Menjemput Jodoh Part 5

Mencari Rumah Kontrakan

Idul Adha 2011 adalah momen spesial bagiku. Aku kedatangan tamu istimewa. Andin datang ke Jakarta untuk kedua kalinya. Kali ini target kami adalah diskusi pematangan urusan pernikahan, lalu mencari rumah kontrakan untuk kami tempati pasca menikah nanti. Aku ingin ketika sudah menikah, kami tinggal di rumah kontrakan. Kenapa rumah kontrakan? Kenapa tidak rumah permanen saja dicicil? Ada beberapa pertimbangan yang membuat kami memutuskan tinggal di rumah kontrakan terlebih dahulu. Nanti aku jelaskan.

Kami berkeliling di sekitar Kebon Jeruk. Mencari rumah kontrakan yang paling enak dan pas untuk ditempati. Sebelum mencari rumah kontrakan, kami searching internet, apa saja syarat dan faktor-faktor yang harus diperhatikan sebelum memilih rumah. Kami sudah pelajari dengan cermat. Paling tidak poin pentingnya adalah bagaimana kondisi kualitas air, kualitas rumah (cat, dinding, lantai, toilet, dll), jarak dengan kantor, kemudahan akses, jalur angkutan umum yang melewatinya, harga, dan termasuk tetangga.

Ada beberapa kandidat rumah yang menarik. Namun harganya memang relatif mahal di sekitar Kebon Jeruk. Setelah letih keliling selama 2 hari,  kami tetapkan ada 3 kandidat kuat. Pertama, rumah Ibu Sulawesi. Rumahnya kecil, tapi mewah. Bangunannya kuat. Plus ada AC nya. Harganya Rp 14 juta, masih bisa dinego. Kedua, Ibu Griffin. Rumahnya terlalu besar. Ada 4 kamar, disewakan seharga Rp 12 juta. Namun rumahnya itu nempel dengan rumah asli bu Griffin. Ketiga, rumah mbak Sari. Ibunya Hajjah ternama juragan kontrakan di daerah setempat. Konsep rumahnya kontrakan 4, nempel 2-2 di sebuah kavling tanah.

Setelah melalui diskusi, akhirnya rumah Mbak Sari yang kami pilih. Awalnya memilih rumah Bu Griffin. Namun karena ia malah “bertengkar” dengan suaminya karena harga sewa yang ia sebutkan terlalu murah dari yang ditetapkan suaminya, akhirnya kami memilih mundur. “Itu harganya udah bagus lho mbak, bahkan suami saya malah marahin saya ngasih harga kemurahan,” ujar Bu Griffin dalam sebuah pesan singkat hp.

Wah, ndak baik kalau nyewa rumah, namun orangnya ga ikhlas. Apalagi bikin rumah tangga orang bertengkar. Rumah Mbak Sari sudah kami lihat dan perhatikan. Cukup luas. Airnya bagus lancar. Hanya saja saat kami lihat, kondisinya tidak ada lampu. Jadi terlihat gelap di bagian dalam rumah.

Selama kedatagannya saat Idul Adha, Andin menginap di rumah sepupunya di Cililitan. Aku mengantarkannya ke sana setelah kami capek berkelilling mencari rumah.

Pilihan rumah sudah kami kunci. Mudah-mudahan sudah benar. Aku masih ngekos saat itu di Madrasah I hingga bulan November akhir. Rencananya aku baru akan masuk ke rumah kontrakan Mbak Sari awal Desember. Jadi, ketika pulang nikah dari Gresik, istri sudah bisa langsung masuk ke rumah kontrakan, tidak ngekos lagi.

Rumah kontrakan sengaja kami pilih yang dekat dengan kantor. Pertimbangan utama kami adalah istriku ingin suaminya bisa punya quality time yang ok bersama keluarga. Waktu tidak habis di jalanan ibukota untuk awal-awal pernikahan kami. Istriku juga ingin memetakan dulu suasana Jakarta seperti apa. Ia ingin tahu dulu, membaca peluang jika ingin berbisnis seperti apa. Kalau misalnya sudah menentukan rumah permanen, mesti sulit untuk bergerak kesana-kemari. Posisi rumah kontrakan Mbak Sari, memang strategis. Ndak terlalu jauh dari jalur angkot. Dekat pasar Palmerah, dekat dengan Tanah Abang. Dekat juga ke Thamrin.

Di awal pernikahan, kami ingin berkonsentrasi pada penguatan dan penyatuan visi-misi, values, norms, dan culture. Meski keluarga kami hampir-hampir mirip pola asuh dan cara pandangnya, tapi tetap ada perbedaan yang harus dikompromikan. Untuk itu, menurut pemikiranku, ketika pulang bekerja, aku harus dalam keadaan fit. Aku harus bisa menjadi tempat diskusi bagi istriku nanti. Jadi, quality time kami terjaga meski aku pulang kerja malam agak larut.

Sepasang Cincin Kawin

Selesai menetapkan kontrakan mana yang akan kami pilih, ada lagi PR yang akan kami selesaikan. Andin meminta agar kami punya cincin pernikahan. Awalnya aku tak sepakat. Aku tak biasa pakai cincin. Kalaupun pernah pakai cincin, itu cincin-cincinan dari besi buat gaya-gayaan.

Tapi tak apa. Sepertinya keren juga menikah pakai cincin. Kalau Anda memang tak minat pakai cincin, jangan sampai perkara cincin ini jadi penghalang bagi Anda dan pasangan. Dalam Islam, tak ada kewajiban harus pakai cincin. Ini hanya aksesoris tambahan saja. Tidak wajib. Kalau ada rezeki lebih, bolehlah.

Aku tanya kanan-kiri ke teman-temanku, seperti apa cincin kawin itu. Akhirnya aku naksir berat pada cincin pernikahannya mas Ahmad Rifani-Mona Anggiani. Mas Fani, rekan kerjaku, memakai Palladium, sementara Mbak Mona memakai emas. Palladium itu bukan emas. Jadi aman dipakai oleh laki-laki, tidak melanggar aturan agama. Bentuknya berkilau seperti emas putih, namun lebih tahan lama. Kekurangannya adalah Palladium ini tak punya harga lagi kalau ingin dijual. Tidak sama dengan emas. Aku tanya mas Fani dimana ia membelinya. Akhirnya ia sebutkan tempat namanya Suki di daerah Pasar Cikini, seberang Stasiun Kereta Api Cikini.

Cincin Nikah Kami (Doc. Pribadi)

Aku dan Andin meluncur ke sana. Awalnya kami sempat kecele. Ada juga komplek penjual emas di seberang Stasiun KA Cikini. Namun bukan itu tempat yang ada menjual Palladium. Tempatnya ada di sebuah mall kecil, satu gedung dengan sebuah supermarket. Tanya aja orang sekitar stasiun, pada tahu, terutama satpam sekitar sana.

Awalnya Andin mau beli cincin emas tidak di sana. Namun biar praktis, aku dan Andin memesan cincin di tempat yang sama. Kami memilih cincin nikah yang sepaket. Aku pilih Palladium, Andin pilih emas. Bentuk cincin kami samakan. Aku menyukai cincin yang simple, tidak norak, tidak tebal, tapi bisa terlihat manis di tangan. Aku tak mau nanti jadi pasangan yang digelari orang sebagai toke beras. Ya, kalau di Bukittinggi, toke beras selalu pakai emas perhiasan dengan ukuran jumbo. Ia ingin tampil sebagai orang yang dihargai karena emasnya. Menurutku sih norak. Hehehehe. Aku ingin tampil sederhana saja bersama pasanganku.

Pemilik toko Suki lalu mengukur lingkaran jari kami. Ukuran jari kami ternyata sama besarnya. Sama-sama mungil dan imoet. Kami menghabiskan tak terlalu mahal untuk sepasang cincin kawin. Kalau dibilang murah, bisa juga. Jika itu dibandingkan dengan cincin emas yang lebih mahal. Tapi, uang segitu ya lumayan. Makanya, menurutku kalau beli cincin kawin tak perlu yang mahal. Tapi pilih yang nyaman dan terlihat pas di tangan Anda dan pasangan. Jangan sampai gara-gara alasan belum bisa beli cincin kawin, malah ga nikah-nikah. Sekali lagi saya tekankan, cincin kawin itu tak wajib. Itu tambahan. Tidak ada, ya tidak mengapa.

Jas Pengantin, Haruskah?

PR lainnya yang harus aku selesaikan adalah menentukan dimana bikin jas untuk nikahan. Ketika akad, setelah berdiskusi dengan Andin, kami akan menggunakan pasangan jas-kebaya. Jadilah aku akan membuat jas resmi untuk pertama kalinya.

Awalnya bingung juga. Dimana harus bikin jas. Ada yang bilang di Pasar Baru. Aku lihat ke sana memang banyak sih di pinggir jalan. Ada juga yang bilang beli jadi saja di ITC-ITC banyak. Namun, dari sekian banyak saran dari teman, aku pilih saran dari Indah Limy. Ia menyarankan membuat jas di ITC Kuningan. Katanya kualitas bagus, harganya tidak semahal di tempat-tempat lain.

Oke. Berangkatlah daku ke ITC Kuningan. Sesuai petunjuk Indah di facebook, aku berangkat sendiri di saat weekend. Ternyata toko yang dicari ditemukan juga. Namanya Proffesional Tailor. Blok A Lantai 1 ITC Kuningan. Tlp 081281853555. Sebenarnya ada beberapa Taylor di sana. Harganya ada juga yang lebih murah. Namun pilihanku jatuh ke toko ini. Rasanya lebih meyakinkan dari segi kualitas bahan. Kalau mau beli jas yang sudah jadi juga ada. Kisaran membuat jas adalah Rp 750.000 – hingga jutaan Rupiah. Aku memilih jas dengan bahan seharga Rp 1.000.000. Kelebihannya di Proffesional Taylor, ia melebihkan bahan jas yang dibuat. Artinya, jika kelak kita ingin memperbesar jas karena biasanya orang yang menikah semakin gendut, maka bisa langsung dibawa ke sana untuk diperbesar, gratis. Ini bagian dari service.

Fitting Jas Pengantin

Ada beberapa pertimbangan jika ingin membeli jas jadi dengan jas bikin. Kalau jas jadi, kelebihannya lebih cepat didapat. Namun dari segi ukuran, kecocokan dengan bentuk tubuh, masih perlu dicoba-coba. Kalau jasnya dibikin, enaknya sih rasanya pas saat dipakai.

Selesai mengukur ukuran untuk jas, aku harus menunggu seminggu untuk menerima hasilnya. Minggu depannya sudah bisa diambil. Namun karena sibuk wira-wiri, akhirnya baru aku ambil dua minggu berikutnya. Ada kendala. Celana yang dibuat, ternyata agak kurang pas. Akhirnya aku minta diperbaiki. Itulah gunanya fitting ulang jas bagi orang yang akan nikah. Kalau belum pas, ya minta diperbaiki sampai kita nyaman memakainya.

Oia, perlu aku tekankan di sini. Sekali lagi, jas ini juga bukan benda wajib untuk menikah. Ini hanya tambahan saja. Tergantung hasil kesepakatan Anda dan pasangan, mau pakai pakaian jenis apa saat akad nikah. Jika pun harus pakai baju koko biasa, sebenarnya tidak masalah. Namun, banyak orang ingin tampil apik di hari bahagianya. Ya itu juga tidak bisa kita larang. Namun ingat, ini tidak wajib! Lebih penting proses ijab qabulnya daripada jas atau kebayanya.

“Badai Katrina” Porak-porandakan Kontrakan

Aku baru saja pindah dari kos di rumah bu Bisono ke kontrakan Mbak Sari, dibantu oleh sahabat terbaikku, Budi. Budi tinggal di Depok, teman kuliahku dulu. Ia lulusan SMK dan merantau ke Depok mengadu nasib. Dulu ia menjadi penjaga kos di Juragan Sandi. Lalu setelah beberapa waktu, di suatu hari ia minta saran padaku apakah mengambil peluang bekerja di pabrik, atau tetap menjaga kos. Aku mendorongnya mengambil peluang di pabrik. Akhirnya ia bekerja di pabrik Yamaha. Sempat bekerja beberapa tahun, namun akhirnya kontraknya tak diperpanjang. Sekarang ia bekerja di depan kantin Psikologi Universitas Indonesia, mengoperasikan mesin fotokopi. Meski sudah pisah, kami tetap saling kontak. Budi juga yang jadi orang kepercayaanku untuk memantau Andi—adek asuhku—Budi ini tipe teman yang tulus membantu, hatinya jernih tidak pakai itung-itungan kalau menolong orang lain.

Budi jadi saksi hidup betapa hatiku agak gelisah pindah ke rumah kontrakan itu. Ada kotoran kucing yang kerap mampir di depan taman rumah. Agaknya para serdadu kucing sudah menandai depan rumah kami sebagai tempat buang hajat. Jadi agak kaget aku melihatnya, hampir tiap selang 2 hari ada aja kotoran kucing di depan kontrakan. Faktor lain yang aku agak merasa aneh adalah tetangganya juga kurang ramah. Melihat kami (aku dan Budi) sinis. Padahal aku sudah menyapanya dengan ramah. Ah, mungkin ini hanya perasaan adaptasi yang belum jadi. Aku sempat mengungkapkan ini ke, “Kenapa ya Bud, perasaanku tak enak?” Budi menenangkanku. “Mungkin karena sudah lama di kos, maka pindah ke rumah kontrakan yang lebih besar, jadi rada kagok.” Begitu hibur Budi. Oh, mungkin saja Budi benar.

Saat pindahan barang, aku memindahkannya menggunakan motor. Ingin sekali menggunakan mobil bak sewaan, tapi ternyata ada orang pesta kawinan di gang sempit itu. Jadilah aku dan Budi hujan-hujanan memindahkan barang dengan telaten, dilihat orang banyak yang sedang pesta. Capeknya terasa sekali.

Rumah kontrakan baru sudah ditempati. Aku senang. Terasa memang agak aneh sih. Tinggal sendirian di rumah besar. Kesepian.

Kontrakan Awal Kami (Doc. Pribadi)

Belum hilang capek letih badan sejak sepuluh hari pindah, aku terkena musibah. Hujan lebat kala itu mengguyur Jakarta. Hari itu, seingatku aku begitu khawatir, bagaimana dengan nasib rumahku. Apakah aman atau tidak. Jalanan ibukota malamnya aku lihat di tv macet total. Aku masih stay di kantor hingga pukul 21.30. Sampai akhirnya, aku dipaksa pulang oleh Andin lewat hp.

“Kak, cepat pulang. Katanya rumahnya ambruk”

“Ambruk?” ujarku heran. “Kenapa? Kok bisa? Apa iya? Kan rumahnya kokoh?”

Ternyata Andin baru saja dikabari oleh Mbak Sari bahwa rumah kontrakanku ambruk plafonnya. Ada 4 rumah yang berderet dengan rumah kontrakanku yang terkena sapuan “Badai Katrina”. Ajaibnya, ada 2 rumah kontrakan masih di kavling yang sama, masih utuh, tak tersentuh. Hanya 4 rumah yang berderet saja yang terkena sapuan dahsyat.

Aku lihat hape. Ternyata mbak Sari miss call. Aku bergegas pulang. Ada apa gerangan? Aku bertanya-tanya dalam hati yang tak tenang.

Sesampainya di depan gang, aku lihat warga sudah berkumpul di kavling kontrakanku. Biasalah, orang Indonesia kalau melihat suatu kejadian, kecelakaan, atau apapun, biasanya suka penasaran. Cuma ngelihatin, tapi tidak membantu. Ya hanya menonton saja. Ya palingan tambahan lainnya pada saling gosip.

Aku coba masuk ke kavling kontrakan. Lalu melihat rumah sebelahku. Ternyata platfond rumahnya runtuh 95%. Hanya tersisa di kamar yang bercor beton saja yang tak roboh. Platfondnya terbuat dari bahan gipsum. Mbak Sari yang tergopoh-gopoh dengan muka pucat langsung menghampiriku.

“Mas, rumah sebelah ancur. Tadi aku sempat ngintip dari jendela mas Adlil, kayaknya juga sama mas. Tapi karena lampunya mati, jadi ga kelihatan. Sekarang coba cek deh mas.”

Aku buka pintu dan gembok yang terkunci. Begitu pintu terbuka, maka terbukalah tabir rahasia malam itu.

Platfond rumahku juga roboh seperti tetanggaku. Namun hanya sekitar 70%. 20% lagi masih utuh, namun bentuknya sudah melengkung dan siap untuk roboh juga. Adapun yang masih utuh 10% lagi adalah kamarku. Platfondnya baru saja diganti dengan triplek, tepat sebelum aku masuk ke kontrakan itu. Tapi, hal itu tak diberitahu oleh pemilik kontrakan, Mbak Sari.

Aku mengira, platfondnya terbuat dari triplek. Ternyata tidak. Sebagian besar terbuat dari gipsum. Gipsum memang tidak tahan kena air. Ketika air sudah merembes masuk ke gipsum, secara masif, maka tinggal tunggu waktu, kapan ia akan jatuh menimpa orang di bawahnya. Aku begitu trauma mendengar kata gipsum. Pelajaran berharganya, ketika beli rumah, kontrak rumah, jangan deh sekali-kali memilih plafon gipsum. Kapok!

Semua bohlam lampu Philips yang terkenal harganya mahal, dan baru saja aku pasangkan di kontrakan ikut raib. Ia jatuh bersamaan dengan platfond gipsum itu. Semua barang-barangku basah kuyup. Kasur, buku, elektronik, pakaiaan, flash disc, hard disc external, kasur, semuanya basah total. Tidak hanya basah, tapi juga kotor, terkena pecahan gipsum. Aku menaruh semua barang di luar kamar yang bertriplek karena baru sehari aku mengecat kamar itu.

Jadi, ceritanya aku nungguin catnya kering dan menghilangkan bau menyengatnya. Maka barang-barang semua dikeluarkan dari kamar. Padahal awalnya semua barang ada di dalam kamar. Jadi, ruang tengah itu kosong, hanya ada kasur dan beberapa rak buku. TV kesayanganku sudah jatuh ke lantai, terguling-guling. Posisinya antah-berantah. Begitu aku masuk, tetangga lain juga ikut masuk. Sebenarnya aku ingin melarang, tapi mereka rasa ingin tahunya sungguh besar, sampai ingin ikut campur, tapi tidak membantu juga. Hanya lihat-lihat sambil mengungkapkan rasa iba. Aku khawatir barangku nanti ada yang hilang. Makanya, aku cepat-cepat saja mengambil tindakan mengunci pintu rumah lagi.

Beberapa foto sempat aku ambil, tapi masih dalam keadaan gelap. Untunglah hari itu aku bawa laptop dan tidak aku tinggalkan. Jika aku tinggalkan di kontrakan, tentu ia sudah jadi barang loakan. Padahal paginya aku sudah berniat meninggalkan laptop. Tapi balik lagi mengambilnya dan membawanya ke tempat kerja. Masih ada untungnya ternyata di tengah musibah.

Kontrakan Luluh Lantak

Wajahku sudah seperti orang bengong saja. Plengak-plengok. Tidak percaya dengan apa yang terjadi. Mbak Sari selaku pemilik kontrakan bertanya padaku. “Bagaimana mas?” Aku menjawab, “Bagaimana bagaimana mbak? Ya basah semua” jawabku datar tanpa ekspresi.

Terlihat dari wajah mbak Sari aku begitu kecewa. Aku angkat tv dari lantai, lalu ditaruh di atas kursi. Saat baru diangkat, serta merta kucuran air keluar dari dalam tabung belakang tv. “Alamak! Matilah aku tv kemasukan air. Tamat sudah tv mahal ini jadi barang rongsokan. TV yang aku beli saat awal-awal masuk kerja dulu, tv bersejarah, sekarang baru saja mencurahkan air tadahan hujan. Apa masih bisa berfungsi?” Pikiran kusut menyerangku.

Mbak Sari: “Mas Adlil nanti tidur dimana?”

Aku: “Belum tahu mbak, mau tidur dimana”

Mbak Sari: “Mas Adlil punya saudara ga di Jakarta?”

Aku: “Tidak. Saya sendirian aja mbak”

Mbak Sari: “Istrinya mana mas?”

Aku: “Lha, aku kan nikahnya belum mbak. Ini baru mau nikah 2 minggu lagi. Ngontrak ini justru pengen nyiapin biar istrinya tinggal masuk kontrakan, ga repot pindah-pindahan lagi.”

Mbak Sari: “Trus, mas Adlil belum ada alternatif mau tidur dimana malam ini?”

Adlil: “Belum kepikiran mbak” jawabku polos.

Mbak Sari terlihat sangat khawatir. Ia memainkan jari-jemarinya. Tanda panik. Jujur, malam itu aku masih cengok melihat kondisi rumah. Rumah kontrakan tergenang air. Semua basah kuyup dan kotor dengan butiran gipsum. Anehnya, aku tak marah sama sekali ke Mbak Sari. Aku tahu, dia juga sedang resah-gelisah. Justru tetanggaku yang rumahnya juga ambruk, langsung melancarkan serangan verbal ke Mbak Sari. Marah-marah seperti kesetanan. Semua aib mbak Sari selaku pemilik kos dibeberkannya ke tetangga yang menjadi pengunjung “wisata bencana” itu.

Wajar juga sih ia marah karena penghuni rumahnya ada seorang ibu hamil, kakak iparnya. Untunglah saat plafon jatuh, kakak iparnya sedang diajak jalan makan di luar kontrakan. Jadi ia tak tertimpa runtuhan plafon.

Mbak Sari yang hanya seorang perempuan muda, belum menikah, dan seorang karyawan, hanya bisa tertegun menerima kemarahan penghuni kontrakan. Tetanggaku itu perlahan mulai pergi dari rumahnya. Ia punya rumah saudara di sekitar Cipulir. Amanlah nasib dia dan keluarganya.

Mungkin karena Mbak Sari merasa kasihan denganku, maka ia menawarkan menginap di rumahnya. “Mas Adlil, kalau mau, nginap di rumah saya aja sementara. Nanti saya carikan kamar buat tidur malam ini.”

Tawarannya aku terima. Aku beranjak naik motor ke rumahnya. Aku dipersilahkan duduk menunggu di teras rumah. Otakku blank. Kosong melompong. Tidak bisa mikir apa-apa. Malam itu, aku kondisinya sedang sangat letih bekerja. Ditambah cobaan seperti ini, makin pusing lagi. Tapi aku hanya bisa pasrah. Mungkin ini cobaan orang jelang nikah. Begitu pikirku secara positif. Hadapi sajalah.

Tak lama berselang, aku dipanggil mbak Sari lagi. Ia mempersilahkanku tidur di sebuah kamar di kontrakan depan rumahnya. Kebetulan orangtua dari penghuni kontrakan itu sedang tidak ada. Ia sedang ke luar kota. Di rumah itu ada banyak kamar. Jadi, aku diinapkan di kamar orangtuanya. Cukup mewah, besar. Aku sempat membawa beberapa alat elektronik yang terendam. Lalu mulailah aku mengeringkannya pakai kipas.

Malam itu aku tidur di atas kasur per yang empuk. Lumayanlah daripada tidur di atas kasur basah di kontrakan? Aku telpon Andin, aku ceritakan detil apa kejadiannya. Ia pun turut sedih dan khawatir dengan kondisiku. Masalahnya, mbak Sari pertama kali menelpon ke Andin perihal musibah ini. Sementara Andin dan keluarganya sedang mengadakan rapat persiapan pernikahan bersama panitia pernikahan, teman-teman bapak-ibunya. Apa kata dunia jika orangtua Andin tahu bahwa kontrakan yang akan disediakan untuk anaknya ternyata rusak parah? Ah, mau ditaruh dimana mukaku? Sungguh, galau.com

Aku segera sms ke bosku jam 11 malam untuk minta izin besok tidak bisa masuk kantor karena kena musibah dan harus segera mengurus barang-barang yang basah kuyup agar tak lapuk. Untunglah bosku tipe yang pengertian. Aku diberi cuti satu hari full, dan dipersilahkan mengurus rumah kontrakan sampai tuntas.

Malam itu aku tidur gelisah meski berada di atas kasur sekelas King Koil sekalipun. Masih belum tahu bagaimana solusi menghadapi masalah esok. Bagaimana proses aku membenahi rumah kontrakan? Apa kata tetangga yang masih belum terkuak soal rumah kontrakanku? Bagaimana cara aku negosiasi ke pemilik kontrakan untuk mendapatkan kembali uang kontrakan yang sudah dibayarkan? Nantikan di lanjutannya, “Menjemput Jodoh Part 6”.

Follow me: @pukul5pagi

Klik link berikut ini untuk mengetahui kisah Menjemput Jodoh dari awal:

(Seputar Jodoh)
 (Seputar Passion)
(Religi)
(Petualangan Sosial)

6 responses to this post.

  1. Aku pake emas putih, Ad… hihihi.. Yeheee, ada lagi nama saya di blog-nya Aad… wkwkwk…

    Reply

  2. Posted by Budi on February 22, 2012 at 10:16 PM

    Ya ampuuuunn… Gak nyangka sampe kayak gini banget, Mas Aad..
    Terus sekarang masih tetap tinggal disana???

    Reply

  3. wah perjuangannya sungguh mantap gan, pasti tak akan terlupakan

    Reply

  4. Posted by Oetiss on July 27, 2013 at 4:21 PM

    Astaga seruuuu! Lagi bingung juga nich mempersiapkan buat persiapan pernikahan😦

    Reply

    • Semoga sukses ya nikahannya. Jangan dibuat ribet. Kalau dibuat ribet, resiko tanggung sendiri. Hidup aja udah ribet, masa mau ngeribetin diri sendiri lagi?

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: