Mana Bukti Kesarjanaanmu?

“Kalau ayah pintar, kenapa kehidupan keluarga kita begini (miskin)?”

Kalimat pedas itu datang dari mulut Andi, bocah tamatan SMP, kepada ayahnya yang bernama Nurdin. Keluarga kurang mampu itu kerap bersitegang. Kemarahan Andi kepada ayahnya mewakili kemarahan ibu dan adik-adiknya yang muak hidup miskin. Mereka coba keluar dari hidup miskin, tapi tak punya daya.

Rumah Andi dan keluarganya ada di di Kp. Kalibata RT09/07, Srengseng Sawah Jagakarsa, Jakarta Selatan, tak jauh dari UI. Tepat di depan rumahnya ada rawa berwarna hijau penuh enceng gondok. Jika hujan, air rawa meluap hingga tepat di depan pintu rumahnya. Tiap orang yang mau masuk, harus jinjit agar celana tak basah. Masih di depan rumahnya, ditemukan tumpukan sampah. Jujur, baunya menyengat. Aku hampir tak tahan. Dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu, yang ditutupi koran bekas yang sudah lusuh. Di langit-langit rumah terlihat sarang laba-laba menjalar dimana-mana. Isi rumah berantakan, kotor, tak terawat. Rumah yang sempit itu ternyata pinjaman dari keluarga dermawan pemilik sebuah Rumah Sakit kecil di sekitar sana.

Rawa depan rumah Andi, meluap di kala hujan

Toilet Kotor

Aku mengenal keluarga ini dari Mpok Ani, penjual nasi uduk langgananku sejak zaman kuliah S1 di Sosiologi UI dulu. Mpok Ani memperkenalkanku pada keluarga ini, dan ia ingin aku berbuat sesuatu membantu keluarga Andi. Aku tertantang.

Sekarang aku bekerja di Departemen Research & Development RCTI, tv yang paling banyak ditonton pemirsa Indonesia hingga kini, menurut data Nielsen Audience Measurement Indonesia. Sehari-hari interaksiku selalu dengan program tv yang menampilkan program berlatar kemewahan, keanggunan, kegemerlapan, dan keindahan. Artis cantik, ganteng, berkulit putih bersih terawat, biasa aku lihat. Kalau ada acara live, aku sering bertemu langsung dengan artis ternama. Silahkan sebutkan, siapa pun di negeri ini pasti pernah tampil di RCTI. Mulai dari Indah Dewi Pertiwi, sampai Syahrini, bukan hal asing untuk ditemui.

Namun, begitu diajak Mpok Ani berkunjung ke rumah Andi, aku seperti tertampar dan merasa bersalah. Kemana saja aku selama ini? Kurang interaksi dengan orang tak berpunya. Memang aku sering lihat acara tv yang memotret kehidupan orang susah, seperti Bedah Rumah, Jika Aku Menjadi, dan lain sebagainya. Namun, semua rasa sedih yang datang saat nonton tv, tak ada tandingannya jika dibandingkan dengan datang sendiri ke rumah orang yang tak berpunya. Aksi nyata memang tak pernah terganti.

Mengunjungi Rumah Andi

Tiga kali sudah aku berkunjung ke rumah Andi. Pertama bersama Mpok Ani. Kedua, bersama teman SMA-ku yang tertarik mendengar cerita keluarga Andi. Ketiga, aku pergi bersama teman kos. Dari ketiga kali kunjungan itu, aku bisa ambil benang merah apa masalah yang dialami keluarga kurang mampu itu.

Kunjungan pertama awalnya hanya iseng saja. Mpok Ani terkesan dengan kerja Pak Nurdin, ayah si Andi. Pak Nurdin membantu ngecat rumah Mpok Ani yang akan ngunduh mantu waktu itu. Ia terkesan dengan kejujuran dan kesopanan pak Nurdin. Ketika diceritakan, aku pun terkesan. Akhirnya kami datang ke rumah Andi. Kami diskusi dengan seluruh anggota keluarganya. Aku memberi sedikit uang sebagai sedekah.

Baju Tidak Dilipat

Kunjungan kedua, aku mulai serius. Aku ceritakan semua hal yang dialami Andi dan keluarganya pada teman-teman. Respon mereka ternyata mengejutkan. Teman SMA-ku bersedia menemaniku datang lagi. Kali ini target kami mengidentifikasi apa kekuatan dan kelemahan dari keluarga Andi, agar bisa diarahkan menuju peningkatan ekonomi.

Ini fakta yang kami temukan. Keluarga pak Nurdin dan istrinya memiliki 4 anak. Seharusnya sih 5, tapi meninggal 1 karena sakit. Andi sebagai anak sulung baru saja lulus SMP. Ia akan masuk SMK dan sudah daftar, meski uang buku, baju seragam entah kemana akan dicari. Adik-adiknya masih kecil, 2 orang SD, dan 1 orang masih bayi.

Pak Nurdin bekerja membantu mandor bangunan, tetangganya yang baik hati. Meski tak rutin, tapi lumayanlah untuk biaya hidup keluarga. Pak Nurdin juga hobi memelihara burung. Katanya sudah hobi sejak kecil. Pak Nurdin dulu pernah jadi satpam. Namun ambil pensiun dini dan dapat santunan Rp 10 juta saat krisis moneter menerjang Indonesia. Uang Rp 10 juta itu kini sudah habis tak berbekas.

Sementara istri pak Nurdin suka berdagang. Kadang ia mengedarkan sabun colek, sabun cuci, atau jadi makelar tanah, rumah, kos, dan apa saja yang berhubungan dengan negosiasi.

Semua hal aku ceritakan detil di blogku. Banyak respon dari teman-teman. Ada yang memberi ide akan memodali Andi untuk bisnis pulsa, ada yang menawarkan ikut pelatihan otak tengah, ada juga yang memberi masukan agar dibuat list agar rumah dibersihkan terlebih dahulu. Semua respon aku kumpulkan, aku buat list dan berikut prioritasnya. Lalu di pertemuan ketiga, aku datang lagi, dan sampaikan semua masukan itu.

Tapi ternyata, semua masukan itu tidak bisa diterapkan serta merta. Di pertemuan ketiga, aku mendapati curhatan ibu Andi. Aku membawa pakaian layak pakai, peralatan bersih-bersih kamar mandi, dan juga susu. Ketika aku menyampaikan masukan agar dibuat sistem membersihkan rumah, ia menangis. Ia menceritakan bahwa suaminya tak bisa diandalkan untuk mencari uang, karena sakitnya. Aku teringat, memang dari awal aku sudah mendengar, Pak Nurdin terkena sakit aneh. Kapalanya sering sakit. Lebih aneh lagi, ia mengkonsumsi minimal 10 sachet puyer yang cukup ternama di Indonesia. Maksimal jika sedang sakitnya tak tertahankan, ia bisa mengkonsumsi 20 sachet. Jadi, suaminya tak bisa jadi tulang punggung keluarga.

Aku sadar dan paham sekarang. Kenapa rumah mereka berantakan. Istri pak Nurdin terpaksa mencari uang untuk biaya makan dan sekolah anak-anaknya. Jadi benar teori Abraham Maslow tentang kebutuhan manusia, bahwa kebutuhan primer manusia harus dipenuhi dulu (urusan perut), sebelum masuk ke kebutuhan lainnya, aktualisasi diri. Rumah Andi tak bersih karena ibunya tak punya energi lagi untuk membuat sistem agar rumah bersih dan rapi.

Membaca Potensi Kedermawanan

Melihat kisah keluarga Andi, memang membuat hati miris. Aku belum cerita. Andi sebenarnya siswa yang cerdas. Ia pernah rangking 4 di kelas. Ia juga multi talenta. Bisa meniru apapun yang ia lihat. Ia belajar motor tanpa diberitahu. Hanya lihat saja. Begitu juga belajar berenang, main suling, main marawis, olahraga, dan lainnya.

Andi berbakat main ukulele

Di keluarga Andi ada potensi. Respon dari teman-teman di blogku begitu beragam. Hal ini membuktikan bahwa banyak sebenarnya dari kita yang peduli dan ingin membantu keluarga tak mampu. Namun sayangnya, kita terjebak pada rutinitas.

Bukti masyarakat kita dermawan sudah bisa dilihat saat ada bencana. Uang begitu mudah mengalir dari kocek masyarakat lewat media tv, koran, lembaga kemanusiaan, dan lain-lain.

Sekarang, tinggal bagaimana kita membaca potensi itu, dan  memanfaatkannya dengan optimal. Aku punya pemikiran membuat gerakan ISR singkatan dari Individual-Social Responsibility. Bisa dikatakan, ini “adik”nya CSR yang sedang booming dikampanyekan. Kalau CSR adalah karya corporate, kalau ISR murni berbasis pada karya individu. Mengapa ide ini muncul? Ide ini muncul karena saya prihatin terhadap masyarakat miskin. Negara rasanya lamban dalam memaksimalkan peran mereka mengentaskan kemiskinan. Presiden, lebih banyak mengungkap curhat pesimis daripada menebar optimis. Maka dari itu, menurut saya, kita tak bisa lagi menggantungkan nasib pada negara. Harus gerak sendiri.

Konsep ISR adalah setiap sarjana, ditantang untuk membantu memecahkan masalah satu keluarga tak mampu. Misalnya aku sebagai sarjana sosiologi, membantu memetakan (social mapping), apa human capital, social capital, dan capital lainnya yang tersembunyi pada keluarga Andi. Kalau kita mampu membaca potensi keluarganya, Insya Allah, jika ada dermawan yang berzakat, infaq, sadaqah, bisa dengan mudah diberikan, dan multiplier effectnya bisa lebih terasa karena mustahiq zakatnya adalah orang yang tepat. Jika kita memberikan bantuan pada orang yang tepat, yang mau berkembang, akan terjadi quantum leap (lompatan yang tinggi). Sehingga, keluarga miskin bisa naik strata sosialnya.

Apa yang aku rasakan bersama keluarga Andi adalah sebuah berkah. Aku bisa menerapkan konsep-konsep sosial ke tataran yang lebih down to earth. Tidak hanya di menara gading. Ada kepuasan batin. Aku juga yakin, semua eksekutif muda yang mau melakukan hal serupa, akan merasakan sensasi yang sama, bahkan bisa lebih hebat, jika ia berhasil mengeluarkan sebuah keluarga dari kemiskinan.

Bayangkan jika program ini dilakukan mandiri oleh para sarjana di Indonesia. Ambil saja misalnya lulusan UI. Sekali kelulusan, ada 6000 sarjana. Jika 10% nya saja yang menerapkan ISR, maka akan ada 600 keluarga akan keluar dari jerat kemiskinan. Dengan begitu, Anda menyelamatkan nasib anak-cucunya juga. Thus, masalah kemiskinan bisa teratasi dengan cepat. Sarjana, belajar di perguruan tinggi dengan dilatih cara berpikir, cara menangani masalah. Jadi, tidak menjadi soal dari jurusan apapun mereka. Sarjana sosial, bisa membaca potensi sosialnya. Sarjana ekonomi, bisa menjadi financial advisor, dan lain sebagainya.

Kegiatan blogger kemanusiaan juga bisa dikembangkan sebagai gerakan awal untuk gerakan ISR ini. Penulis yang juga melakukan aksi sosial, turun ke masyarakat kurang mampu, akan memberikan efek yang luar biasa. Blogger bisa saling bertukar masalah, saran, dan solusi yang dihadapi saat berinteraksi dengan keluarga kurang mampu yang sedang “digarap”.

Aku membayangkan, para pekerja di jalan Thamrin, Sudirman, Rasuna Said, mau meluangkan waktu dan bergabung dalam gerakan ISR ini. Alangkah indahnya! Jika kelak, sarjana yang mau melakukan gerakan ISR ini akan maju sebagai politisi, elit birokrasi, atau bahkan sekelas presiden sekalipun, dia bisa tepuk dada, dengan kepala tegak, “Saya sudah melayani negara ini dengan program ISR (Individual-Social Responsibility).” Berani buktikan kesarjanaanmu?

Follow me on twitter: @pukul5pagi

(Seputar Jodoh)
 (Seputar Passion)
(Religi)
(Petualangan Sosial)

18 responses to this post.

  1. Tulisan yang menyentuh relung manusiawi manusia yang memiliki hati. Cocok banget buat seorang sarjana sosiologi menulis tentang ini. Mudah2an ada dermawan yang membaca tuisan ini dan menyedekahkan sebagian hartanya pada keluarga-keluarga seperti keluarga Andi ini. TFS At!

    Reply

  2. Posted by maya on July 29, 2011 at 8:35 PM

    tulisannya terasa sekali jiwa mudanya..hmmm berkobar-kobar…..penuh semangat..Semoga lebih banyak yang bertindak nyata untuk mengatasi masalah kemiskinan. Aku sendiri, karena beberapa keterbatasan hanya bisa melakukan sedikit untuk hal ini…….

    Reply

  3. Nice post Ad, sekaligus menyodorkan konsep “ISR” sebagai langkah untuk membantu mengentaskan kemiskinan. Yes, we can do it “locally”. Tapi, permasalahan yang dihadapi para sarjana yg baru lulus: mereka juga punya permasalahan yang hampir sama dengan “keluarga Andi”. Bagaimana mereka akan membantu “keluarga Andi” jika mereka sendiri juga belum keluar dari kondisi yang sama. sarjana2 yg bisa diharapkan adalah mereka yg setidaknya sudah memiliki penghasilan cukup. Karena dengan kondisi seperti itu diharapkan sudah punya komitmen jangka panjang. Pengalaman pribadi saya banyak orang2 yg memiliki semangat tinggi diawal tapi runtuh pada masa berikutnya setelah beberapa bulan.
    Semoga tulisannya bisa menggugah “jiwa sosial” para sarjana di Indonesia untuk bahu membahu mengurangi kemiskinan….terus berkarya bro……

    Reply

    • Metodenya ada satu orang sarjana yang sudah bekerja, berkeluarga, agak cukup mapan, dan sarjana yang baru lulus, hanya bisa beraktivitas sebatas “membantu” saja. Tak harus modal, tapi bantuan teknis. Kalau dah dapat “feel”nya, ia bisa terjun langsung menghandle satu keluarga lainnya. Makanya saya di akhir satu tulisan mengatakan sedang membayangkan bahwa pelaku ISR adalah eksekutif muda yang kerja di Jl Sudirman, Thamrin, Rasuna Said, dan di tempat-tempat perusahaan bonafid bertenger. Thanks masbro.

      Reply

  4. ini gimana lanjutan aksi buat keluarga andi ini ad?

    Reply

    • Nanti ya tunggu pengumuman berikutnya. So far, aku dah datang 3 kali. Terakhir ada di tulisan “Mana Bukti Kesarjanaanmu”. Ramadhan ini kita bertindak bersama

      Reply

  5. menggugah, inspiratif. mas kl ada kegiatan2 seperti ini kabarin ya🙂

    Reply

  6. mas boleh di share blog nya?

    Reply

  7. Posted by oppie on August 4, 2011 at 7:47 PM

    iya abner kata aad tentang teori abraham maslow tentang kebutuhan manusia, makanya kenapa kebanyak orang yg kurang mampu tingkat perilaku kebersihannya kurang baik..krn memang mereka belum menjadikan itu prioritas kehidupan mereka..tp sebenernya insyallah bisa dirubah ad..klo dengan dibekalin pendidikan..motivasi dll..dan bagaimana bertahan hidup dengan perilaku2 positif:>cz opi pernah ngeliat orang yg kurang mampu tp mereka bersih..tp memang sangat jarang..pengin cari rizki yg seluas2nya biar bisa bantu orang..amiinnn:>semanagat ad:>ide aad tentang ISR keren..intinya dengan pengetahuna, pembelajaran dan sharing setiap manusia pasti bisa berubah ke arah yg lebih baik…

    Reply

  8. Posted by hanun on August 9, 2011 at 11:45 AM

    sgt inspiratif….penasaran dng problem solving u keluarga Andi, dshare ya ntar, biar bs aq jdkn referensi,maklm solusiku u kasus2 sperti blm bhasil^^. mmng sdh saatnya ksadaran u berbagi dan peduli dengan kaum marjinal itu dtng dr setiap individu agar tjadi prubahan yg brarti bg bangsa ini.

    Reply

  9. Posted by zundillah on December 28, 2012 at 3:12 PM

    inspiratif,real,dan bisa kita lakukan. terima kasih sudah mengingatkan mas, saatnya para sarjana mesti memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat sebagai agen of change …🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: