Menjemput Jodoh Part 3

Aku duduk di ruang tamu bersama calon mertua laki-laki. Suasana tegang. Ini momen aku mengungkapkan maksud dan tujuanku datang ke Surabaya dan Gresik.

Selesai solat Zuhur, aku berdoa dengan khusu’. Aku memantapkan diri berani mengungkapkan isi hati pada calon mertua bahwa aku ingin melamar anaknya sebagai pendamping hidupku.

Keputusan yang sangat berani, meski aku hanya dalam waktu singkat bertemu Andin dan keluarganya. Hanya 3 hari. Insya Allah, 3 hari untuk selamanya.

Beberapa teman sempat bertanya padaku. Bagaimana bisa merasakan bahwa “Nah ini dia jodohku?” dan bagaimana teori menentukan jodoh dalam 5 menit? Kali ini aku akan ulangi lagi cerita prosesnya.

TKP “Penembakan” Calon Mertua

Untuk menentukan “nah ini dia jodohku”, aku melakukan mapping komprehensif terhadap jodohku dan keluarganya. Aku jabarkan detil beberapa item yang penting menurutku. Setelah aku jabarkan, lalu aku padukan dengan karakter yang ada di keluargaku, dan diriku tentu saja. Hasilnya, Kecocokan lebih kental terkandung diantara keduanya. Pada momen itulah kata-kata “nah ini dia jodohku” semakin menguat.

Untuk teori menentukan jodoh dalam 5 menit, tidak terlalu sulit, namun juga tidak gampang. Hasil research mendalam mengenai jodohku dan semua karakter keluarga intinya aku kumpulkan. Lalu, selesai solat Zuhur, aku berdoa secara khusus dan khusu’, aku pejamkan mata lalu membayangkan diriku, dan jodohku akan jadi seperti apa hubungan kami dalam 1, 2, 5, 10, 20, 50 tahun ke depan, dan bahkan hingga maut memisahkan kami. Lima menit yang bisa jadi singkat, bisa jadi panjang. Terasa singkat jika diukur dari hitungan orang normal. Tapi terasa panjang jika kita sedang memejamkan mata dan membayangkan apa yang akan terjadi.

Ketika menutup mata, membayangkan aku dan jodohku, aku hubungkan nilai positif di dalam diri jodohku, dan nilai positif di dalam diriku. Lalu, aku lakukan exercise kilat. Apakah kami akan jadi keluarga keren? Keluarga yang tangguh? Keluarga yang bahagia penuh cinta? Atau malah sebaliknya. Dari analisis karakter dan tipe bahasa cintaku, rasanya kami hampir mirip. Kami punya bahasa cinta yang sama. Jalan kami searah. Selama 5 menit yang terbayang dalam benakku adalah prestasi-prestasi dan kesuksesan luar biasa.

Memang benar, itu hanya visualisasi yang belum pasti terjadi. Namun, aku berprinsip, jika kita mampu memvisualisasikan seperti apa kesuksesan kita hingga detil, maka usaha kita akan mengikuti demi mencapai kesuksesan yang diinginkan tersebut. Minimal, ndak jauh-jauh dari sasaran prestasi yang hendak dicapai.

Kembali ke cerita pengungkapan isi hati pada calon mertua.

Aku sebenarnya berada dalam kepanikan. Macam-macam yang aku pikirkan saat itu. Namun, niatku sudah lurus. Tekadku sudah bulat. Aku panggil calon pasanganku agar duduk menemaniku menghadap orangtuanya. Pesannya hanya satu: agar ia melihat langsung betapa keberanianku menghadap orangtuanya adalah bukti nyata bahwa aku laki-laki sejati. Bukan laki-laki yang tidak punya komitmen, galau, suka mengambang, dan sebagainya.

Aku ingin, pasanganku itu mengingat betul momen indah saat aku “menembak” papanya. Menembak untuk meminta anaknya yang cantik jelita itu agar mau menjadi pendampingku.

“Menembak” Calon Mertua

“Begini om.  Sebenarnya kedatangan saya 3 hari ke sini dalam rangka ingin silaturrahim, mengenal lebih dekat, lebih dalam Andin dan keluarga. Setelah ketemu (Andin dan keluarga), ngobrol, dan melihat langsung di sini, saya merasa cocok. Nah, setelah saya pertimbangkan, saya ada niatan melanjutkan hubungan dengan Andin ke arah yang lebih serius lagi”

“Oohh ya ya. Tapi kan ketemu om baru sekali? Kok sudah bilang cocok?” tembak calon mertua.

Wak wawwwww….. @*@$&*$%*($&^$&%$…. kena deh gw….

“Ketemu om memang baru sekali, tapi kan udah research selama 1.5 bulan sebelumnya lewat telpon dan chatting dengan Andin. Insya Allah sudah cukup.” Begitu jawabku. Gaya banget ya mentang-mentang kerja di bagian research. Wakakakakakakk.

Calon papa mertua menjawab, “Kalau memang sudah merasa cocok keduanya, ya kita orangtua akan support. Tapi, ada baiknya Andinnya ketemu orangtuanya Adlil dulu. Kan belum pernah ketemu. Ya kayak Adlil ketemu saya ini. Biar lebih mengenal keluarga masing-masing.”

FYI, sebelum “menembak” calon papa mertua, aku sempat dilanda keraguan. Apakah harus mengungkapkan niat baik menikah sekarang, atau nanti saja setelah pertemuan ke 2 atau 3. Orangtuaku mau pergi haji sebentar lagi. Kurang dari beberapa minggu lagi berangkat. Kapan mau ketemunya? Kalau aku kembali lagi 2 atau 3 kali lagi ke Gresik/ Surabaya, untuk apa? Untuk buang-buang uang dan waktu saja? Toh, hasil akhir dari targetku sudah jelas. Menikah.

Aku bersikeras untuk sudah memantapkan hati memilih Andin sebagai jodohku. Tidak ada ragu lagi.

Sementara itu, Andin hanya duduk saja di sampingku. Parahnya, saking kami bertiga yang duduk di ruang tamu sama-sama nervous, akhirnya ada satu part yang terlewat. Aku dan calon papa mertua tak menanyakan, lebih tepatnya sih lupa menanyakan, apakah ia setuju untuk melanjutkan keseriusan hubungan dengan orang bernama Adlil Umarat. Andin hanya duduk manut di sampingku. Terdiam. Setelah menikah, aku tanyakan, ternyata ia panik ga karuan dan ndak merasa “dilewati”. Kita baru nyadar bahwa kita tidak menanyakan kesediaan Andin untuk menerima pinanganku belakangan, setelah momennya terlewatkan. Mungkin saking nervousnya, hal yang paling penting jadi kelupaan.

“Oia, nanti kamu telpon tante ya,” ujar papa mertua padaku. Maklum, mama Andin sudah kadung berangkat ke Bandung untuk sebuah perjalanan dinas. Karena kami (aku dan papa mertua) ngobrolnya keasyikan, jadi belum sempat mengutarakan niat, sudah ditinggal pergi oleh mama.

“Ok om. Nanti saya telpon,” jawabku.

Selanjutnya aku sekalian pamitan dengan calon papa mertua untuk pulang ke Jakarta. Aku cium tangan papa mertua. Aku peluk badannya.

Mbak Ana (asisten pribadi mama mertua) yang mengintip dari balik korden pintu berkomentar, “Akrab banget pak Agus sama masnya itu? Kok bisa peluk-peluk gitu?”
Andin hanya bisa tertawa kecil mendengar komentar Mbak Ana.

Nah, begitu selesai mengungkapkan isi hati, dan ditanggapi secara positif oleh calon mertua, rasa senang begitu membuncah di hati. Perhatikan untuk Anda yang laki-laki. Perasaanku setelah meminang anak orang adalah seperti ini:

MERASA SEPERTI LAKI-LAKI SEJATI. I FEEL LIKE A MAN!
(sebelumnya masih ngerasa seperti anak-anak remaja saja)

Ya, aku merasa jadi laki-laki paling gagah se-dunia. Macho-nya sama dengan koboy di iklan-iklan rokok yang baru pulang dari petualangan. Ndak pernah merasa seperti ini, selega ini, se-happy ini. Telah lama menanti pencarian jodoh, lalu ketemu orang yang kira-kira sesuai, lalu take action terbang ke Surabaya, menghadap orangtuanya, lalu cepat ambil keputusan berani. Itu keren banget!

Buat Anda laki-laki yang belum pernah merasakannya, ada baiknya mencoba sensasinya. Tapi ingat, resikonya bisa jadi menghadapi respon positif maupun negatif. Anda harus siap mental menghadapi kedua kemungkinan itu.

Oia, buat Anda yang perempuan, jika didekati laki-laki, lalu hubungannya nggak jelas akan bermuara ke pernikahan, maka segera tinggalkan saja laki-laki itu. Laki-laki yang benar gentle itu menurut pendapatku pribadi adalah yang ndak lama-lama memutuskan untuk mengambil niat baik. Bukan yang ragu-ragu untuk menjalani hubungan ke arah serius. Apalagi membuat hubungan menjadi mengambang, ga jelas, dan sampai-sampai si perempuan bertanya, “mau dibawa kemana hubungan ini?” Semua perempuan dimana-mana butuh kepastian. Kepastian yang dibalut keberanian seorang laki-laki idaman mereka. Itu yang menguatkan dan meyakinkan hati mereka untuk memilih pasangannya.

Perpisahan Yang Menyakitkan

Aku dan Andin pun naik mobil menuju Surabaya. Kami keliling Surabaya berdua. Foto-foto di masjid Agung Surabaya. Ternyata ada orang kawinan juga di sana. Sekalianlah kami survey lokasi nikahan. Perasaan kami saat itu gembira ria luar biasa.

Pose Dpn Masjid

Sepanjang perjalanan senyum mengembang dari bibir Andin. Pipinya memerah malu tiap aku godain, “Dek, kita akan menikah…..”

Pose Dpn Masjid Agung Surabaya

Andin merasa masih belum percaya pada apa yang kami alami. “Nanti kakak kalau sudah pulang ke Jakarta, masih nelpon adek ga?” tanya Andin padaku. Ia ketakutan setelah ketemu, lalu malah tidak ada kontak lagi karena ada rasa kecewa atau sejenisnya.

“Ya nggak mungkin mundurlah. Pasti tetap nelpon. Ini kan aku udah menghadap orangtuamu. Kurang bukti apa coba?” jawabku sambil terheran-heran dengan ketakutan berlebihannya.

Ketika hendak berpisah, kami berdua sedih. Sedih karena pertemuan ini baru saja dimulai. Dan hubungan kami lagi seru-serunya. Namun aku harus balik ke Jakarta. Lanjut bekerja lagi. Andin pun harus melanjutkan aktivitasnya.

Ada kejadian unik. Ketika dalam perjalanan pulang ke Bandara Juanda, aku sakit perut yang luar biasa. Sepertinya aku ingin ke “belakang”. Perut melilit. Tanpa dinyana, kami terjebak macet. Akhirnya Andin yang menyetir, segera ambil tindakan. Ia ambil jalur alternatif, mencari tempat yang bisa ditumpangi untuk “nongkrong”. Hehhee. Akhirnya terpilihlah sebuah toko Alfamart. Aku masuk ke toiletnya. Perutku sakit sekali. Namun proses “pembuangannya” tak lancar. Mungkin ini buah dari nervous yang ditahan pas ketemu calon papa mertua tadi siang.

Aku lama sekali nongkrong di toilet Alfamart. Thanks to Alfamart. Andin sampai khawatir denganku. Beberapa kali ia bolak-balik memanggil namaku dan mengecek apakah aku sudah selesai “nongkrong” atau belum. Ia sabar menantiku di dalam mobil.

Begitu selesai, aku lega sekali. Entah mengapa, aku langsung belanja, menuju rak makanan dan mengambil 2 kotak susu Ultra rasa cokelat. Satu buatku, satu lagi buat Andin. Begitu pikirku. Begitu aku mengetuk pintu mobil Andin, aku langsung serahkan susu kotak padanya. Eh ndilalah, Andin juga mengeluarkan plastik berisi susu Ultra dengan ukuran yang sama. Ia ternyata membeli 2 kotak susu Ultra juga. Adegan ini persis seperti adegan di iklan-iklan. Seperti built-in sponsor banget lah pokoknya. Kami pun tertawa terkekeh-kekeh. Kok bisa sama sih pikirannya? Kenapa bisa sama milih susunya jenis yang cokelat, merknya sama? Aku berkesimpulan, itu adalah awal mula kekuatan cinta kami lewat ikatan “telepati” alam bawah sadar. Hahahahhaha. Ngarang.com

Bandara Juanda sudah dekat. Sore itu, perjalanan kami agak tergesa-gesa. Takutnya sih telat check-in aja. Di tengah perjalanan, kami mendengarkan lagu favorit terbaru kami. Ini lebih seperti love song and theme song cinta kami berdua. Lagu Budi Doremi yang berjudul Doremi. Lagu yang berkesan, terutama pada lirik, “Do-Doakan kuharus pergi, Re-relakan aku di sini, Mi-misalnya aku kan pulang, Fa-Fastikan kau tetap menunggu. Soal cinta luar biasa. Lama-lama bisa gila. Siapa yang tahu pasti, doakan aku di sini..##eeeaaaaa

Ketika mau check-in, kami sempat ngobrol banyak hal. Ketika mau pisah dan aku sudah bersiap masuk ke ruang tunggu, ada pengumuman bahwa pesawatku delay. Alhamdulillah, ada waktu lebih lagi untuk ngobrol dengan Andin. Aku ke luar lagi, ketemu Andin. Kami bercanda, tertawa. Tertawa bahagia dan sekaligus sedih. Bahagia karena proses perjodohan kami begitu mudah, lancar. Sedih karena aku harus pulang ke Jakarta. Aku tak berani menoleh ke belakang, ketika sudah melewati X-Ray. Aku khawatir melihat Andin sedih. Ternyata ia sms, kenapa aku tak menoleh ke belakang, padahal dia ngarep banget. Kayak film AADC lah kira-kira.

Di Bandara Sebelum Pisah

Bagaimana kisah cinta kami selanjutnya? Apakah aku jadi mengatur pertemuan antara orangtuaku dengan Andin? Bagaimana bisa aku dan Andin hadir di Bandung bersama? Apa langkah kami selanjutnya untuk mewujudkan mimpi indah kami? Nantikan di tulisan berikutnya, “Menjemput Jodoh Part 4”

Follow me: @pukul5pagi

Klik link berikut untuk mengikuti cerita lengkap petualanganku mencari jodoh, mulai dari belajar teori sampai praktek.

(Seputar Jodoh)
 (Seputar Passion)
(Religi)
(Petualangan Sosial)

 

21 responses to this post.

  1. kak adlil………
    tulisannya bagus,,,,
    ku tunggu ya tulisan berikutnya…..” Menjemput Jodoh Part 4″

    gagsabarbgt# ^^v

    Reply

  2. Nice story, Mas. Enak dbaca, enak diikutin.

    5 mnt y? Hmm…😀

    Reply

  3. Posted by oeoel on January 26, 2012 at 11:44 PM

    aq tau hadir dibandung ngapain….wkwkwkkwk….ternyata adikmu ini ikut ambil andil dalam proses kedekatan kalian ya???hohohohoh….

    Reply

  4. Posted by Puji Riyanto on January 27, 2012 at 8:23 AM

    GPLL (gak pake lama lanjutannya)…………tak tggu Bang

    Reply

  5. Posted by Delia on January 27, 2012 at 9:57 AM

    Hahahahhaa….aad….selalu tubikontinyu..bagusnya nanti klo udah kelar dibikin novel aja ya. Naskah sinetron jg oke, sinetron romantis gitu. Lebih realita dr sinetron2 yg ada sekarang :)) *eh nanti di bagian searching lagu2 utk wedding party, klo lagu2 usul dari kita (lwt fbnya danang) masuk nominasi, sebutin ya!! Hahaha*

    Reply

  6. Posted by ummmu on January 31, 2012 at 12:33 PM

    hmmm, yg singkat aja bisa panjang begini ceritanya, kalo cerita gw n suami bisa berapa halaman nih😀

    Reply

    • Ayo Ummu. Tuliskan juga kisahmu. Pasti seru……………tp jgn lupa masukin namaku ya di dalam ceritanya. Kan datang ke rumah Ummu sama Farid dan Kuswantoro waktu itu. Hehehhee.

      Reply

  7. dijelasin lagi ya cara memedukan karakter..ksi cnthnya jg.. mksi:D

    Reply

  8. Posted by Kak Fani on February 4, 2012 at 4:08 PM

    Gue setuju tuh dgn konsep chemistery..

    Mungkin lbh menarik jika lebih detail ttg research calon mertua dan keluarganya… Pake metodologi apa, pendekatannya bgmn, unit analisisnya apa, analisis datanya sperti apa..wkwkwkwk..

    Reply

  9. Posted by Kasyful Fuadi on February 5, 2012 at 6:47 AM

    hahaha… ‘“Oohh ya ya. Tapi kan ketemu om baru sekali? Kok sudah bilang cocok?” -jleb jleb..

    Reply

  10. klo kata iklan extra joss
    ngelamar calon istri itu LAKI

    klo cuma “nembak” doang ga LAKI

    Reply

  11. Posted by @ifadaputri on February 27, 2012 at 11:12 PM

    kayak baca noveelll… Bagus!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: