaran juga melihat bagaiman respon Afiqah. Kondisi skor masih 1-1. Sekali bu Imas menodong, tapi Afiqah bisa jawab dengan main peran (pura-pura ambil bakso di tasnya).

Afiqah ternyata tak kehabisan akal. Ia rogoh koceknya, lalu ia keluarkan bakso dari balik kantongnya. “Ini bakso U*-nya,” sambil ia menyerahkan kepada bu Imas.

Bu Imas senyum lebar. “Lho, kok baksonya dikantongin? Gak panas? Kan ada kuahnya?” Nah, bagian ini benar-benar hal yang paling sering terjadi di Sentra Main Peran. Biasanya hal-hal logis dimasukkan ke dalam interaksi yang terjadi di Main Peran, agar anak terbentuk daya kritis berpikirnya.

Bu Imas, tersenyum lebar. Senyuman agak nakal, karena ia seperti yakin bahwa Afiqah tak bisa berkelit kali ini.

Afiqah tak kehabisan akal. “Yang ini baksonya di plastik, tidak pakai kuah. Kalau mau kuah, kan dibikin dulu.” Oh, jadi ia bisa memvisualisasikan bahwa yang ia bawa bakso-nya doank. Sementara kuahnya yang biasanya panas, harus dibikin sendiri terlebih dahulu. Customized sesuai keinginan pelanggan, kapan mau dimakan, baru dibuat kuahnya.

Bu Imas yang tadinya sudah berpikiran skor 2-1, eh sekarang malah disamakan jadi 2-2. Afiqah bisa menahan “serangan” Bu Imas.

Bu Imas bilang ke Bu Andin. “Bisa aja ya dia. Saya kira tadi udah mau kalah dia ga bisa jawab. Ternyata bisa aja jawabnya.”

Bu Andin dan aku senyum-senyum aja. Hihihi. Anak Metode Sentra mah, selalu ada akal untuk dijalankan. Tidak salah memang, guru Main Perannya adalah Bu Imas. Senjata makan tuan. Serangan pakai main peran, dibalas secara tunai dan tuntas dengan main peran juga oleh Afiqah.

Pembongkaran Misteri Abang Bleki

Setelah lama tak terdengar lagi tentang Bakso U*, barusan minggu lalu Andin bilang ke saya bahwa Bu Imas ngobrol lagi dengan Afiqah tentang Bakso U*. Ternyata, terkuaklah misteri yang selama ini tak diketahui oleh Bu Imas.

Misteri tersebut adalah bahwa Abang Bleki yang Afiqah klaim sebagai penjual Bakso U* terungkap identitas aslinya. Bu Andin-lah yang membocorkan ke Bu Imas. “Bu Imas, Abang Bleki itu tidak ada sebenarnya. Itu boneka beruang yang berwarna kehitam-hitaman.” Sebenarnya Bakso U* itu pun bakso ngarang.

Bu Imas kaget. Ia sudah menganggap Abang Bleki itu nyata. Selama ini, setelah melewati beberapa episode percakapan-percakapan tentang Bakso U* itu secara serial, ternyata Bu Imas larut dalam imajinasi yang dibangun Afiqah tanpa crosscheck terlebih dahulu validitas ceritanya. Afiqah memainkan peran sebagai broker diantara Bu Imas dengan Abang Bleki dengan lokus main perannya adalah Bakso U*. Anak Metode Sentra, memang tak pernah kehabisan akal. Skor 3-2 untuk Afiqah atas Bu Imas.😉

Bu Imas selaku guru yang mengajarkan main peran, sekarang kena batunya. Muridnya lebih liar lagi imajinasinya. Senjata makan tuan. Hehehe. Terima kasih Bu Imas, sudah “menghidupkan” tombol imajinasi Afiqah lewat Sentra Main Peran. Semoga ia bisa tumbuh menjadi anak yang ketika menghadapi masalah, tak langsung freezing, tapi bisa cari solusi, karena imajinasinya sudah “dinyalakan” sejak usia dini. Terima kasih juga untuk guru-guru Batutis Al-Ilmi lainnya, yang juga membantu perkembangan Afiqah di sentra-sentra lainnya yang nanti juga akan saya tuliskan ceritanya (Seni, Persiapan, Imtaq, Balok, Bahan Alam).

Ingin mengetahui ilmu Metode Sentra secara mendalam? Teman-teman bisa diskusi dengan saya dengan kontak via Whatsapp di 08111170128 atau colek di Twitter saya @pukul5pagi

DIMODUSIN Afiqah

Sore itu, saya baru pulang dari Sovereign Plaza, mengikuti sebuah training penting. Manda Andin sudah tahu biasanya di tiap Senin, saya akan sampai Kota Wisata jam 18.00. Maka, Manda Andin menjemput saya di depan Kota Wisata. Tadinya Afiqah tak diajak serta. Tapi begitu tahu mau jemput Pak Ading, ia segera berubah pikiran, ingin turut serta.

Di Whatsapp saya meminta Andin ajak serta Afiqah. Entah kenapa, karena habis menyepi nulis di bawah kaki gunung Galunggung-Tasikmalaya selama 3 hari 3 malam, maka rasa kangen itu masih membuncah. Afiqah sekarang jauh lebih ceriwis. Ditinggal 3 hari, benar-benar ceriwis banget. Ngomongnya itu seperti orang dewasa.

Afiqah Melucu

Afiqah Berbahasa Betawi

Ada update-an baru pada diri Afiqah. Ia sekarang sedang terpengaruh gaya bicara khas Betawi. Pengaruh itu berasal dari teman sekolahnya di Batutis Al-Ilmi. Suatu kali saya menjemput Afiqah di sekolah, lalu dari kejauhan, saya sudah terlihat oleh teman-temannya. “Noh, bapak loe noh…” kata teman Afiqah memberi tahu bahwa ia sudah dijemput.

Kira-kira model ngomong khas Betawi begitulah yang sedang trending di dalam diri Afiqah. Sekarang ia biasa ngomong, “Iya yak…”. Ia juga mulai ngomong kata “gue”.

Ketika saya tanya, “Gue itu apa sih artinya dek?”

Dijawab Afiqah, “Betawi.”

“Iya, itu bahasa Betawi, tapi artinya apa?” tanyaku penuh selidik.

“Saya,” jawab Afiqah singkat. Ternyata ia tahu sedikit-sedikit arti kata bahasa Betawi.

Nada ngomong Afiqah sekarang cukup tinggi, seperti orang Betawi yang rame’ banget. Saya jadi ingat dulu sangat dekat dengan Mpok Ani, penjual nasi uduk yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri di Kukusan Depok, dekat Universitas Indonesia.

Padahal, tepat bulan Desember 2015 lalu, kami pulang ke Surabaya dan Mojokerto. Dari sana, Afiqah sudah bermetamorfosis jadi orang Jawa. Dialeg bahasanya medhok banget khas Suroboyoan. Tapi ternyata, setelah bergaul lagi dengan teman-temannya di sekolah, ia bisa dengan mudah berubah. Anak-anak di usia emas, memang paling cepat menyerap segala sesuatu dari lingkungannya. Mereka seperti sponge. Gampang nyerap cairan.

Apa reaksi saya dan Manda Andin terhadap Afiqah yang mulai berbahasa Betawi? Kami tidak menganggap ketika Afiqah berbahasa Betawi atau berbahasa Jawa sebagai sesuatu yang salah. Namun, kami anggap itu sebagai momen perkenalan Afiqah kepada bahasa daerah. Kami menanggapi Afiqah yang bilang “gue” dengan respon, “Oh, Afiqah sedang berbahasa Betawi. Tapi Pak Ading dan Bu Andin ingin kita di rumah pakai bahasa Indonesia ya…”

Meminta Secara Halus

Kembali ke laptop, cerita awal Afiqah menjemput saya di depan komplek Kota Wisata.

Saya turun dari angkot 121 jurusan Kampung Rambutan-Cileungsi. Setelah membayar ongkos angkot, pas turun saya sudah lihat ada mobil keluarga kami yang parkir di bundaran depan Kota Wisata. Alhamdulillah sudah standby.

Saya jalan menghampiri mobil, lalu lewat kaca mobil sebelah kiri depan, saya goda Afiqah. Saya gelitik ia dari belakang. Ia kaget. “Eh….., ada Pak Ading…”

“Terima kasih ya udah jemput ayah…,” kataku. “Afiqah kangen ayah? Katanya tadi mau main sama Uti?,” tanyaku pada Afiqah.

“Aku kangen ayah….,” balas Afiqah so sweet.

Kalau udah begini, saya hanya bisa menjadi lilin yang sedang dibakar api: MELELEH.

“Ayah duduk di belakang ya. Afiqah di depan,” begitu kata Afiqah mengatur posisi tempat duduk kami.

Okelah. Saya pun kemudian membuka pintu belakang, masuk, duduk, dan mengucap Alhamdulillah tanda bersyukur karena bisa bertemu keluarga lagi.

Baru beberapa detik duduk, lalu Afiqah nanya lagi, “Ayah bawa apa?”

“Maksudnya?” kataku heran. Tak biasanya dia bertanya seperti itu. “Ayah bawa tas.”

“Oooh, tas. Isinya apa?” selidik Afiqah lebih lanjut.

Saya segera buka tas dan menunjukkan kepada Afiqah isinya. “Ada laptop dan buku. Tidak ada yang spesial, biasa aja. Emangnya kenapa? Kok nanya begitu?” kataku balik bertanya.

“Nggak…kirain Pak Ading bawa mainan…” lanjut Afiqah lagi sambil tersenyum lebar.

Seketika juga saya dan Manda Andin pun ngakak. Gila ya. Dua orand dewasa sedang DIMODUSIN oleh anak umur 3 tahun 3 bulan. Ternyata Afiqah baru saja mempraktikkan bagaimana teknik berbahasa dengan cara yang tak biasa.

Ketika kami belajar ilmu Metode Sentra di Batutis Al-Ilmi, Bu Siska menjelaskan ada 4 jenis pertanyaan: konvergen, divergen, faktual, dan evaluatif. Pertanyaan konvergen itu biasanya dimulai dengan kata : apa, siapa, kapan atau dimana. Jawabannya pun agak mengerucut, sudah jelas. Pertanyaan divergen ini jenis pertanyaan terbuka, dan biasanya dimulai dengan kata: bagaimana dan mengapa. Pertanyaan factual mengacu pada pertanyaan yang meminta jawaban yang sifatnya pasti, ilmiah. Misalnya, ada berapa jenis pembagian lapisan langit? Jawabannya ada 7, diantaranya Termosfer, Stratosfer, dan seterusnya. Lalu pertanyaan evaluatif berupa pertanyaan nyecer mengejar sampai tuntas.

Pertanyaan konvergen itu contohnya: “Apa rasanya laut?”

Pertanyaan divergen itu contohnya: “Bagaimana ciri-ciri air laut?”

Pertanyaan faktual itu contohnya: “Apa nama laut diantara pulau Sumatera dengan pulau Kalimantan?”

Pertanyaan evaluatif itu contohnya: “Kamu menggambar apa? (dijawab: pohon pisang). Apa yang kamu tahu tentang pohon pisang? (dijawab: rasa buahnya manis). Bagaimana dengan tekstur buahnya? (dijawab seterusnya).”

Kalau kita lihat dalam perspektif umum, Afiqah menyelidikiku dengan pertanyaan evaluatif dalam kadar yang ringan, lalu ditutup dengan pernyataan tidak langsung (non-directive statement).

Afiqah: “Ayah bawa apa?”, dijawab Ayah: “Ayah bawa tas” à pertanyaan evaluative.

Afiqah: “Oooh, tas. Isinya apa?”, dijawab Ayah: “Ada laptop dan buku. Tidak ada yang spesial, biasa aja. Emangnya kenapa? Kok nanya begitu?” à pertanyaan evaluatif. Ternyata ia sudah puas mendengar jawaban ini.

Afiqah: “Nggak…kirain Pak Ading bawa mainan…” à Pernyataan kalimat tak langsung (non-directive statement). Ini pesan terselubung yang ingin disampaikan.

Simple-nya, Afiqah sebenarnya secara tidak langsung sedang menerapkan teknik persuasi untuk mewujudkan sebuah harapan atau ingin menyampaikan pesan: BELIIN AKU MAINAN DONK….

Tapi caranya halus. Caranya tidak langsung. Itu cukup elegan dan menarik buat kami berdua. Alhamdulillah Afiqah naik tingkat dalam hal kemampuan berbahasanya. Kalau kami ingat lagi masa kecil diri kami ataupun adik-adik kami, biasanya anak kecil minta mainan main langsung saja, tanpa tedeng aling-aling, “Mau ini, mau itu…” Kalau tidak dibelikan, bisa jadi pakai jurus nangis guling-guling di depan umum agar orangtua kita mau membelikan apa yang dikehendaki. Tapi untuk kasus Afiqah sore ini, ia benar-benar menunjukkan teknik berbahasa yang cukup tinggi untuk anak seusianya. Ini jenis high context communication. Komunikasi tingkat tinggi.

Anak-anak yang dibangun teknik berbahasanya dengan SPOK (Subjek Prediket, Objek, Keterangan) sejak usia dini, maka ketika besar nanti dia tidak akan kesulitan mengutarakan apa yang menjadi masalah dalam hidupnya. Daya ungkapnya mampu menolong dia untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup yang ia hadapi. Jadi, bukan lari dari masalah, tapi dihadapi dengan berbicara, berbahasa secara elegan. Jangan hanya bayangkan satu-dua anak Batutis saja. Bayangkan kalau kemampuan berbahasa ini dimiliki anak di seluruh Indonesia saat ini, maka nanti di tahun 2045, saat kita mendapatkan bonus demografi yang tumpeh-tumpeh itu, maka angkatan kerja (produktif) kita bisa berlaku sebagai BERKAH, bukan MUSIBAH. Orang-orang yang jelas tujuan dan mau kemana langkah, peran, dan karyanya karena konsep dirinya jelas sejak usia dini. Mereka mengerti AKU dan KEBUTUHANKU.

Ini sore yang indah buat saya. Satu-persatu bukti dampak mendalam dari pendidikan Metode Sentra di sekolah Afiqah, keluar secara alamiah dalam kehidupan keluarga kami. Kami semakin tertarik dan penasaran, apa lagi di masa mendatang yang keluar spontan dari tindakan Afiqah, yang bikin kita geleng-geleng kepala lagi.

Ingin ngobrol dengan saya tentang Metode Sentra? Silakan colek saya di Twitter saya @pukul5pagi atau kontak Whatsapp saya di 08111170128.

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Lesmana

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,408 other followers