NO EXCUSE! Just take it!

NO EXCUSE! Just take it!

Hari Minggu, 3 Juli 2011, aku kepincut dengan buku NO EXCUSE! Orang Sukses Berhenti Mencar-cari Alasan, garapan Isa Alamsyah, suami Asmanadia. Dua kata dalam judul buku ini, No dan Excuse, benar-benar menjadi rumus baku bagi semua orang untuk berhenti mencari alasan atas kegagalannya, dan mulai banting stir mencari cara untuk menggapai kesuksesan. Bagi Anda yang masih kelemar-kelemer, tidak ada motivasi, minder, silahkan segarkan jiwa Anda dengan membaca buku ini. Buku ini mengandung vitamin G (Gairah).

Hatiku tersangkut saat membaca halaman 9. Kisah hikmah pertama yang dibicarakan adalah tentang wartawan yang pada awalnya menyangsikan kemampuannya memandu talk show ketika tawaran datang menghampirinya. “Saya ini wartawan, mana bisa memandu talk show?” ujarnya ragu. Setelah dibujuk oleh atasannya, ia mau mencoba memandu acara yang masih asing baginya itu. Dan guess what? Sejak tayang perdana dengan mengangkat tema keluarga dan wanita, talk show itu menjadi program paling sukses sepanjang masa. Pemandu acaranya adalah Oprah Winfrey, ratu talk show kelas wahid.

Oprah Winfrey Show menjadi tayangan dengan jumlah pemirsa 46 juta orang setiap minggunya di Amerika dan secara internasional disiarkan di 134 negara. Begitu menurut data di buku itu. Acara ini juga kerap mengundang tokoh besar dunia. Bahkan seingatku, sebelum Obama running for president, ia mendeklarasikan niat pencalonannya di acara Oprah Winfrey Show. Begitu besar kekuatan dan pengaruh yang dimiliki brand Oprah Winfrey, bahkan ia bisa nyerempet isu politik.

Kalau kita ambil pelajaran hidup dari kisah tersebut, ada hal menarik. Ternyata, orang sekelas Oprah Winfrey, pernah takut, ragu, tak yakin akan kemampuan dirinya sendiri. Padahal saat itu ia dinilai sebagai wartawan dengan kecakapan cukup bagus menurut bosnya. Namun, di tengah keraguannya, ia tetap berani mengambil kesempatan yang diberikan bosnya untuk memimpin talk show itu, sembari memperbaiki kekurangannya dari waktu ke waktu. Hasilnya? Jelas sekali. Oprah meraup sukses berlipat-lipat setelahnya.

Kata pepatah bijak, sukses terjadi ketika kesempatan bertemu dengan persiapan. Kalau bahasa gaulnya, success occurs when opportunity meets preparation. Kita tidak pernah tahu, kapan kesempatan emas itu datang. Kadang, ia mendadak datang tanpa diundang menghampiri kita. Percis sama yang dialami Oprah tadi. Namun, biasanya ketika kesempatan emas itu datang, kita kerap berada dalam keadaan tidak siap, merasa tidak pantas, merasa tidak berhak, merasa inferior. Akhirnya kita hanya bisa termangu, terperangah, melepaskan peluang-peluang emas itu pergi menjauh dari kita, lalu menghampiri orang lain. Sangat disayangkan!

Lalu bagaimana merancang kesuksesan? Nah, mulai sekarang, kita harus tanamkan dalam diri bahwa kita harus dalam keadaan siap diri setiap waktu, kapan saja, dimana saja, ketika ditodong oleh kesempatan emas atau tantangan besar dalam hidup. Jangan pernah menghindar, jangan lari, apalagi kabur terbirit-birit. Hehehe.

Aku jadi teringat sebuah pengalamanku memimpin acara leadership talk show di kawasan Lenteng Agung-Depok. Pengalamanku ini memang tak sebanding dengan cerita Oprah Winfrey. Tapi, at least, pada tahapan awal “berani terima tantangan”, rasanya cukup bermanfaat untuk disimak. Aku hanya ingin sharing pengalaman saja. Sila ambil hikmah dari ceritanya.

Suatu sore di hari Jumat, aku ditelpon rekanku bernama Hanum. Ia pengurus organisasi Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS).

“Bang Aad, bisa jadi moderator gak untuk acara talk show dengan pak Sugiharto, mantan menteri yang sekarang jadi komisaris utama Pertamina?”

“Kapan acaranya Num?” tanyaku penasaran. Nama Sugiharto memang cukup membuatku agak grogi. Maklum, ia mantan menteri dan sekarang menjabat sebagai komisaris utama Pertamina. Jabatan yang prestisius dan strategis.

Hanum menjawab,”besok bang,” jawabnya sambil terkekeh-kekeh. Aku bayangkan pasti ada rasa bersalah dalam dirinya. Acara besok, tapi baru ngasih tahu sehari sebelumnya, dan mepet sore pula. Kalah siap jika dibandingkan dengan acara Mendadak Dangdut di TPI. Meski acaranya judulnya Mendadak, tapi persiapannya luar biasa ketat lho. Hehehehe.

“Alamak, besok?” tanyaku setengah percaya. Acaranya pagi jam 9 teng. Begitu aku minta penjelasan rangkaian acaranya beserta TOR, ia tak mampu menjawabnya dengan gamblang. Ini adalah acara rutin dengan format talk show yang tujuannya adalah sharing pengalaman hidup dari tokoh yang sukses di karirnya. Pesertanya adalah para aktivis di Kampus UI, laki-laki dan perempuan. Jumlahnya sekitar 70 orang. Intinya, acara ini memang mendadak. Sehingga mencari moderatornya juga mendadak. Peluang emas memang datang tanpa diduga.

Take it or leave it ya?” pikirku dalam hati. Kalau tak diambil, siapa yang akan memoderatori acara ini. Adakah orang lain yang bersedia, di saat waktu sudah mepet menjelang sore. Kalau diambil, apakah aku bisa mengimbangi pembicaraan orang penting di negeri ini? Kadang rasa minder itu muncul juga, meski aku sudah sering menjadi moderator. Tapi, memoderatori mantan menteri dan sekarang menjabat sebagai komisaris utama Pertamina, rasanya ini tawaran yang menarik untuk diambil.

Dalam semenit aku belum bisa memberi jawaban pasti. Otakku berpikir keras, keras sekali. Apa untung ruginya terkait tawaran tersebut. Sementara itu, aku mengulur waktu dengan meminta Hanum menceritakan apa materi yang akan dibawakan oleh Pak Sugiharto dan motif apa yang mendorong seorang Komisaris Utama Pertamina rela datang ke PPSDMS.

Setelah mendapat jawaban yang sedikit lebih terang dari sebelumnya, mulai muncul rasa optimis. Aku tadinya khawatir. Jika talk show itu membicarakan hal-hal teknis terkait core business Pertamina, ya aku pasti nyerah. Tapi ternyata talk show ini lebih mengarah pada format sharing terkait motivasi hidup dan leadership. Begitu mendengar kata kunci “motivasi” dan “leadership” langsung peluang yang datang padaku itu aku samber. Itu passion-ku. “Ok, Num, sampai ketemu besok,” ujarku mantap memberi persetujuan.

Tepat setelah meng-iya-kan, beberapa detik aku sempat bertanya pada diri sendiri, apakah aku mengambil keputusan yang tepat? Banyak PR yang harus dikerjakan agar nggak malu-maluin tampil jadi moderator besok. Langkah pertama, jika datang kesempatan emas, jangan ditolak. Pikirkan, timbang sebentar, dan jika rasanya bisa kita handle, just take it. Rasa minder dan tak percaya diri, memang kerap datang menghampiri. Tapi tak usah peduli. Bunuh rasa itu pelan-pelan.

Langkah kedua, aku segera siapkan raw data apapun mengenai Sugiharto. Mulailah jemariku menekan-nekan keyboard komputer di kantor. Aku tanya om google (www.google.com). Om google memang bisa diandalkan untuk membantu kita mencari data di saat kepepet. Sore itu sebenarnya aku sudah mau pulang. Tapi aku berkorban sedikit, rela pulang agak larut sedikit agar persiapan acara besok matang. Aku kumpulkan semua kisah tentang Sugiharto. Mulai dari cerita ringan, hingga artikel yang serius. Perlu diperhatikan, meski semua informasi ada di internet, tapi kita juga harus memilih sumber yang valid, benar, dan sudah diverifikasi secara bertanggung jawab. Jangan sampai kita mengumpulkan apalagi menjadikan acuan data hoax. Akhirnya jumlah halamannya belasan lembar. Aku puas. Ada bahan yang bisa aku jadikan pijakan untuk besok. Jadi, ketika bermanuver dalam memoderatori talk show, otakku tak kosong melompong.

Setelah terkumpul, aku masuk ke langkah ketiga. Aku coba baca satu persatu secara cepat atau skimming. Setelah itu, aku baca ulang, dan tandai mana isu penting, mana hal yang bisa dijadikan guyon, hal serius, dan seterusnya. Aku klasifikasikan beberapa temuanku itu. Lalu aku tandai dengan warna biru dan merah. Biru berarti hal-hal serius. Merah berarti hal-hal ringan yang bisa bikin muka merah karena tertawa.

Malamnya aku sempat deg-degan. Masih tak percaya, besok pagi, aku akan duduk di samping Komisaris Utama Pertamina. Padahal, beberapa waktu sebelumnya, aku sedang tertarik mengetahui isu CSR Pertamina terkait pendidikan. Aku membandingkannya dengan Petronas Malaysia yang begitu royal dan concern mensponsori pendidikan anak bangsanya. Dan sekarang, aku langsung ketemu big bosnya Pertamina. Thanks God, berarti bisa bertanya ke narasumbernya langsung.

Di tengah rasa riang karena mendapatkan kesempatan emas, aku kembali dag-dig-dug kembang kuncup. Aku dihantui rasa khawatir. Kendali acara sepenuhnya ada di tanganku besok. Apakah acaranya boring, atau malah meriah. Beban mental sayup-sayup hinggap di hati. Untuk menenangkan hati, aku punya jurus keramat. Langkah keempat, aku terbiasa meminta doa kepada ayah-ibu via telpon agar dilancarkan segala urusan. Aku yakin, doa orangtua bisa langsung cespleng connected to Allah. Jurus ini aku sering pakai karena aku sudah hidup terpisah (merantau) dari orangtua sejak tamat SD. Lebih dari setengah umurku dihabiskan di rantau. Jika keadaan genting, jurus ini bisa jadi penyelamatku. Meski masalah yang dihadapi pelik. Aku ceritakan pada mereka bahwa besok ada acara menjadi moderator untuk talk show dengan Komisaris Utama Pertamina. Ayah-ibuku kaget. Mereka senang sekali. Tak percaya anaknya dapat kesempatan langka.

Bayangkan, dari sekian juta pemuda di negeri ini, mengapa tawaran lewat telpon dari Hanum tertuju pada nomor hpku? Aku bersyukur. Bukankah itu adalah anugerah? Allah sudah mengaturnya dengan sangat baik. Mungkin bagi sebagian orang jadi moderator untuk acara tertentu adalah hal biasa. Tapi tidak untukku. Ini terasa istimewa, seperti hadiah dari Allah. Kesempatan ini adalah ajang mempertajam daya nalar, spontanitas berpikir, kreativitas mencari gimmick di atas panggung, mengeluarkan bakat terpendam, dan memperluas jaringan sosialku. Aku akui, harus banyak bersyukur. Lagi, lagi, dan lagi.

Aku masuk ke langkah berikutnya, langkah kelima. Malam itu aku mambaca-baca lagi apa kira-kira yang membuat diriku sama dengan Pak Sugiharto. Oh, ternyata ada kesamaan. Ia sekarang salah satu presidium ICMI. Aku adalah lulusan SMU Insan Cendekia. Ada kesamaan kata cendekia di dalamnya. Dari sejarahnya, memang ada irisan besar antara ICMI dan Insan Cendekia. Skor 1-1. Selanjutnya, Ia berasal dari UI, meski beda jurusan dan fakultas. Skor jadi 2-2. Ternyata ia lahir di Medan. Sementara aku lahir di Bukittinggi, wah sesama lahir di Sumatera. Ada bahan lagi. Skor 3-3. Lalu Ia dulu aktif di ESQ. Aku juga dulu aktif di majalah Nebula-majalah komunitas ESQ—Aku juga terbiasa meliput kegiatan komunitas itu, termasuk mewawancara tokoh-tokoh ternama negeri ini. Skor 4-4. Kalau dipikir-pikir, ternyata aku dan Pak Sugiharto imbanglah. Yang membedakan kami adalah NASIB. Ia bernasib baik, sementara aku masih merintis on the way bernasib baik. Dia sudah makmur, terbukti dengan berat badannya yang super-duper, sementara aku masih kelas bulu, terbang pula, melayang-layang lagi. Hahaha.

Aku berusaha membangun kepercayaan diri, agar tidak minder di depan Pak Sugiharto. Selain itu, persiapan mencari persamaan dan perbedaan antara moderator dan pembicara, adalah hal umum mendasar yang perlu dilakukan. Ini menjadi pijakan awal agar tik-tok di saat acara berlangsung menjadi lancar jaya.

Sabtu pagi (22 Jan 2011) aku terbangun dalam semangat optimis. Aku tetapkan memilih memakai batik. Kalau tidak salah, Pak Sugiharto sering memakai batik juga. “Kalau sama, ya ada bahan lagi deh untuk dibincangkan,” begitu pikirku. Tapi jangan sampai salah. Pakaian bukanlah segalanya. Pakaian yang kita kenakan, sebenarnya akan menuruti bagaimana pembawaan kita. Jika kita percaya diri membawakannya, orang akan melihatnya nyaman. Jika kita tidak percaya diri, merasa risih, ya pastinya akan terlihat oleh orang banyak. Jadi, pakaian yang dipilih bukan yang paling mahal, tapi yang paling nyaman dan membuat Anda rileks, lepas, tanpa beban.

Aku berangkat pukul 7 dari Kebon Jeruk. Sampai di Depok sekitar pukul 8 lebih dikit. Sementara acara berlangsung pukul 9. Aku punya waktu 1 jam untuk persiapan dan pemanasan. Ini adalah langkah keenam. Datang lebih awal memberi kita peluang menggali informasi lebih dalam dari sebelumnya. Menjelang Pak Sugiharto (biasa dipanggil Sugi) datang, aku semakin panik. Jantung rasanya mau copot. Kenapa ya? Aku khawatir karena sebenarnya belum mengerti betul akan dibawa kemana arah acara ini. Apakah talk show ringan, atau kuliah umum, atau apa. Keterangan dari Hanum semalam belum seterang benderang mentari pagi itu.

Pembukaan saat talk show

Saat pembukaan acara aku makin grogi. Ini hal wajar. Aku begitu menikmati adrenalinku terpacu. Aku buka acara dengan joke dan gimmick yang sudah aku siapkan di malam hari. Ini langkah ketujuh. Buka acara dengan sesuatu yang tak biasa. Sesuatu yang menghibur. Syukurlah, audience yang terdiri dari para aktivis kampus UI, bisa tertawa dalam 5 menit pertama. Itulah kunci sukses kita sebagai moderator dalam membawakan acara. Buat pembuka yang memikat. Kalau mampu membuat audience terdiam, benar-benar mendengarkan Anda, ini tanda-tanda acara talk show Anda akan disimak dengan seksama. Ingat, kuncinya di 5 menit pertama. Kemudian, tongkat estafet selanjutnya dipegang sepenuhnya oleh Pak Sugiharto. “Berapa lama waktu kita moderator?” tanya Pak Sugiharto. Aku celingak-celinguk melihat ke panitia. Ada kode mereka menyerahkan padaku. Langsung aku jawab, “Hari ini adalah milik bapak. Tak terbatas pak,” ujarku berseloroh, yang kembali disambut tawa audience.

Bersama Pak Sugi dan “Asisten”nya, orang CSR-nya Pertamina

Pelajaran Hidup Sugiharto

Ketika membaca CV Pak Sugiharto, ternyata lebih “gila” lagi. Lebih hebat dari yang aku bayangkan. Ini langkah kedelapan. Segera pelajari dan dapatkan hikmah dari talk show yang sedang berlangsung. Pak Sugi tak hanya berstatus sebagai menteri Negara BUMN periode 2004-2007 dan komisaris utama pertamina. Tapi juga saat ini menjabat sebagai komisaris Utama/Anggota BPA AJB Bumiputera 1912, dan Komisaris Utama PT. Riau Baraharum. Selain itu, ia juga anggota Dewan Komisaris dari beberapa perusahaan swasta lainnya di bidang agrobisnis, pertambangan, dan perdagangan serta sebagai Ketua Steering Committee Indonesian Economic Intelligence (IEI). Untuk organisasi sosial-keagamaan, ia juga menjabat sebagai Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Wakil Ketua Dewan Penasehat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Islam Al- Azhar, Jakarta. “Luar biasa! Bagaimana ia bisa membagi waktunya ya?” Kadang aku pikir pepatah yang mengatakan orang sibuk selalu bisa membagi waktu, ada benarnya.

Kesuksesan yang diraihnya tak serta-merta datang begitu saja. Itu semua adalah buah dari ketekunan, sikap hidup sederhana, kerja keras, ikhlas, dan syukur. Saat di bangku SMP Taman Siswa Kemayoran, Sugi tak malu membantu Bibinya yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga, berjualan rokok klobot hingga membuka warung dengan modal dari sisa uang menjadi pembantu. Berlanjut ke jenjang pendidikan SMA, Pak Sugi tetap menunjukkkan kerja kerasnya dengan mejadi tukang parkir Bioskop yang bekerja sejak sore hingga larut malam.

Aku ingat betul cerita berkesan saat Pak Sugi menjaga bioskop, ia bertemu dengan gurunya yang sedang akan masuk studio bioskop. Begitu berpapasan dengan Pak Sugi, gurunya menegur, “Eh, Sugi kok kamu di sini malam-malam? Besok kan ujian? Ayo cepat pulang, belajar,” ujar gurunya. Hari sudah hampir lewat pukul 12 malam. Sugi menjawab,”Oh ini saya lagi belajar bu.” Sugiharto memang selalu membawa buku di saat jaga parkiran. “Saya sudah tiga tahun jadi tukang parkir di bioskop ini bu. Dan sudah terbiasa belajar begini.”

Keesokan harinya, selesai ujian, Sugiharto kecil dipeluk oleh gurunya. Gurunya menangis mengetahui perjuangan untuk hidup Sugiharto yang luar biasa, meski dalam usia masih belia.

Ada lagi cerita mengharukan. Saat semua murid diberikan surat tagihan uang sekolah yang ditujukan kepada orangtua (wali murid), Sugiharto kecil tiba-tiba maju ke depan. Ia tak puas. Form yang dibagikan menurutnya kurang tepat. “Bu, bagaimana jika yang membiayai sekolah itu bukan orangtua kita, tapi diri kita sendiri? Tidak ada formnya bu?” Sontak ibu guru dibuat menangis haru oleh Sugi kecil. Maklum, Sugiharto kecil sudah bisa menghasilkan uang dari hasil kerja jadi tukang parkir bioskop. Ia tak mau orangtuanya diberi surat tagihan dari sekolah. Takut membebani pikiran orangtua. Makanya ia meminta form yang berbeda.

Tips sukses dari cerita Pak Sugi adalah tentang kesadaran. Sadar akan kemampuan daya tangkapnya yang lemah, membuat Pak Sugi rajin membaca berulang-ulang bahan pelajaran yang ada hingga membuatnya lulus sebagai murid teladan terbaik.

Jadi Bumper Pembicara

Langkah kesembilan. Relakan diri Anda jadi bumper pembicara. Alhamdulillah, separuh jalan talk show, Pak Sugi terlihat sudah nyaman denganku. Tik-tok kami nyambung. Bahkan, aku diledek olehnya. “Nah, saya dulu waktu SMA ya sekurus saudara moderator ini,” ujarnya sambil menunjukku. Hadirin pun tertawa. “Wah, aku jadi sansak nih. Tak apalah, yang penting audience senang.”

Nikmatnya jadi moderator untuk acara apapun akan terasa saat proses dag-dig-dug itu berlangsung. Adrenalin benar-benar terpacu. Hidup serasa menjadi lebih muda kembali. Terlebih kalau kita sukses membawakan, menguasai, dan mampu mengobok-obok audience hingga mereka turut larut dalam kebahagiaan dan semangat positif dari acara yang sedang berlangsung. Rasanya diri kita menjadi lebih berarti dari sebelumnya. Itu perasaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Berapapun!

Guys, ini langkah kesepuluh tentang peranan moderator. Bisa dipakai jika cocok, bisa juga diabaikan. Ketika menjadi moderator, aku selalu berprinsip, audience harus mengerti betul betapa pentingnya pesan yang harus mereka ambil dari acara itu. Aku sebagai moderator harus bisa jadi penyambung lidah, jika ada materi-materi dari pembicara yang belum bisa dicerna dengan halus oleh audience. Tugaskulah yang harus bisa menjejalkan pesan-pesan itu masuk-merasuk ke dalam alam bawah sadar audience. Caranya bisa bermacam-macam. Bisa lewat joke, banyolan, sindiran, atau statement yang berani dan menantang. Ekstrimnya, aku membayangkan sedang membisikkan ke satu persatu telinga audience tentang pesan bermanfaat yang harus mereka bawa pulang. Begitulah inti dari semangatku saat jadi moderator. Jadi jangan heran jika ada yang melihatku sedikit berapi-api ketika menjadi moderator.

Langkah kesebelas, jika masuk ke sesi tanya jawab, pastikan Anda sudah memperingatkan audience agar efektif dalam menyampaikan pertanyaan. Jika mereka bertele-tele, langsung cut, ambil intinya.

Langkah keduabelas, pilih kata penutup yang catchy. Beginilah caraku menutup talk show.

“Baiklah hadirin, dengan demikian, kita doakan agar Pak Sugi tetap setia pada profesinya sebagai tukang parkir.”

Audience kaget. Semua menahan napas. Si empunya acara mengerutkan keningnya. Aku sengaja membuat keadaan mencekam dalam beberapa detik. Mungkin mereka berpikir, berani-beraninya moderator mengatai seoarang komisaris utama Pertamina sebagai tukang parkir. “Weiiitt, belum selesai, kalau dulu Pak Sugi adalah tukang parkir motor dan mobil di bioskop, kalau sekarang adalah tukang parkir yang mampu “memarkirkan” BUMN Indonesia menuju world class company…..”

Tepuk tangan bergemuruh datang dari audience yang berjumlah lebih dari 70 orang. Aku sengaja memberikan kalimat gantung dan mereka memakannya mentah-mentah. “Kena deh!” ujarku dalam hati. Everybody is happy. What a happy ending talk show!

Alhamdulillah, perasaanku lega begitu acara selesai. Kulihat sebagian peserta tersenyum dan beberapa diantaranya berebut minta foto bersama dengan Pak Sugi. Sepulang dari acara itu aku sempat menyapa beberapa peserta di fb dan menanyakan kesan mereka terhadap acara itu. Dan jawabannya, “Acara yang luar biasa”. Syukurlah. Tepat, sehari sebelum tulisan ini aku rilis, aku bertanya kepada salah satu peserta acara talk show itu yang kebetulan sedang online, namanya Haniyah Nadhira. “Bagaimana kesan terhadap gaya dan cara moderator membawakan acara talk show dengan Pak Sugi?” tanyaku. Ia menjawab, “Bagus kok. Bisa mengimbangi dari sisi bicaranya dengan narasumber. Trus, ada jokes-nya. Jadi ga bosen. Yang aku ingat, terakhir ditutup dengan jokes. Tapi aku lupa detilnya,” jelas Haniyah padaku.

Kalau dipikir-pikir, aku sudah menerapkan ilmu No Excuse! dalam menghadapi kesempatan emas menjadi moderator leadership talk show bersama Sugiharto, Mantan Menteri BUMN dan sekarang menjadi Komisaris Utama Pertamina. Aku diminta dalam kondisi mepet, terdesak, dan harus segera mengambil keputusan, mau atau tidak. Bersedia atau tidak. Aku memutuskan untuk menerima tantangan dan kesempatan emas itu. Aku tak mau kesempatan emas itu lari ke tangan orang lain.

Membahas mekanisme pembagian hadiah buku dari Pak Sugi bagi penanya berkualitas

Penutup

Tidak cukup sampai di sana. Selanjutnya aku makan siang bersama Pak Sugi dan panitia penyelenggara acara. Banyak informasi berharga yang aku dapatkan dari obrolan saat makan siang. Tentu tak sembarang orang bisa mendapat kesempatan seperti itu. Aku makin mengerti dan paham bagaimana negara ini dikelola, terutama dari sudut pandang dunia BUMN. Langkah ketigabelas, manfaatkan momen ramah tamah seperti makan siang untuk berbagi informasi dan belajar banyak hal dari tokoh penting yang kita berinteraksi dengannya.

Nah, siapapun Anda, baik karyawan swasta, PNS, pengusaha, aktivis sosial, dosen, guru, ibu rumah tangga, jika didatangi “kesempatan emas”, segera sambut dan gandeng ia dengan mesra. Jangan lepaskan ke orang lain. “Kesempatan emas” tak datang dua kali dalam hidup. So, persiapkan diri Anda, kapanpun, dimanapun. Selanjutnya, rasakan keajaiban akan mengelilingi hidup Anda.

Mulai sekarang, berjanjilah pada diri sendiri bahwa tak ada lagi alasan takut, minder, tak siap, tak bisa, tak mampu. Ketika diminta, ditunjuk, dilantik, atau “ditodong” menjadi MC dadakan, pembaca doa dadakan, pemberi pidato dadakan, pembicara dadakan, panitia dadakan, ketua proyek dadakan, dan lainnya, terima saja. NO EXCUSE! Just take it! Pasti dapat banyak pelajaran dari sana. Siapa tahu itu adalah pintu bagi terbukanya kesuksesan Anda yang lebih besar lagi. Seperti yang dialami Oprah Winfrey. Who knows?

“Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan”

Follow me: @pukul5pagi

Klik link berikut untuk cerita inspiratif lainnya:

(Seputar Jodoh)
 (Seputar Passion)
(Religi)
(Petualangan Sosial)

65 responses to this post.

  1. mmm, tips nih bagi yang masih sering excuse, coba deh beli buku the power of kepepet mas Jaya Setiabudi..kadang musti dipepetin dulu awalnya, biar kita belajar untuk NO EXCUSE dalam setiap detik hidup kita..kalo masih muda kebanyakan excuse-nya, walahhh ke laut aje lu!! jangan pernah dijadiin target calon pasangan hidup yang begini2,kkk ^^V

    Reply

    • Hore, pemberi komentar adalahpengusaha! Hidup pengusaha. Jelas ya berarti kriteria yang dipatok Andini: lelaki with no excuse! karena, klo excuse, di buang ke laut! hahaha. Thanks dah mampir.

      Reply

    • senang bisa berbagi informasi dan pengetahuan apa lagi itu soal memotifasi diri, Benar..orang sukses tidak mencari-cari alasan.

      satu pesan yg saya dapat dari tulisan ini yaitu, sobat mampu tunjukan kepada kita semua bahwa karakter itu lebih pening dari posisi…dalam menghadapi setiap dinamika.

      oh iya….yg membuat talk show ini istimewa adalah, kata penutup yg berhasil membuat shok seluruh panitia dan peserta…
      Ingat…tetap smangat!!

      Reply

  2. Posted by rifa on July 13, 2011 at 6:48 AM

    Wah mantap bang Aad.
    aq sich baru disuruh jadi mc acara kumpul keluarga aja klepekan.
    hmmm, jadi terinspirasi.
    sukses terjadi ketika kesempatan bertemu dengan persiapan.
    success occurs when opportunity meets preparation.
    good luck Bang.

    Reply

  3. inspiratif Ad.. renyah..🙂

    Reply

  4. Alhamdulillah, pas banget nih pengalamannya bang aad sama apa yang sedang ane alamin. Insyallah jadi pelajaran yang berharga. Thanks bang.🙂

    Reply

  5. Subhanallah, terkesan sekali dengan kisah pak sugi, inspiratif🙂. terbawa dengan suasana dagdigdug ka aad saat menjadi moderator dadakan🙂
    selama ini saya sedang sangat menikmati jadi ibu rumah tangga yg sudah lama terkonsentrasi memenej agar rumah tangga tetap berjalan baik dan seimbang.. tulisan kk diatas membuat sy rindu dengan diri saya di masa SMA dan Kuliah dulu..🙂
    terimakasih telah memotivasi dan membawa memori itu kembali. semoga dg peran baru sy sebagai ibu rumah tangga sy punya kesempatan untuk kembali aktif meski dengan cara yg lain, like u said, just take it never leave it 🙂

    Reply

  6. baguss..!! sebuah tulisan yang bagus menurutku adalah tulisan yang mampu membawa pembacanya masuk dan hanyut bersama cerita didalamnya…dan kamu berhasil melakukannya..! dan juga yang terpenting adalah tulisan kamu sekaligus menginspirasi..!
    Aku juga setuju dengan pepatah ” success occurs when opportunity meets preparation ” ga ada sukses yang kebetulan, kesempatan bisa jadi menghampiri semua orang, namun hasil maksimal alias “SUKSES” itu hanya ada pada mereka yg memiliki persiapan lebih baik…dan kita g akan pernah tau apa yg menunggu kita sampai kita mencoba…gut…bagus sekali..aku tunggu karya inspiratif selanjutnya..!

    Reply

    • Yuri, cerita2 lah pengalaman dag-dig-dug saat acara di Metro itu. Secara, finalis gitu lho? hehehe. Ditunggu ceritanya young entrepreneur.

      Reply

  7. Posted by Meander of Life on July 13, 2011 at 9:54 AM

    ibaratnya kalo nasi, tulisan ini pulen banget,,,,,,

    Reply

  8. Posted by Skandy on July 13, 2011 at 1:39 PM

    minta email dong, mau kirim file.., ad hub-ny sama tulisan lo soal sukses2an.. okay2..😀

    Reply

  9. Posted by Alethea Almas on July 13, 2011 at 6:05 PM

    Keren ka.
    Bacanya enak.
    Inspiratif, apalagi buat orang yang gak pede kayak aku.
    Tulisan ka aad top banget deh. hehe

    Reply

  10. Waaa…ga nyangka Aat, bagus banget pengalamannya & juga sharingnya ^_^, jadi terharu biru..kayanya ,alah 11 : 12 nih sama Ophrah Winfrey. Aat kan juga mantan reporter Nebula yg sekarang jadi pengisi talk show…Gud gud & bravo. TFS!

    Reply

  11. wah apa tuh, bisa aja bikin penasaran

    Reply

  12. Posted by rima on July 13, 2011 at 9:29 PM

    mantap tulisany bang…
    Mdh2n tgl 20 makin sukses ya bg…

    Reply

  13. Posted by pupu on July 14, 2011 at 12:45 AM

    Timing..
    13 langkah jitu sang moderator diposting tanggal 13,
    kebetulankah ato sengajakah?
    ah bisa2 aja yg nanya..tp LUAR BIASA penulis kita..
    jd inget buku13 wasiat terlarang

    Reply

  14. Senengnya bisa baca kisah lengkap bung adlil yang menobatkan pak sugi sebagai “tukang parkir” ..🙂 Mumtaaz!!! Yal Akh Aad🙂

    Reply

  15. bagus bro….sudah tunjukan kalau karakter itu lebih penting dari posisi, menurut saya yg membuat talk show ini istimewa adalah cara anda memberikan shok terapi pada seluruh panitia dan peserta, strateginya pas menurut saya.. slm terus berkarya

    Reply

  16. Posted by Eka on July 14, 2011 at 4:44 PM

    Sippp, Ad. Udah oke bahasannya. Kata saya, dibandingkan aku,kayaknya lebih enak didengar, Ad. hehehe. Seingat saya…..Pengalaman sayaa, lebih friendly kayaknya. Kalau aku sedikit berasa self center

    Reply

  17. Posted by iman on July 14, 2011 at 4:56 PM

    inspiratif…bahasanya ringan dan mudah dicerna …bagus…lanjutkan bro…

    Reply

  18. Posted by Danang on July 14, 2011 at 5:21 PM

    keren ah..keren ih..top dah pokoknya..lanjutkan

    Reply

  19. pengalaman pertama gw ke luar negeri (Thailand) di 2006, juga karena jimat “no execuse”. ketika ada tawaran dtg, langsung aja disamber. Padahal waktu itu masih belum jelas duit buat bayar fiskal dan bikin paspor dari mana. secara gw masih mahasiswa. tapi paling nggak, waktu itu gw mikir, gw punya temen2 “berduit”, jd dg modal kepercayaan, bisa lah ntar ngutang😀. eh dasar emang yg namanya rejeki, ternyata ongkos2 tersebut direimburse. balik lagi ke jimat “no execuse”, benar bahwa dengan tidak mengabaikan kesempatan yg ada, maka kesempatan lainnya akan dtg bersusulan.

    Reply

  20. Posted by alphin23 on July 14, 2011 at 7:15 PM

    Waah, mantap kak,, memang sangat jarang dapat kesempatan begini..
    Sukses Selalu buat kak Aad !

    Reply

  21. Pas banget dateng hari ini….lagi down dan sedikit putus asa… baca “no excuse!!” bikin semangat meninggi lagi…. 🙂

    Memang kita terlalu banyak memberikan alasan untuk menahan kita maju…. semoga kita-kita yang membaca ini tidak memberikan alasan lagi ya… action dulu!!

    Reply

  22. Tulisannya inspiratif mas..

    Reply

  23. Posted by Anggun on July 16, 2011 at 7:49 AM

    Waw….. Hebat K Aad….
    Bener bgt tuh Kak. Nggak boleh ada satupun kesempatan yg lewat gitu aja. Untuk alasan apapun. Malah terkadang kesempatan itu perlu dicari.
    Jadi inget, masih punya “utang” sama K Aad. Aku kirim ya Kak. Hehehehe….

    Reply

  24. Posted by Farid on July 16, 2011 at 10:58 AM

    Wah hampir sama ama kejadian yg aq alamin tp cm bedanya ente g ngluarin bnyk kringet bro…..kl ane hrs ngluarin kringet dlm kayuhan sepeda dr serang ampe banyuwangi bro….
    Good luck….

    Reply

  25. Jangan dijadikan “kalau” tapi pertemukanlah persiapan dengan kesempatan.

    Reply

  26. hihi. kesindir abis,

    setuju sama bagian “…Siapa tahu itu adalah pintu bagi terbukanya kesuksesan Anda yang lebih besar lagi…”
    karena tiap kita mengambil kesempatan, sekecil apapun celahnya, insya Allah menjadi awal dari datangnya kesempatan2 yg lebih besar.

    kita tidak pernah tahu jika kita tidak pernah mencoba.

    wah, kakakku yg pertama di PPSDMS NF UI lho, kak.. coba nanti aku tanya kesannya sm talkshow ini.

    thanks ka ad,

    Reply

  27. Posted by Ana Aulia on July 18, 2011 at 7:42 PM

    emm.. pak sugiharto yaa?? kyknya aku pernah liat namanya di resepsi pernikahan temen aku deeh… “Pak.. kita pernah 1 undangan ternyata!” apa akunya yg salah liat yaah?? hehee ^^

    Buat mas aad… waktu kecil sering nulis diary yaa?? *ngaku hayoo…* aku jg pernah jd MC dadakan. dikabarin pagi, siang harus siap! ngoceh ga karuan eh yg dateng malah pd ngakak! dalam hati mikir “niy org lg pd nonton lenong apa yah?!” (untung bawain acaranya ga sendiri) *aman*

    Reply

  28. Posted by hanun on July 22, 2011 at 4:25 PM

    Memang, manusia takkan tahu pasti kapasitas dirinya jika tak berani melawan batas-batas dirinya. Kisah Bpk. Sugiharto sgt inspiratif ‘from zero to hero’. Bahasan kali ini sgt menarik, plus ddkung gaya btutur Adlil yg membumi,atau istilah otak awam sy mdh dcerna, g sberat tulisan2 sbelumnya^^peace!

    Reply

  29. Posted by Haliem on July 23, 2011 at 12:16 AM

    aslm..
    tulisannya motifator bgt ka..udah mau nyaingin kang abik aja nih, yg novel-novelnya pasti ada keterangan “novel pembangun jiwa”. hehe
    orang orang yang kaya ka aad itu jelas hebatnya, bisa peka, bisa ngeliat trus mengambil suatu kesempatan yg lewat di depan mata. tapi sayangnya banyak juga ka org org yg mikir kesempatan itu ada ketika ada org lain yang mmberikan kesmpatan/peluang tsb, bukan karna diri mereka yg memang mestinya mencari peluang itu, yang jadinya mereka mlah bergantung sama org lain, krna mereka kira, org lain lah yg memberikan peluang. (sesuai pengalaman,hehe)
    No Excuse tepat banget sebagai obat para orang(termasuk saya) yg masih merem dan msh blm bs peka klo banyak sbnrnya banget kesempatan dan peluang di sekitar mereka.😀

    Reply

    • “udah mau nyaingin kang abik aja nih” –> wow, thanks ya. tp masih kalah jauhlah dari best seller writer. Insya Allah sedang belajar menuju sana.

      Reply

  30. Posted by ama on July 26, 2011 at 6:16 PM

    Aad..tulisanmu membuatku kangen masa-masa rajin nulis dulu. Sudah lama kebiasaan menulis itu hilang😦 Sekarang sering meng- excuse diri ga sempat nulis, karena ada bayi hiks..hiks..hiks.. Jadi nyesel juga kemarin menolak tawaran nge-MC di acara Temu Alumni ESQ Korda Bekasi. Lagi-lagi alasannya ada bayi, dan ga ada yang menjaga dia selain aku. Hiks..hiks..hiks..Padahal anakku anak yg penyabar dan mandiri. Terima kasih untuk tulisanmu yang membuat aku tersadar, untuk tidak lagi-lagi excuse, apalagi bayi dijadikan penghalang.

    Reply

    • Pertemukanlah kesempatan dengan kesiapan. Kesempatan apapun yang mampir, harus dijemput, jgn dibuang. Pasti ada manfaat setelah kita mengambilnya. Apalagi ngem-C adalah bakatmu. Gali terus. Siapa tau menjadi “sesuatu” nantinya. Salam buat keluarga Rahma.

      Reply

  31. Posted by Duha on March 15, 2012 at 9:21 PM

    mungkin akan aku terap kan besok di hari minggu ini brooo …tips mu itu

    Reply

    • Selamat berjuang. Kalau ada pertanyaan, bisa tanya langsung japri. Jangan malu-malu. Sebagai perantau di Jepang, harus berani, dengan kepala tegak, menguasai panggung. The Show is You, bro! Rock the stage man!

      Reply

  32. Posted by Duha on March 16, 2012 at 5:31 AM

    ok brooo….tanks

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: