Adzan

Adzan

“Pak, boleh izin mau adzan?” ujarku pada seorang tua, yang aku amati sejak lama sebagai pentolan Mushola dekat rumah.

“Boleh aja adzan, asalkan bagus. Kalau ga bagus, jangan. Warga pada marah ntar,”ujar pentolan Mushola itu sambil membuang muka. Ia tak yakin denganku. Kujawab, “Insya Allah bagus pak”. Jadilah aku adzan pagi itu.

Sontak aku agak ciut juga ditantang seperti itu. Berarti aku harus memberi bukti bahwa adzanku bukan ecek-ecek. Setelah ia memberi kode bahwa waktu masuk, aku segera berdiri mendekati mic mushola. Ada bapak-bapak tua yang juga ingin azan, langsung aku tembak, “Pak saya boleh adzan ya?”

“Oooh, silahkan,” katanya.

Pagi itu, Rabu, 03 Agustus 2011, aku tetap nervous saat adzan, seperti biasa. Bagiku, adzan punya sensasi tersendiri di dalam diri. Kaki dan lutut gemetar, suasana seperti “gempa” alias goyang, meski hanya 0,0000000000001 Skala Richter. Ditambah lagi ada “ancaman” dari bapak tua tokoh masyarakat setempat bahwa yang adzan di mushola harus bagus. Jika tak bagus, warga marah. (What? Kenapa warga marah? Emang warganya rajin sholat? Lha wong musholanya juga sering “libur”? Kenapa marah jika adzan tak bagus? Sungguh aneh sih menurutku.)

Aku berusaha mengeluarkan adzan terbaikku. Mumpung masih subuh, suara masih fit, aku coba sekalian merekamnya pakai hp android. Saat adzan, adrenalin bekerja lebih cepat. Memori indah saat kecil dulu sayup-sayup teringat kembali.

Adzan secara tidak langsung melatih mental berani tampil di depan publik

Dulu saat masih SD kelas 1 atau 2, aku ikut kelas TPA di Masjid Raya Sebanga, Duri-Riau. Suatu waktu, aku diikutsertakan dalam perlombaan adzan di daerah bernama Kompleks Talang. Kami berangkat serombongan. Sebenarnya aku tak hanya ikut lomba adzan, tapi juga rebana. Seingatku, dulu aku jadi lead vocal di tim rebana TPA kami. Aku ingat, bu guru ngaji kami yang paling getol mengembangkan bakat menyanyiku adalah bu Yanti. Ada juga bu Nel, bu Yus yang turut membantu. Dari adzan dan menyanyi, barulah aku mulai terlihat berbakat di qiro’ah (tilawah).

Saat perlombaan adzan, ada cerita menarik. Waktu itu aku meraih juara satu. Seingatku, ibu guru memberiku permen Hexos yang pedas, jumlahnya segepok. Katanya, biar suaraku bagus. Aku coba makanlah permen itu beberapa saat sebelum tampil. Tentu tak semua kumakan. Sisanya akan aku perlihatkan kepada orangtua bahwa diberi permen banyak oleh ibu guru. Hehehe. Norak ya? Tapi hadiah permen itu seperti penghargaan buatku. Aku dipercaya mampu mengeluarkan kemampuan terbaik saat lomba nanti. “Ayo aad, kamu pasti bisa…” Kalimat suportif seperti itu aku dapatkan jelang tampil lomba adzan dari guruku.

Riang gembira rasanya. Sampailah pada saat yang dinanti-nanti. Aku tampil di bagian akhir perlombaan. Semua peserta sudah kulihat kualitasnya. Nah, pas giliranku, mulailah keringat menetes. Grogi datang menghampiri. Jantung dag-dig-dug. Adrenalin bekerja lebih cepat dari biasanya. Muka rasanya memerah-panas. Aku grogi. Satu-satunya hal yang membuatku percaya diri adalah semua timku, termasuk guru dan teman-teman TPA-ku memberi senyum semangat dari tempat duduk penonton.

Segera aku ambil mic. Dan adzanku pun berkumandang. Tenggorokan rasanya plong, suara bisa maksimal keluar dengan “utuh”. Mungkin efek permen Hexos mulai bekerja. Alhamdulillah. Begitu tampil di depan panggung, rasa percaya diriku “keluar” begitu saja. Tak ada lagi takut-takut. Di sela-sela bait adzan yang aku lafazkan, terlihat penonton puas. “Ini pertanda baik,” ujarku dalam hati.

Nah, begitu memasuki lafaz “Hayya ‘alalfalaah (marilah menuju kemenangan)”, aku terlena. Jadilah aku satu-satunya peserta adzan yang melafazkan “Hayya ‘alalfalah” sebanyak 4 kali. Aku tak sadar. Suer deh! Pantas saja juri senyum-senyum mendengar adzanku.

Aku turun panggung dengan hati puas. Puas rasanya sudah mengeluarkan kemampuan terbaikku. Alhamdulillah. Nah, ketika baru turun panggung, dan disambut seluruh kontinge TPA-ku, barulah bu Yanti ngasih tau bahwa ada yang “kelebihan” di adzanku, tapi buru-buru ia meyakinkanku bahwa, adzanku tetap yang terbaik baginya. Kaget. Apa iya ya bisa kebablasan begitu? Ternyata efek Hexos membuatku terlalu bersemangat mengeluarkan suara. Hahaha.

Tibalah saat yang dinanti. Satu persatu pengumuman pemenang lomba pidato, rebana, adzan, dibacakan dewan juri. Aku tak ingat hasil lomba yang lain. Saat itu fokus utama ada pada adzan. Doaku semakin kencang. Setelah lama menunggu, pengumuman adzan pun tiba. Jreng jreng jreng…

Juara 3 diumumkan. Namaku tak ada. Juara 2 diumumkan. Juga tak ada namaku. “Wah, apa aku ga menang karena adzannya kelebihan tadi ya?” Dag-dig-dug…

“Juara pertama jatuh kepada ananda….Adlil Umarat dari TPA Masjid Raya Sebanga…” ucap juri. Kami bersorak gembira. Aku bersyukur. Meski adzannya “kelebihan”, tapi tetap juara 1. Alhamdulillah. Aku berterima kasih atas bimbingan, kepercayaan, dan support dari guru dan tim TPA-ku.

Memanggil orang untuk berhenti sejenak dari kegiatan duniawi, tentu pahalanya khusus

Sejak saat itu, aku mulai mengembangkan semua bakat terpendam dalam diri. Jiwa kompetisiku hidup. Seorang remaja masjid, Bang Amran, melihat bakat di suaraku. Bang Amran remaja Masjid Raya yang jago mengaji, namun rendah hati. Ia tak mau tampil ke publik. Jika pun harus mengaji di publik, ia bersembunyi. Hanya suaranya yang keluar. Orangnya ada di balik layar. Namun nada suaranya bisa hampir mencapai 8 oktaf seperti Mariah Carey. Suaranya melengking tinggi. Aku secara tak sadar semakin dekat dengannya. Ia melatihku mengaji. Dari sanalah, terbuka peluang mengikuti perlombaan mengaji tingkat Kelurahan, Kecamatan, Distrik, dan terakhir puncaknya, saat kelas 6 SD, aku menang juara 3 tilawah se-Provinsi Riau tingkat belia di Batam. Sungguh pengalaman yang luar biasa indah.

Sewaktu MTs, bakatku juga tak lupa kukembangkan. Ustadz Jono menjadi mentorku. Memang, ia tak banyak melatihku. Ia hanya membuka jalan, agar aku bisa ikut perlombaan qiro’ah (tilawah) mulai dari Karesidenan Solo, hingga level Provinsi. Puncaknya, aku pernah juara 1 MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) tingkat remaja (SMP/ MTs) se-Jawa Tengah. Pernah juga diiuktsertakan dalam seleksi menuju perlombaan tingkat nasional. Namun aku kalah dari remaja yang lebih hebat dan lebih dewasa (SMA/ perguruan tinggi), yang bacaannya lebih hebat dariku. Tak apalah, yang penting sudah maksimal. Anak rantau cukup berjaya di negeri orang.

Ada pengalaman menarik saat kuliah di Depok. Tanpa dinyana, aku dipanggil pak RW untuk keperluan membuat KTP. Aku dimintai pas foto. Sehari kemudian KTP Depok-ku sudah jadi. Memang, aku sudah lama tinggal di Depok, lebih dari satu tahun saat itu. Namun KTP-ku masih dari Riau. Usut punya usut, Mpok Ani-lah yang membocorkan bakat mengajiku pada pak RW. Walhasil pihak kelurahan mengeluarkan KTP kilat untukku, agar bisa diikutsertakan dalam perlombaan MTQ tingkat Kodya Depok. Waktu itu sainganku sangat berat. Beberapa kecamatan “mengimpor” qori’ yang sudah menang di tingkat nasional, dari propinsi lain. Istilahnya, “dibajak”. Aku yang tak pernah lagi latihan, akhirnya tandas, habis, kalah. Tapi tetap senang mendapat kepercayaan dari aparat setempat.

Beberapa bulan lalu, saat di tempat kerja, secara mengejutkan temanku di bagian produksi menawarkan untuk ikut seleksi adzan RCTI. Hari itu aku ingat, pulang larut sekali, sekitar pukul 10 malam. Tiba-tiba dicegat, dan ditawarkan “seleksi langka” itu. Jika bagus, akan tayang di RCTI Ramadan ini, katanya. Menurut rekanku tadi, ada sekitar 5 orang yang diseleksi. Senang bukan kepalang. Aku teringat memori masa kecil tentang adzan. Sejatinya, setiap ingat adzan, aku terbiasa merenung, bernostalgia pada masa kecil dulu. Jadilah aku rekaman di salah satu studio rekaman internal RCTI. Hasilnya menurutku lumayan bagus, meski tak sekelas adzan orang Mekkah. Hehehe. Yang terpenting bagiku saat rekaman itu, aku mampu mengeluarkan kemampuan terbaik. Untuk itu, aku minta doa dari rekan-rekan dekatku. Baik itu di milis, maupun lewat kontak hp. Tujuannya, agar aku bisa mengeluarkan kemampuan terbaik dari dalam diri. Masalah hasil, serahkan ke Allah. Yang utama, sudah pernah punya pengalaman ikut seleksi sampel adzan di televisi. Belakangan kutahu, adzanku tak lolos. RCTI tetap memakai adzan tahun lalu. Ya sudah. Tak apa-apa. Gagal adalah hal biasa. Justru kata pepatah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Ini kali kedua aku rekaman di studio rekaman RCTI. Kali pertama, dulu saat diminta temanku orang produksi juga yang memintaku mengajarkan qiro’ah Dude Herlino, Vidi Aldiano, dan Opick, untuk keperluan syuting acara live Idul Adha tahun lalu. Grogi juga sih waktu itu ketemu artis ternama pujaan ibu-ibu. Tapi kesanku, Dude, Vidi, dan Opick, memang orang-orang yang rendah hati, mudah akrab, dan murah senyum juga. Dari ketiganya, akhirnya Vidi yang terpilih untuk direkam suaranya, dengan aku berdiri di sampingnya mengingatkan bagaimana irama yang cocok. Opick dan Dude malu-malu kucing, merasa diri mereka kurang pantas untuk direkam qiro’ahnya. Padahal suara Dude lumayan ok. Terbukti jadi penyanyi sekarang. Orang produksi yang “memaksa” ketiga artis ini, akhirnya tak berdaya. “Jangan sekarang (rekaman ngajinya) mas. Mepet. Tahun depan aja. Saya belajar (ngaji) dulu ama mas ya,” ujar Dude merendah setelah aku beri contoh qiro’ah.

Masjid Raya Sebanga, tempat pertama kali melatih dan mengeksplorasi gaya adzanku

Semua kisah berkesan di atas, aku dapatkan karena terpicu prestasi adzan di TPA waktu kecil. Sejak belia, aku terbiasa adzan di masjid Raya. Aku berinteraksi dengan linkungan masjid. Mulai dari pengurus, hingga penjaga masjid. Bahkan penjaga masjid sudah cs denganku. Kadang kami bergantian mencoba eksplorasi gaya adzan sesuka hati. Mereka (pengurus dan penjaga masjid) membuka diri. Sangat berbeda dengan pengurus Mushola dekat kosku tadi pagi. Mereka kuno, tertutup, tak percaya pada anak muda. Bukannya mensupport anak muda untuk mencoba adzan, malah ia meremehkan kemampuan orang yang akan menawarkan diri untuk adzan. Pentolan Mushola dekat kos-ku itu jelas berbeda dengan guru TPA-ku dulu, yang terkenal suportif. Maka tak heran, mengapa mushola di sekitar tempatku, jarang dikunjungi anak muda karena sistem kolot mereka dalam mengelola tempat ibadah. Perlahan, aku akan coba perbaiki hal ini. Tentu tak bisa langsung tembak. Cukup dengan memberi bukti. Ini adalah bagian dari proses social engineering dalam kehidupanku. Dan aku tertarik masuk, terlibat, dan menjadi agen perubah di dalamnya.

Aku ingat, film “Setelah Maghrib” (akan tayang di RCTI) menjelaskan dalam salah satu dialog promonya bahwa adzan adalah panggilan bagi seorang hamba untuk berdialog dengan Tuhannya! Sungguh penting menjadi orang yang menyambungkan dialog antara manusia dan Tuhannya. Pekerjaan yang prestisius.

Aku bahkan kepikiran sebelum meninggal nanti, adzan sangat lekat dengan salah satu personal brandingku. Adlil Umarat = Adzan dan Adzan = Adlil Umarat. Aku ingin salah satunya dikenang sebagai Adlil si Tukang Adzan.

Anda yang masih muda, coba deh rasakan sensasi adzan di masjid atau mushola di sekitar rumah Anda. Saatnya kejutkan warga dengan adzan rasa baru yang lebih segar, bertenaga, dan bukan bertumpu pada suara orangtua, yang monoton, begitu-begitu saja, dan sudah terlalu biasa. Saatnya anak muda bikin gebrakan di lingkungannya. Jika Anda sudah berkeluarga dan punya anak kecil, mari support dia agar mau dan berani adzan di masjid atau mushola di lingkungan Anda. Percayalah, hal itu akan bagus buat ketangguhan mental anak Anda, dan juga akan mengikat kecintaannya pada ibadah berjemaah. Lingkungan masjid bisa jadi pemicu berkembangnya bakat-bakat lain dari seorang anak kecil. Jangan pula Anda mengatakan “tak berbakat”, “suara jelek”, atau minder. Itu semua bisa dilatih seiring belalunya waktu. Aku pun mengalaminya. Berlatih seiring waktu.

Jikalau tak ada regenerasi muadzin, isi jemaah tempat ibadah Anda hanya akan diisi orangtua saja. Ayo yang muda, yang masih anak-anak, bergerak, berperan!

Tambahan Pengetahuan dari Om google:

Definisi

Azan (ejaan KBBI) atau adzan (Arab: أذان) merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya salat fardu. Dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap salat 5 waktu. Lafadz adzan terdiri dari 7 bagian:

  1. Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali); artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”
  2. Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali) “Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah”
  3. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali) “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”
  4. Hayya ‘alash sholah (2 kali) “Mari menunaikan salat
  5. Hayya ‘alal falah (2 kali) “Mari meraih kemenangan”
  6. Ashsalatu khairum minan naum (2 kali) “Shalat itu lebih baik daripada tidur” (hanya diucapkan dalam azan Subuh)
  7. Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali) “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”
  8. Lailaha ilallah (1 kali) “Tiada sesembahan selain Allah”

Adab adzan

Adapun adab melaksanakan azan menurut jumhur ulama ialah:

  1. Muazin hendaknya tidak menerima upah dalam melakukan tugasnya;
  2. Muazin harus suci dari hadas besar, hadas kecil, dan najis;
  3. Muazin menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan azan;
  4. Ketika membaca hayya ‘ala as-salah muazin menghadapkan muka dan dadanya ke sebelah kanan dan ketika membaca hayya ‘ala al-falah menghadapkan muka dan dadanya ke sebelah kiri;
  5. Muazin memasukkan dua anak jarinya ke dalam kedua telinganya;
  6. Suara muazin hendaknya nyaring;
  7. Muazin tidak boleh berbicara ketika mengumandangkan azan;
  8. Orang-orang yang mendengar azan hendaklah menyahutnya secara perlahan dengan lafal-lafal yang diucapkan oleh muazin, kecuali pada kalimat hayya ‘ala as-salah dan hayya ‘ala al-falah yang keduanya disahut dengan la haula wa la quwwata illa bi Allah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah);
  9. Setelah selesai azan, muazin dan yang mendengar azan hendaklah berdoa: Allahumma rabba hazihi ad-da’wah at-tammah wa as-salati al-qa’imah, ati Muhammadan al-wasilah wa al-fadilah wab’ashu maqaman mahmuda allazi wa’adtahu (Wahai Allah, Tuhan yang menguasai seruan yang sempurna ini, dan salat yang sedang didirikan, berikanlah kepada Muhammad karunia dan keutamaan serta kedudukan yang terpuji, yang telah Engkau janjikan untuknya [HR. Bukhari]).

Menjawab Adzan

Apabila kita mendengar suara azan, kita disunnahkan untuk menjawab azan tersebut sebagaimana yang diucapkan oleh muazin, kecuali apabila muazin mengucapkan “Hayya alash shalah”, “Hayya alal falah”, dan “Ashsalatu khairum minan naum” {dalam azan Subuh).

Bila muazin mengucapkan “Hayya alash shalah” atau “Hayya alal falah”, disunnahkan menjawabnya dengan lafazh “La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim” yang artinya “Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.

Dan bila muazin mengucapkan “Ashsalatu khairum minan naum” dalam azan Subuh, disunnahkan menjawabnya dengan lafazh “Shadaqta wa bararta wa ana ‘ala dzalika minasy syahidin” yang artinya “Benarlah engkau dan baguslah ucapanmu dan saya termasuk orang-orang yang menyaksikan kebenaran itu”.

Follow me on twitter: @pukul5pagi

41 responses to this post.

  1. Pertamax dulu gan… ;P

    Reply

    • Mantap gan! Jangan lupa tetap berkunjung terus, apalagi pertamax.

      Reply

    • Posted by Said Lasabuda on October 8, 2014 at 2:40 PM

      adzan adzan sekarang dimasjid masjid SUDAH SAMA ADZAN DI TELEVISI CEPAT CEPAT TIDAK ADA JEDAH untuk memberi kesempatan yg mendengar untuk menjawab adzan, mereka mengikuti adzan -adzan televisi yang mengejar waktu sudah diedit karena waktu untuk iklan dagang, saran kalau ketemu muazin yang adzannya cepat cepat ditegor sajah nanti lama kelamaan sudah adzan televisi yang benar padah kalau kita liat adzan adzan langsung di Mekkah almukarommah dan di Madinah Almunawarrohitu kita dapat menjawab adzan tanpa buru buru dikejar kejar sama muazin.

      Reply

  2. mantap ad.. dilanjut.. semoga bisa istiqomah dan menginspirasi yang lain.. gue juga pernah tuh coba2 azan di mesjid kampung pas waktu kuliah.. sensasinya luar biasa.. apalagi sambil meresapi makna disetiap kalimat adzan,, sambil membayangkan orang orang yang terpanggil untuk ke mesjid.. rasanya mak nyuss.. kaya terbang.. (agak lebay ya?? tapi emang gitu sih dulu pernah ngerasainnya)

    dulu itu sampe cepet2 ke mesjid mau azan, takut keduluan sama bapak bapak yang lain.. hehe..

    kangen.. pengen azan lagi..

    buat mereka yang punya kesempatan azan.. selamat!! nikmatilah..!! semoga dapat pahala yang banyak dari Alla SWT..

    Reply

  3. Posted by andien garindia on August 9, 2011 at 9:48 AM

    my first comment😀 hehe….

    it’s cool artikel…smg bs menginspirasi para pemuda lainnya untuk mencoba n berlomba2 jd muadzin…jaman skarang dah jarang anak muda yg tertarik untuk adzan…padahal kn perlu regenerasi…kl generasi tua dah pensiun…siapa yg mo manggil buat sholat?….so untuk para generasi pendahulu, berilah kesempatan buat para pemuda untuk cobain sensasi adzan….:D

    n buat kakak…teruslah beradzan…smg bs kayak Bilal, yg sandalnya aja dah nyampe d surga…amin…

    ^_^ Andien

    Reply

  4. Posted by dinar novanindar on August 9, 2011 at 4:22 PM

    Satu kata aja ‘MANTAP’

    ^_^

    Reply

  5. Dulu waktu kecil suka mikir, kok yang perempuan gak boleh adzan yah…padahal kalau liat anak laki-laki adzan aku suka iri…soalnya suara mereka didengar ama orang satu kampung…(ketahuan anak kampung nih :p )

    Bersyukurlah punya kemampuan mengumandangkan adzan dengan lebih merdu..dan bisa dimanfaatkan buat orang banyak dan agama. Kadang ada orang mendengar adzan biasa2 aja tapi denger adzan lain bisa merinding.semoga aad bisa adzan sampai tua, artinya harus rajin2 ke mesjid heheh…

    Reply

  6. Posted by oppie on August 9, 2011 at 5:17 PM

    Subhannallah ad..tulisan aad semuanya membuat orang ingin terus melakukan kebaikan..lebih semangat menjalani hidup..dan bikin orang lebih ingin deket sama Allah..semoga penulisnya selalu mendapatkan rahmat dan lindungan-Nya..opi cuman bisa berdoa ad, seadainya aja..semua laki-laki terutama pemuda mempunyai sikap seperti itu..berani untuk membuat perubahan, ga malu untuk berbuat kebaikan, mempunyai nilai2 keislaman,….mempunyai jiwa kepemimpinan..ga hanya hura2 terus..duh..indah banget ad dunia ini….Opi yakin suatu saat aad bener2 jadi pemimpin yang adil(sesuai dengan namanya)..dan dikenang sebagai pelantun adzann..

    waiting for your next inspiring story..

    Reply

    • Oppie, aku manusia biasa. Banyak salah dan dosa. Jangan dipuji begitu ah. Ga baik buatku. Aku hanya mencoba berpetualang dengan hidupku dan mengajak orang lain melakukan petualangan-petualangan serupa. Terima kasih doanya ya.

      Reply

      • Posted by oppie on August 9, 2011 at 6:14 PM

        hahaa, emang siapa yg bilang aad superman :p..siapa juga yg bilang aad malaikat yg ga pernah ngelakuin salah dan dosa, hiihi..aad nih GR aja, wekwek..:>

        its not pujian, its real..its wht i feel when i read it…jadi pengin melakukan hal yg bermanfaat juga…

        moga aad tetep rendah hati seperi padi..dan terus menghasilkan karya2 yg inspiring..

      • Makasi ya.

  7. Posted by hanum on August 9, 2011 at 5:44 PM

    Assalamulaikum mas aad…lama ga ketemu ya..subhanallah tulisan dan kata2 slalu mginspirasi sprt biasanya….hebat mas…moga2 bs trs bkarya yah… Amen2 dong kdepok…kt ngaji lg hehhehe

    Reply

  8. Dulu waktu kecil suka mikir, kok yang perempuan gak boleh adzan yah?…padahal kalau liat anak laki-laki adzan suka iri…soalnya suara mereka didengar ama orang satu kampung…(ketahuan anak kampung nih..heheh).

    Semoga bakat dari kecil aad bisa dimanfaatkan buat orang banyak dan bisa adzan sampai tua. Nggak semua orang bisa adzan dengan baik dan dg suara merdu, apalagi ini tugas yang sangat mulia, mengajak orang2 untuk berrtemu dan mengingat Tuhannya. Good job!

    Reply

    • Unira, thanks buat doanya. Semoga meski tak bisa adzan, nanti jika punya anak laki-laki, keinginan kmu saat kecil bisa tersalurkan lewat anakmu kelak ya. Amin.

      Reply

  9. Posted by Nurul Ayu Istiqomah on August 10, 2011 at 2:16 PM

    Hmm,,membaca artikel ini, adalah aktivitas yang menarik, karena membuka memoriku akan kota Duri, di mana aku kecil.. Menyusun puzzle-puzzle ingatan mengenai lokasi itu.. Sebanga, Talang.. bukan nama yang asing, dan bahkan menarik.. Menyimpan histori lain dalam memoriku..

    Mengenai pendidikan yang supportif,, memang tergantung orangnya,, namun.. sekarang ketika pendidikan semakin maju,, pendidikan yang suportif menjadi mutlak karena dapat meningkatkan anak untuk mengeluarkan potensi spt kak Aad,, Semoga ketika pendidikan Indonesia lebih baik, akan banyak kak Aad di Indonesia…!!!

    Reply

    • Dek, kmu orang duri jg? Hehehe. Jauh2 ketemunya orang Duri. Thanks dah mampir ya

      Reply

      • Posted by Nurul Ayu Istiqomah on August 11, 2011 at 10:28 AM

        yupppii.. dr dulu aku dah bilang aku besar d duri.. hehehe,, bagus banget tulisannya.. infonya lg klo ada tulisan baru yaa..

  10. Posted by Yuan Rimadhani on August 10, 2011 at 3:15 PM

    komprehensif tulisannya, ad.. ada info2 lain seputar adzan jg buat yg gak tahu.. hihiihii..
    smoga taun depan, jd deh ngisi adzan di tv.. aamiinn.. ;D

    Reply

    • Thanks Yuan. Klo SCT# pake Muammar ya, Qori ternama itu? hehehhe. Coba lagi awards ya kapan2. Mampir terus Yuan. Moga dapat hadiah mengejutkan.

      Reply

  11. Posted by Rusfadia S J on August 10, 2011 at 3:24 PM

    Hehe..adik buyungku narsisnya ga ilang2..untung ada nilai moral yang bisa dipelajari dari tulisannya..ok,tetap berkarya,tetap mengajak orang sholat, untuk menuju kebaikan..Tulisan yang menarik.

    Reply

    • Uni Yanti, alah lamo ndak basuo. Adikmu menulis karena khawatir mati duluan. Makanya menulis untuk meninggalkan pelajaran berarti buat orang lain, dari kisah kecil sehari-hari. Kapan2 pasti lah aku mampir ke tempatmu. Belum jenguk ponakan nih aku. Uni, makasih ya dah menyambangi blogku. Merasa terhormat dikunjungi sosiolog muda, panutan buat adiak tacinto…:)

      Reply

  12. 🙂
    jadi ketagihan baca blog nya kakak..🙂
    (sayang belom sempat nulis panjang2 lagi nih, saya.)

    komentar buat tulisan yang satu ini.

    saya selalu kangen assalaam dan ic kalau denger suara pemuda adzan
    tapi disekitaran sini, jarang banget kedengaran suara pemuda yang adzan…
    lebih banyak bapak2 atau kakek2😀

    semoga akan terus ada generasi muda muslim yang akan ber-adzan…🙂

    -phy-

    Reply

  13. Posted by Haliem on August 12, 2011 at 7:12 AM

    awalnya tak kira ini tulisan narsis ka aad, eh ternyta di akhir akhir…(untuk kesekian kalinya : “ini adlh blog pembangun jiwa” ohohoho)
    nice ka, sumpah keren, bang amran yg keren, tulisan sama penulisnya juga keren ding.. :-bd
    ditunggu tulisan selanjutnya d( ^_^ )b

    Reply

  14. Posted by Ana Aulia on August 12, 2011 at 11:02 PM

    Salut sm anak perantau yg 1 ini (•ˆ⌣ˆ‎​​​​•) Disaat pemuda lain getol2nya bikin boyband, yg ini malah kekeuh jd muadzin. Oyaa aku suka bgt lho adzannya metro tv. Maap yaa kali ini rcti ngalah dl..hehe! 2 thumb’s up for you..

    Reply

  15. kalo RCTI mau maju sih, bagusnya adzannya ga sama kaya yang dulu… kemajuan butuh inovasi…. rugi tuh mereka ga pake suara bang ad… hehehehehe… cerita-ceritanya bagus bang…🙂

    Reply

  16. Posted by ahmad on August 15, 2011 at 12:42 PM

    mantab ad… suara ente memang luar biasa. ane udah tulis nama ente did aftar pembaca qur’an di akad ane, sayang bentrok hari kerja :(….

    btw, tulisan ente sangat menarik. isinya tentang adzan, keberkahan, dan ajakan untuk menjadi muadzin. openingnya bagus banget tentang niat ente adzan (simbol anak muda penuh gairah dan sinyal perubahan) dengan tantangan dari para tetua (simbol generasi lama penjaga nilai dan tradisi yang kolot)
    setelah itu pembaca ente ajak untuk menikmati masa2 kanak2 ente. sebuah cerita yang secara tidak langsung menarik ingatan para pembaca ke amsa lalu masing2. ane tiba2 juga teringat pertama kali ane adzan dengan berbagai macam kekonyolannya. di tambah selipan tentang adab dan tatakrama adzannya. alur yang sangat bagus.

    yang menurut ane agak kurang mungkin hanya closingnya. ini mungkin hanya pilihan/ stile penulisan. di awal, ane berharap ente tutup tulisan ini dengan apa yang terjadi pada saat ente adzan atau selesai adzan di masjid dekat kost2an ente. atau bagaimana si bapak setelah mendengar ente adzan.

    mungkin cerita gembiranya begini :… kuhela nafas di tarikan suara adzan terakhir. Selesai sudah kupenuhi amanat memanggil hamba-Mu. Entah mereka tergerak bangun mendengar suaraku yang mungkin kurang syahdu untuk menghadapMu, atau malah menarik selimut di tengah parau suaraku. Kulihat sang bapak yang biasa adzan di dekat tiang musholla. Badanku gemetar takut dia tidak berkenan. Tapi yang kutemui hanya sebuah senyum dan anggukan keluasan. Di sela bibirnya yang mulai keriput, kudengar lirih suaranya :”Bagus nak, semoga suaramu akan kembali meremaikan musholla kita”.
    Aku tersenyum getir. Esok, aku berjanji akan kembali lagi ke sini….

    ha ha ha ha, tentunya gak sebegitu2 amat karena tulisan ente memang kisah nyata. sedangkan tulisan ane murni imajinasi.

    btw, nice posting bro…

    Reply

    • Sebenarnya pgn ceritain kelanjutannya stlah adzan.tp dlm hati dah niat, ga akan melihat respon bpk tua dan jemaah lain. saya adzan buat ibadah.ndak peduli gmana respon org lain. Adzan yg diberikan subuh itu adalah yg terbaik.sama dgn saat rekaman di studio tv. I had done my best, just forget it. let Allah judge it. Gt bang ahmad. Memang penutupnya kurang ok. Ndak apa-apa sekali2. Ditutup dengan pengetahuan tambahan. hehehehe

      Reply

  17. Posted by jupz on August 16, 2011 at 8:08 AM

    dan azan pertama saya adalah waktu di IC :p

    salam kenal kak..
    Jupri_IC05

    Reply

  18. huhu… aku pun prnah adzan tp
    karna bkn ahlinya…. alias jarang, malah gemeter pas adzan,
    gemeter2 kaki2 nya goyang bukan main….

    mentok di hayya ‘alasshalah, habis napas kalimat blm beres… uhuk!
    duh…… keselek!

    allah… dalam hatiku.
    kegagalan adalah kesuksesan yg tertunda….

    adzan kuteruskan, jama’ah ada yg pngen nyengir….
    allah… dalam hatiku.
    dpt jg giliran kepentok gini…

    allah….
    ak harus sering berlatih! lillah lillah lillah,
    do’akan aku bisa adzan juga yah, akhi! syukran.

    Reply

    • Menjadi muadzin juga bisa jadi ajang berani tampil di depan publik. Jadi, itu adalah momentum paling mahal. Namun, jarang orang melihatnya sebagai sebuah kesempatan emas. Selamat, kamu bisa melihatnya sebagai kesempatan emas. Teruskan latihannya.

      Reply

  19. salam hangat dari Duri wahai saudaraku…
    saya juga pernah di TPA dan MDA Mesjid Raya Sebanga..
    mengenai B’ Amran & da Joe .cs msh keren tyuhh….

    Reply

  20. Posted by wulung on October 16, 2014 at 10:30 PM

    siiip

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: