Buktikan Kesarjanaanmu!

“Kalau ayah pintar, kenapa kehidupan keluarga kita begini (miskin)?”

Begitu teriak Andi kepada ayahnya dalam sebuah pertengkaran ayah-anak di sebuah rumah sederhana, di Kp Kalibata Srengseng Sawah Jagakarsa Jakarta Selatan RT09/07. Posisi rumahnya tak jauh dari Kukusan Teknik Universitas Indonesia-Depok.

Andi dan ayahnya yang bernama Nurdin (panggilannya Udin), memang kerap berselisih pendapat. Mereka bukan sosok yang akur. Andi beberapa kali mengungkapkan rasa muaknya tentang kondisi rumahnya yang semrawut, terkurung kemiskinan tanpa ada peningkatan kualitas hidup.

Komplain Andi pada ayahnya yang bertindak selaku kepala keluarga menurutku bukan semata berasal dari Andi. Ia mewakili komplain anggota keluarga lainnya, ibu dan tiga orang adik Andi lainnya.

Di kesempatan lain menurut cerita ibunya, Andi pernah diam-diam membuat puisi dengan judul Ayah ‘Botol’ (Bodoh dan Tolol). Awalnya aku kaget mendengar sikap Andi yang tidak sopan pada orangtuanya sendiri. Tapi belakangan aku menyadari, jika kita ada di posisi terjepit, miskin, sulit bayar uang sekolah, tak tahu mau makan apa hari ini, tentu kita kurang bisa menjadi tuan atas diri kita sendiri. Artinya, segala luapan emosi bisa bercampur jadi satu, dan jika tidak kuat mengontrolnya, ia bisa dimuntahkan bersama kata-kata kasar.

Awal perkenalanku dengan keluarga Andi memang tak sengaja. Beberapa bulan lalu aku sempat berkunjung kembali ke rumah Mpok Ani. Mpok Ani adalah penjual nasi uduk di jalan Juragan Sinda II Kukusan Teknik UI. Tiap sarapan pagi sewaktu aku kuliah, nasi uduk Mpok Ani selalu hadir dalam perut dan lambungku. Sebegitu dekatnya hubungan kami, sampai-sampai aku sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Pernah sewaktu aku demam tinggi, tanpa ada yang merawat dari kalangan famili, ternyata Mpok Ani datang ke kosku untuk membawakan makanan dan mengompresku. Begitulah hubungan kami sangat akrab dan terjalin hingga kini, meski aku sudah pindah ke Kebon Jeruk.

Saat aku ngobrol dengan Mpok Ani, ia menceritakan padaku, ada sebuah keluarga yang sangat miskin, tapi kepala keluarganya dianggap Mpok Ani sebagai orang yang sopan. Pak Udin, begitu panggilannya sempat membantu Mpok Ani mengecat rumah tatkala persiapan menyambut pernikahan anak bungsunya. Mpok Ani begitu terkesan dengan sikap Pak Udin. Menurutnya, Pak Udin adalah orang jujur, sopan, dengan nada bicara lemah-lembut. Mpok Ani sempat melakukan beberapa kali test untuk kejujuran Pak Udin. Berkali-kali ia lolos kualifikasi kejujuran dari Mpok Ani. FYI, Mpok Ani yang aku kenal adalah penjual nasi uduk ternama dan punya jam terbang tinggi dalam menilai orang sejak aktif jadi pedagang jalanan. Sekali bertemu orang, ia bisa menebak karakter orang tersebut. Pak Udin, termasuk dalam kategori baik.

Singkat cerita, aku dan Mpok Ani datang ke rumah Pak Udin dan keluarganya. Pertama kali datang ke sana, benar-benar membuatku shock. Aku sekian lama tinggal ngekos di Depok, dan tak menyangka ada rumah orang di pinggir rawa (situ) dengan jarak hitungan meter dari ‘kolam’ rawa. Hari itu, aku datang di saat yang tidak tepat, saat hujan datang menyapa kota Depok. Jalan menuju rumah Pak Udin becek, tanpa ojek juga tentunya, dan parahnya, air menggenang tepat di depan rumah Pak Udin. Jadi untuk masuk ke rumahnya, kami harus menyingsingkan celana kami agar tak basah terkena genangan air. Entah bagaimana keluarga Pak Udin masuk ke rumahnya dari pintu depan. “Pasti kesulitan,” pikirku.

Pertama kali masuk rumah Pak Udin, betapa aku lebih kaget lagi. Tepat di depan pintu, aku temukan rak piring dengan piring tak tertata rapi. Ada piring berisi nasi yang sudah basi. Perkakas masaknya berseliweran dimana-mana. Ada dua kasur yang tak beralas yang sudah kumal di ruang utama. Di sana tempat Pak Udin sekeluarga tidur malam hari. Bagian atas rumah tetap penuh dengan sarang laba-laba. Persis seperti rumah tak terawat. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Agar tak terlalu kelihatan, dindingnya dilapisi kertas koran yang sudah kering-kerontang dan berubah warna jadi cokelat tua dan juga dipenuhi sarang laba-laba. Di salah satu ruang kamar yang terlihat dari pintu depan, ada tumpukan baju tak dilipat yang menggunung tanpa tersusun rapi.

Aku berada di sana selama beberapa jam dengan ngobrol ngalur-ngidul tentang profil lengkap keluarga Pak Udin. Aku terenyuh mendengar kisah mereka. Ternyata, tak jauh dari Ibukota Jakarta, ada orang hidup dengan penuh keprihatinan yang teramat sangat. Aku pamit pulang, dengan menyerahkan beberapa lembar uang kepada istri Pak Udin. Setelah aku ajak ngobrol semua anggota keluarga, aku ambil kesimpulan, karakter istrinya ada potensi jadi pedagang yang meyakinkan dalam berbicara. Itu sangat positif. Jadi, uangnya aku serahkan untuk modal awal memulai usaha tertentu.

***

Rabu, 29 Juni 2011, aku memutuskan untuk mengisi liburan dengan berkunjung kembali ke rumah Andi dan keluarganya. Kali ini aku mengajak dua temanku sejak di SMA Insan Cendekia, Kuswantoro dan Andini Pratiwi. Kuswantoro adalah potret pemuda dari keluarga sederhana, namun sukses luar biasa karena mampu menjadi penerima beasiswa dari beberapa institusi. Ia sudah pernah terbang ke Belanda untuk summer course dan sekarang sedang lanjut S2 di King Abdul Aziz University, jurusan water resource management. Sedangkan Andini adalah mantan aktivis di Dompet Dhuafa Republika. Alumni UI ini aku ajak agar melengkapi cara pandangku terhadap orang kurang mampu. Aku ingin melihat orang miskin dalam cara pandang yang lebih objektif, tidak hanya penilaian subjektif dariku. Aku meminta khusus pada Andini mengeluarkan kemampuannya dalam menilai keluarga miskin yang sedang diseleksi apakah berhak menerima bantuan modal dari donatur atau tidak. Andini bertugas menghitung kekuatan dan kelemahan dari keluarga Pak Udin.

Ajakanku pada Andini awalnya hanya berasal dari obrolan ringan di facebook. Karena aku tahu ia pernah bekerja di Dompet Dhuafa, maka aku ingin ia mau berbagi ilmu bagaimana menilai suatu keluarga miskin dan membaca potensi mereka. Kelak, ada pemikiran dariku membuat program sejenis ‘Bedah Rumah’. Namun bedanya dengan yang ada di tv, program usulanku ini hanya akan membedah software dari isi rumah. Artinya, otak pemilik rumah yang dibedah, bukan benda fisik, atau hardwarenya. Bagiku, hardware bisa berubah, bisa lenyap dalam sekejap. Tapi kalau kita memperbaiki mental, sofware, soft skill, tentu dampaknya akan lebih panjang. Kalau kita bicara sofware, kita bicara tentang habit, kultur, kebiasaan, dan etos yang tertanam dalam darah orang tertentu. Nah, aku coba memulai project angan-angan pribadi itu pada keluarga Pak Udin ini.


Betapa banyak sarjana melimpah. Namun, kalau boleh jujur, tak semua sarjana berani menerapkan ilmunya di kehidupan nyata. Terlebih untuk membantu orang miskin bangkit dari kemiskinannya dan keluar dari garis kemiskinan itu untuk menjadi lebih sejahtera. Di program ‘Bedah Isi Sofware Rumah’ ini, aku ingin semua kolegaku dari bermacam latar pendidikan ikut berpartisipasi, mengeluarkan cara terbaik yang ia punya untuk mengeluarkan keluarga Pak Udin dari kemiskinan yang menggerogoti mereka. Apakah itu resep jitu bebas kemiskinan ala Sosiolog, ala sarjana akuntansi, ala sarjana manajemen, ala sarjana teknik, ala sarjana FKM, ala sarjana kedokteran, apapun lah.

Yang penting mereka berani memberi resep jitu untuk bebas dari kemiskinan. Ibaratnya, kita keroyokan menjadikan keluarga Pak Udin sebagai contoh bagaimana kita bisa mengatasi kemiskinan, meski dimulai dari satu keluarga. Project ini adalah project amal, hobi, bukan penuh paksaan. Ini sejenis himbauan di tengah kesibukan kerja, tapi ada himbauan untuk kalangan sarjana agar mau berkontribusi peduli pada lingkungan. Salah satunya dengan memberikan segenap idenya untuk mengatasi kemiskinan. Beranikah Anda bergabung bersama saya, Andini, dan Kuswantoro? Keuntungan yang Anda dapat, ilmu Anda terasah. Gelar sarjana atau master Anda bukan hanya sekadar gelar, tapi mampu diterapkan dalam tataran aplikatif. Keluarga Pak Udin mungkin secara tidak langsung akan menjadi laboratorium sosial, dari proses social engineering. Itu poinnya. Tapi tentunya laboratorium sosial yang disertai penuh tanggung jawab, bukan berniat mengacak-acak keluarga orang.

Siang itu, kami janjian bertemu di Halte Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Panas sekali cuaca saat itu. Tantangan semakin berat. Libur, dan harus berangkat panas-panas. Padahal ada opsi leyeh-leyeh di kamar, atau kongkow di suatu tempat. Tapi tekad sudah bulat, hari itu khusus untuk kegiatan sosial. Aku berangkat dari Kebon Jeruk sekitar pukul 11.00. Sampai di Depok, aku shalat dulu di Masjid UI. Kami janjian bertemu tepat pukul 13.00. Namun karena ada halangan dari Andini dan Kuswantoro, kami baru bisa bertemu sekitar pukul 13.45.

Aku brief Andini dan Kuswantoro tentang apa saja yang akan kami lakukan nanti di rumah Pak Udin dan keluarganya. Aku minta Kuswantoro jadi pengamat saja dulu. Sedangkan Andini aku minta untuk pro-aktif menilai karakter keluarga Pak Udin. Aku yakin, ada kemampuan khusus yang dipunyai Andini dari pengalamannya di Dompet Dhuafa. Alhamdulillah, Andini membawa teman, Rofi, orang dari Dompet Dhuafa langsung. Ia bertindak sebagai pengamat juga, namun pengamat tidak resmi, bukan mewakili nama institusi Dompet Dhuafa. Ini murni berbasis pertemanan saja. Kami datang berempat naik motor ke rumah Pak Udin dan keluarganya.

Motor kami parkir di rumah besan Mpok Ani. Sekitar 100 meter dari rumah keluarga Pak Udin, ayahnya Andi. Setelah sedikit basa-basi dengan besan Mpok Ani, akhirnya aku dan ketiga temanku menyusuri jalan sempit, kecil, becek, ke rumah Pak Udin. Untunglah waktu itu tak hujan. Jadi tak terlalu lanyah jalan tanahnya. Biasanya kalau hujan deras, jalana jadi lembek dan tanahnya akan menempel di sandal. Sandal akan merasa menebal.

Kebetulan keluarga Pak Udin ada di rumah, dengan formasi lengkap. Kami disambut dengan salam-salaman. Istri Pak Udin segera masuk ke rumah dan sedikit menutup pintu. Aku langsung menebak, ia segera bebenah rumah. Karena pada pertemuan pertama, aku datang dan langsung tembak berdiri di depan pintunya dan melihat kapal ‘Titanic’ sedang pecah dan berantakan. Kali ini istrinya ingin ada kesan lebih baik yang aku tangkap dari keluarganya. Meski sebenarnya aku ingin ia bisa tampil apa adanya. Aku ingin memperlihatkan ke apa adaannya pada ketiga temanku ini.

Setelah berbasa-basi dan memperkenalkan ketiga temanku ini, aku meminta keluarga Pak Udin untuk cerita profil keluarga mereka. Kami mengaku sebagai teman kuliah yang penasaran mendengar kembali cerita tentang keluarga Pak Udin. Kami sama sekali tidak menjanjikan apapun, apalagi berupa bantuan uang. Pure kami ingin mendapatkan sharing cerita cerita saja.

Pak Udin mulai bercerita. Keluarga Pak Udin sebenarnya ber-KTP Kemayoran. KTP lamanya sengaja tak ia ubah, karena ingin mendapatkan fasilitas dari Pemda DKI terutama untuk sekolah anak-anaknya, dana bebas uang sekolah. Ia tinggal di perbatasan antara Depok dengan Jakarta Selatan. Pak RT setempat sempat menawari agar ia pindah saja ke KTP sana. Namun, ia tak punya biaya mengurusnya. Selain itu, ia takut jika suatu saat tak bisa lagi bertempat tinggal di sana, harus mengurus kembali ke Kemayoran karena hanya punya keluarga di sana.

Keluarga Pak Udin tinggal di sebuah rumah sederhana. Rumahnya beralas semen cor biasa. Lantainya dingin. Di depannya, hanya beberapa meter, kita temukan rawa berwarna hijau tua. Jika malam hari, rumahnya diserbu nyamuk. Kalau hujan lebih dari 2 jam, biasanya air dari rawa itu mulai menyerang rumahnya. Sampai-sampai untuk masuk rumah harus lewat pintu belakang karena di pintu depan sudah digenangi air. Dinding rumahnya terdiri dari anyaman bambu yang ditutupi kertas koran yang sudah sangat lama. Sampai-sampai warna kertas koran itu cokelat tua, dan terlihat lapuk. Tinggal tunggu waktu untuk terkelupas. Selain lapuk, dinding berlapis koran itu juga banyak dihinggapi sarang laba-laba. Sarang laba-laba memang jadi pelanggan tetap di rumah itu. Di bagian atap rumah, sepanjang dan sejauh mata memandang, isinya ya sarang laba-laba. Aku pikir, istri dan keluarga Pak Udin memang pemalas untuk bersih-bersih. WC nya sangat jorok. Di Sebelah WC, ada dapur. Rumahnya hanya terdiri dari 4 ruangan. Kamar tengah (untuk tidur bersama), kamar berukuran kecil untuk tempat baju, lalu ada WC dan dapur. Catatan pengamatan yang membuatku pening, adanya tumpukan baju yang menggunung di kamar yang berukuran kecil. Tak ada inisiatif untuk melipatnya. Dari pertemuanku yang pertama dulu, juga aku lihat seperti itu. Ini sudah seperti membudaya, mengakar. Mereka tak sempat lagi memikirkan bagaimana untuk rapi. Yang ada di pikiran mereka mungkin hanya bagaimana cara dapat makan sehari-hari, bagaimana survive. Urusan kerapian, nomor sekian.

Yang membuatku surpsise kali ini ketika datang adalah, di depan rumahnya sudah ada kandang ayam dan sepasang burung. Ternyata Pak Udin baru saja memulai bisnis ayam dan burung sebulan lalu. Pak Udin mengaku ahli jual burung. Ia dulu suka main burung sejak remaja dan sudah terkenal di Kemayoran sebagai tukang burung. Ia cerita panjang lebar pada kami soal seluk-beluk burung. Kami mendengarkan saja dengan penuh hikmat. Sesekali kami kritisi pernyataannya sebagai upaya testing apakah itu hanya bualan atau tidak.

Kondisi di depan rumah Pak Udin tergolong cukup jorok. Sampah menumpuk tepat di bawah kandang ayam itu. Agaknya semua warga membuang sampah mereka ke daerah rawa itu, lebih tepatnya di depan rumah Pak Udin. Jadi, dipastikan, saat Anda datang ke sana, semerbak aroma tak sedap ada dimana-mana.

Rumah Keluarga Pak Udin itu bukan murni rumah mereka. Ia adalah rumah tumpangan dari sebuah keluarga pemilik Rumah Sakit Sofa-Marwah di dekat perbatasan Jakarta Selatan-Depok di daerah Kukusan. Pemilik rumah sakit itu kasihan pada keluarga Pak Udin. Keluarga Pak Udin praktis hanya membayar listrik saja. Ia sempat curhat juga padaku bahwa sudah menunggak tiga bulan untuk pembayaran listrik.

Keluarga Pak Udin kerap dibantu oleh tetangganya. Besan Mpok Ani sering juga mengajak Pak Udin untuk kerja bareng membantu menjadi asisten tukang. Bayarannya lumayan untuk bisa bertahan hidup. Namun, pekerjaan seperti itu tidak rutin. Istri Pak Udin bekerja serabutan. Ia kerja apa saja. Keliling menjajakan cairan cuci piring, kredit panci, menjual sayuran, pernah ia lakoni. Ia tipe pebisnis apa saja, yang penting asal uang berputar.

Pak Udin punya empat orang anak. Sebenarnya lima orang. Tapi yang satu lagi meninggal karena sakit. Anak Pertama bernama Andi, si sulung ini akan masuk SMK tahun ajaran baru ini. Mereka baru daftar dan belum ada keputusan final apakah diterima atau tidak. Yang kedua bernama Ervan, ia SD kelas lima. Yang ketiga adalah Deni Riyanti kelas 1 SD, dan terakhir Muhammad Ervin berumur 1.5 tahun.

Pak Udin sendiri sebenarnya pernah bekerja sebagai satpam di PT Bimantara sebelum beberapa tahun lalu. Namun ia memilih berhenti dan menerima pesangon Rp 10 juta. Namun uangnya habis untuk keperluan sehari-hari, tanpa bisa diolah atau diinvestasikan.

Biasanya keluarga Pak Udin makan dengan lauk seadanya. Jika tak memasak tempe dipotong-potong, ia membeli lauk yang sudah jadi di warteg. Katanya lebih hemat begitu. Begitu melihat perkakas rumah tangganya dan bekas lauk makannya, aku merasa miris. Mereka begitu kesulitan untuk makan.

Pak Udin juga punya penyakit unik. Ia terkena pusing tingkat parah. Jika sedang kambuh, ia bisa teriak-teriak. Katanya kepalanya seperti sedang dipukul-pukul. Jika sudah kambuh, biasanya ia akan teriak-teriak pada anak istrinya. Terpaksalah anak istri menyingkir ke tetangga jika ayahnya sedang sakit. Pernah ia konsultasi ke dokter, dan diberi obat mahal, namun tak mempan. Pak Udin sudah kecanduan obat murah meriah namun bisa jadi bumerang baginya suatu saat. Ia mengkonsumsi Puyer 16 Bintang Toejoe. Gawatnya lagi, ia bisa mengkonsumsi itu hingga maksimal 20-25 sachet sehari. Tergantung tingkat sakitnya. Ia sudah ketergantungan dengan puyer ini. Biasanya obatnya itu digado saja tanpa air. Pernah juga ia datang ke orang ‘pinter’ dan dibilang sakit kelenjer getah bening. Andini sedikit protes, karena Pak Udin tak membawa dirinya ke puskesmas untuk memeriksakan diri lebih lanjut. Katanya tak ada ongkos. Dia juga tidak tahu apakah di puskesmas gratis atau tidak. Ia serba ketakutan karena minim pengetahuan. Akhirnya sakitnya dibiarkan saja diobati dengan obat murmer seharga Rp 500 per sachet itu.

Andi, Anak Sulung Multi-talenta Pembuka Asa

Aku ngobrol dengan Andi panjang lebar saat pertemuan pertama dan kedua. Di pertemuan pertama, aku tahu dia berbakat di bidang marawis. Ia bisa memainkan gendang marawis dengan piawai. Di sekolah SMPnya dulu, ia pemain inti di tim marawis sekolah. Andi adalah tipe anak yang bisa dengan mudah menirukan hal apapun yang ia lihat. Ia jenis copy-cat. “Aku pinjam motor teman dan belajar naik motor hanya sekali coba langsung bisa,” begitu ungkapnya. Selain itu, bakat Andi lainnya adalah bisa melukis, jago olahraga, dan bisa bikin puisi. Hal yang aku salut dari Andi adalah semangatnya untuk berkompetisi. Ia bisa dengan diam-diam belajar sesuatu, lalu lebih jago dari temannya yang lebih dahulu tahu darinya.

Untuk poin rajin, Andi sudah terkenal sejak SD sebagai murid rajin. Ia datang ke sekolah jauh sebelum tukang sapu datang. Bahkan guru-guru atau murid lain mungkin masih tidur di rumahnya masing-masing, Andi sudah ada di dalam kelasnya. Ia tak jarang marah jika telat tidak dibangunkan lebih cepat oleh orangtuanya. Ini sebuah etos kerja yang patut dijaga dan dikembangkan dari seorang Andi. Ia ada hasrat untuk selalu jadi pemenang. Itu poin yang sangat mahal dan bukan hal yang dibentuk secara instant.

Ketika Aku dan Andini bertanya seputar cita-citanya ke depan, ia dengan polos menjawab, “Saya pengennya kerja di kanto-kantor gedung tinggi gitulah, gaji besar, sehingga bisa bantu orangtua.” Aku terenyuh mendengarnya. Mimpi yang sederhana, polos, apa adanya. Persis seperti adegan-adegan di sinetron saja. Andi juga jago akuntansi. Nilai Akuntansinya sejak SMP selalu bagus, di atas rata-rata kelas. Ia juga pernah rangking 4 di saat SMP. Ia bertekad juga akan kuliah di UI. Aku dan Andini meyakinkan Andi bahwa kuliah di UI bisa mudah didapat asal rajin belajar, dan dapat nilai bagus di raport. Beasiswa di UI bisa dinegosiasikan jika gigih.

Relasi Andi & Ibunya

Hidup yang serba sulit membuat Andi juga merasakan tekanan, terutama untuk urusan mental. Tak jarang, ia sering curhat kepada ibunya karena lebih ia percaya. Jika ia berkomunikasi dengan ayahnya, biasanya menemui jalan buntu. Tak jarang berujung dengan perselisihan. Menurut pengamatanku, ibu Andi memang terlihat lebih cerdas dan penuh inisiatif. Ia mampu meyakinkan orang untuk melakukan sesuatu. Ia tipe ‘penjual’ obat yang sedang ‘ngecap’ menjajakan dagangannya. Mungkin itu keunggulannya. Ini potensi terselubung yang bisa digarap dari Ibu Andi.

Relasi Andi dan ibunya memang dekat saat curhat. Tapi kadang bisa juga jadi jauh. Hal paling menyebalkan yang tak disukai Andi terhadap ibunya adalah proses cek-ricek ibunya terhadap Andi tiap pulang ke rumah. Biasanya Ibunya menyuruh Andi membuka mulutnya untuk diciumi apakah ada keluar aroma rokok atau minuman alkohol. Ibunya khawatir anaknya terlibat kasus kejahatan yang berbuntut panjang. Tindakan asal tuduh dari ibu ke anak itu memang berlebihan. Terlalu esktrim melakukan itu setiap hari.

“Kita orang miskin nak. Jangan sampai masuk penjara karena hal bodoh. Ibu dan bapak ga punya uang untuk bayar ini-itu. Apalagi dah sampai masuk polisi. Aduh amit-amit. Jadi, mulai sekarang pilih-pilihlah teman,” begitu himbau ibu Andi pada anaknya di depan kami. Kata-kata itu mungkin sudah terlanjur sering didengar Andi. Dalam pertemuan siang itu, kami berusaha memberi pengertian ke ibu Andi bahwa tidak akan ada orang yang simpatik menerima perlakuan ‘dituduh’ setiap hari apakah merokok atau ‘minum’. Perlu ada cara yang lebih elegan, yaitu cara bikin kesepakatan ala orang dewasa. Tidak perlu diawasi terlalu ketat. Tapi dijelaskan konsekuensi dari tindakan yang kurang bermanfaat tersebut. Sang Ibu bisa menerima dan merasa surprise bahwa tindakannya sebenarnya tidak disukai anaknya. Selama ini Andi hanya diam saja menerima perlakuan ‘dituduh’ setiap hari. “Nah kan tuh bu, benar kata kakak-kakak itu. Masa tiap saat diperiksa?” begitu protes Andi. Alhamdulillah kami berhasil mempertemukan dua keinginan dari dua orang berbeda secara damai.

Hal-hal seperti ini tentu jarang ditemui di keluarga Andi. Berdiskusi tentang strategi-strategi masa depan, mana tindakan yang membuat akselerasi lompatan prestasi, mana yang strategis, apa yang harus dikembangkan dalam bakat terpendam, dan sejenisnya. Diskusi mereka sudah terkuras habis pada tataran kebutuhan primer, yaitu MAKAN! Aku jadi teringat tentang teori kebutuhan Abraham Maslow bahwa manusia punya beberapa tingkatan kebutuhan yang harus dipenuhi, dan yang utama adalah pemenuhan kebutuhan primer berupa maknanan. Kalau perut keroncong, belum terisi, mana ada energi untuk beraksi? Betul tak? Di sinilah aku minta peran para sarjana, atau para master untuk turun tangan, mengubah habit, kultur, etos, dan cara pandang orang-orang miskin dalam menghadapi hidupnya. Kalau membantu mereka dengan materi, bisa habis dalam sehari. Tapi, kalau perkataan, nasehat, saran kita mampu menusuk hati, tentu hasilnya bisa lebih yo’i.

Di tengah cerita seru bersama Andi dan Ibunya, aku merasa terganggu. Ibunya menyalakan ‘kipas angin keramat’ di ruang utama rumahnya. Bukannya malah senang karena gerahku hilang, aku malah batuk-batuk. Mengapa? Karena kipas itu ditutupi dengan sarang laba-laba yang sudah berkumpul jadi koloni serat yang membentuk mahkota raja di negeri antah berantah. Begitu kipas nyala, satu persatu debu dan jaring laba-laba itu turun perlahan, gemulai, dan menari-nari merasuki lubang hidungku. Ya, aku paling tak tahan debu. Walhasil aku pindah tempat duduk agar tak menyinggung perasaannya.

Menurutku ada masalah dengan keluarga Pak Udin ini. Mereka dengan sangat terpaksa aku bisa bilang jorok. Kalau boleh dibilang, mereka punya cukup lengkap perabot rumah. Mulai dari tv, VCD, Wifone, kulkas, mainan anak-anak, namun mereka tak mampu merawatnya dengan baik. Kamar kotor. Tumpukan kain di atas kasur menggunung. Attitudeseperti ini harus ‘dibenerin’. Aku membayangkan, ada tim sapu bersih yang memaksa keluarga ini mengurus rumahnya dengan benar, rapi, bersih. Mereka juga bingung memenuhi mana kebutuhan, mana keinginan. Akhirnya, banyak barang menumpuk dan tak terpakai. Mari lihat gambar berikut ini. Tapi jangan terlalu diambil hati.

Dinding berlapis koran jadul berlapis debu dan sarang laba-laba

Dapur di sebelah WC

Ini toilet.....

Baju Berserakan di Kasur

Rencananya kami hanya 1 jam saja di Rumah keluarga Pak Udin. Namun, karena Andini dan rekanku yang lain begitu bersemangat mengorek informasi seputar keluarga ini, kami tak sadarkan diri hingga 2 jam lebih berdialog di sana. Harapanku, pembaca blogku bisa memberi masukan, apa solusi terbaik, mengeluarkan keluarga Pak Udin dari kerangkeng kemiskinan. Ada berita duka. Rencananya, setelah lebaran, rumah Pak Udin akan dibongkar, karena pemiliknya ingin mengubahnya menjadi kos-kosan atau kontrakan. Kemana mereka akan pindah? Belum lagi, memasuki tahun ajaran baru ini, Andi yang baru akan masuk SMK, butuh dana segar untuk biaya buku, seragam dan biaya-biaya tetek-bengek lainnya. Keluarga Pak Udin dijamin sekarang sedang pusing tujuh keliling.

Aku tak ingin memutuskan sendiri tindakan apa yang terbaik untuk keluarga Andi agar mereka mampu berubah dan jadi lebih baik. Aku butuh second, third, fourth, bahkan ratusan resep dari siapapun pembaca blogku. Terima kasih untuk saran yang sangat aku nantikan. Buktikan ke-Sarjanaan-mu, buktikan Ke-Masteran-mu! Jika kau tak punya gelar itu, maka buktikan dengan kearifan lewat komentar dan solusi. Plis, timpuki blogku dengan ide segar darimu!

100 responses to this post.

  1. mantep kak!!semoga bisa lancar ya project pertamanya ^^..dan lebih banyak yang gabung bareng

    Reply

  2. Posted by DanangAziz on July 5, 2011 at 6:31 AM

    Wah super sekali reportasenya. Panjang tp tetap memikat aka menggerakkan. Karena tema yg sangat humanis. Aku percaya tulisan yg berangkat dr hati selalu enak dibaca. Tulisan yg penuh empati selalu bisa menggerakkan pembacanya. Dan aku ingat *baru aja kubaca lg file-nya* Ad pernah buat reportase panjang saat BJRB. Soal subtansinya trenyuh jg membacanya. Allah bantu hamba-Mu ini utk bisa berempati dg saudara2 kami dg kepedulian terbaik. Minta alamat lgkpnya dong??

    Reply

    • Nanti aku minta tulisan BJRB ya kak. Sebenarnya banyak cerita juga di sana. Tapi lupa diikat maknanya. Alamat lengkap sudah ada di update tulisanku. Lihat lagi ya ceritanya. Baru diupdate tadi jam 8an.

      Reply

  3. aksi nyata, tanpa basa-basi;
    sebuah bukti tanpa janji.
    lanjutkan..

    Reply

    • Thanks mas. Tentu ini berkat dorongan dan tips2 darimu juga. Kita lanjut ke tulisan berikutnya ya. Transjakarta vs $%$%$#$%$%

      Reply

  4. Posted by fani on July 5, 2011 at 6:39 AM

    Kesimpulannya mana dul? Potensi keluarga pak udin yg bs digali..

    Reply

    • Sudah diupdate tadi jam 8. Ceritanya lebih lengkap sekarang. Untuk potensi keluarganya, bisa ditemukan dalam beberapa kalimat. Namun sengaja tidak aku kelompokkan agar ceritanya mengalir. Thanks Mas Fani sudah mengingatkan. Keep reading my blog ya.

      Reply

  5. Posted by dwi on July 5, 2011 at 7:09 AM

    asik..asik.. ikut komentar ah.. ;;)
    lanjutkan semangat aksi sosialmu ad,
    inget program tr***tv jika aku men***i, mirip seperti itu. solusinya sama ad, jika kemiskinan mereka karena kekurangan modal, berikan modal secukupnya, apalagi ada dukungan dari dompet dhuafa. tinggal upload norek untuk menerima bantuan. beda kasusnya klo miskin karena males, ga ada solusi buat itu.
    salam sukses ad😉

    Reply

  6. Posted by adhi nugroho on July 5, 2011 at 7:44 AM

    B’dasarkan pengalaman di Halmahera Selatan, coba Pak Udin & dikeluarga dibangun ekspektasinya dulu thdp kehadiran kita. Tp jgn smp ekspektasi mrka ke arah uang. Bakalan sia2 kalo udah muncul mental minta2nya. Cara ngebangunnya dgn cara ‘membukakan mata’ mrka ttg peluang usaha yg potensial tanpa harus butuh modal besar. Gampangnya ajak aja ke pasar atau sentra home industry t’dekat. Dekatkan peluang ke pikiran mrka. Dr situ nanti terbangun ekspektasi lbh lanjut yg disertai personal purpose. Nah smp disini kayaknya butuh kolaborasi small business consultant, psikolog/trainer motivasi, & financial planner.

    Reply

    • ‘Ekspektasi terhadap kehadiran kita’ akan coba diperhatikan sekali nih Bang Adhi. Thanks ya. Jauh2 dari Halmahera Selatan ngasih input. Idealnya memang kita jadi broker pendekat mereka pada peluang apa saja yang bisa mereka garap. Pure, kita ga akan kasih uang langsung. Bedah isi otaknya, bukan hanya bangunan fisiknya.

      Reply

  7. Posted by yuliahqo on July 5, 2011 at 8:31 AM

    Rasulullah dulu pernah mengajarkan bagaimana membina kepala keluarga. Gali potensinya, tanyakan yang dia punya utk modal, kemudian arahkan pada usaha yang sesuai dengan potensi dan akan bisa mengembangkan potensi tersebut. utk kasus pak udin, jika memang ahli dengan unggas, maka bisa saja diarahkan mengelola unggas (ayam) mengingat sebentar lagi akan lebaran. kotorannya bisa untuk dijadikan pupuk. Saat ini yang juga mungkin berkembang adalah usaha mengelola sampah. Bisa saja dengan relasi dari ibu yang kebanyakan ibu2 rumah tangga, sang ibu bisa mengumpulkan sampah kompos atau sampah plastik (bekas bungkus kopi, pelembut, deterjen, pewangi dll) utk kemudian diolah. Di Pasar minggu ada yang menerima dan melatih kerajinan dari sampah. Untuk Andi, bisa saja memulai karir sebagai guru privat utk anak SD jika sudah masuk SMK atau bisa saja magang dulu.ceritakan dan kenalkan dengan kisah2 sukses remaja yang berlatar belakang sama dengan Andi

    Reply

  8. mungkin, kita bisa mengadvokasi ke lembaga sosial semisal Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, atau BAZNAS, di samping kita menolong lembaga2 tersebut memberdayakan dana lembaga mereka..🙂

    Reply

  9. untuk sekolah, sebetulnya sekolah2 negeri mendapatkan dana bantuan BOS……dan sekolah SMA mendapatkan bansos, dan Pesantren/MAN mendapatan bantuan Bansos dari kemendiknas+Departemen Agama. jadi mereka punya kewajiban u/ menyeolahkan anak miskin/tidak mampu sesuai UU Sisdiknas adalah 20% dari total siswa. dan hal inilah yang harus dikaji….karena beberapa hasil kajian kita (saya+Teman2) bahwa hampir seluruh Universitas Negeri di Indonesia tidak melakukan hal ini (20% u/ orang miskin sebagai wujud subsidi silang/bantuan beasiswa)….so…..sebetulnya tidak ada alasan orang miskin tidak sekolah. untuk hal ini saya bisa memberikan data2+hak2 sekolah (baik Seolah dasar s.d perguruan tinggi). dan kita bisa bantu bersama.

    u/ yang rumah……saya dengar2 tentang bantuan untuk rumah miskin sebesar 5juta u/ rehabilitasi atau perbaikan (info bisa hubungi salah satu anggota komisi V) dan hal ini tiap provinsi mendapatkan jatah bantuan ini. dan untuk operasional orang miskin dapat bantuan dari dinas bantuan sosial kalau gak salah bantuan orang miskin sebesar 15 juta (sekali saja) bisa hubungi salah satu komisi VIII dari Frasksi tertentu (soalnya dari Fraksi saya habis bang…..dipakai yg lain). dan u/ rumah…..kenapa tidak menghubungi saudara elang (lulusan IPB yg sekarang menjadi pengusaha rumah2 RSSS) ??? namun saya tidak mempunyai no. kontaknya…….

    u/ sakit kepala……dicoba mengunakan Jamkesmas u/ orang miskin….karena setiap Puskesmas sudah mendapatkan jatahnya u/ hal ini……info tahun ini urang lebih 10 juta/kecamatan/bulan untuk obat2an ini…..kalau tidak kepakai mau diemanakan tuch uang u/ obat2an ini…..(info bisa hubungi salah satu komisi IX).

    sekian dulu bang…….maaf bila saya ada salah…….saya hanya bisa bantu sesuai kemampuan saya saja.

    u/ tulisannya…..ini alurnya maju-mundur gitu ya bang…..but banyak yang menyimpang jadi menceritakan hal yang jauh dari kontent yang sebetulnya untuk diceritakan…but saya salut sama tulisannya…mantap…….no pict=hoax.

    Reply

    • Infonya sangat bermanfaat. Untuk sekolah, ada juga ga ya buat SMK swasta jatah bagi yang tak mampu? atau tidak ada bantuan dari pemerintah? Soalnya Andi masuk SMK PGRI.

      Untuk rumah, sulit minta bantuan, karena rumah yang ditempati bukan rumahnya pribadi. Numpang di rumah pinjaman dari dermawan yang baik hati. Namun nanti pasca lebaran, rumahnya mau diubah jadi kos-kosan atau kontrakan. Jadi, pak Udin sekeluarga terpaksa menyingkir. Entah kemana.

      Untuk sakit kepala, akan saya arahkan ke jamkesmas.

      Untuk tulisan, saya datang ke sana dua kali. Jadi beberapa paragraf awal adalah cerita tentang kunjungan awal (fokus utama). Kemudian baru masuk ke kunjungan kedua. Udah ada pic nya kok

      Reply

    • Infonya sangat bermanfaat. Untuk sekolah, ada juga ga ya buat SMK swasta jatah bagi yang tak mampu? atau tidak ada bantuan dari pemerintah? Soalnya Andi masuk SMK PGRI.

      Untuk rumah, sulit minta bantuan, karena rumah yang ditempati bukan rumahnya pribadi. Numpang di rumah pinjaman dari dermawan yang baik hati. Namun nanti pasca lebaran, rumahnya mau diubah jadi kos-kosan atau kontrakan. Jadi, pak Udin sekeluarga terpaksa menyingkir. Entah kemana.

      Untuk sakit kepala, akan saya arahkan ke jamkesmas.

      Untuk tulisan, saya datang ke sana dua kali. Jadi beberapa paragraf awal adalah cerita tentang kunjungan awal (fokus utama). Kemudian baru masuk ke kunjungan kedua.

      Reply

      • untuk SMK ada bang……bantuannya Bansos…dan sesuai dengan RUU Sisdiknas, mereka wajib memasukan minimal 20% untu orang yg tidak mampu (gratis)….tetapi biasanya mereka minta uang praktek/praktikum.

        untuk modal awal, sebetulnya ada anggaran u/ orang miskin 15 juta/keluarga/tahun…..itu banya sisa bang,banyak yg tidak terpakai….persyaratan bisa minta ke Depsos.

      • Thanks berat nih infonya.

  10. Tetap Semangat untuk berjuang

    Reply

  11. Posted by Meander of Life on July 5, 2011 at 11:33 AM

    kalo setiap sarjana melakukan seperti itu, kemiskinan di negara ini sedikit demi sedikit akan berkurang………..

    Reply

    • Thanks Kus sudah menemani kemaren ke Rumah Pak Udin. Sepertinya Andi sangat belajar banyak dari Toro (si Manusia Terbang)

      Reply

  12. bang aad, saya mau nih kalo ada aksi nyata gini. saat ini baru bs jadi follower dan pengamat yg baik. jika berkesempatan dan memungkinkan..mau banget ikut terjun ke lapangan.🙂

    makin salut sama abang ini.

    Reply

    • Ok bro. Siap-siap aja klo nanti saya hubungi untuk turun lapangan ya. Anggap sebagai hobi baru. Jangan ngumpul ama Fixie Mini aja. Ama yang beginian kan juga mesti coba ya. Hehehe

      Reply

  13. Posted by DanangAziz on July 5, 2011 at 11:48 AM

    Wah super sekali reportasenya. Panjang tapi tetap memikat aka menggerakkan. Karena temanya sangat humanis. Aku percaya tulisan yang berangkat dari hati selalu enak dibaca. Tulisan yang penuh empati selalu menggerakkan pembacanya. Aad jg pernah menulis reportase panjang saat BJRB ke tanjung pinang *kebetulan baru nemu lagi file-nya*. Soal subtansinya trenyuh jg membacanya. Allah bantu hamba-Mu ini utk bisa berempati thd saudara2 kami dengan kepedulian terbaik. Minta alamat lgkp-nya boleh? Japri jg oke..

    Reply

  14. Posted by Anggun on July 5, 2011 at 12:40 PM

    Biaya karcis puskesmas di Jakarta 2000, udah termasuk obat 3 hari. Untuk keluarga tidak mampu bisa urus Jamkesmas (gratis) sesuai alamat KTP.
    Dibanding maaf, puyer 16 cap bintang toedjoe @Rp500, 20-25/hari (10000-12500/hari),tentu lebih baik ke puskesmas dengan pengobatan terarah dari tenaga medis.

    Reply

    • Nanti aku sampaikan ke Pak Udin. Semoga beliau bisa berpikir rasional juga, agar menghindari puyer yang nantinya bisa bikin puyeng kalo kebanyakan digado. Mending puskesmas ya mumpung gratisan

      Reply

  15. Posted by nugrohogalih on July 5, 2011 at 1:18 PM

    iya nih.. mantap kali abang saya satu ini🙂 tetap berbakti untuk negeri.. ajak-ajak ya bang..

    Reply

  16. ad, gimana kalo anaknya (si andi) yang digarap. kenalkan dia pada bisnis2 sederhana. ex: jualan pulsa elektrik, ato nggak ajarin dia komputer, internet dan apa yang bisa dilakukan dengan itu. kalo memang bapaknya bener punya potensi ternak/bisnis burung, andi bisa jadi tiang marketingnya lewat internet. bisa diusahain gak tu dia bisa dapet perangkat komputer yang online…(padahal bayar listrik aja mereka susah yahh)..suruh jualan pulsa dulu deh. sini tak modalin 200rb. tiap habis deposit pulsanya dia kudu transfer ke aku.

    Reply

    • Ini kongkret sekali. Kok gw ga kepikiran ya? Andi tipe anak dengan daya tangkap cepat. PC atau laptop mungkin bisa dia kuasai dengan cepat. Dia juga bisa memarketingin dirinya sendiri untuk jadi guru les private SD atau SMP. Makanya di tulisan aku bilang, Andi adalah pembuka asa. Temanku ada yang mau mengenalkan agar Andi ikut ekskul SMK yang khusus mengajarkan pengolahan barang bekas. Terima kasih banyak atas responnya. Selanjutnya kita kontak japri ya. Brp no hp mu? kirim ke umarat.adlil@gmail.com. Awesome! Indahnya berbagi ide dan informasi. Thanks GOD!

      Reply

  17. Subhanallah.. Inspiratif sekali.. Bener2 tindakan nyata yang akan keren sekali kalo diterapkan oleh smua sarjana dan master di Indonesia ini.. Aku izin share ya kak ke temen2, smoga jadi inspirasi juga untuk yang lain..

    saran aja mungkin bsa ktmu sama pemilik rumahnya pak udin untuk membahas niat kakak2.. Insya Allah mereka mau mendukung dan membantu..

    Reply

    • Silahkan share ceritanya. Kalau mau gabung, silahkan. Awalnya ini tindakan pribadi sendiri saja. Lalu ada 2 orang teman ikut. Tapi kalau Anda berminat, boleh ikut. Kita gabung aja. Tunggu saja info dari tim kami. Sebenarnya ini kayak bikin komunitas hobi saja. Kalau sekarang lagi rame komunitas sepeda fixie, nah, kita bisa aja bikin juga komunitas serupa tapi tak sama. Mungkin namanya bisa Fixing Community. Hehehe. Kegiatan utamanya melakukan social engineering (rekayasa sosial). Membantu membedah “software” yang macet di rumah tangga kaum kurang beruntung. Cari satu keluarga, keroyok ramai-ramai entah itu orang dari latar belakang sarjana apa, atau non-sarjana juga boleh ikut gabung. Kalau 5 orang sarjana saja sudah bergabung pemikirannya mencari solusi, masak sih ga bisa naik kelas keluarga yang jadi target operasi itu? Bikin timnya kecil saja, tapi banyak tersebar di semua wilayah Jabodetabek. Syukur2 bisa bikin di daerah lain juga. Sekali lagi, ini komunitas hobi. Hobinya senang melihat orang lain senang. Gundah hatinya melihat orang lain miskin.

      Reply

  18. Posted by fahsant myha on July 5, 2011 at 2:52 PM

    Tolong pak Andi MEROKOKNYAnya berhenti dulu….kemudian anggaran untuk rokok bisa dialihkan menjadi yg lebih manfaat. Mungkin perlu lebih dekat dengan Allah SWT, karena selain usaha duniawi, perlu juga dukungan dari sang Pencipta. Mungkin bisa digunakan ilmu sedekah 1:10, semoga manfaat.

    Reply

  19. Posted by dewi y on July 5, 2011 at 4:48 PM

    mantap ad… ajak2 ya nanti…

    Reply

  20. Posted by Bendik on July 5, 2011 at 4:56 PM

    Kemiskinan bukanlah barang baru, ia ada bahkan dekat diantara kita. Kemiskinan bisa ada pada setiap orang dan bukan melulu soal kemiskinan ekonomi. Yang perlu didefinisikan adalah kemiskinan seperti apa yang hendak ditangani karena ada beragam hal tentang kemiskinan. Ada kemiskinan relasi dengan manusia, Tuhan, lingkungan serta terhadap diri sendiri. Menurut saya, jika satu item dari bagian tersebut rusak relasinya maka dapat dimungkinkan seseorang akan mengalami kemiskinan bahkan jika semua komponen tersebut rusak relasinya maka pasti orang tersebut adalah orang miskin. Masyarakat dan diri kita pasti mengetahui serta memiliki beragam konsep/definisi kemiskinan. Mungkin menurut banyak orang, Pak Andi dan keluarga adalah orang miskin tetapi mungkin bagi sebagian orang tidak. Oleh karena itu biarlah orang miskin mendefinisikan dirinya sendiri. Untuk mengeluarkan seseorang/masyarakat dari kemiskinan bukanlah perkara mudah. Karena ada orang yang sudah bekerja keras setiap hari dengan mengeluarkan peluh keringat yang tiada henti tapi sulit untuk keluar dari kemiskinanannya. Contoh: Penjual es keliling yang menjajakan es potongnya seharga Rp 500 – Rp 1000,-. Pendapatannya tidak tentu karena terkadang ada istilah ‘hari ramai pelanggan’ dan ‘hari sepi pelanggan’. Jika saat ‘hari ramai pelanggan’ ada sebanyak 50 pembeli maka penjual ini mendapatkan Rp 50000,- per hari, sementara saat ‘hari sepi pelanggan’ ada sebanyak 10 pembeli (Rp 10000,-). Disisi lain penjual ini memiliki banyak anak dan ada kebutuhan-kebutuhan untuk anak sekolah yang mendesak. Alhasil, pendapatannya sebagai tukang es pun menjadi tidak cukup meskipun dia sudah bekerja sekeras mungkin. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai kemiskinan struktural. Dalam Sosiologi pun pernah diajari bahwa orang miskin tidak bisa terhapus sempurna datanya yang bisa terjadi adalah meminimalisir orang miskin. Yang terpenting adalah bagaimana kita membuat mereka dan juga diri kita mampu menganalisa potensi dan kelemahan (software) serta memaksimalkan potensi yang ada di masyarakat untuk membantu keluar dari kemiskinan. Dengan kata lain, tidak selamanya orang miskin perlu dibantu dengan bantuan ekonomi (grant/hibah/donasi) namun sebaiknya perlu dibantu dengan membangun kesadaran mereka dan memanfaatkan potensi mereka (bisa coba dengan analisa SWOT secara sederhana dengan melibatkan mereka). Ini mungkin yang dimaksud Adlil Umarat dengan “bedah isi software rumah”. Namun, jangan sampai kegiatan ini terjebak dengan mengeksplorasi kemiskinan seseorang dan menjual kepada khalayak serta menjadikan ‘wisata kemiskinan’. Karena belum tentu mereka yang kita definisikan sebagai orang miskin nyaman dengan eksploitasi dan pemberitaan. Oleh karena itu sebagai kaum intelek bergelar sarjana, master serta doktor bantulah mereka untuk ‘bersuara’, menyuarakan aspirasi mereka (dengan tulisan, riset, dll) serta memandirikan mereka sehingga mereka dapat mencapai kehidupan yang penuh sejahtera secara holistik. Dengan demikian tercapailah cita-cita founding father kita sebagai bangsa Indonesia, yakni adanya kesejahteraan masyarakat serta tercipta keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.

    Reply

    • Kita bisa jadi katalisator untuk mereka. Kita menghubungkan ke titik-titik sumber akselerasi mereka agar lebih cepat sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Misalnya, Pak Udin dikenalkan bagaimana menjual burung dan mengenalkannya dengan komunitas penjual burung yang lebih besar. Istrinya kita beri pelatihan, mulai dari memasak, kecakapan rumah tangga, menyulam, mengolah barang bekas, anaknya Andi, kita beri pelatihan bahasa Inggris, belajar marketing kecil-kecilan. Bagi teman-teman yang kuliah akuntansi (pelajaran yang paling diminati Andi), bisa mengajarkan Andi agar lebih berprestasi lagi. Keluarga Andi punya kulkas, wifone. Dia bisa diajak untuk memarketingkan jualan es batu. Bikin kartu namanya, atau poster, sebar di sekitar kelurahannya, lalu jika ada yang minat, bisa tinggal tlp atau sms. Kita memberi umpan saja, bukan ikannya langsung diberi. Dengan metode ini saya yakin, kemiskinan struktural itu bisa didobrak, dieliminasi, dienyahkan sedikit demi sedikit. Target tidak muluk-muluk, dimulai dari satu keluarga di sekeliling tempat kita tinggal.

      Ben, dipastikan ini bukan wisata kemiskinan. Terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar dengan perspektif berbeda. Khas sosiologi.

      Reply

  21. Wah ane harus banyak belajar nih sama bang Adlil,penyampaian pesannya oke nih, salam super ya hehehehe

    Reply

  22. Ane termasuk org yg memandang persoalan kemiskinan sbg persoalan sistemik, persoalan yg menyeluruh. Artinya apabila diselesaikan satu-satu habis lah tenaga, bg pak Udin iya solusi yg cepat tp bgmana 32 juta rakyat di bawah garis kemiskinan lainnya? Perbaiki akar permasalahannya maka domino effect-nya akan melenyapkan semua 32 juta itu, sekaligus permasalahan lainnya spt pendidikan, pelayanan publik, dsb.

    Apa akar permasalahannya? Kita sbg santri PPSDMS sdh panjang lebar membahas ini, g perlu ane ulangi di sini. Yang ujung2nya berakhir pd mari kita masing2 jaga idealisme kepedulian, bekerja keras, berprestasi dan menjadi pemimpin di bidang kita masing2.

    Ane sadar meski langsung menembak akar permasalahan, solusi ini tak konkrit. In the mean time bkn berarti kita tutup mata sama sekali. Solusi instant ane langsung kasih cash atau kerjaan, biar sekalian instant. Turun ke lapangan bkn expertise ane, mending ane programming insyaAllah lbh produktif secara ane ahlinya. Hasil programmingnya baru diberikan ke BAZNAS, RZI, dsb. Hal2 begini memang expertise mereka… “Serahkan pekerjaan pada ahlinya.”

    Reply

    • Kalau kemiskinan itu sistemik. memang sulit mengubahnya dengan tangan kita sebagai individu. Intervensi lewat tangan kekuasaan pemerintah tentu lebih cepat dan tidak buang energi. Namun, kalau terlalu tergantung sama pemerintahan, rasanya kita juga akan salah. Salah karena tidak mengubah nasib sendiri, nasib tetangga, orang terdekat kita yang masih belum mampu secara ekonomi. Akar permasalahannya seperti tak pernah ditemukan dan dipecahkan. Pemerintah kita terlalu concern dengan makro ekonomi. Jika sudah kepepet, ya bagi-bagi BLT. Jadi, saya tak mau menggantungkan harapan ke pemerintah 100%. Kita usaha sendiri juga.

      Kalau rekomendasi ke BAZNAS, RZI, mungkin bisa cepat ditangani. Tapi saya tidak bisa dapat pelajaran apa-apa dari kasus ini. Kepuasan batin sebagai sarjana sosiologi saya tidak akan mencapai klimaksnya. Kalau anak fasilkom mungkin puas berinteraksi dengan sistem informatika. Kalau saya, ya dengan manusia, masyarakat. Jadi, inisiatif mengunjungi rumah orang kurang mampu, memetakan masalah mereka, memberi solusi “kail”-bukan “ikan”, dan melihat progresnya, adalah proses pencarian makna dan peran penting diri kita sebagai manusia, caring and sharing.

      Kalau untuk Sani saya sarankan bisa juga turut berpartisipasi. Caranya? Saya ajak anaknya pak Udin ke tempat Sani, dan Sani bisa mengajarkan operasionalisasi sederhana dari Laptop, PC, dll. Mencapai kemahiran, bukan intinya. Tapi, kita berusaha membangun mimpi anak tersebut, bahwa jika kita sungguh2 belajar, pasti bisa mencapai sukses, kuliah di UI, dapat beasiswa, dan tujuan akhir dari Andi (si anak) yang ingin kerja di perkantoran suatu saat, bisa digapainya. Minimal itu sumbangsih dan partisipasi yang bisa dilakukan. Kita berusaha mencuci otaknya agar punya keyakinan kuat untuk sukses.

      Reply

      • Posted by dewi_shogir on July 8, 2011 at 12:31 PM

        sepakat dgn mas adlil, selama ini saya lihat tidak ada peningkatan yang dilakukan pemerintah dalam pengentasan kemiskinan wlpun hasil dari BPS atau kementrian ekonomi yg banyak ditulis oleh media menunjukkan adnya penurunan angka kemiskinan diIndonesia tp sepertinya surve tersebut hanya semu dan pemerintah terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Banyak kasus kemiskinan yang sering kita temui disekitar kita yg membuat kita, kl bahasa jawanya “ngelus dodo”, apa ini peningkatan angka kemiskinan yg dimaksudkan pemerintah?! menurut saya, bantuan BLT bukan sebuah penyelesaian masalah yg seharusnya pemerintah sodorkan dlm menghadapi permasalahan kemiskinan, kok kl saya perhatikan hanya membuat masyarakat kita dididik sebagai mental peminta dan mengharapkan bantuan dr org laen. tapi salud buat para induvidu dan generasi muda yg konsen dan peduli bahkan berani mengambil langkah kongkrit seperti ini, jika ada banyak org yg tergerak hatinya untuk org-org miskin disekitarnya, tidak akan menjadi sesuatu yg mustahil untuk diminimalkan angka kemiskinan dinegeri kita. kl nunggu pemerintah mau sampe kapan?!

      • Ini gerakan simple, sederhana, ndak perlu teori, ndak perlu njlimet. Bantu keluarga kurang mampu dengan pengetahuan/ skill yang kalian punya. Kalau kita bisa internet, kenalkan pada anaknya bagaimana berinternet yang mendatangkan uang. Kalau Anda dokter atau sarjana FKM, kasih tau info cara hidup sehat. Kalau Anda ilmuwan sosial, beritahu ia bagaimana memanfaatkan social capitalnya berupa jaringan sosial, trust, dan networkingnya. Bukan sekadar diberitahu, tapi modal-modal itu “dihidupkan”, dibuat bekerja, untuk mendongkrak perekonomian mereka. Yang kenal orang RZI, Dompet Dhuafa, coba bagi linknya, kontak ke siapa jika mau minta modal usaha. Kalau punya bimbel, kasih kesempatan Andi (anaknya pak Nurdin) untuk jadi guru private bagi anak SD. Kalau Anda tahu tempat jual-beli burung yang sudah ternama, monggo diinfokan ke Pak Nurdin, agar dia bisa bergabung di pasar yang ramai pembelinya. Kalau anda ahli marketing, ajarkan dia cara menjual yang efektif. Jika Anda Miss Indonesia, ajarkan bagaimana attitude, manner, yang disukai masyarakat luas. Apapun, dan sekecil apapun yang kau punya, silahkan share. Teman saya mas Fani, memberi ide kegiatan ini diberi judul, “ISR” (Individual-Social Responsibility), another kind of CSR (Corporate Social Responsibility). Aku rasa namanya cukup keren. Heehhe. Anda semua bisa bikin di sekitar Rumah Anda. Bentuk grup kecil.

      • Posted by OeOeL on July 11, 2011 at 12:22 AM

        setuju….cara instant hanya akan memberikan hasil instant, tak tahan lama…program BLT sampai saat ini belum nampak hasilnya, hanya membuat banyak org (bahkan dari kalangan tak mampu) duduk2 dikursi mereka sepanjang pagi dengan secangkir kopi dan sebungkus rokok…kemudian dilanjutkan tidur kembali…tak mendidik….klo pemerintah tak mampu, apakah kita sebagai manusia juga harus ikut duduk2 dikursi tiap pagi dgn secangkir kopi dan sebungkus rokok dan melihat orang2 kesusahan????
        Ayo bang Ad lanjutkan usahanya….salah satu ide bagus tuh…

      • Thanks dek

  23. Posted by Pretty Silvia on July 6, 2011 at 11:25 AM

    Wah, pastinya akan butuh ekstra usaha dan kesabaran ya Ad, hebat deh, salut buat Aad atas niat kongkritnya, meskipun belum bisa dalam skala besar, tapi kalau ada langkah nyata seperti ini, mudah2n bisa jadi pilot project buat kedepannya bagaimana mengentaskan kemiskinan secara “software”..

    Yang pasti, mengubah kebiasaan seseorang (apalagi sebuah keluarga) yang sdh terbentuk bertahun2 tidak akan mungkin bisa dalam sekejap🙂 Mudah-mudahan bisa terlaksana niat baiknya, Insya Allah setiap niat baik yang kita laksanakan dengan sungguh2 akan Allah bantu..

    Kalau mengenai usaha secara ekonomi sdh byk kasih masukan ya, lagian kayaknya bukan bidangku Ad..🙂 Sedangkan untuk mengubah karakter lebih rapi, lebih didiplin, lebih bersih, aku coba kasih sedikit masukan ya, mudah2n bisa bermanfaat..

    Sebelum bisa rapi atau bersih, harus kita pastikan ada alat2nya tersedia, cukup yang sederhana, misal ada sapu, pel, lap, tempat sampah, sabun cuci piring, dan tempat sederhana untuk meletakkan perkakas / baju2 tersebut.. Kemudian kita ajarkan dan tanamkan pentingnya kebersihan dan kerapihan.. Bahwa manfaat rapi dan bersih ADALAH UNTUK MEREKA SENDIRI.. misal jika mereka butuh mencari baju atau alat lain akan lebih cepat bagi mereka menemukannya (lebih efisien dalam hal waktu).. Ditanamkan juga bahwa hal tersebut adalah tanggung jawab seisi keluarga, bukan hanya ibu.. Anak2 dan bapaknya dapat dilibatkan untuk membantu ibu di waktu luang mereka, seperti membantu melipat cucian kering, membantu cuci piring, bisa setelah pulang sekolah atau mana waktu yg lebih available buat mereka.. Bisa juga untuk cuci piring masing2 bertanggung jawab terhadap piring dan gelas yg mereka pakai, atau bisa juga sistem bagi tugas harian..

    Jika seisi rumah memang bisa baca tulis, maka pembagian tugas harian dapat ditulis saja, hal ini lebih jelas.. Misal Hari Senin dibagi siapa yang bertugas cuci piring, siapa yg bertugas melipat pakaian, siapa yg bertugas bersih2 / sapu rumah, siapa yg bertugas setrika.. Setiap anak juga bertanggung jawab terhadap barang2 mereka sendiri, misal bukunya disimpan dengan rapi.. Tugas2 tersebut TENTUNYA disesuaikan tugas dengan kemampuan dan usia mereka, karena jika anak dari kecil sudah dibiasakan rapi dan bersih maka akan terus terbawa sampai dewasa (bahwa rapi dan bersih dalam rumah juga dapat mejadi contoh pembelajaran dari sebuah klasifikasi non kongkrit untuk anak2 mereka) dan hal ini tidak hanya bermanfaat untuk urusan rumah saja namun dapat juga menjadi pelajaran untuk anak2 ke depannya dapat rapi untuk urusan yang tidak terlihat, misalnya rapi me-manage waktu..

    Hal tersebut dapat dilatih melalui kerapihan dalam hal kongkrit atau nyata seperti urusan rumah tadi (dan tentunya hal ini harus ditanamkan baik2 kepada kedua orang tuanya jika memang mereka ingin ada perbaikan untuk keluarga mereka ke depannya maka meraka harus benar2 punya niat yang kuat).. Tentunya semua butuh waktu dan proses, setelah bertahun2 mereka terbiasa berantakan maka akan benar2 butuh usaha ekstra.. Orang tua mereka benar2 akan menjadi role model buat anak2nya, jadi harus ditekankan kepada orang tuanya bahwa mereka harus berubah dan mengajak anak mereka ikut berubah menjadi lebih baik..

    Selain itu, manfaat rapi dan bersih jika mereka lakukan dengan ikhlas, selain manfaat terasa langsung di dunia, Allah juga akan mencatatnya menjadi amal mereka kelak, betul bukan? Kebersihan adalah sebagian dari Iman😀

    Mudah2n bisa bermanfaat ya… Maaf kalau ada kata yg krg berkenan.. Mudah2n bisa ikut membantu secara kongkrit juga..
    Waslmkm..

    Reply

    • Terima kasih atas komentar detil berisi tips ampuh. Aku juga kepikiran, bagaimana memberi pengertian ke mereka agar bisa mengatur dirinya sendiri dengan bersih. Aku pernah lihat tayangan Oprah Winfrey, ada ibu2 rumah tangga suka menyimpan barang bekas, dan mereka diedukasi dengan trainernya datang ke rumah. Akhirnya setelah diberesin sendiri dengan bantuan supervisi dari trainer, rumahnya jadi bersih. Aku rasa, kita bisa coba cara itu, dgn detil tips spt yang kak Pretty ungkapkan. Terima kasih ya. Jadi makin yakin bahwa “Ini akan dilalui dgn mudah”.

      Reply

  24. Posted by oppie on July 6, 2011 at 5:00 PM

    ad..bagus bgt tulisannya, jujur ide aad keren bgt, aplikatif dan langsung bermanfaat, abis baca opi jadi pengin ikutan project aad, mengaplikasikan “ilmu kesarjanaan” opi di bidang kesehatan masyarakat, pengin bgt ngerubah orang biar bisa lebih baik..bner kata aad klo yg dirubah software pasti bakalan awet, tp klo cuman fisiknya doang bisa runtuh kapan aja..its amazing sentence, really inspiring..

    sering bgt punya or muncul ide kaya gitu, yg bisa terjun langsung ke mayarakat, tapi sulit untuk melangkah di awal..tapi aad bner2 ngebuktiin bikin semuanya terlihat mudah,,saluuttttttt bgt ad:>

    opi tertarik sm yg bisa bikin hidup keluarganya pa nurdin supaya bisa lebih sehat, dan gmn cara memanfaatkan tempat yg kecil tapi tetep enak diliat, rapih dan bersih…potret kehidupan pa nurdin, jadi pengin opi bawa buat bahan diskusi sm dosen opi..untuk menentukan langkah apa yg tepat untuk mereka….

    oh yach, ngomong2 pa nurdin or keluarganya itu ngerokok ga yach ad?

    mungkin itu aja dulu yg bisa opi share ke aad, semogaaaaa..ide aad dan apa yg aad lakuin bisa membuahkan hasil yg maksimal dan banyak dapet dukungan banyak orang..n yg pasti daoet kekuatan dari Allah SWT, suapay aad tetep bisa berkarya…4 thumbs up!!eits, salah kebanyakan yach!!hehehe:>

    Reply

    • Ditunggu hasil diskusimu dengan pak Dosen. Kita tantang juga, apakah dosen bisa ngasih masukan yang tepat untuk menangani masalah ini. Ide pelatihan hidup sehat dan bersih bagus tuh. Ditunggu operasionalisasi konsepnya ya. Oia, pak Nurdin benar merokok. Anaknya, aku tak tahu pasti. Pergaulan di sekitarnya sepertinya sih merokok. Tapi perlu dicek lagi. Terima kasih doa dan jempolnya.

      Reply

  25. Posted by rifa on July 6, 2011 at 10:24 PM

    Rada sesak bacanya.
    Zaman sekarang lapangan kerja seperti apa ya yang bisa menyerap banyak SDM, bisa ngasih upah pantas, bisa bikin karyawannya pada betah, kreatif, produktif, rajin kerja, dan loyal ke perusahaan, sehingga mampu mengikis gunung kemiskinan,
    Kalo saja ada perusahaan yang kokoh, ga goyah terancam bangkrut, perusahaan yg berkuasa tapi ga korup, inovatif, loyal ke karyawan, adil, dan bisa menularkan sistem yang baiknya itu ke perusahaan2 lain,,, ah indahnya dunia.

    Reply

  26. wah, tulisan yang sangat deskriptif menggambarkan kondisi kemiskinan suatu keluarga. saya jadi inget, dulu waktu saya di jogja juga pernah bergabung dengan komunitas ‘pembedah’ mindset seseorang seperti mas adlil, dimana pola fikir meminta harus diubah menjadi memberi, dan produktivitas harus dihadirkan untuk memyeimbangkan dengan tingkat konsumsi. walaupun kini setelah saya pindah kota, agak sulit menemukan komunitas seperti mas adlil dan rekan-rekan.
    dalam mengatasi masalah keluarga pak udin, saya ada sedikit saran, yang mungkin juga sudah diutarakan oleh teman-teman yang comment terdahulu.
    pak udin: bisnis burung
    istrinya: jualan kue, buka warung
    andi: ngajar les
    modalnya nanti kita bisa patungan mas, gimana?

    Reply

  27. Posted by ririh on July 7, 2011 at 3:18 PM

    wow….realita yg menyedihkan ya….
    tetep semangat mas aad!
    aq doain sukses dlm menjalankan hobi barunya…..

    Reply

  28. Oke banget ad, tindakannya nyata sekali. suka suka.. Sukses ad buat project-nya.

    Reply

  29. Posted by Ummu on July 9, 2011 at 7:41 AM

    Ad, baru kali ini ya liat orang miskin?? sampai segitu terenyuhnya, didaerah gw banyak yg kaya gitu para pedagang bakso cuanki, baso cilok, aksesoris seribuan dll mereka n keluarga idup seadanya dikontrakan yang jauh dari layak.
    Saran untuk Pak Udin ya mau gak mau suruh hijrah dari kediaman sekarang, cari kontrakan yang lebih layak, mungkin dengan itu rumahnya bisa lebih bersih dan rapi, kalo bisa di daerah yang memungkinkan untuk disambi buka usaha, suruh deh usaha (bisa usaha pulsa, makanan kecil, nasi uduk dll), si Andi udah gede tuh bisa disuru keliling jualan makanan kecil semacam donat pastel dll (didaerah gw ada yang kaya gitu, tiap pagi/sore die keliling jualan donat tpi tetep sekolah), kalo mau ada yang modalin si pak Udin bikinin gerobak bisa buat jualan lauk mateng atau apa yang bisa dijual keliling (udah banyak contohnya). si Ibu biarin tetep dirumah kerja dari rumah sambil jagain anaknya yg kecil2. Kalo ada kemauan pasti ada jalan.Sekian

    Reply

    • Ummu, ini bukan pertama kali melihat keluarga miskin. Ini teknik menulis diupayakan detil agar pembaca juga merasa ada di sana.
      Yang kepikiran sekarang 1. Bersama-sama memberikan kesadaran kepada keluarga Pak Nurdin untuk bersih-bersih rumah. Ada aturan filosofis dan tertulis yang dibuat dan ditempel di dinding rumah. Berikut peran masing-masing anggota keluarga. Ada coach dari anak FKM atau Kedokteran yang memberi penjelasan; 2. Melarang Pak Nurdin untuk merokok. Berhenti total. 3. Menganjurkan beliau berobat ke Puskesmas. Kalau perlu diantarkan dan dikenalkan dengan perangkat Puskesmas. 4. Membelikan sepeda bekas. Gunanya bisa untuk sekolah Andi, atau jualan burung keliling oleh ayahnya kalau sore. 5. Menyarankan Andi jualan donat, atau sejenisnya ke sekolah barunya, jadi agen pulsa ternama di sekolahnya (jadi temannya beli pulsa pasti ke dia), dan mendorong dia jadi guru les private untuk anak SD. Bimbelnya nanti cari bimbel punya teman. 6. Mendorong Andi mengembangkan bakat di Marawis. Kita paksa Marawis dekat masjidnya aktif lagi, karena dekat-dekat ramadhan biasanya banyak event. 7. Memberi modal untuk Pak Nurdin agar menggarap serius bisnis burung, dan ayam. 8. Memperkenalkan Andi dengna internet. Gw yakin dia kenal internet tapi untuk main game. Kita arahkan dia belajar e-commerce. Dia memasarkan produk ayahnya lewat social media. Jadi kaskus’ers. 9. Untuk ibunya, gw pengen dia jadi tukang jual es batu no 1 se antero kelurahan. Hehhee. Karena dia punya kuklas. Marketingnya, bisa dibikin flyer disebar oleh Andi. Dia jago design juga. 10. Mendorong ibunya Andi untuk bisnis selain makanan. Kalau bisnis makanan dia ga hoki, karena image nya dianggap kurang bersih oleh tetangga. Jadi orang kurang berminat membeli makanan masakan dia. Kalau bisnis barang/ kelontong, lebih berpeluang.

      Kalau semua itu dah jalan, Insya Allah cash flow keluarga Pak Nurdin dah ok. Ndak perlu ditopang lagi. Sudah bisa mandiri. Kalau ada saran lain, silahkan sampaikan.

      Reply

  30. Posted by munir on July 9, 2011 at 8:21 PM

    Mmmm…. gue agak terusik ama sudut pandang ente yang bagi gue terkesan terlalu cepat menyimpulkan/mengarahkan ketidakrapian itu kemalasan. karena mnrt gue lagi, malas di satu sisi tidak berarti malas di sisi yang lain, demikian halnya rajin di satu sisi tidak berarti rajin di sisi yang lain. Ente menilai ketidakrapian sebagai kemalasan melalui nilai-nilai masy kelas menengah. Mestinya ada alasan kenapa mereka seperti itu daripada terlalu cepat menyimpulkan itu bentuk kemalasan.

    Gue setuju kalo kemiskinan mengandung banyak dimensi sprti yg ud disinggung dlm tulisan ente. Tidak melulu dimensinya dideterminasi oleh faktor2 ekonomi seperti ketiadaan resources, skill, hukum permintaan-penawaran dan semacamnya. Dimensi kemiskinan juga meliputi faktor budaya, mentalitas, struktur sosial, akses informasi, dan semacamnya yang njelimet2. Sehingga, seringkali para intelektual terjebak dalam keasyikan bermain2 dengan hal2 yang njelimet tersebut dibanding aksi nyatanya. Tapi itu lebih baik daripada tdk melakukan apa2 juga.

    Balik lagi ke tulisan ente ttg ide “bongkar software”. Jika dugaan gue bener tentang ide bongkar software itu artinya bongkar mentalitas dan cara berfikir “si miskin”, maka Ini bukan kerjaan yg mudah, meskipun bukan hal yang tidak mungkin (tidak ada maksud mengecilkan hati). Jangankan mengubah mentalitas “si miskin” yang tentunya latar belakang kehidupannya turut membantu membentuk mereka seperti mereka adanya, mengubah mentalitas orang2 yang lebih beruntung secara ekonomi untuk bekerja lebih giat dan cerdas saja tidak mudah.

    Mentalitas seseorang terbentuk bukan karena faktor2 di dalam diri mereka saja, tapi relasi antara dirinya dengan lingkungannya. Artinya klo berbicara mengubah mentalitas, berarti harus membicarakan strategi budaya yang tentunya tidak hanya melibatkan si miskin itu sendiri, tapi juga masyarakat di lingkungan sekitarnya.

    Klo bole usul, yang mesti didekati dan diberikan “perlakuan” jangan hanya si miskinnya saja, tapi juga masyarakat sekitarnya dan para pembaca disini (yg ini sudh dilakukan). strategi dan teknisnya gimana ? mari sama2 rumuskan…

    numpang nyontek omongan pamannya spiderman:
    seseorang yang memiliki klebihan berarti juga punya tanggung jwab yang lebih.

    Keep the spirit bro !

    Reply

    • gw dah datang dua kali nir ke rumah si doi. kondisi tetap sama. baju berantakan. nah, pas datang kedua kali, gw tanya anaknya secara terpisah. “Kenapa baju ini tidak diberesin?” jawaban anaknya, “Iya, katanya ibu mau ngupah orang aja buat beresin baju-baju ini”. Nah, lho? wak wauw wauw…Gw geleng-geleng kepala. Kan dia bisa nyicil tiap jam melipat satu-satu, atau ngajak anaknya yang tiga orang nyicil lipat bersama. Dasar malas aja sih menurut gw. Ga ada leadership untuk membuat sistem kerapihan di rumahnya. Tantangannya memang berat nir, mengubah mentalitas. Tapi tak seberat yang dipikirkan, jika langsung dijalani, dilaksanakan dengan hati riang. Gw punya keyakinan akan hal itu.

      Reply

  31. ehm, walaupun saya belum sarjana apalagi master (insya Allah calon sarjana psikologi), pengen ikut komen dong.. hehe

    aku fokus di kebiasaan buruk keluarga pak udin dlm hal kebersihan dan kerapian rumah ya.

    kalau dalam psikologi, memang benar kak, ketika ada seseorang yg secara psikis ‘ga beres’ (walaupun krg pas, katakan saja ada yg ga beres di jiwa anggota keluarga itu), sesuai dgn konsep ‘kail’ yg disinggung di salah satu komen, kita harus memancing dia sampai bisa keluar dari ketidak-beresan itu sendiri, konkretnya, ya ga perlu terlalu banyak mendikte, ”kamu harus begini begitu..” tapi digiring. sehingga ‘kesembuhannya’ dtg dr dalam diri sendiri (It’s in me, kata aqua) ya ini sih berkaitan dgn cara penyampaian aja.

    tapi sepertinya kasus kapal titanic pecah ini harus pake aplikasi hipnoterapi, jalan terakhir dlm penyelesaian mslh. hehe

    hm, paling, untuk stimulan, perlu juga dipenuhi kebutuhan2 perabot kebersihan, pel, ember, sapu, pembersih kamar mandi, dkk. juga kebutuhan2 penunjang kayak karpet, loker pakaian, excel,

    langkah kecil utk kasus rumah berantakan ini, misalnya, mereka diperlihatkan profil keluarga lain yg meskipun miskin, tapi bisa menikmati kemiskinannya, dalam arti ya.. suasana rumah nyamanlah, yang sdh ada disyukuri dgn cara dirawat, yg belum ada yah ga usah dipaksain biar ada.

    banyak sodara atau temen2ku baik di bandung maupun di kampungku, tasikmalaya, yg secara finansial ga lebih beruntung dr pak udin dan keluarga, tapi dlm kesehariannya mereka tampak ‘terawat’

    masalah ini erat kaitannya dgn peran ibu. kalo kaya gini, berarti ibunya memang kurang terlatih buat menciptakan suasana nyaman dan asri di rumah. rumah sejelek apapun, kalo ada sentuhan wanita yg terampil, bisa terasa cozy, Bos. sebaliknya, rumah semegah apapun, kalo ngga tersentuh sama tangan wanita yg terampil, ngga terasa nyaman sama sekali.

    salah satu usulku, mungkin kakak bisa hubungi TP PKK setempat, syukur2 bisa ngasih pelatihan buat ibu tsb dan ibu2 setempat. atau ga, dari tenaga yg ada aja gitu. (andai aku bisa..) bisa aja kan melibatkan Ibunya siapa gitu..

    kalo kaka ada kenalan psikolog, bisa diajak agar keluarga tsb, terutama ibunya, bisa konsultasi masalah2 yg mungkin BELUM TERLIHAT alias masih luput dr poin2 yg dibahas di sini.

    intinya sih, untuk masalah kebersihan dan kerapian, aku fokus ke sang ibu. masalah terbesar keluarga ini kayanya di menejemen deh.

    rumah yg bersih dan rapi akan mendukung terciptanya atmosfir semangat bekerja. keluarga makin hangat, komunikasi makin baik, ortu-anak makin saling memahami

    hwa.. aku baru bisa sebatas komen nih, kak..😥
    (jeritan hati anak baru lulus SMA, ”hijau”)

    Reply

    • Yang komen memang anak baru lulus SMA. Tapi konten dan konteks pembicaraannya layak disejajarkan dengan Sarjana. Terima kasih atas saran PKK, contoh rumah sederhana lain tp rapi, dan tidak menggurui tapi mendatangkan kesadaran dari dalam diri.

      Reply

  32. ehya kak, gimana respon para tetangga pak udin? (atau pak udin tak bertetangga?)

    khawatir memunculkan percik2 kecemburuan gitu,,

    Reply

    • Pengamatan yang jitu. Ada tetanganya yang datang, lalu nanya2. “Mau dibedah rumah dari RCTI ya? Itu ada saudara saya juga yang butuh pak. Tolong dilihat juga pak”. Waduh. kalo yang ini bedah software bu, bukan bedah fisik rumah. wakakakakak. Tapi, untuk ukuran anak SMA, pengamatanmu jeli. Mampu membayangkan apa kemungkinan yang terjadi, dan ternyata memang telah terjadi. Hebat!

      Reply

  33. mantab bang usahanya…

    kalo butuh bantuan, kontak saya aja. cuma sampe sekarang belum kepikiran nih apa yang bisa saya bantu terkait kompetensi saya di bidang ilmu komputer😀

    Reply

    • Kali aja ada info dan pengalaman memberdayakan masyarakat di Tegal yang bisa disharing ke saya di Depok. Thanks dah mampir

      Reply

  34. Sejak lulus dari Assalaam, 12 tahun yang lalu, kita tak pernah bertemu.Tapi membaca ini, aku kembali dapat mengenalimu. Dulu aku sempat tinggal di depok, kerja di klinik-klinik 24 jam, selama kurang lebih setengah tahun. Aku agak menyesal kenapa aku nggak mencoba menghubungimu dan buat janji bertemu. Mungkin terpisah rentang waktu lama, membuat kita khawatir orang yang kita kenal tak lagi sama. Tak apalah, blog ini semoga awal kita kembali bisa berteman.
    Seorang sarjana sosiologi sepertimu tak heran begitu terhisap dengan permasalahan sosial di lingkungan sekitar. Ya, itu bila sarjana sosiologi memahami betul apa yang dipelajari bukan hanya pajangan pengetahuan di kepala. Dan Adlil mencoba membuktikan langsung pelajaran bangku kuliah di alam nyata. Meski tampak biasa, aku tahu itu bukan hal mudah. Di tengah budaya Jakarta yang hedonis, arogan, dan apatis pastinya lebih nyaman untuk ikut arus mengejar promosi di kantor atau menghabiskan malam membicarakan tentang hal-hal yang umumnya dianggap keren. Turun dan berbincang dengan kaum miskin pinggiran dan bertahan dengan bau tak menyenangkan? Tentu bukan hal yang bagi sebagian besar orang patut diperhitungkan mengisi waktu luang akhir pekan. Sama sekali tidak keren! Begitu mungkin jawaban lulusan sarjana yang lebih gemar dengan hingar bingar mall.
    Aku hanya bisa mendukungmu dan berdoa ini bukan yang pertama dan dilupakan seiring kesibukan menderamu. Seperti api yang menyala terang saat minyak ideologi masih ada, tapi perlahan padam bila tak lagi menarik untuk digali. Bosan adalah mesin pembunuh nomor satu. Saat ini terenyuh dengan laboratorium sosial yang kau temukan, esok hari bisa jadi apa yang dibincangkan hari ini tak lebih dari kenangan yang sengaja dihapuskan. Semoga tidak. Semoga tidak hanya semacam hobi. Semoga ini langkah awal untuk embrio pekerjaan besar di masa datang. Ya, bisa jadi seperti itu. Jika banyak orang mengulurkan tangan, segala hal mungkin terjadi.
    Bagaimana membantu mengentaskan kemiskinan ? Seperti halnya menjawab pertanyaan “Bagaimana membuat negara ini keluar dari keterpurukan”, selalu muncul dua jawaban besar. Yang pertama berbicara tentang perbaikan sistem : DPR harus diisi orang-orang baik (bukan sableng), undang-undang yang membuka kesempatan perubahan, aturan penyelenggaraan pendidikan yang adil dan juga berpihak kaum miskin, kebijakan pemerintah yang cerdas, dan bla-bla-bla lainnya. Yang lain menjawabnya dengan aksi langsung sederhana, tanpa banyak teori langsung aksi. Rumah singgah bagi anak-anak jalanan, menjadi pendidik bagi pengamen kecil yang tak kenal sekolah, mendirikan usaha yang karyawannya dari warga perumahan kumuh bantaran sungai, mengisi pengajian di penjara-penjara, dan sejenisnya. Dua-duanya bagiku sah-sah saja, tak ada yang salah dalam hal niat menolong sesama. Yang terpenting adalah lakukan yang kita bisa. Itu saja.
    Suatu ketika aku ditempatkan di Jepara sebagai dokter muda. Sialnya, dua orang dokter muda Belanda juga ikut menemaniku di sana. Aku yang bahasa inggrisnya blepotan, ditunjuk begitu saja jadi “guide tak resmi” bagi dua bule yang ternyata sengaja datang ke Indonesia untuk belajar infeksi tropis. Malaria, tuberkulosis, dan tifus jarang di negara kaya mereka.Singkat cerita, kami datang ke rumah seorang anak 5 tahun yang menderita TBC dan gizi buruk. Home visite, begitu kedokteran menyebutnya. Hasilnya, tak jauh berbeda dengan apa yang kau lihat. WC yang campur dengan dapur, ventilasi rumah yang buruk, baju kotor dimana-mana, kandang kambing yang bersebelahan kamar mandi, dsb. Dua bule itu sangat terkejut tentu saja, bagaimana bisa orang bisa tahan hidup dengan lingkungan seperti itu? Pasti itu pikir mereka. Saking tertariknya mereka dengan kondisi rumahnya, si bule tanya banyak hal (lewat aku) kepada pemilik rumah. Berapa pendapatannya tiap bulan? Ada berapa yang tinggal di rumah? Berapa kali bak mandi dikuras? Apa jendelanya dibuka tiap hari? Menu makanannya biasanya seperti apa? Apa air minum direbus atau langsung diminum? Dan puluhan lain seperti itu. Aku lebih terkejut melihat antusiasme bule Belanda. Di kedokteran, pertanyaan lebih banyak ditujukan pada diagnosis penyakit, jarang tentang latar belakang lingkungan. Lewat bule itu, mataku dibuka lebar-lebar betapa hubungan antara kemiskinan dan kesehatan saling berhimpitan.
    “Di Belanda, semua warga dijamin kesehatannya oleh asuransi nasional. Begitu pula bila ada keluarga miskin, negara melakukan upaya untuk menolong mereka lewat pinjaman ringan dan lapangan pekerjaan,” begitu kata mereka bangga.
    Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ingin sekali aku menjawab,”Di Indonesia undang-undang bahkan mengatakan fakir miskin dan anak yatim dipelihara oleh negara.” Sayang aku pikir aku hanya malu sendiri melihat mantan penjajah kita itu makin tak habis pikir dengan kenyataan di depan hidungnya.

    Reply

    • Terima kasih tak terhingga sudah mampir di blogku, Isnawan. Lama sekali ya tak ketemu. Mendengar kisahmu dengan Bule Belanda, bikin hati tersayat-sayat. Kapan2, aku konsultasi denganmu ya pak Dokter. Minggu depan aku mulai gerak perlahan. Eksekusi plan yang sudah terkumpul. Teman-teman lain yang mau gabung, silahkan kontak saya japri: umarat.adlil@gmail.com

      Reply

  35. maap kak, baru sempat berkunjung mengomentari..🙂

    hmm, gemes ya.. terlalu kompleks kegemesan saya ini. banyak potensi sebenarnya.. tapi terserak dan terlewat begitu saja. sebenarnya keluarga pak udin ini masih jauh lebih beruntung dari kebanyakan keluarga tidak mampu yg pernah sy lihat. masih bisa lihat uang pesangon 10 juta, masih bisa menyekolahkan 3 orang anak dan yang satu akan sekolah di SMK jadi siswa berprestasi pula, di saat orang lain hanya mampu sebatas menyekolahkan sampai sd saja. masih bisa menikmati tivi, kipas angin keramat, dvd, wifone, kulkas pula dikala orang lain masih berjibaku dengan kegelapan di malam hari karena listrik pun tidak punya.
    terlebih lagi tentang kondisi rumah yg seperti titanic pecah. menurut saya, problem ekonomi tidak bisa dijadikan alasan untuk boleh hidup kotor dan berantakan. orang yang berkecukupan pun ada saja yang tidak termenej dengan baik kerapian dan kebersihan rumahnya.
    jadi, menurut saya.. tergantung niat dan ikhtiar dari keluarga ini sendiri. apakah mau untuk berproses menjadi lebih baik atau cukup puas dengan kondisi sekarang ini.

    yang masih sy tanyakan, apakah keluarga pak udin ini paham dan mengerti maksud dan tujuan projek ka aad tentang bedah software ini? syukurlah jika mereka telah menyadari bahwa kk dan rekans tidak akan sekedar memberi uang atau barang. boleh lah berpikir akan diberi kail dengan berbagai opsi ekonomi yg telah banyak dibahas komen2 di atas, tapi yg paling penting mereka sadari adalah mind set mereka lah yg akan diupgrade. saya pikir harus ada kalimat yang terikrar dari pihak mereka bahwa mereka telah siap untuk membuka pikiran mereka dan menerima instalan2 kebaikan yg sifatnya membangun dan akan jelas beda dengan apa yg telah mereka jalani, mereka anggap dan mereka pikirkan bertahun2 selama ini. jika mereka telah pahami itu saya pikir apapun teknik dan solusinya ke depan, insya allah akan mudah diaplikasikan.

    tentang langkah konkret-nya semoga yg sedikit dari sy berikut bs melengkapi ide2 cemerlang komentator2 sebelumnya :

    1. KTP nya diurus, buat kartu Jamkesmas. Kalo udah pegang Jamkeskas, insya allah jangankan obat.. di RSUD layanan CT Scan, Rontgen2 lain, Cek Lab, rawat inap, dsb gratis. jadi tidak perlu pusing untuk tetap hidup sehat.
    2. Masuk ke wilayah kerja puskesmas mana ya itu? Puskesmas yang bersangkutan juga bertanggung jawab sama kualitas gizi dan kesehatan lingkungan keluarga itu lho. kalo di solo sini, biasanya ada banyak penyuluhan2 n pengecekan gizi seimbang gitu. petugas n kader puskesmasnya nguber2 sampe tingkat personal. bisa dibantu untuk melaporkan data keluarga pak udin ini ke puskesmas ybs.
    3. kulkas yang ada di rumah itu produktif ga ya? blum diceritakan soalnya. kan bisa aja si ibu usaha bikin es, agar2, jelly, dsb. kalo blom mampu bikin warung sendiri ya bs disetor-setorin ke warung2 orang.
    4.selain memberdayakan andi, adik2nya yg masih SD dan balita bisa dikader menjadi andi2 selanjutnya. paling tidak, andi punya jadwal rutin untuk mewariskan keterampilannya kepada adik2nya, ada waktu khusus untuk mengajari adik2nya pelajaran2 sekolahnya, sambil ia sebagai kk yg paling mengenal adik2nya bs melihat bakat dan potensi apa yg bs dikembangkan dari adik2nya.
    5.adiknya yg kelas 5 SD bisa mulai bantu ortunya secara finansial. sambil ke sekolah bs jualan apa aja yg bs dijual. gorengan, kue2 basah, ato mau jualin barang dagangan saya? pangsa pasarnya anak SD juga bisa, hehehe…
    6.tentang kebersihan rumah, anggota keluarganya ada 6, cukup banyak tenaga di rumah itu yang bisa diberdayakan. semua anggota keluarga punya tanggung jawab akan kebersihan dan kerapihan rumah dibawah komando ibu sebagai menejer rumah tangga. ibu harus tegas dan punya peraturan yang baku dan jelas kegiatan sehari2 dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa kali seminggu menguras bak mandi, dimana posisi sandal sepatu harus diletakkan, kapan kipas angin harus dibersihkan, siapa yg hari ini bertugas mengepel, siapa yg hari ini bertugas menyapu. semua diusahakan konsisten.
    meski sulit karena memang melompat jalur dari kebiasaan sebelumnya insya allah jika berikhtiar dengan sungguh2 dan berdoa, Allah akan Mudahkan semuanya..🙂

    Semangat, Ka Aad dan Rekans.. semoga sukses Dakwah Sosialnya ^_________^

    Reply

  36. Mimpi kita mungkin dapat dibubarkan, dicemoh dan diremehkan secara sepihak tetapi mimpi itu tidak akan dilenyahkan, kecuali apabila dilepaskan. Jangan biarkan orang lain menghalangi cahayamu dan teman-teman.

    Benar… dari semua komentar di atas, hanya saja lebih pada pertajam pikiran pesimis.
    tugas ini berat, karena proses ini berjuan melawan dan coba merekonstruksi kesadaran. Hampir sama dengan kekuatan yg digunakan untuk mengendalikan pikiran, untuk mencipta ulang keadaan (dalam hal ini kasus Pak Udin).
    Jangan biarkan sesuatu yg membuat kita kuatir, terus berjuang dengan segala sesuatu yg kamu pikirkan. Saya doakan niat mulia ini kepada Tuhan, biar kita sama-sama tebarkan mimpi kepada alam raya indonesia, dengan sebuah syukur dan wujutnyatakan dalam sebuah tindakan.

    Membangun manusia indonesi untuk berani bermimpi menjadi lebih baik, bukan hanya tugas pemerintah tetapi tuga tugas terutama kita sebagai masyarakat terdidik, ini demi tanah air kita dan pengapdian pada masyarakat sesuai tri darma perguruan tinggi serta kepuasan intelektual. Slm juang

    Reply

    • Terima kasih teman. Your words make me stronger than before. Jangan lupa mampir terus ya di blogku. Kapan2 pengen rasanya main ke Papua. Kapan2 aku mau main juga ke Papua. Sukses buat rumah bacanya ya. Kalau ada yang bisa dibantu dari sini, jangan ragu kontak.

      Reply

  37. Posted by Ciput on July 12, 2011 at 11:46 PM

    Hal yang terpikir pertama kali : usaha apa yg bisa mereka jalankan??

    Maklum,,, pedagang..🙂

    Terbayang apa jadinya jika Pak Udin, istri, dan Andi bergerak jadi 1 tim. Jujur, ada bakat pemasaran, cerdas. Di lokasi sekitar wilayah rumah mereka kan banyak usaha kost, apa mereka tidak ada link ke juragan2 penginapan?
    – Tempat tinggal, makan-minum gratis
    – Dapat gaji & penghasilan tambahan
    Pak Udin : room cleaning & penjaga penginapan
    Istrinya : terima jasa cuci-setrika baju, available juga utk urusan perut2 anak kostnya, alias sedia katering. (Cttn : cucian yg sudah kering nggak dibiarkan berantakan di 1 tempat & dibiarkan menggunung🙂 )
    Andi : kasi les privat, penjual koran, jual pulsa.
    Rasanya klo Andi diperkenalkan dengan komputer dan internet, dia akan bisa lebih maju dibanding sekarang. Misalnya dia sudah kuasain komputer & internet, dia bisa berjualan secara online, asal jgn kecantol duluan sama game online ya. Bisa lupa sama yg lain kalo begitu ceritanya. Hihihihi… :p

    Barangkali aja pembaca disini atau teman2 yg lain punya sekolah, tempat kost, dll yg bisa menerima 1 keluarga, atau bisa juga memilih salah 1 dari mereka utk diberikan pekerjaan.🙂

    Oya, apa Andi punya nomer hp? Siapa tau suatu saat dibutuhkan.
    ————————————–

    Alhamdulillah… malam ini membunuh waktu lewat bacaan yg menarik lagi. Thanks, Ad!!

    Reply

    • Usulannya bagus put. Nanti ditindaklanjuti. Tp memang bertahap. Andi memang bisa digali potensi untuk internet. Asal jgn ketemu game “Ayo Dance”. Hehehe. ada hpnya. Nanti aku kirim japri. Kali aja Ciput mau ngobrol2 ama mereka.

      Reply

  38. Posted by Ana Aulia on July 13, 2011 at 12:01 AM

    mas aad.. ceritanya seru deh! asiik neh ngebolang :p
    pak udin mending cari kerja deh. jd security kek, OB kek.. whateverlah.. kasian tuh anaknya butuh asupan gizi. jgn biarin anak2nya mengulang nasib kyk pak udin😦
    buat Andi, belajar yg rajin ya dek. biar dpt beasiswa. kalo kamu punya keahlian, buka private aja… bagaimana ide bagus bukan?? *colek mas aad*

    Reply

  39. Posted by kupikani on July 18, 2011 at 11:13 AM

    Wuidihhh… bener2 analisis khas sosiolog.. detail banget, nice post.

    Oke, sekarang kalo oleh nyumbang ide :
    1. Sepakat, bahwa kita harus ubah kerangka berpikir mereka, dan dalam hal ini yang paling mudah adalah anak-anak nya karena masih lebih open minded.
    2. Berdasarkan poin 1, mari kita jadikan Andi sebagai starting point untuk perubahan keluarga ini.
    3. ide konkretnya, coba perlahan kita “kasih makan” Andi dengan buku-buku menggugah yang menceritakan perjuangan lepas dari kemiskinan misalnya : 9 summers 10 autumns, laskar pelangi, sang pemimpi dsb. Dikasihnya satu-satu, suruh baca dan tiap weekend kita datangi dan ajak diskusi tentang buku itu (untuk memastikan dia baca dan mengerti)
    4. Untuk lebih nampol lagi, setelah baca buku, mungkin si Andi kita bawa ke kenalan-kenalan kita yang mengawali hidupnya/masa kecilnya dari kemiskinan. Sisipi hal2 teknis seperti : “Dulu bapak waktu kecil juga sebelum berangkat sekolah, cuci-cuci piring dulu, beres2 rumah dsb” supaya dia tergerat tuk beres2
    5. Nah kita bombardir deh paradigma anak itu, sampai akhirnya dia promotor perubahan di keluarganya, misal dia mulai bersih-bersih sendiri, nanti perlahan anggota keluarga lain mengikuti, trus dilanjutkan dengan kita ajarin bisnis kecil-kecilan, jadi pulang sekolah bisa bantu ortunya cari uang (tapi yang ga ganggu sekolah) dsb. intinya nanti anggota keluarga lainnya juga pasti malu dan mengikuti apa yg dia lakukan.

    mudah2n ide ini bermanfaat ya ka,

    Reply

    • Ya. Rencananya, semua buku2 aku akan dipinjam kan ke dia bertahap. Mulai dari 9 summers 10 autumns, pelukis bali dari kalangan anak kurang mampu yang jawara fotografi internasional, dan buku2 bergizi lainnya. Selain itu, nanti aku bawa dia keliilng sowan ke teman-temanku yang pinter2. Biar tertular virus pinternya. Ada rencana mengajarkan andi tentang internet sehat dan optimal. Diajarkan ngaskus, e-commerce. Jadi nanti jika ibunya jualan, dia yang jadi sales & marketingnya. Kemaren aku berkunjung lagi ke rumahnya. Ibunya dan Andi bersemangat cerita tentang pengalaman mereka membeli ayam kampung di daerah pelosok Parung, lalu menjualnya di dekat rumah mereka. Dan hasilnya luar biasa. Untung Rp 40 ribu per ekor. Ramadhan nanti akan galang dana untuk dipinjamkan sebagai modal. Mau ikut? Sila kontak japri. Tunggu pengumuman dari saya selanjutnya di blog ini. Terima kasih sudah mampir

      Reply

  40. Posted by Ks Cendekia on July 26, 2011 at 10:08 AM

    Inilah tanda-tanda kecendikaan. Insya Allah saya melihat kejernihan dan kegigihan peran itu dalam setiap tulisan-tulisanmu Ad (Kus juga Andin). Mohon diizinkan kalau saya. Mengambil sebagian besar atau sebagian kecil kabar-kabarmu dan ide-idemu untuk kemudian saya kembangkan untuk para calon cendekia di tempatmu dulu bergumul dalam gelimang nilai-nilai keluhuran.

    Reply

  41. Saran saya, dari segi Finansial, Potensi Wirausaha Pasangan tersebut perlu “dikelola” dengan baik, diharapkan dengan bantuan&pendampingan yg Kontinyu, Pak Udin bisa jadi Peternak yg andal, dan Bu Udin bisa menjadi Pedagang yang laris dagangannya………….
    Skema Pengelolaannya tentu saja bisa dengan sekalian melibatkan Dompet Dhuafa (kalo keluarga tsb memang dikategorikan “layak” untuk dibantu), tahapannya adl :

    1) Survey Pengenalan Target (nampaknya ini sudah dilakukan),

    2) Seleksi tentang kelayakan menerima bantuan atau tidak,

    3) Jika Lolos –> Berikan bantuan yang tepatguna, misalnya : diberikan Uang, namun dibuat dalam bentuk Kontrak Kerja, bahwa mereka harus menggunakan uang tsb untuk Modal Usaha, dan Skema Kerja dari Usaha tersebut harus jelas&logis. Adapun Sifat peminjaman uang apakah Hibah atau Pinjaman lunak (tanpa bunga) itu tergantung dari Assesment yg dilakukan oleh Dompet Dhuafa.

    4) Dalam Kontrak Kerja tsb, ditulis adanya mekanisme “wajib lapor”, yaitu setiap sebulan sekali selama 1 tahun mereka wajib melaporkan Progress Usaha mereka, kalo perlu, ada Person yang khusus bertugas melakukan Pendampingan Rutin sekaligus sebagai Konsultan Wirausaha Keluarga Pak Udin,

    5) Selama Pendampingan, lakukan Pendekatan2 Persuasif dari hati ke hati , seperti halnya ketika Mas/Mbak memberi masukan Bu Udin tentang Cara Mendidik anak (Andi) yang tidak “Terlalu Menghakimi”.

    6) Diharapkan setelaah beberapa saat (misal=1tahun), keluarga Pak Udin bisa lebih mandiri dan lebih berdaya dibanding sekarang.

    Maaf, Cuma bisa bantu secara Teori….. semoga Bermanfaat😀

    Reply

  42. Subhanallah..sunggu Andi’s family mencermikan kehidupan klrga saya pada masa lampau…
    saya hanya ibu rumah tangga biasa..yg belum lulus menjadi Sarjana..
    saya hanya ingin menyumbang yg saya bisa dri pengalaman saya..
    Andi adalah anak yg bs menjadi tolak pacu klrgnya..Andi pasti bs merubah pola fikir ayahnya..ibu nya dan lingkungannya…dekatkan Andi dgn agama..berikan masukan yg baik dl ttg ahlaq kpd orang tua nya..kemudian bantu Andi dgn memberikan pemikiran2.yg realistis trhdp hidupnya..kalau bukan Andi..siapa lgi? Andi bs berdagang kue..menjual barang dagangan sesudah pulang sekolah..bs mengajar anak2 SD..jika Andi semangat dlm menjalani hidupnya..insyaa allah akan menular kpd klrganya..bukan orang lain lbh baik merubah suatu klrga..tpi klrga itu sendiri..harus ada pendobraknya…Andi pasti mampu..tidak harus seorang ibu kan yg membersihkan rumah?tidak harus ibu kan yg melipat kain?tidak semua nya harus ibu..tpi memang harus ada yg memulai..tidak ckp sekali..2 kali..tpi berkali2..krna kebiasaan sprti ini pasti mendarah daging…
    pengalaman saya dahulu.saya mulai menata hubungan dgn ibu..papa dan adik saya..mulai merapikan rumah sedikit demi sedikit..alhmdlh nular ke adik saya..papa saya..ibu saya..akhirnya kami berdagang…papa mulai berdagang keliling..menjajakan kerei..sabun..apa saja ke pasa2 tradisional..pola sikap papa saya jauh berubah..papa kembali menjadi kepala rurmah tangga yg religius..rumah menjadi lbh damai walaupun kecil tpi asri..adik saya berjualan kue sehabis pulang sekolah..terkadang berjualan lobe dipinggir jalan ato didekat mesjid utk biaya sekolahnya…ibu saya menjadi lbh sehat..saya akhirnya bs melulusakn diri saya dr SMU negri di Medan..dan akhirnya skrng saya stay di Korea selatan..menemani suami saya bertugas dsni..adik saya bs menjadi CPNS..papa n ibu saya berkebun di medan..
    butuh perjalanan panjang utk meningkatkan suatu taraf hidup..butuh kemauan dan kerja…saya percaya Andi pasti bs…aplagi ada tmn2 yg memberikan bantuan perhatian sprti krng ..bukan cm memberikan umpan atau how to build the brain inside..tapi dekatkanlah diri dahulu kpd Allah.. bangun ahlaq nya jg..setelah itu..apa saja masukan..metode2 peningkataan taraf hidup yg diberikan…insyaa Allah akan bs terealisasikan..semoga cerita saya bermanfaat..

    Wallahu’alam

    Reply

    • Mau ga Anda jadi mentor khususnya Andi? Kita kolaborasi lah. Strategi bisa diatur.

      Reply

      • Asslkm..
        Kemaren saya jg cerita hal ini kepada suami saya.kapan y mas?saya ingin sekali ikut berpasrtisipasi..kebetulan sekarang saya mash di seoul..insyaa Allah saya bru pulang ke indo awal februari..itu jg saya di Indo biasanya hanya 2 minggu..saya ingin sekali..
        semoga Allah memberikan kesempatan waktu kepada saya dan suami..

        oiya mas..ada Ym ato skype ato fb yg bs saya add untuk lbh gampang berkomukasi?
        terima kasih

        wasslkm..

  43. Saya belum kepikiran mau gimana ntar klo sampeyan ke jkt. Sejauh ini yang terlintas idenya adalah: kita datang ke rumah Andi, berbagi cerita, anda ceritakan kehidupan Anda terdahulu yang mirip keluarga Andi, lalu ceritakan usaha keras anda, lalu ceritakan kondisi sekarang hidup lumayan enak di Korea. Saya rasa itu sudah jadi pembakar semangat hidup Andi. Ada orang dari korea, bela-belain datang untuk memberi semangat. What a story! Yuk eksekusi di bulan februari. ym saya: cuad_nv@yahoo.com, fb: umarat.adlil@gmail.com, skype: adlil.umarat

    Senang punya kenalan baru dari Korea. Hehehe.🙂

    Reply

    • asslkm..
      saya sudah add skype n fb nya mas..
      oke..insyaa Allah saya siap neh ke rumah Andi februari nanti..saya akan datang bersama dgn suami dan anak saya Zahra..

      Saya dan suami ikut senang diajak dalam kegiatan ini ^^

      Reply

      • saya cm ibu rumah tangga biasa mas..ke korea untuk menemani suami saya yg bertugas selama dsni..ibadah berbuah jalan2..alhamdulillah ^^

      • Mbak, kalo ngaku “ibu rumah tangga biasa” di depan Rene Suhardono, pasti dimarahin. Di Depan Mario Teguh juga. Di depanku juga. Ibu rumah tangga itu pekerjaan tersulit, dan paling mulia. jgn pake embel2 “biasa” lagi ya di belakangnya. Menjadi manajer di rumah, mengatur cash flow, mendidik anak dari 0 sampai dewasa.

  44. wah, saya baru baca tulisan ini kak..
    skrng gimana keadaaanya keluarga pak Udin..?

    o,iy saya ijin share tulisannya y kak..
    makasih..

    Reply

    • Silahkan dishare sebanyak-banyak, seluas-luasnya. Kondisi terbaru mereka bisa kamu lihat di catatan berikut ini: https://umarat.wordpress.com/2012/02/09/buktikan-kesarjanaanmu-part-2/

      Saat ini Andi (anaknya), sekolah di SMK dengan nilai pas-pasan. Lingkungan keluarga kurang mendukung minat belajarnya. Bapaknya sering marah-marah dan tak jarang mengusir keluarganya dari rumah. Kadang Andi tak sekolah karena seragamnya terjebak di dalam rumah. Butuh kesabaran dan ketekunan mengontrol Andi. Di sanalah letak nikmatnya menceburkan diri di dunia sosial-kemanusiaan. Kita tak tahu, mana rumus sukses mengantarkan Andi mencapai mimpinya. Ada banyak cara. Sangat dinamis. Kalau mau ikutan, bisa hubungi saya via email: umarat.adlil@gmail.com

      Reply

  45. ya Allah..terkadang untuk bisa sukses harus melewati banya rintangan termasuk dari lingkungan keluarga sendiri..
    tpi yakin deh, Allah punya cara tersendiri untuk memuliakan kita..:D

    kbtulan saya domisilinya di malang kak..pengen join..kira”saya bisa bantu apa kak..?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: