Menjemput Jodoh Part 6

Bersih-bersih Kontrakan

Pagi harinya aku agak pusing juga. Setelah bangun subuh, lalu shalat, aku bergegas pergi dari rumah kontrakan mbak Sari. Bingung entah kemana akan pergi. Mbak Sari pun aku sms, untuk rencana recovery  rumah kontrakan yang ambruk. Jawaban mbak Sari cukup mengagetkan. Ia ternyata masuk kerja pagi ini. Ia tak punya tukang untuk membenarkan rumah yang rusak. Malahan, aku dimintanya untuk mencari tukang. Sungguh, panas hatiku menerima jawabannya. Rasanya ia tak bertanggung jawab. Aku kan korban, kok malah disuruh mencari tukang untuk membenarkan rumah?

Aku sarapan dulu di warung. Makan indomie rebus seadanya. Belum mandi, belum sikat gigi, belum berbenah. Aku ingat, di rumah Bu Bisono ada ayah temanku-Dhuha—yang ahli pertukangan. Barangkali ia bisa membenarkan rumah yang plafondnya hancur. Ia kan punya rekanan juga yang bisa diajak membantu.

Akhirnya aku datangi rumah kos lama, rumah Bu Bisono. Aku ingin bertemu ayahnya Dhuha minta bantuan supervisi pertukangan. Minimal, ia bisa menaksir, berapa ongkos perbaikan rumah kontrakanku yang ancur lebur. Begitu masuk ke pagar lalu mengetok pintu, ternyata Bu Bisono sedang ada di luar rumah. Walhasil, aku berbasa-basi menyapa ibu Bisono. Aku bilang mau ketemu ayahnya Dhuha. Bu Bisono bertanya, ada apakah gerangan. Lalu tak sengaja, aku ceritakan niatanku untuk meminta bantuan supervisi pertukangan untuk rumahku yang kena musibah. Bu Bisono mengambil langkah cepat. Ia memanggil ayahnya Dhuha. Lalu memintanya untuk segera ke rumahku, minimal mengecek dan mengestimasi berapa lama dan berapa biaya perbaikannya. Padahal ayahnya Dhuha sedang memperbaiki aliran air yang macet di rumah Bu Bisono. Bu Bisono mengikhlaskannya.

Ayah Dhuha mengecek kerusakan rumahku. Ternyata menurutnya, tukang yang memborong rumahku ngibulin pemilik rumah. Kerangka atas rumah sangat ringkih. Saat plafonnya jatuh semua, besi rangkanya malah bengkok dan patah. Mengenaskan.

Hasil pemeriksaan Ayahnya Dhuha menyimpulkan bahwa kondisi kerusakan sangat parah. Perlu waktu cukup lama untuk mengganti semua rangka dan plafond. Tidak bisa hanya satu orang. Harus beberapa. Ayahnya Dhuha kemudian melaporkannya ke Bu Bisono perihal rumahku itu. Setelah itu, ternyata secara mengejutkan, Bu Bisono mengajakku tinggal di rumahnya. Kebetulan ada kamar kos yang kosong. Ia langsung memberi kunci kamar dan pagar. “Sudah, tinggal di sini saja dulu sementara. Silahkan pakai kamarnya,” ujar Bu Bisono. Wah, alhamdulillah. Aku sangat bersyukur. Seumur hidup, rasanya, aku sering bertemu orang-orang super baik seperti bu Bisono. Apalagi saat-saat genting. Dulu di Depok, aku dekat dengan Mpok Ani penjual nasi uduk yang sangat akrab. Sekarang, Bu Bisono juga demikian. Baiknya sudah seperti ibu sendiri. Allah mendatangkan pertolongannya tepat di saat hambaNya membutuhkan. Terima kasih Allah.

Aku segera naik ke kamar yang kosong itu. Ketika ke toilet, aku ketemu mas Zul. Tetangga kosku sebelumnya. Ia menyapaku. Aku bilang sudah pindah, namun lagi ada musibah. Ia pun menawarkan agar aku istirahat di kamarnya saja. Mungkin ia kasihan juga melihat tampangku yang kusut. Kebetulan aku bawa laptop dan peralatan elektronik lainnya yang basah. Aku pun menerima tawarannya. Di kamarnya ada tv, kulkas, dan lengkap. “Mas, silahkan dipakai. Ada makanan juga di kulkas.” Wah, dapat kebaikan lagi dari orang lain lagi. Alhamdulillah. Barang-barang elektronik  segera aku jemur di kamar mas Zul. Kamarnya terkena sinar matahari pagi. Ia tak ragu memberi kunci kamar cadangan kepadaku. Ia pun lalu berangkat kerja.

Aku tinggalkan semua barang di kamar mas Zul. Lalu aku mulai bergegas ke kontrakan yang hancur lebur. Kali ini tujuannya untuk membersihkan puing-puing yang tersisa, lalu mengepel rumah tersebut.

Pertama kali masuk rumah kontrakan sangat shock. Ternyata, di saat terang, kondisi rumah terlihat lebih parah. Tetanggaku yang rumahnya juga rusak, kebetulan dihuni banyak orang. Sekitar 5 orang. Jadi mereka gotong-royong membersihkan rumah mereka dari puing-puing. Sementara aku sendiri, dengan kerusakan yang nyaris hampir sama, hanya membersihkannya sendiri. Seharusnya ini tanggung jawab mbak Sari selaku pemilik rumah.

Pertama Kali Buka Pintu Pagi Hari

Awal sebelum mengontrak, aku bilang dan memastikan ke dia, apakah rumahnya bocor atau tidak. Lalu aku minta ia memeriksa atap, apakah ada bocor atau tidak. Dia menjawab dan menjamin tidak bocor. Jadi, aku merasa yakin rumahnya kokoh. Ternyata, Mbak Sari tidak benar-benar melakukan pengecekan. Mungkin ia hanya mengecek basa-basi saja. Tidak serius. Sehingga, ketika baru 10 hari menghuni, lalu rumahnya roboh, wajar aku marah padanya. Parahnya lagi, aku disuruh cari tukang untuk membenahi kerusakan, dan dia masuk kerja. Lalu kalau rumah tidak segera dibenahi, dipel, dirapikan, tentu barang-barangku sendiri yang kena imbasnya, jadi barang lapuk. Dan benar saja, perabotan rak bukuku rusak semua karena terbuat dari bahan kumpulan sabuk kayu.

“Titanic” Baru Saja Bergoyang Karawang

Gipsum pecah menimpa semua barang di rumah

Semua buku basah. Baju basah. Untung ada beberapa yang masih dalam plastik bungkusan laundry. Ada yang bisa dipakai olehku untuk baju pengganti. Satu persatu aku benahi barang yang basah. Berat dan panjang sekali perjalanan hari itu. Dimulai dari jam 08.00, lalu berakhir pukul 14.30. Itu pun karena bosku datang menjenguk rumahku yang ancur. Bosku datang naik mobil. Ia parkir di depan masjid, agak jauh dari rumahku. Lalu aku menjemputnya pakai motor. Bos melihat kondisi rumahku yang mengenaskan. Lalu aku tunjukkan foto-foto tepat sebelum dibersihkan. Kami lalu makan siang bersama di warung nasi uduk ternama di Madrasah I. Warung nasi uduk itu sudah berdiri sejak tahun 1970-an.

Tetanggaku silih berganti datang menjenguk rumahku. Sesekali mereka menggosip. Ternyata, rumah ini sudah 2 kali roboh plafonnya. Terakhir, katanya ada orang Padang ketimpa plafon juga dan 2 buah tvnya pecah. Lalu mereka langsung pindah dan minta ganti rugi. Kasusnya sama juga denganku, baru menyewa beberapa waktu. Sebelumnya juga ada yang kena kasus serupa. Aku heran, jika informasi ini benar, kenapa Mbak Sari tak jujur padaku dari awal? Mengapa tak pernah ada info pernah bocor atau minimal sudah pernah diperbaiki sebelumnya? Aku kesal. Tapi informasi itu cukup aku simpan saja. Pemberi informasi itu adalah warga Betawi asli sana. Namanya aku lupa siapa. Tapi paling senior di kawasan itu.

Hah, lemas lah sudah. Merasa tertipu oleh pemilik kontrakan dengan informasi yang baru saja didapat. Meski aku harus melakukan kroscek ke Mbak Sari terhadap validitas informasi itu. Nanti belakangan aku tanyakan jika bertemu lagi. Ternyata rumah kontrakan ini tidak sebaik yang terlihat. Waktu kami survey, aku kira plafonnya triplek. Kecele. Ini pelajaran penting. Kalau Anda ingin punya rumah, hindarilah memakai gipsum. Terlihat mewah, rapi, namun sebenarnya ringkih. Gampang jebol jika terkena air. Tidak masalah kalau pakai triplek, mahal sedikit, tapi lebih tahan lama. Kalau terkena bocoran atap, masih bisa ditahan dan bisa terdeteksi ada rembesan air.

Hatiku ngenes banget, masih belum bisa terima kejadian ini. Setelah capek pindahan barang, aku beberapa kali mengepel rumah kontrakan dari ujung ke ujung sampai kinclong. Ternyata, semua itu lenyap dalam sekejap karena lotengnya rontok semua. Sekarang harus benahi lagi satu persatu, dan harus mengepel lagi sampai kinclong. Belum lagi harus jemur kasur, bantal, buku, pakaian, dan semua barang-barang yang basah kuyup. Dan ga enaknya, saat itu musim hujan pula. Serba tak tenang. Efek jemur-menjemur itu masih aku rasakan seminggu kemudian. Tiap istirahat kerja jam 12 siang, aku pulang ke kos. Jemur kasur pagi hari, siangnya harus memasukkan lagi karena akan hujan.

Ketika adzan Ashar berkumandang, tepat aku selesai pembersihan rumah. Semua barang aku masukkan ke dalam kamar yang bisa dikunci. Setelah itu, aku pergi istirahat menuju kos lama di kamar mas Zul. Begitu keluar dari rumah, kejadian ndak enak aku alami. Tepat di depan pintu keluar kontrakan, kucing semprul membuang kotorannya. Makin mangkel lah hatiku. Ini kucing memang ga punya hati. Orang lagi capek-capeknya, malah be-ol sembarangan. Kalau sedikit dan kecil, gpp. Ini guede banget. Asem! Dapet bonus banyak benar hari ini.

Soft Diplomacy: Uang Kontrakan (Harus) Kembali!

Efek dari “Badai Katrina” di kontrakanku berefek panjang. Aku luntang-lantung tidak punya tempat tinggal. Akhirnya aku memutuskan dalam hati untuk pindah saja dari rumah itu. Ini pertanda yang kurang bagus buatku. Baru awal saja sudah kejadiannya begini. Kalaupun plafon diperbaiki, tanpa perbaikan atap, tentu masalahnya belum selesai. Inti masalah justru ada di atap yang bocor. Jadi, pasti terulang lagi kejadian plafon ambruk.

Teman kantor kerap bertanya, “tinggal dimana sekarang?” Aku hanya bisa jawab, kembali ke kos lama. Aku tak lama-lama numpang di kamar mas Zul. Ibu Bisono sudah memberikan kunci kamar kosong. Aku harus mulai dari awal lagi kehidupan sementara. Hidup di pengungsian.

Aku mulai cari lagi rumah kontrakan yang available dan aman ditempati. Sekarang PR nya adalah bagaimana negosiasi agar uang kontrakan dikembalikan utuh. Ini bukan perkara mudah. Mbak Sari si pemilik kontrakan aku nilai kurang tanggap. Ia membiarkanku tinggal terkatung-katung tidak jelas. Tukang yang memperbaiki rumah baru beberapa hari berikutnya. Itu pun, tetanggaku dulu yang dibenahi rumahnya. Mungkin karena mereka keluarga besar, jadinya jadi prioritas. Sementara aku yang hidup sebatangkara dipikirnya mungkin masih bisa ditunda-tunda perbaikan rumahnya.

Aku memutuskan untuk meminta kembali uang kontrakan yang sudah dibayarkan lunas sebesar Rp 12.000.000 untuk setahun. Tapi ada kendala. Aku agak menyangsikan bisa meminta uang itu utuh. Pasti akan dipotong, pikirku. Kenapa?

Sedari awal aku juga agak merasa aneh dengan Mbak Sari. Karakternya keras, tidak bisa dinego. Padahal ibunya orang baik, bisa cincai kalau diskusi. Pertama, sebelum aku menempati, aku minta rumahnya dibersihkan terlebih dahulu. Ternyata, ia hanya membersihkan seadanya. Ia tak men-cat ulang rumahnya. Padahal aku sudah bayar lunas lho. Dikemanain tuh uang? Alasannya, tak ada budget untuk ngecat ulang atau perbaikan. Termasuk, paku-paku bekas penghuni lama, tidak dicabut. Tepat sebelum aku masukin barang, ia hanya menyuruh pembantunya ngelap kaca pake lap tangan, dan menyapu lantai. Kecewa pertama kudapat.

Kedua, secara membabibuta ia seenak jidat menetapkan kalau ada pembatalan perjanjian, uang yang 12 juta tadi akan dipotong sebesar Rp 2 juta. Payahnya, itu diungkap ketika aku akan bayar dan akan segera masuk kontrakan. Geram! Kenapa tidak bilang dari awal?

Ketiga, Mbak Sari juga keras-keras ndak jelas. Ketika aku mintai kunci duplikat pagar kavling, ia suruh duplikat sendiri. Ia menyuruhku minta sendiri ke tetanggaku. Hah? Bukannya kunci pagar juga bagian dari tanggung jawab pemilik ya? Harganya sih memang tak seberapa. Tapi dari sini, aku lihat ia tak ada itikad baik dalam hubungan kerjasama ini. Aku sempat mikir, segininya banget sih nih orang? Perasaan di awal-awal ramah-ramah aja. Semprul!

Keempat, Mbak Sari juga terlalu hitung-hitungan. Dalam sebuah smsnya ia bilang begini: “….Serah terima kunci dan tanggal hitungan kontrakan kita hitung dari tgl masuk barang ya mas. Karena setelah barang masuk, keamanan barang bukan tanggungan kami lagi.” Kok aku merasa berbisnis dengan orang yang tidak ada empatinya sama sekali? Jadi agak miris aja. Terlalu mengejar uang. Fasilitas dan pelayanan malah dinomorduakan. Beda sekali dengan bu Bisono, yang tanpa aku minta, kunci duplikat kamar dan pagar malah diberi.

Dari tanda-tanda tersebut di atas, semakin kuat tekad saya untuk segera pindah. Awal yang tidak mulus dari kerjasama ini. Tapi, dengan karakternya yang oportunis itu, apakah Mbak Sari mau dan rela mengembalikan uangku secara utuh? Perkiraanku pasti dipotong. Ini saatnya aku melakukan jurus soft diplomacy.

Aku harus susun strategi bagaimana agar bisa mengembalikan uang kontrakan itu, dengan cara yang elegan. Aku berdiskusi dengan bos saat ia berkunjung ke rumahku. Beliau memberikan beberapa saran dan skenario. Perkiraannya mungkin akan dipotong Rp 1 juta dari harga total. Aku juga memperkirakan begitu. Tapi, malam harinya aku coba susun dan identifikasi, apa kekuatan dan keunggulan posisiku, dan dimana letak kelemahan Mbak Sari selaku pemilik kontrakan.

Aku memilih soft diplomacy, karena tak ingin seperti tetanggaku yang langsung main labrak, marah-marah ke mbak Sari sambil sumpah-serapah. Aku lebih berkelas dari mereka tentunya. Cara yang ditempuh juga tidak murahan begitu. Cara halus yang menekan.

Beberapa malam sejak tragedi “Badai Katrina” aku janjian dengan mbak Sari di rumahnya. Sulit bertemu mbak Sari, harus menunggu sampai malam karena ia bekerja di kota. Pulangnya sudah larut malam. Tepat pukul 9 malam aku datang ke rumahnya. Sebelumnya sudah sms dan ia menyetujuinya.

Aku duduk tenang. Mbak Sari datang menyambutku, menanyakan kabar. Kali ini aku lihat ada raut merasa bersalah di wajahnya. Ada juga mungkin perasaan iba. Entahlah. Lalu mulailah soft diplomacy itu aku lancarkan.

“Mbak Sari, malam ini saya ingin bicara hal penting terkait rumah kontrakan. Saya harap mbak Sari bisa mendengarkan dulu apa yang saya utarakan, nanti setelah itu kita diskusi. Malam ini saya tidak akan marah-marah yang menakutkan. Saya ingin kita diskusi dua arah”.

“Oke mas” sahut mbak Sari.

“Begini mbak. Pertama kali, saya merasa sangat-sangat kecewa sekali dengan kejadian bencana ini. Saya sudah minta mbak Sari mengecek apakah ada bocor atau tidak. Tapi ternyata pengecekannya tidak dilakukan dengan baik. Mengapa air bisa masuk ke gipsum, karena ada yang bocor di atapnya. Kan saya sudah minta dicek atapnya juga? Lalu mbak menjawab sudah dicek dan ok.”

Mbak Sari manggu-manggut. Oo, berarti saya benar posisinya. Ia tak mengecek seksama. Hasil cek atap itu hanya basa-basi saja. Soalnya saya ingat sebelumnya pas awal dulu, ketika saya tanya bocor atau tidak, dia malah membalikkan, coba aja cek di lantainya pas hujan deras ada tetesan air atau tidak. Kok malah aku yang disuruh ngecek kebocoran? Sungguh aneh.

“Kedua, saya kecewa kenapa Mbak Sari menelpon Andin calon istri saya? Bukan menelpon saya saja? Ini kan informasi yang tidak enak. Mbak tahu ga? Kondisinya saat itu, Andin sedang ada di rapat keluarga besar, membahas persiapan nikah. Bayangkan jika keluarganya tahu bahwa rumah yang dipilih calon menantunya ternyata “rumah-rumahan”, tidak kokoh, tidak aman buat anaknya. Mau ditaruh dimana muka saya? Bisa-bisa saya dicap sebagai menantu yang tak bertanggung jawab. Untung kejadiannya sekarang. Kalau kejadiannya pas istri saya sudah di sini, dan dia sedang hamil lalu tertimpa gipsum yang berat itu, bagaimana? Coba mbak bayangkan.”

Mbak Sari kembali manggut-manggut, “Iya mas saya ngerti.”

“Ketiga, capek saya untuk pindahan belum kelar. Dan baru saja saya ngecat ulang dinding kamar. Itu saya cat lagi karena mbak bilang kan ga ada budget untuk ngecat. Padahal saya sudah bayar lunas lho.” Makanya barang-barang saya yang tadinya aman di kamar, saya keluarkan karena proses men-cat itu. Barang saya basah semua sekarang.

“Keempat, saya akan nikah 2 minggu lagi. Minggu depan, orangtua saya datang dari Riau. Kenapa saya pilih mengontrak rumah? Biar orangtua saya bisa menginap, mempersiapkan segala persiapan nikah dari Jakarta. Kalau begini kondisinya, saya mau inapkan dimana orangtua saya? Terus terang saya pusing sekali sekarang.”

“Kelima, mbak Sari saya minta coba merasakan bagaimana stresnya orang yang akan nikah. Hal-hal seperti ini kecil tapi bisa memicu terjadi konflik antara saya dan pasangan saya. Ini lagi puncak-puncaknya persiapan nikah. Ditambah ini pula, berat mbak. Coba bayangkan deh.”

Mbak Sari hanya bisa bilang “iya mas, saya ngerti” secara berulang. Secara psikologis, aku sudah unggul. Aku berhasil membuatnya berpikir betapa keteledorannya berakibat fatal. Mbak Sari memugar rumahnya pada tukang borongan. Ternyata ide pakai gipsum itu adalah dari tukangnya. Katanya lebih cantik, lebih halus. Dan mbak Sari teryakinkan dengan bujuk rayu tukang itu. Padahal, biasanya ia menggunakan triplek katanya. Baru kali ini coba pakai gipsum.

Mbak Sari malam itu benar-benar merasa bersalah.

Ia menjawab satu persatu poin yang aku ungkapkan. Ia meminta maaf berkali-kali. Ia pun bersedia mengontak keluarga calon istriku jika diperlukan. Ia ingin katakan bahwa mas Adlil sudah mencarikan rumah yang terbaik buat calon keluarganya. Namun memang ini semua bencana di luar kuasa. Aku merasa tak perlu sampai mengontak keluarga calon mertua. Itu akan jadi membuat panjang perkara.

Setelah lama, akhirnya pembicaraan mengarah ke kesimpulan. Intinya, mbak Sari dan keluarganya bersedia mengembalikan seluruh uang Rp 12 juta plus biaya cat yang sudah aku keluarkan.

Alhamdulillah. Aku berhasil memperjuangkan hakku. Terima kasih Allah, yang telah melunakkan hati orang yang aku perkirakan berhati “keras”. Aku tak perlu energi banyak untuk menaklukkan pikiran mbak Sari. Cukup aku ajak ia berpikir betapa tidak enaknya berada di posisiku sekarang. Aku menyentil empatinya. Jujur, ilmu sosiologi yang aku punya cukup terpakai saat itu. Ilmu empati benar-benar terpakai. Aku mengubah “kacamata mbak Sari” yang dari awal sangat profit oriented, agar ia mau melihat masalah ini dengan memakai “kacamataku” selaku korban penderita.

Untuk poin terakhir, tentang perasaan bagaimana rasanya panik jelang nikah, aku jamin mbak Sari tidak bisa merasakan empati yang sebenarnya karena ia belum pernah menikah. Tapi ia aku paksa ikut larut ke perasaan yang ia sendiri belum pernah mengalaminya.

Sempat dijanjikan secepatnya dikembalikan, akhirnya uang kontrakan itu dikirim ke rekeningku setelah tertunda beberapa hari. Aku kontak mbak Sari lewat sms. Malam setelah uang ditransfer, aku datang mengembalikan kunci kamar, dan berikut kuas cat yang sempat aku beli untuk mengecat rumah kontrakan. Mbak Sari sudah membayari biaya cat. Saatnya aku kembalikan apa yang menjadi haknya.

Ketika weekend, aku kembali minta bantuan sahabatku Budi untuk membantu proses kepindahan. Kali ini dari Kontrakan yang ambruk, kembali ke kos di Madrasah I. Sangat menguras energi karena kosku ada di lantai 2. Jadi lumayan menyiksa. Untung Budi sangat baik hati. Thanks Budi.

Cobaan untuk Andin

Cerita di atas, adalah cobaan yang aku hadapi jelang menikah. Tidak hanya aku yang mengalami cobaaan. Ternyata Andin juga mengalaminya nun jauh di Gresik sana. Karena persiapan nikah kami hanya 1.5 bulan, jadilah semuanya serba kejar-kejaran.

Mama Andin banyak berjasa dalam percepatan pernikahan ini. Rencana-rencana disusun secara kilat. Pesanan-pesanan seperti baju panganten, gedung, souvenir, kartu undangan, semuanya serba kilat.

Nah, karena serba kilat, sementara belum tentu semuanya bisa tersedia, maka ada saja hal yang masih kurang pas sesuai rencana. Awalnya semua berjalan lancar, sampai saat seminggu jelang nikah baju penganten yang telah dipesan, ternyata orangnya (wardrobe) menyerah dan mengaku tidak bisa menyelesaikan pesanan tepat waktu.

Jadilah Andin sangat panik. Semua sudah dipesan, tapi masak sih di nikahan malah ga jadi pakai pakaian penganten yang dipesan? Andin sempat uring-ringan dan nangis saat itu karena khawatir. Informasi itu aku dapatkan dari mama mertua setelah aku menikah. Menurutku, wajar sih ia menangis. Di moment bahagianya, pasti semua perempuan ingin berada dalam kondisi yang perfect. Ini akan jadi pengalaman seumur hidup buatnya.

Akhirnya mama mertua mengambil langkah cepat. Andin diajak keliling Surabaya, mencari baju penganten yang bisa dipesan dan dipakai seminggu sebelum nikah. Cukup lama keliling Surabaya. Rata-rata bilang “tidak ada”. Maka, makin frustasilah Andin. Beberapa kali telpon, ia sempat menangis. Aku di sini hanya bisa mendoakan, tak bisa menemani. Aku coba menyabarkannya. Mungkin ini ujian yang harus dihadapinya. Rumusan dariku, jika sesuatu terburuk terjadi, coba berpikir dewasa, tidak panik, dan tetap tenang. Toh, kita sudah mau menikah dan menikah tak harus pakai baju yang sangat bagus. Akad nikah (ijab-qabul) jauh lebih penting daripada aksesoris pakaian yang hanya kulit luar saja.

Andin sedikit tenang. Ia dan mama coba cari lagi ngubek-ngubek Surabaya dan sekitarnya. Tempat penyewaan pakaian penganten satu persatu disambangi. Akhirnya, ketemulah baju yang pas, dan belum ada yang membooking. Warna bajunya begitu cocok dengan kulit Andin yang putih bersih. Barulah ia bisa cengar-cengir, lega.

Ini inti pelajarannya. Kadang, di saat genting, kita diuji oleh Allah, apakah cukup sabar, atau tidak. Kalau kita tidak dewasa, kita bisa mengambil sikap di luar batas. Bisa saja memarahi orang yang tak bisa pegang janji, lalu uring-uringan, menyalahkan keadaan. Atau kita bisa pilih cara lebih dewasa. Beri sedikit pupuk kesabaran, rumuskan masalahnya, cari solusi secepatnya. Lalu bergerak!

Insya Allah dengan begitu, Allah akan beri bantuan untuk menyelesaikannya, bahkan di saat-saat terakhir dan sudah mepet. Yang penting ikhtiarnya diperkeras. Allah tak mungkin menguji hambaNya kecuali sesuai dengan kemampuan hambaNya itu, bukan? Jadi, cobaan jelang nikah itu pasti ada. Ada yang ringan, sedang, maupun berat. Nah, tergantung kita mau memposisikan sebagai orang dewasa yang bijak, atau sebaliknya. Pilihan ada di tangan Anda.

Bagaimana rasanya seminggu sebelum nikah masih luntang-lantung menumpang? Bagaimana proses lamaranku bersama orangtua yang hanya berselang 2 hari jelang akad nikah? Adat apa yang kami pakai saat lamaran? Apa yang menjadi 3 “PR” ku di hari pernikahan? Bagaimana serunya acara resepsi kami? Siapa tamu kejutan yang menghebohkan resepsi pernikahan kami? Nantikan di “Menjemput Jodoh Part 7”.

Follow me: @pukul5pagi

Klik link berikut ini untuk mengetahui kisah Menjemput Jodoh dari awal:

(Seputar Jodoh)
 (Seputar Passion)
(Religi)
(Petualangan Sosial)

 

5 responses to this post.

  1. Posted by aminah sri prabasari on March 3, 2012 at 12:13 AM

    fiuhh..
    masalah kontrakan emang selalu bikin puyeng, ga gampang idup d perantauan y Ad..

    Reply

  2. Hebohnya…
    Ternyata nikah ribet yak…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: