Galau, Pergi Sana!

Galau, Pergi Sana!

Dear all.

Kali ini aku menuliskan hal yang agak berbeda dari biasanya. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengirim e-mail dan komentar di blog, bernada curhat tentang apa yang dirasakannya mengenai pilihan jurusan kuliahnya. Dia habis membaca tulisanku judulnya “Memilih Pakai Hati”. Aku ingin para pembaca blogku mendengar juga kisah galaunya teman baruku ini. Semoga, kita semua bisa belajar bersama dari kisahnya. Bagi Anda yang masih muda, mudah-mudahan bisa mengambil hikmah. Bagi Anda yang sudah dewasa atau tua, mudah-mudahan bisa memberi nasehat, masukan, saran, kritik terhadap perasaan galau. Intinya Cuma satu: mari usir galau teman baruku ini, apapun saranmu akan sangat membantu. Selamat membaca!

Assalamualaikum,

numpang sharing mas..
saya anak d3 pajak stan sekarang, sudah tingkat 3 (2012)

Dulu saat setelah SMA saya lulus tes stan dan juga keterima ITB teknologi hayati. Waktu SMA pun olimpiade yang saya ikuti biologi
sudah lama saya memendam perasaan galau ini, karena saya rasa minat dan bakat saya bukan di pajak..

saya masuk stan karena ortu tidak ada biaya menguliahkan. ortu saya seorang PNS juga namun sedarhana dan biasa. saya pribadi yakin akan segala macam beasiswa, tapi entah mungkin ortu tidak percaya dan takut biaya kuliah yang besar. ditambah lagi menurut ortu biologi bukanlah bidang yang “basah”

sebenaranya untuk ITB sendiri saya juga ingin masuk perminyakan, namun saat masukkan pilihan saya tidak jadi ambil karena takut tidak lolos saking ketatnya dan pilihan pun saya jatuhkan ke “minat” saya kedua dan saya lumayan punya basis, yaitu biologi.

Namun sangat terpukul diri saya ketika ternyata selisih poin antara teknik tertinggi dengan yang terendah di ITB sangat kecil, tidak jauh berbeda. Saya sangat menyesal pada saat itu, karena kepengecutan tidak berani meraih yang besar (minyak) lalu saya alihkan hanya berdasar minat yaitu biologi. mungkin sekali kalau dulu saya masuk minyak, ortu akan mendukung dari segi biaya, dan saya pun bisa cari beasiswa.

Melihat cita2 masa kecil, prestasi dan panggilan hati, saya meyakini hidup saya seharusnya di bidang biologi, geografi, lingkungan, dan teknik lain di bidang serupa.

apalagi ketika saya cari2, pajak sendiri dalam islam hukumnya tidak jelas, cenderung haram.
semakin manambah kerisauan akan status sebagai calon PNS pajak begini.

kini saya benar2 bingung, harus bagaimana nantinya, apakah saya harus mengejar cita2 saya atau pasrah?
apakah kesempatan terbuka lebar untuk orang seperti saya?

Tapi jika memaksa hidup dengan ilmu perpajakan saya merasa tidak akan berkembang.. IP saya 5 semester tidak pernah lebih dari 3,1. saya belajar hanya saat ujian, karena benar2 tidak mencintai pajak. banyak waktu tidak produktif, pergaulan sempit.. sampai sekarang saya belum bisa cinta dengan almamater STAN. karena masalah masa depan ini. saya jadi hidup dengan kacau.

sekarang saya sudah tingkat 3, dan saya terus mencoba memperbaiki, menanamkan saya termasuk beruntung dan harus bersyukur. Ya, itu bekerja.. namun kemudian selalu dtang siklus saya ingin keluar dari kehidupan yang sekarang, selalu bangkit lagi kata hati saya.
apalagi jika mengetahui sahabat2 yang kuliah sesuai minatnya telah banyak prestasi sampai jadi mapres.. sedangkan saya merasa sangat malu dan jatuh.

mohon saran nya mas..

dan juga nasehat tentang kehidupan manusia yang kuliah setelah selesai kuliah apa saja rahasia2 yang harus diketahui dan tips2 apa yang harus dipegang.. saya sungguh menyesal dulu waktu SMA tidak mempersiapkan dunia kuliah dengan baik, bukan kerena tidak mau, tapi karena tidak tahu seperti apa.

terimakasih banyak..

Balasan Surat

Berikut ini aku tulis dan jawab email dari teman baruku yang sedang galau ini. Semoga ada manfaatnya. Teman-teman yang bisa menambahkan dari perspektif kalian masing-masing, silahkan. Mari bantu sesama, meski hanya lewat opini saja. Usir galau dari diri.

Assalamualaikum,

numpang sharing mas.. kebetulan saya baca blog mas tentang kisah mas meninggalkan STAN. Nama saya Ariyan. saya anak d3 pajak stan sekarang, sudah tingkat 3 (2012)

Selamat! Anda sudah lulus STAN. Anda tahu? Berapa banyak orang yang tidak lulus STAN? Ratusan Ribu. Semua orangtua di daerah sangat ngiler anaknya pengen masuk STAN. Tapi banyak yang tak lulus. Anda harusnya bersyukur. Satu langkah sudah ada di dalam STAN. Syukuri, jangan mengeluh dulu. Banyak juga anak orang yang tidak bisa kuliah karena tak mampu biaya. Tidak ada pilihan hidup. Anda harus syukuri kondisi Anda. Itu poin pertama dari saya.

Dulu saat setelah SMA saya lulus tes stan dan juga keterima ITB teknologi hayati. Waktu SMA pun olimpiade yang saya ikuti biologi

Wah, Anda ternyata pintar. Terbukti bisa lulus STAN dan ITB sekaligus. Ini poin penting. Anda bukan orang bodoh. Anda pintar. Tidak semua siswa SMA bisa ikut mewakili sekolahnya ikut olimpiade. Hanya orang terpilih saja. Anda adalah manusia terpilih. Manajemen belajar Anda sebenarnya bagus saat SMAAnda sejatinya adalah seorang pemenang. Anda memiliki mental pejuang dan juara. . Itu poin kedua dari saya. Catet!

sudah lama saya memendam perasaan galau ini, karena saya rasa minat dan bakat saya bukan di pajak.

Anda sudah tingkat 3 di STAN. Jadi, kalau masih galau, saya kok malah bilang itu kurang tepat. Galau hanya boleh dilakukan saat Anda akan memilih. Ketika pilihan sudah ditetapkan, apalagi sudah masuk ke tahun ketiga, maka kata galau harus dihapus dari kamus hidup Anda. Hadapi hidup. Dont make any excuse! Terima fakta hidup. Terima realita. Jangan menghindar,apalagi lari uring-uringan. Anda bisa memilih apakah mau jadi seseorang yang dengan mental pejuang, atau pecundang. Pilihannya ada di tangan Anda.

saya masuk stan karena ortu tidak ada biaya menguliahkan. ortu saya seorang PNS juga namun sedarhana dan biasa. saya pribadi yakin akan segala macam beasiswa, tapi entah mungkin ortu tidak percaya dan takut biaya kuliah yang besar. ditambah lagi menurut ortu biologi bukanlah bidang yang “basah”

Orangtua Anda mungkin tipe orangtua “kuno”. Kenapa demikian? Karena masih menggap lahan basah sebagai patokan memilih sekolah. Padahal, apapun sekolahnya, kuliahnya, tidak menjamin seseorang untuk sukses. Helmi Yahya, alumni STAN. Dia sukses di dunia entertainment. Apa yang diambilnya dari STAN? Karakter. Dia belajar bagaimana berani mengambil keputusan penting dalam hidupnya. STAN dan pendidikan yang ia jalani diambil intisari/ saripati hidupnya, untuk kemudian dia implementasikan di kehidupan dan hobi yang ia punya. Jadilah ia sukses di acara kuis2 di semua tv. Ia jadi raja kuis. Jadi tak ada hubungannya pilihan sekolah dengan kesuksesan masa depan seseorang. Anda tentu kenal nama Gayus dan lain-lain. Mereka sukses kaya raya, tapi tak bahagia. Itu karena patokan lahan basah tadi. Tak kuat iman, jadi ngawur.

Jadi, kesuksesan itu bukan terletak pada “basah” atau banyaknya uang, tapi bahagia atau tidak. Bisa membahagiakan dan melayani orangtua yang sudah mulai renta, atau tidak. Bisa bermanfaat buat orang banyak atau tidak. Bisa menjadi teladan buat orang sekitar atau tidak. Itu definisi sukses dan bahagia versi saya. Tentu subjektif, tapi saya berpatokan pada buku Rene Suhardono: Your Job is Not Your Career. Anda harus baca buku ini untuk menyentil dan menemukan apa passion Anda. Kalau mau pinjam buku saya, juga boleh. Bisa juga beli. Kalau Anda sudah ketemu passion, dimanapun bidang yang tak anda sukai, tetap bisa dijalani, karena kita bekerja dengan passion atau berbarengan dengan eksplorasi passion. Saya kurang tahu, apakah passion Anda di perminyakan, biologi, atau apa. Tapi harus segera dicari sebelum terlambat. Kalau sudah ketemu, ceburkan diri di sana, jadilah expert yang paling dicari se-Indonesia maupun dunia. Anda akan sukses.

Satu hal lagi. Meski orangtua Anda berpikiran ”kuno”, tapi orangtua tetaplah orangtua. Kesuksesan anak, berada di tangan rido orangtua.Rido dari Allah ada di rido orangtua. Jadi, jangan pernah remehkan orangtua. Jangan pernah menolak arahan dari orangtua, selama itu masih di koridor agama. Semua orangtua ingin anaknya sukses. Baik harta dan kehidupan ke depannya. Untuk itu, arahan orangtua Anda yang menyuruh Anda masuk STAN menurut saya tidak jelek. Ini dia tantangan dari saya. Bahagiakan orangtua Anda dengan menjalani kehidupan di STAN dengan hati ikhlas dan daya juang penuh. Jika tidak seterusnya, at least sekali periode aja. Coba tunjukkan totalitas perjuangan hidup yang Anda miliki. Bikin target jelas, terukur, terjadwal, tentang target tersebut. Misalnya, IPK harus 3,3. IP semester depan harus 3.5, harus punya bisnis sampingan sebagai selingan agar tak BETE belajar melulu, dan sebagainya. Bikin kesuksesan-kesuksesan kecil, jika Anda belum mampu mencapai kesuksesan besar. Nanti, ketika Anda sudah menikmati capaian dan kesuksesan kecil, baru naikkan target berikutnya lebih besar. Mungkin Anda tak cinta dunia pajak. Tapi, please, buktikan sekali saja dalam hidup Anda, bahwa Anda pejuang sejati, bukan pecundang. Dunia perpajakan bisa Anda taklukkan. Pakai segala macam cara (benar dan tidak curang). Belajar mati-matian. Kalahkan semua pesaing Anda. Sekali saja. Satu semester saja. Toh, Anda sudah akan bekerja jadi PNS sebentar lagi, bukan?

sebenaranya untuk ITB sendiri saya juga ingin masuk perminyakan, namun saat masukkan pilihan saya tidak jadi ambil karena takut tidak lolos saking ketatnya dan pilihan pun saya jatuhkan ke “minat” saya kedua dan saya lumayan punya basis, yaitu biologi.

Namun sangat terpukul diri saya ketika ternyata selisih poin antara teknik tertinggi dengan yang terendah di ITB sangat kecil, tidak jauh berbeda. Saya sangat menyesal pada saat itu, karena kepengecutan tidak berani meraih yang besar (minyak) lalu saya alihkan hanya berdasar minat yaitu biologi. mungkin sekali kalau dulu saya masuk minyak, ortu akan mendukung dari segi biaya, dan saya pun bisa cari beasiswa.

Tiap orang pasti mengalami kegagalan dan penyesalan. Untuk kasus Anda yang dulu tak berani ambil resiko, mungkin hal itu masih nyesek di dada. Tapi, ini saran dari saya: LUPAKAN kegagalan itu. Move on. Kegagalan itu bukan untuk diingat-ingat. Dalam hidup, coba deh anda menjalaninya dengans santai. Semua masalah yang datang, cukup hadapi, dipikirkan, dianalisa, ambil intisari/ pelajaran hidupnya, lalu lupakan apa itu masalahnya. Jangan ingat-ingat lagi. Anda bukan pecundang yang meratapi kegagalan dalam hidup. Sekeras, sesering apapun Anda meratap, menyesal, takkan mengubah nasib Anda kini dan di masa mendatang. Hentikan keluhan “Coba kalua dulu saya…….” Tidak ada gunanya menyesal sekarang. Bangun! Jangan meratap!

Melihat cita2 masa kecil, prestasi dan panggilan hati, saya meyakini hidup saya seharusnya di bidang biologi, geografi, lingkungan, dan teknik lain di bidang serupa.

Nah, ini dia mungkin passion Anda. Kalau kata Rene di bukunya, passion is what you enjoy the most. Anda takkan pernah lelah meski berkutat berjam-jam dengan hal/ bidang yang Anda geluti. Itu dia passion. Kalau bukan passion, biasanya Anda segera ingin kabur, lari, dan eneg berinteraksi dengan dunia tersebut.

Tapi tunggu dulu. Saya ingin mengkritisi yang Anda sebut panggilan hati itu. Apakah bidang biologi, geografi, lingkungan, dan teknik lain itu benar-benar hal yang Anda suka? Atau ini hanya pelarian karena Anda tidak maksimal di pajak? Takutnya, ini hanya pelarian. Untuk lebih meyakinkan, Anda coba bayangkan, seperti apa Anda berada di bidang yang Anda sebutkan tadi. Bagaimana step-step Anda mencapai kesuksesan di bidang biologi, dsb. Konon, jika ingin sukses, seseorang harus bisa membayangkan sesuatu hingga detil. Semakin jelas step mencapainya, semakin fokus dan cepat tercapai impiannya. Nah, coba Anda bayangkan dan tuiliskan stepnya.

Kalau Anda keluar dari dunia pajak, menjemput mimpi di perminyakan, biologi, tapi tak punya konsep ke arah sana, sama aja bunuh diri. Nanti sikucapang sikucapeh. Saikua tabang saikua lapeh kata pepatah minang. Sini lepas, sana lepas, dan Anda bisa jadi gelandangan ndak jelas. Mari lihat orang yang benar-benar niat memperjuangkan passionnya. Namanya Toha Nasr (twitter: Tohantara), lihat juga blognya: www.pelajaribiologi.blogspot.com. Nah, di sini dia berkarya bikin hal kecil, tapi bermanfaat buat orang lain. Dia menyelamin ilmu biologi sampai ke akar-akarnya. Dan dia dipastikan bahagia. Diundang untuk sharing di berbagai komunitas. Itu baru satu contoh. Masih banyak contoh lainnya.

Kalau untuk beasiswa sebenarnya banyak bertebaran dimana-mana. Sila cari informasi di internet. Sangat banyak.

apalagi ketika saya cari2, pajak sendiri dalam islam hukumnya tidak jelas, cenderung haram. semakin manambah kerisauan akan status sebagai calon PNS pajak begini.

Menurut saya, pajak itu sendiri tidak haram. Sila Anda cek berbagai sumber. Yang haram itu kalau Anda menerima suap, menyogok, korupsi, membantu orang korupsi, dll. Jadi, jangan sampai mengambil suatu kesimpulan dari “katanya haram” bla bla bla. Menjadi manusia itu harus jelas bersikap. Jangan mudah terpengaruh. Kalau memang Pajak Haram, berarti semua PNS di Pajak masuk neraka donk? Oalah. Bisa sesat kita. Hati-hati simplifikasi yang terlalu berlebihan. Oke bro? Kata bapak saya: “Biasakanlah yang benar. Jangan benarkan kebiasaan”. Kalau memang ada di lingkungan kita biasanya pada ga bener, biasa terima suap, biasa korup, maka kita jangan sampai ikutan membiasakan hal itu. Kita harus biasakan yang benar. Biar rezeki kita berkah. Berkah tak harus banyak. Tapi mampu membuat kita lebih “cling”.

kini saya benar2 bingung, harus bagaimana nantinya, apakah saya harus mengejar cita2 saya atau pasrah? apakah kesempatan terbuka lebar untuk orang seperti saya?

Saya yakin masih sangat ada kesempatan yang lebar untuk orang seperti Anda. Ini bukan kiamat buat Anda. Jangan menyerah. Masih ada harapan. Saran saya, jalani seoptimal mungkin dunia perpajakan. Sebisa, semaksimal, sehebat kemampuan yang terpendam dalam diri Anda. Ingat, Anda ada potensi bermental juara dan pemenang (spt saya utarakan di awal). Jadi saya juga yakin, Anda bisa melewati dunia perpajakan dengan mudah pula. Saya rasa ini hanya masalah hati Anda saja. Hati Anda tidak singkron dengan pikiran Anda. Hati bilang muak dengan perpajakan, Otak Anda masih terjebak di dunia STAN perpajakan. Akibatnya, Anda menjalani hidup di STAN setengah-setengah. Tidak optimal, tidak maksimal. Angin-anginan belaka. Hasilnya sudah bisa ditebak. Anda hanya jadi orang ”BIASA BIASA AJA”. Coba jika hati dan otak Anda singkronisasi. Maka, semua potensi dan kehebatan Anda akan keluar secara mengejutkan. Believe me!

Tapi jika memaksa hidup dengan ilmu perpajakan saya merasa tidak akan berkembang.. IP saya 5 semester tidak pernah lebih dari 3,1. saya belajar hanya saat ujian, karena benar2 tidak mencintai pajak. banyak waktu tidak produktif, pergaulan sempit.. sampai sekarang saya belum bisa cinta dengan almamater STAN. karena masalah masa depan ini. saya jadi hidup dengan kacau.

Kenapa anda merasa tidak berkembang di STAN/ perpajakan? Udah coba segala daya upaya? Atau Anda menyerah begitu saja sebelum bertempur? Coba cari penyebab kenapa IP tak pernah lebihd ari 3.1 Bandingkan dengan teman lain yang IP lebih tinggi. Belajar tips belajar ke dia. Contek metode belajarnya spt apa. Terapkan. Nah, ketahuan kan Anda belajar saat ujian saja. Dengan metode begitu saja Anda masih bisa 3,1. Pasti kalau belajarnya ndak pas ujian saja, bisa lebih tuh. Anda tak harus mencintai pajak. Anda cukup jadikan pajak itu sebagai tantangan dalam hidup yang harus anda kalahkan/ taklukkan. Waktu yang tak produktif, dijadikan produktif (dengan ngajar les private misalnya, atau berbisnis kecil-kecilan). Untuk pergaulan sempit, bisa diluaskan dengan ikut komunitas. Bisa komunitas agama/ pengajian. Coba searching, dan gabung di komunitas pengembangan diri. Dijamin Anda termotivasi untuk hidup. Bisa kontak saya japri jika ingin lihat-lihat komunitas berprestasi. Nanti ada beberapa yang akan saya sarankan. Bisa lihat-lihat dan gabung juga. Cinta almamater itu tak wajib. Lebih baik cinta diri sendiri dan masa depan Anda. Jangan kacaukan hidup Anda. Tata ulang dari sekarang. Jangan tunda lagi sebelum telat. Nanti anda menyesal lagi. (Kenapa dulu saat akan masuk dunia kerja tidak mempersiapkan diri, bla bla bla). Raih prestasi, raih posisi penempatan di kota besar. Setahu saya penempatan PNS STAN berdasarkan tinggi rendahnya IPK. Entahlah benar-atau tidak. 

sekarang saya sudah tingkat 3, dan saya terus mencoba memperbaiki, menanamkan saya termasuk beruntung dan harus bersyukur. Ya, itu bekerja.. namun kemudian selalu dtang siklus saya ingin keluar dari kehidupan yang sekarang, selalu bangkit lagi kata hati saya.
apalagi jika mengetahui sahabat2 yang kuliah sesuai minatnya telah banyak prestasi sampai jadi mapres..sedangkan saya merasa sangat malu dan jatuh.

Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. Lihat ke bawah untuk mengasah rasa syukur. Lihat ke atas, untuk memotivasi diri agar lebih sukses. Bukan malah minder melihat orang lain sukses. Justru harus termotivas dan segera susun strategi agar sesukses atau melebihi kesuksesan orang lain tersebut.

mohon saran nya mas..

dan juga nasehat tentang kehidupan manusia yang kuliah setelah selesai kuliah apa saja rahasia2 yang harus diketahui dan tips2 apa yang harus dipegang.. saya sungguh menyesal dulu waktu SMA tidak mempersiapkan dunia kuliah dengan baik, bukan kerena tidak mau, tapi karena tidak tahu seperti apa.

Seperti kata saya di atas, tidak ada kata penyesalan lagi. Kubur dalam-dalam. Hadapi hidup dengan semangat. Semangat untuk menghancurkan kebosanan-kebosanan, siklus-siklus yang membuat Anda merasa seperti pecundang. Saran saya, searching di internet, bergabung dengan komunitas-komunitas yang banyak di Jakarta dan Bintaro. Bisa komunitas pencinta tanaman, pencinta biologi, komunitas travelling, sepeda, dll. Kan Anda bilang tadi pergaulan sempit. Ini saatnya memperluas pergaulan. Dengan sendirinya, berinteraksi dengan beragam manusia, yang berhasrat untuk hidup, kreatif, Anda juga akan tertular kehebatan mereka. Jangan kurung diri anda sendiri, lalu meratap menyesali hidup dan pilihan-pilihan yang sudah anda buat 3-4 tahun lalu. Saatnya bangkit. Anda bisa jadi teman saya, bisa hubungi saya, kapanpun via email.

terimakasih banyak..

Terima kasih juga sudah mempercayakan cerita pribadi Anda ke saya. Saya hanya berbagi pandangan saja dengan Anda. Bisa saja perkataan saya kurang tepat. Anda bisa cari referensi lain pada orang yang lebih senior, bisa juga teman Anda yang punya pribadi positif dan optimis. Jangan bergaul dengan orang pesimis. Nanti anda terbawa aura negatifnya. Selamat mencoba untuk bangkit. Karena hidup itu begitu singkat, sayang sekali jika hanya diisi dengan ratapan, penyesalan, dan tanpa karya yang bermanfaat. Explore your self. Think out of box. Ikuti banyak pelatihan pengembangan diri. Baca banyak buku motivasi. Dan yang terpenting lagi, action action action. Hanya itu yang bisa merubah nasib Anda. Ciayyo!

Oia, berhubung Anda menuliskan surat serupa di blog saya, apakah boleh saya mempublikasikan surat balasan saya ini? Saya mau izin dulu ke Anda. Siapa tahu, para kolega dan pembaca blog saya bisa memberi input/ saran yang lebih bagus lagi. Kalau diizinkan, saya akan posting. Terima kasih

Note: Sila memberi komentar terbaikmu untuk teman kita yang sedang galau. Follow me on twitter: @pukul5pagi

Baca juga tulisan yang terkait passion:

 

54 responses to this post.

  1. wah, kebetulan saya juga anak STAN dan sekarang tingkat 3 juga. dulu awal masuk stan sy pernah merasa salah jalan karena sy senang dengan ilmu psikologi. Tapi ketika sudah menceburkan diri di STAN “life must going on” segala hal yang terjadi, kita tinggal menikmati apa yg tuhan berikan… dan yakinlah tuhan punya jalan terbaik untuk hidup kita, klo kita masih ragu yakinlah bahwa apa yg kita miliki sekarang adalah anugerah yang harus di syukuri.

    Reply

    • Punya tips kah biar mengusir rasa “inferior”, “tidak semangat”, “merasa hampa”, seperti yang dialami temanmu di STAN? Mungkin kalau yang beri masukan anak STAN juga, bisa lebih diterima karena mengetahui betul medannya. Paling susah itu kan bisa menerima jargon “life must go on”. Butuh cara/ teknik/ hal kongkret. Apa gitu buat mengusir galau di STAN. Terima kasih sudah mampir ya.

      Reply

      • awalnya saya pun demikian bahkan ketika mau naik ketingkat 2 di STAN sy sempat daftar lg SNMPTN. Waktu itu sy dapet pesan dari Ibu, silakan klo mau ikut ujian lg, tapi yg perlu diperhatikan “apakah kamu rela telah menzolimi 98ribu org yg ingin masuk STAN”
        dari situ saya mulai belajar mensyukuri apa yg sy dapatkan. sy berusaha berpikir, mungkin ini jalan terbaik, mungkin 20 tahun yg akan datang saya akan jadi orang besar di jalan yang sekarang sy jalani, dan orang2 selalu bilang Allah punya jalan terbaik untuk setiap Hamba-nya. hehehhehheeheee

      • Sip

  2. Assalamualaikum…

    Nah, kali ini giliran saya yang bercerita, lebih tepatnya sharing pengalaman…. Mau kenalin diri dulu (untuk Aad pasti udah kenal siapa saya, tapi yang lain kan belum tentu, ya gak?). Saya wanita, berusia 31 tahun, menikah, telah punya 1 orang putri yang cantik dan pintar (insyaaAllah sehat selalu) bernama Nareswari, aamiin… *hahaha, promosi beraaat

    Saya menghabiskan masa kecil saya di negara tetangga, selama 6 tahun. Pulang kembali ke Indonesia pada kelas 6 SD. Sekolah saya di negara seberang adalah sekolah bertaraf internasional, dengan kualitas pendidikan yang sangat baik. Pulang ke Indonesia, apa yang terjadi? Orang tua saya memilihkan sekolah lokal (baca : SD negeri) yang kondisinya tidak sebanding dengan sekolah terdahulu saya. Mereka memilihkan sekolah ini berdasarkan lokasi yang dekat dengan rumah, jadi saya tidak perlu bangun di pagi buta untuk pergi ke sekolah. Sangat berbeda dengan teman2 saya yang lain, yang ketika pulang ke Indonesia, mereka dipilihkan sekolah swasta yang notabene adalah sekolah favorit (mulai dr Al-Azhar, Lab-school, dan lain sebagainya). Tapi hal ini saya terima, secara saat itu saya belum mengerti apa2 dan yang penting ya sekolah.

    Melanjutkan ke tingkat SLTP, kembali saya diharuskan oleh orang tua saya untuk memasuki sekolah negeri yang berada di dekat dengan rumah saya. Sekolah ini tidak terlalu terkenal, bahkan jauh dari predikat “sekolah favorit”. Tapi orang tua saya kembali menekankan, sekolah dekat rumah lebih banyak menguntungkan. Untung tidak perlu bangun siang, untung tidak perlu berebut angkot, untung tidak perlu keluar ongkos banyak, untung tidak perlu pulang kesorean. Pun, saya tetap bisa menjalani kehidupan saya di SMP yang tidak favorit ini. Saya enjoy dengan pelajaran yang bisa saya ikuti dan teman2 yang sangat cocok dengan saya.

    Melangkah ke tingkat yang lebih tinggi lagi, SLTA. Pada saat sebelum ujian, semua teman2 saya memilih sekolah favorit untuk mereka masuki. SMA 8, SMA 78, SMA 65, SMA 112, SMA 16, SMA 85, dan sebagainya. Sementara SMA 101 yang saya pilih, hanyalah menjadi pilihan nomor sekian bagi teman2 saya. Masuk di SMA favorit, adalah cita2 semua teman saya, termasuk saya sendiri. Tapi apa yang terjadi, orang tua saya hanya ingin saya pilih SMA 101 untuk tujuan saya. Tidak yang lainnya. “Pilih SMA 101, atau tidak usah sekolah sama sekali”, begitu kata orang tua saya. Tidak ada pilihan, walaupun sedih, walaupun kecewa, tapi semuanya harus tetap dijalani. Maaf ya, NEM saya bukannya tidak cukup untuk masuk ke SMA favorit tersebut. NEM saya cukup tinggi lho, bahkan bisa dibilang lebih tinggi dari teman2 yang diterima di SMA favorit tersebut. Tapi apa daya, saya yang masih dibiayai oleh orang tua, harus menurut kepada mereka. Pun, walau bagaimana juga, saya adalah anak mereka. Lha kalo nggak sekolah, saya mau jadi apa? Gembel?

    Selesai studi di bangku SMA, ingin melanjutkan kemana? Tentu, saya punya cita2 sendiri. Ingin saya menjadi psikolog, kuliah di fak. Psikologi pastinya. Alhamdulillah, test akademik yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi swasta terkenal yang memiliki fak. Psikologi, mengumumkan bahwa saya dapat kuliah disana dengan gratis uang pangkal dan uang kuliah di tahun pertama. Ya Allah, senangnya bukan main. Tapi ternyata, kedua orang tua saya kembali tidak mengijinkan saya kuliah disitu. Kenapa? Kampusnya jauh dari rumah. Perlu kira2 1,5jam untuk sampai di kampus. Itu pun kalau naik kendaraan pribadi. Naik umum? Mungkin butuh waktu sekitar 2jam. Entah apa rasanya jadi saya. Dari kecil harus menuruti kemauan orang tua saya. Yang sekolah ini saya atau mereka? Yang mau hidup ini saya atau mereka? Menjerit, tapi tetap mau sekolah… Yang bayarpun kedua orang tua saya…

    Di dekat rumah saya, ada salah satu universitas yang cukup baik pada saat itu, hanya saja, jurusan Psikologi yang saya incar tidak ada. Akhirnya, ibu menyarankan saya untuk ambil jurusan Tehnik Arsitektur. Saya tidak jago gambar! Aseli, bakat seni yang saya miliki bukan pada grafis, tapi pada musik. Tapi kata ibu, tak apa, masuk saja, yang penting kamu rajin dan berusaha. InsyaaAllah bisa. Baiklah, kuikuti saran ibu. Ibu pasti memilihkan jalan yang terbaik untuk anaknya.

    Berjalan dengan seiringnya waktu, saya menghabiskan waktu saya kuliah di jurusan ini selama 4 tahun (8 semester). On time sekali. Saya tidak pintar, saya tidak jago gambar, tapi saya hanya ingin menunjukkan kalau saya bisa dengan keseriusan saya. Serius degh, boleh tanya teman2 seperjuangan saya di kuliah, saya itu ngga pintar kok… Siapa yang sangka, IPK saya rata2 diatas 3. Tidak ada yang menyangka pula kalo saya bisa dapet bebas biaya kuliah di tahun ke 4 dan pada akhirnya saya bisa mendapat gelar mahasiswa lulusan terbaik di tahun 2003 saya menyelesaikan kuliah saya? Semua tidak ada yang mengira. Tapi semua predikat itu saya persembahkan untuk kedua orang tua saya. Mereka yang berjasa atas semua ini.

    Dan pada akhirnya, saya diberikan juga kesempata untuk memilih sekolah yang saya inginkan… yes yes yes, ahiiiy… Urban and Real Estate Development adalah jurusan yang saya pilih dengan keinginan hati dan nurani saya sendiri dan disetujui oleh kedua orang tua saya. Pun, walaupun demikian, saya juga tidak bekerja sebagai urban planner. hihihi… memang belum nasibnya bekerja sebagai urban planner.

    Dibalik kejadian ini semua, kalau ditelusuri, 80% sekolah yang saya ikuti bukan yang kemauan murni dari saya. Aseli, itu lebih banyak pilihan orang tuaku. Mereka memang otoriter, kalau dipikir. Tapi, mereka tau dan mengerti yang terbaik untuk anaknya. Toh buktinya, saya bisa bekerja dimana saja. Alhamdulillah, saya selalu diberikan kesempatan untuk bekerja. Toh, rejeki datangnya dari mana saja.

    Ambil hikmahnya saja… Sekolah itu hanya formalitas dan legalitas menimba ilmu. Tapi lebih dalam daripadanya, sekolah itu adalah tempat kita belajar untuk beradaptasi, tempat untuk kita belajar bertanggung jawab, tempat untuk kita belajar berpikir, tempat untuk kita belajar menerima keadaan, tempat untuk kita belajar menjalani hidup ini. Naik tingkat adalah ujian. Guru adalah pembimbing. Tidak hanya terbatas pada satu ilmu saja. Ilmu yang didapat di kelas hanyalah sepersekian persen dari ilmu hidup yang kita bisa dapatkan.

    Buat yang lagi galau, buanglah kegalauan mu dulu. Selesaikan kuliahmu. Perjalanan masih panjang, dik… Kuliah dimana pun sama. Kuliah di STAN, bukan hanya dapat ilmu pajak, tapi juga ilmu sabar, ilmu ikhlas, ilmu sosialisasi, dan ilmu2 lainnya yang sudah saya sebutkan diatas. Kuliah di Biologi pun demikian, nggak sekedar biologi saja yang didapat, tapi pasti ada ilmu2 lainnya yg diambil. Tidak perlu ada yang disedihkan, selagi kamu bisa menyelesaikan kuliah ini sebaik mungkin. Buat kedua orangtuamu bangga setidaknya dengan dirimu menyelesaikan kuliahmu. Setelah itu, dirimu boleh melanjutkan keinginanmu… Percaya degh, bikin orang tua bangga itu bahagianya melebihi kamu bisa masuk ke jurusan yang kamu inginkan. Coba tanya mereka… Orang tuaku sempat nangis, pas namaku disebut sebagai mahasiswa terbaik dari jurusanku kuliah… Padahal ya aku nggak gitu juga suka sama dunia Arsitektur yang bikin aku begadang dan tidak punya masa untuk bersantai…

    Demikian yang bisa aku sampaikan. Ini cuma cerita singkat… Tapi semoga bermanfaat….

    Wassalam….

    Reply

    • Pelajaran hidup yang sangat berharga dari Mona Anggiani: “Buat yang lagi galau, buanglah kegalauan mu dulu. Selesaikan kuliahmu. Perjalanan masih panjang, dik… Kuliah dimana pun sama. Kuliah di STAN, bukan hanya dapat ilmu pajak, tapi juga ilmu sabar, ilmu ikhlas, ilmu sosialisasi, dan ilmu2 lainnya yang sudah saya sebutkan diatas.”

      KAGUM!🙂 Thanks mbak Mona sudah berbagi cerita seru di blog ini. Semoga pembaca dpt ambil hikmah.

      Reply

      • Sama2 ya Ad…, semoga sharing ku di atas bermanfaat buat dik Galau yang sedang butuh support. Nggak usah patah semangat dengan ketidaktertarikan pada dunia pajak. Ambil ilmu fisik pajak saja, tapi ilmu non-fisik pasti jauh lebih bermanfaat. Saya bukannya lebih jago dari dik Galau, tapi saya hanya mengalaminya lebih dahulu dan merasakannya…

        So, no more galau…

      • Wow, no more galau, say no galau…….Sm*sh Blast nih mbak mon.

  3. Posted by puspa wijitomo on April 18, 2012 at 1:12 PM

    Assalamuaikum..
    waduhh..nikmat sekali y mas bisa kuliah di STAN..kyk apa ya rasanya?hhehe..kirain mbak2 n mas2 yg kuliah di STAN udah pada bahagia..ternyata mash blom juga membawa kebahagian. Maklum saya hanya ibu rumah tangga biasa yang kuliah dr tahun 2004 sampai sekarang blom lulus..maklum saya tergolong keluarga miskin..kuliah juga dibantu oalh saudara keluarga saya…jadi bagi saya masuk STAN itu adalah nikmat yang sangat patut si syukuri sekali.

    Tapi setelah saya baa ceritanya..saya jadi teringat cerita suami saya. Mirip sekali ceritanya..kegalauan dahulu yg pernah suami saya alami. Dulu setelah lulus dr salah satu smk swasta di grogol..suami saya mendapat nilai yang bagus..dan ingin sekali masuk ke ITS atau ITB..tapi ibu mertua saya tidak setuju karena berarti harus jauh dari rumah ( kebetulan rumah di tangerang ). Kedua mertua saya hanya setuju kalau suami saya masuk ke UI atau UNJ. Berat sekali suami saya menjalaninya..suami tidak mau belajar pada saat mau ujian masuk…tetapi malah lulus ke dua dua nya..alhamdulillah..tapi suami tetap tidak ingin masuk kuliah disana..masih berat sekali karena impian suami masuk ke ITS atau ITB. Akhirnya dengan bujukan mertua saya, suami saya memilih UNJ dengan jurusan Elektro. Disana suami saya sangat tidak suka dan nyaman utk belajar karena tidak sesuai dengan keinginannya tadi..suami jd tidak mw belajar..telat datang ke kampus..itu juga suami masih dapat nila B setiap semester…hehhe ( g belajar azah bisa B..gmn kl belajar ayah..xixiix ). Akhirnya suami sudah tidak tahan lagi dengan kondisi seperti itu..suami memberanikan diri berbicara dengan orang tua..bahwa suami g mau melanjutkan kuliah di UNJ dan memilih bekerja.
    Akhirnya suami mendapat izin keluar dr UNJ..seminggu kemudian suami diterima kerja di salah satu kantor telekomunikasi…merasa tidak bisa belajar banyak..suami pun pindah ke kantor yang lbh kecil lgi di daerah Gandul, Cinere.

    Padahal gaji yang diperoleh jauh lebih kecil dibandingkan dengan kantor yang lama. Kemudian tahun ke 2, suami mengambil sertifikasi CISCO untk membantunya dalam berkarir. Kemudian suami merasa cukup ilmu di kantor yang lama..akhirnya pindah ke perusahaan yang lain lagi. Selang 3 bulan..suami merasa tidak betah..akhirnya pindah lagi ke Gedung Cyber di mampang. Setelah 6 bulan dan pengangkatan..tiba2 suami ditawari pekerjaan yang sekarang. Akhirnya dengan meminta ijin kepada kantor yang terakhir..suami berhasil keluar dan masuk di perusahaan yang sekarang. Perjalanan yang panjang untuk mendapatkan yang sesuai keinginan..tapi yang indah bukan akhirnya,,,tapi prosesnya,,,penuh luka..air mata..kekecewaan dan keikhlasan. Berat sudah pasti..tapi dont stop in that way..perjalanan masih panjang.

    Jika kita bekerja hanya memikirkan bisa kaya dekepannya..maka kita akan diperbudak oleh uang..bukan uang yang datang untuk kita. Jika kita memang merasa tidak nyaman dengan kondisi sekarang buat apa..tapi jika kita mau pindah ke yang lain..kita juga harus siap dengan segala konsekwensinya yang pasti akan datang. Iya ya iya..ngak y ngak..jangn iya dan enggak..malah membuat kita galau. Putuskan dan siap dengan segala konsekwensinya….jika belum siap dengan konsekwensi yang akan datang,,,maka maksiamalkan yang ada.

    semoga bermanfaat ^^

    Reply

    • MANTAP!
      “Iya..iya, nggak-nggak. jangan mengiyakan yang nggak-nggak?, betul kan mbak?” hehehe.

      Pelajaran hidup 1: lihat-analisis-pertimbangkan lagi-ambil keputusan. Maka galau tak ada dalam kamus kita.

      Pelajaran hidup 2: Berani ambil resiko dari tindakan dan pilihan kita. Suami Mbak Puspa berani ambil resiko kerja di perusahaan kecil, gaji lebih kecil, tapi ia bisa mengembangkan diri.

      Pelajaran hidup 3: bersakit-sakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian (dan seterusnya hingga akhir hayat)

      Terima kasih sudah mampir. Sudi kiranya di share link tulisan ini: https://umarat.wordpress.com/2012/04/18/galau-pergi-sana/

      Reply

  4. Posted by Budi on April 18, 2012 at 6:01 PM

    Curhat yang menarik dan telah dikritisi dengan saran-saran yang sangat menarik dari Mas Aad.. Keerrreeeeeeeeennn… No more Galau, kata Mbak Mona, meskipun saya rajanya galau.. hahhahahhah..

    Sedikit menambahkan saja, saran saya adalah “Sudah terlanjur tercebur, basah, sekalian berenang sajalah nikmati airnya”. Bukan tanpa alasan, tapi inilah hidup, penuh dengan jalan yang berliku. Selalu dihadapkan oleh “dilema” untuk memilih jalan yang akan kita tempuh, entah itu karena keinginan pribadi maupun keinginan orang terdekat kita. Namun kalo kita sudah memiliki tujuan yang jelas, Insya Allah apapun jalan yang kita pilih, pasti akan tetap bisa mencapai tujuan yang kita inginkan, meski mungkin jalan itu lebih jauh dan penuh dengan kerikil tajam. Jadi, tentukan tujuan kamu itu apa. Lalu, apapun jalan (pendidikan) yang akan kamu tempuh, nantinya fokuslah pada tujuan yang kamu tetapkan dulu.

    Kalo curhat saya tentang masalah pendidikan dulu sungguh sangat berbeda dengan yang dialami oleh “Mas Galau” dan Mbak Mona ini. Dulu ortu sangat mendukung apapun keputusan yang ingin saya ambil, apapun dasar dari keputusan itu. Ketika lulus SMA saya ikut tes masuk STAN dan sempat diterima di jurusan Bea Cukai. Dulu pengumuman STAN tanggal 1 Agustus namun saya tidak ikut daftar ulang karena masih menunggu pengumuman SPMB tanggal 4 Agustus dan kebetulan saya juga lulus SPMB dan diterima di Fakultas Ekonomi UGM. Saya memang kurang berminat masuk STAN pada masa itu, karena tidak berminat untuk bekerja sebagai PNS. Namun keputusan saya untuk “lebih memilih” UGM lebih disebabkan karena satu alasan yang tidak masuk akal, yaitu karena saya saudara sepupu saya mengajak saya taruhan sebesar Rp 100rb bahwa diantara anggota keluarga saya akan ada satu orang yang tidak kuliah di UGM (Saya adalah anak terakhir dari empat bersaudara dimana kakak-kakak saya adalah alumni UGM semua). Dan dengan entengnya dulu saya menerima tantangan tersebut.

    Setelah lulus kuliah, saya pun bekerja di stasiun TV paling OKE di negeri ini, dimana sebenarnya jauh dari bidang ilmu yang saya pelajari selama kuliah. Namun setelah setahun bekerja, ternyata mantan camer menginginkan saya untuk bekerja sebagai PNS, karena seluruh keluarganya juga berprofesi sebagai PNS. Mulailah saat itu saya “berburu” tes penerimaan CPNS. Pilihan utama saya dulu tertuju pada Kementerian Keuangan. Setelah melalui beberapa kali tes, ternyata saya gagal untuk lulus bekerja disana. Padahal jika lulus SMA dahulu saya langsung masuk STAN, saya tidak perlu “pusing” untuk bisa bekerja disana. Namun saya tidak boleh terlalu lama berkecil hati, karena saya harus meluluskan permintaan mantan camer yang menginginkan saya untuk bekerja sebagai PNS. Akhirnya setelah mendapat “wejangan” dan masukan dari MAS AAD, saya mencoba mendaftar pada penerimaan CPNS di LIPI, dan berprofesi sebagai Peneliti Ekonomi. Alhamdulillah, ternyata sampai saat ini disanalah saya bekerja. Ketika saya mulai bekerja disana terdapat nilai positif dan negatif bagi perjalanan saya. Positifnya, saya bisa berkarya sesuai bidang ilmu kepakaran saya selama saya kuliah dulu. Negatifnya, pada tahun awal perjalanan penghasilan yang saya terima sangat minim sebagai CPNS, dan karenanya saya menjadi “diremehkan” oleh mantan camer sehingga akhirnya saya berpisah dengan mantan saya tersebut. Hilang pulalah semua tabungan saya selama saya bekerja di kantor terdahulu.

    Jalan memang berliku-liku. Kita sama sekali tidak mengetahui “rencana terbaik” yang telah dirancang oleh-Nya. Alhamdulillah, kini saya sangat menikmati pekerjaan yang saya geluti saat ini karena memang sesuai dengan bidang keilmuan saya. Penghasilan yang saya terima saat ini pun relatif “cukup” bagi saya untuk menjalani hidup bersama “calon” pasangan hidup yang akan saya nikahi tiga bulan mendatang, yang bisa menerima saya apa adanya meski mengetahui dan mau mengerti segala keterbatasan saya. Jadi jika kita menghadapi suatu “dilema” atau kegalauan, jalani sajalah. Sudah tercebur, basah sekalian. Kita takkan pernah mengetahui masa depan kita yang telah digariskan oleh-Nya. Insya Allah itu yang terbaik untuk kita.

    KEEP SPIRIT yach, Galauers…!!!!!!!!

    Reply

    • Wejangan? Kapan gw ngasihnya bud? gw cuma ngasi info LIPI buka lowongan (terdapat di Koran/ internet). Klo wejangan berarti gw pake nasehatin2 donk. Anyway, ceritanya cukup bagus, hidupmu berliku. Harus berani terima resiko tiap ambil keputusan. Good job bro!

      Reply

      • Posted by Budi on April 18, 2012 at 11:31 PM

        Iya, Iya.. Dulu Mas Aad cuma ngasih informasi aja. But, thanks yach.. hehehhe

        Yach, manusia cuma bisa berusaha, berdoa, berharap dan menjalani apa yang ada dari hari ke hari. Pada akhirnya Allah jua lah yang menentukan. Siapa juga yang nyangka saya bakalan batal kawin sebanyak dua kali dalam setahun dan secepat itu juga bisa menemukan penggantinya. Tapi kalo belum jodoh, apa mau dikata.

        Masalah jodoh inilah kegalauan terbesar saya dalam hidup. Tapi yach, jalani sajalah. Jodoh ada di tangan Tuhan, Insya Allah yang terbaik sudah dipersiapkan untukku nantinya. Seperti kata Five Minutes : “Selamat Tinggal masa lalu, aku kan melangkah..”

        Btw, kangen euy sama temen-temen yang lain di sana. Salam yach, Mas Aad buat yang lain. Pengen mampir lagi euy..

        Salam,

        Budi “Ireng”

      • Nanti disampaikan salamnya. Buat siapa nih? ehem ehem

  5. Mau ikutan share ya. Apa yang dialami teman yang sedang galau itu sebenarnya hampir sama dengan saya. Jaman saya masih sekolah dulu, bahkan sejak SD, saya selalu diarahkan ortu, terutama ibu saya, untuk mengambil jurusan IPA kalau di SMA nanti. Alasannya, jurusan IPA lebih menjanjikan. Kata ibu saya, kalau UMPTN, seandainya memilih jurusan IPS pun yang diutamakan pasti adalah calon mahasiswa yang berasal dari jurusan IPA di SMA. Awalnya saya berusaha mengikuti kemauan ibu saya. Sampai akhirnya lama-lama saya mulai menyadari kalau bakat dan minat saya bukan di IPA. Apalagi nilai2 IPA saya juga tidak begitu bagus. Akhirnya kelas 3 SMA saya memilih jurusan IPS. Jelas ibu saya agak kecewa. kelihatan sekali lah kalau saya terkesan dicuekin, bahkan ketika berhasil masuk 5 besar di kelas pun tidak diapresiasi.

    Kuliah, saya mengambil jurusan sosiologi. Meski di UI, tampaknya sosiologi bukan jurusan favorit. Passing grade-nya terhitung rendah. masih jauh di bawah HI atau komunikasi yang memang favorit. Saya pun lagi-lagi dicuekin. Meski demikian, karena itu pilihan saya sendiri, ya saya berusaha bertanggung jawab dengan pilihan tersebut. Minimal IPK jangan kecil dan jangan sampai DO, hehehehe…Paling nyebelin ketika saya sedang menunggu hasil ujian skripsi. Hanya karena ada tetangga yang lebetulan juga kuliah di UI dan skripsinya tidak lulus (hanya dapat C), ibu saya pun ketar-ketir. “Si anu skripsinya dapat C, kamu dapat berapa ya?” Wah, jelas saya gondok dong! Mentang2 ada tetangga tidak lulus terus saya dianggap sama bodohnya? Toh saya diam saja, hingga akhirnya saya tunjukkan nilai skripsi saya yang nilainya A.

    Suatu hari saya berkomentar tentang kehebohan UN yang sepertinya sangat menjadi momok bagi para siswa. Ada yang stres, protes, sampai menggelar doa bersama segala. Saya bilang, perasaan jaman saya dulu ujian kelulusan (dulu namanya EBTANAS) biasa-biasa saja. Saya tidak terlalu ngoyo sampai harus les ini-itu dan NEM saya pun tinggi. Tahu jawab ibu saya? “Kalau kamu belajar serius, ikut les, kamu pasti masuk jurusan IPA dan kuliah kedokteran!” Hm…ternyata masih ada harapan-harapan tertentu juga dari ibu saya.

    Orang tua bagaimana pun pasti mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Tetapi kadang-kadang mereka memiliki persepsi yang berbeda dengan kita. Namanya juga orang beda generasi. Saya sendiri sih tidak masalah jika ortu memilihkan sekolah terbaik untuk saya. tetapi jika sudah menyangkut jurusan/pilihan studi, saya merasa bahwa itu adalah hak saya untuk memilih. Apalagi untuk ukuran 18 tahun yang menurut saya sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Meski demikian, keputusan itu harus dapat dipertanggungjawabkan. Kalau sudah memilih, ya tekuni dengan serius. Buktikan dengan hasil. Nah, saya sudah berhasil membuktikannya: lulus, dan sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang cukup mapan. Melihat kondisi saya sekarang, ya ibu saya sudah tidak komentar macam-macam lagi.

    Namun ternyata harapan ibu saya tidak hanya berhenti di urusan sekolah. Untuk urusan pekerjaan, ibu saya sangat mengharapkan saya untuk menjadi PNS. Sewaktu saya masih bekerja di majalah, bagi ibu saya itu bukan sukses. Akhirnya saya ikut juga ujian CPNS. Eh, ndilalah kok lulus. reaksi pertama ibu saya, dia lega karena saya dianggap sudah “aman”. Nah, permasalahannya, setelah saya bekerja sebagai PNS, justru saya mulai merasakan kegalauan yang lain. Terus terang, saya merasa tidak cocok di dunia PNS. Mulai dari masalah prinsipil hingga pekerjaan-pekerjaan yang menurut saya tidak menarik. 3 tahun di PNS saya merasakan diri saya kurang berkembang.

    Kalau mengikuti kata hati, pengennya saya sih keluar. Tapi saya juga harus realistis, kalau keluar tanpa pegangan apa-apa, ya sama saja bunuh diri. tapi di sisi lain saya juga tidak ingin berlama-lama menjadi PNS. menurut saya, masih banyak hal menarik lain di luar birokrasi. Dunia itu tidak hanya seputar birokrasi. Jadi, saya tetap punya rencana untuk keluar dari PNS. Minimal, jangan sampai umur 56 tahun apalagi lebih. Kalau bisa, umur 40 tahunan sudah punya pegangan lain. Jadi, yang saya lakukan sekarang adalah bersabar sambil menabung mengumpulkan modal, cari sekolah S2 (di birokrasi banyak beasiswa S2 lho, kapan lagi bisa ngincer sekolah gratis, hehehehe…), dan mulai merencanakan bisnis yang mau dibangun ke depan. Sedikit-sedikit sih udah ada gambaran. Insya Allah ada jalan juga. Yang penting action, jangan cuma diam.

    So, buat teman yang lagi galau, menurutku kondisimu masih sangat menguntungkan karena kamu belum lulus. Cobalah bersabar, nikmati proses perkuliahan, sambil cari-cari sampingan. Sayang kalau kuliahnya sampai drop out. Lagipula, kuliah itu kan ga cuma menuntut ilmu, tapi juga membentuk pola pikir. Kalaupun kamu ga suka dengan materi kuliahnya, coba ambil cara berpikirnya. Dalam dunia kerja, pola pikir itu sangat berpengaruh. Anyway, lulus kuliah kan ga mesti bekerja sesuai bidang kuliah toh? Kalau di STAN yang aku tahu memang ada semacam ikatan dinas dengan Kementerian Keuangan. Tapi selama menjalani masa-masa itu (baik perkuliahan maupun ikatan dinas), coba lirak-lirik teman-teman di sekelilingmu, lihat peluang yang ada. Kalau ga sreg kerja di pajak, bisa cari sampingan pekerjaan atau bisnis yang lain. Cari teman-teman yang satu minat denganmu dan coba bikin sesuatu. Coba perluas jaringan. Dunia itu tidak sempit, pilihan itu luas, and life is in your hands. Tapi perlu diingat juga, kalau sudah menentukan pilihan, harus serius, tidak boleh setengah-setengah.

    Good luck ya…salam….

    Reply

  6. Posted by aripmuttaqien on April 19, 2012 at 5:21 AM

    Terus terang gw sering dapat email model begini2, paling banyak saat minta saran sekolah/beasiswa.
    Kalau ada email model begini masuk, pasti saya balas, walaupun dg sangat singkat. Maks 3 paragraf.
    Bukannya saya tidak mau membalas. Terus terang masalah keterbatasan waktu. TIap hari ada puluhan email dan akan consume time jika harus dibalas dg detail. Lha email ke bos aja biasanya saya cuma satu atau dua kalimat.😛

    Reply

  7. Waw, semua yg komen dan ngasih saran adalah orang2 yg luar biasa dan mempunyai cerita kehidupan yg inspiratif, SALUT..!!!! Saya jadi malu sendiri karena pernah galau berat dalam menjalani kehidupan yg gk seberapa berliku dibanding yg lain :p
    Karena sudah banyak poin2 yg disampaikan masbro dan mbaksist di komen2 sebelumnya, saya cuma mau menambahnkan sedikit aja. Biasanya kalau saya sedang galau, hal yang pasti saya lakukan adalah ‘mendekatkan diri kepada Tuhan’. Biasanya setelah shalat malam lanjut curhat sepuasnya sama Tuhan plus mewek abis2an, hati akan terasa lebih tenang dan tentram. Jika hati sudah tenang, otak juga bisa berpikir lebih jernih. Jika otak sudah jernih, maka saatnyalah untuk menyusun langkah2 taktis untuk membuat hidup jadi luar biasa🙂

    Pendapat pribadi saya : “Galau berbanding terbalik dengan kedekatan kita kepada Allah” :p

    Reply

    • Menarik usulannya menjadikan Jumat sebagai momentum. Biasanya jumatan pada tidur, bukan cari inspirasi. Terima kasih banyak Fakhrum.

      Reply

  8. Posted by fakhrum on April 20, 2012 at 3:36 AM

    Waw, isinya komen2 luar biasa dari orang2 luar biasa dan mempunyai petualangan hidup yg luar biasa pula. Saya jadi malu sendiri karena dulu pernah galau berat gara2 ‘obstacle’ yg pernah muncul di kehidupan saya yg tidak begitu pelik jika dibandingkan dengan apa yg pernah dirasakan para sepuh2 diatas :p
    Karena sudah banyak yg menyampaikan masukan2 hebat, saya akan menambahi sedikit saja.😀
    Jika penyakit galau mulai merasuki hati dan pikiran, maka hal yg pasti saya lakukan adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Shalat malam, lanjut berdoa, curhat sepuasnya, bahkan kadang plus mewek2nya juga :p
    Setelah itu hati akan terasa plong, kepala menjadi enteng. Otomatis otak bisa berpikir lebih jernih dan bisa menganalisa kondisi pribadi dengan lebih baik. Selanjutnya tinggal menyusun langkah2 taktis untuk mencapai kehidupan dan prestasi yg lebih baik.🙂

    Poin dari pemikiran pribadi saya :
    “Tingkat kegalauan berbanding terbalik dengan tingkat kedekatan kepada Tuhan”😀

    Reply

  9. kegalauan itu satu langkah menuju kedewasaan, hehehe. kalau Anda galau berarti Anda udah mulai berfikir, dan bagus kalau d-share, akhirnya bisa dapet banyak masukan. tapi banyak masukan bukan berarti galaunya bakal hilang, bisa jadi malah tambah galau, karena kuncinya ada di cara pandang Anda dalam menghadapi kegalauan tersebut.

    saya dari daerah, alhamdulillah pendidikan saya dr TK-SMA sangat membantu saya berkembang. meskipun saya dari tempat yang jauh dari riuhnya kemacetan dan mall, dari kecil saya sudah berfikir kalau raport itu cuma sederet angka, pendidikan bukan yang menentukan siapa kita atau akan jadi apa kita. pendidikan cuma alat, kita masternya😉

    selepas SMA, saya berniat ambil jurusan sastra arab karena saya suka banget sama rumi. tapi pas isi form ujian, saya malah isi jurusan antropologi. bahkan sampai saya skripsi, saya masih bertanya-tanya kenapa dorongan hati begitu kuat waktu dulu itu sampai banting stir ke antropologi. fyi, waktu SMA juga saya memaksa masuk IPS dan nilai antropologi saya selalu 7 meski saya rangking 1 terus, favorit saya pelajaran ekonomi dan akuntansi. saya juga bingung waktu itu kenapa pengen kuliah sastra arab cuma gara-gara rumi, hehehe

    setelah saya bekerja, saya sangat bersyukur kuliah di antropologi. dan fyi, kerjaan saya tidak ada hubungannya dengan pendidikan saya. saya bekerja sebagai HRD, setelah sebelumnya bekerja sebagai researcher, konsultan, marketing, dan corp. secretary. karena antropologi telah melengkapi banyak hal dalam alam fikiran saya. antropologi membantu saya berpetualang dalam banyak buasnya fikiran-fikiran saya sendiri. menurut saya, sekutu paling setia adalah diri kita sendiri, oleh karena itu penting untuk benar-benar tau siapa diri kita ini. penting untuk benar-benar tau siapa sbenernya sekutu kita dalam hidup yang fana ini untuk mempersiapkan hidup yang kekal nanti.

    jadi bagus bukan kalau Anda kuliah di pajak? Anda jadi tau sistemnya, Anda jadi tau borok2nya. pengetahuan tersebut akan menjadi alarm bagi Anda untuk berbuat yang benar (baik dan benar itu dua hal yang berbeda) pada saat diperlukan nanti. dan saya juga salut Anda masih bisa galau, berarti Anda benar-benar berfikir.
    pertahankan kegalauan Anda. karena hati itu domisilinya jauh dari fikiran. hanya galau yang bisa jadi jembatannya. tapi diingat ya, galau bukan pembenarannya untuk tidak melakukan apa-apa. galau itu petunjuk agar kita menggali lebih dalam lagi, melangkah lebih jauh lagi. apa Anda tau peminat jurusan pajak di STAN sebanyak apa? Anda sangat beruntung, dan beruntung 2X karena Anda galau justru setelah tau bagaimana cemerlangnya masa depan jurusan Anda itu secara finansial🙂

    ALLAH menggariskan Anda berkuliah di pajak untuk sesuatu alasan. setiap orang punya peran, tapi apa peran itu kita sendiri yang akan menemukannya. Anda sudah jadi pemenang, Anda dipilih ALLAH dari sekian banyak orang untuk kuat menanggung beban itu. jadi Anda lebih kuat daripada yang Anda pikir bukan? kenyataan hidup Anda selama ini yang Anda share lewat tulisan menunjukkan hal itu.

    coba sekarang lihat ke belakang, selain semua penyesalan Anda itu, apa Anda menemukan hal lain (sedikit saja) yang mampu membuat Anda berucap “Alhamdulillah..”?
    Que sera sera, whatever will be will be. Apapun yang akan Anda hadapi nanti, hadapi dengan berani.

    setelah Anda temukan sedikit dari sesuatu yang mampu membuat Anda berucap “Alhamdulilah..”,
    finish every day and be done with it. you have done what you could. some blunders and absurdities no doubt crept in, forget them as soon as you can. tomorrow is a new day, you shall begin it serenely and with too high a spirit to be encumbered with your old nonsense.

    p.s.: buat Aad, jangan diusir galau-nya Ad. galau itu penting. menunjukkan betapa kerdilnya kita, manusia.

    Reply

    • Kehidupan yang penuh liku. Terima kasih sudah berbagi di sini. Menarik sekali. Meski diusir, galau memang kerap datang lagi kok. Tinggal antisipasi agar galau tak mengganggu kecepatan kinerja dan berkarya. Terima kasih banyak bu Antropolog.

      Reply

  10. saya kok merasa belum pantas dijadikan contoh ya, btw terimakasih sudah mencantumkan link blog saya di postingan penuh inspirasi ini.

    Hidup adalah pilihan. 2 sisi yang berbeda, tidak searah, dan bertolak belakang.Masing-masing punya kekuatan dan kelemahannya. dan tidak ada yang hanya memiliki segi positifnya saja.

    Menentukan pilihan bagaikan bermain judi, penuh spekulasi, salah sedikit, kita akan masuk ke keadaan yang tidak menyenangkan. Namun itu bukanlah akhir dari segalanya, karena inilah hidup. Kita harus berani untuk menghadapinya.

    Hidup seperti koin yang bersisi dua, setiap saat penuh dengan teka-teki dan misteri. Namun sebagai orang bijak, pilihan harus diambil dengan ketulusan hati nurani…..DAN JANGAN MENYESAL !!!!! karena tidak ada orang yang sukses di muka bumi ini, tanpa pilihan-pilihan hidup yang salah.

    Mungkin dengan memegang wacana ini, kita mampu bangkit kembali disetiap kegagalan dan kesalahan pilihan dalam hidup kita. Karena tidak ada pilihan yang salah atau pun benar dalam hidup ini. Semua pilihan pasti ada hikmahnya……Sukses adalah rangkaian kebijaksanaan dalam hidup dan perbuatan. Dan Sukses adalah keberanian untuk memilih dan menjalankan pilihan tersebut.

    Reply

    • Terima kasih sudah mampir. Tiap minggu saya posting tulisan baru. Semoga berkenan mampir. Blog sampeyan itu berkonsep dan berkarakter.

      Reply

  11. komen saya kok jadi otomatis teridentifikasi dri ‘rumah’ lama saya ya? hee… insyaAllah mas saya sering-sering mampir. tulisan sampeyan penuh inspirasi, jadi emang pantas dimintakan pendapat sama sahabat-sahabat kita yang tengah galau hatinya., hee

    Reply

  12. Kalo kata Papa saya semakin galau berarti semakin besar hasrat untuk lebih baik dan maju dari sebelumnya, he3x
    Saya juga sering galau tapi harus diimbangi dengan rasionalitas juga.

    Reply

  13. Posted by Ismail on June 16, 2012 at 2:35 AM

    Mirip dgn cerita hidup saya,,
    Saya alumni D3 Akuntansi STAN, lulus tahun 2007. Terus terang saya tidak pernah menikmati masa2 kuliah saya di STAN. Kenapa? tentu saja karena saya sama sekali tidak memiliki minat di bidang Akuntansi dan Auditing.
    Waktu SMA, saya jurusan IPA. Sesuai dengan minat saya di bidang Matematika, Fisika dan Biologi.
    Setelah lulus SMA tahun 2004, saya ikut SPMB dan memilih jurusan Kedokteran. Selain SPMB saya mendaftar USM STAN, lebih karena ikut2an teman2 satu SMA yg juga mendaftar.
    Hasilnya? saya tidak lulus SPMB tapi lulus USM STAN.

    Ok, dengan berat hati saya kuliah di STAN. Tahun pertama begitu berat. Saya nyaris tidak pernah belajar. Akibatnya bisa ditebak, IP saya salah satu yg paling buruk.
    Saya memutuskan ikut lagi SPMB untuk tahun berikutnya, tetap dgn pilihan jurusan yg sama, kedokteran. Sekali lagi saya tidak lulus.
    Akhirnya saya memutuskan untuk tetap bertahan di STAN. Dua tahun terakhir dari masa tiga tahun kuliah di STAN saya jalani dengan datar. Tanpa belajar, tanpa motivasi, mengerjakan tugas dgn minimalis (yg penting ngumpulin), pokoknya sekedar lulus saja. IP kumulatif saya? tentu saja buruk.

    Setelah lulus saya ditempatkan di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), instansi yg sering jadi olok2 dan paling dihindari oleh mahasiswa STAN.
    Penempatan daerah kerja saya di Jambi.

    SEtelah 3 tahun bekerja, saya ikut USM D4 STAN. Saya lulus. Alasan saya ingin kuliah D4 (di STAN lagi) sederhana saja, saya ingin lebih dekat dengan keluarga terutama istri saya yang tinggal di Jawa Timur.

    Setelah bertahun2 hidup tanpa tujuan yg jelas dan tanpa motivasi, saya berpikir, apa yg sebenarnya saya inginkan? Apa jalan hidup yg saya inginkan?
    Menjadi dokter seperti cita2 lama saya tentu saja tidak mungkin. Akhirnya setelah merenung lama, saya putuskan jalan hidup saya adalah berbisnis. Masalahnya bisnis apa? saya kemudian ingat, dulu saat saya masih kecil, saya seringkali menggambar desain dan denah rumah, meniru gambar dan desain rumah yang ada pada rubrik arsitektur tabloid wanita langganan ibu saya. Oke, saya putuskan jalan hidup saya adalah berbisnis properti. Saya yakin betul bidang ini memang sesuai dengan minat saya. Buktinya saya bisa menghabiskan waktu berjam2 untuk membaca segala jenis buku properti. Sekarang saya memang belum take action berbisnis properti. Saya menunggu lulus D4 dulu.
    Setelah lulus, saya akan resign dari PNS dan memulai rencana hidup saya di bidang properti.

    Reply

    • What a long life story. Selamat mas. Sudah menemukan passionnya. Klo skrg spt apa rasa bahagianya di ilmu property? Mgkn akan lbh lgkp ceritanya..

      Reply

      • Posted by Ismail on June 24, 2012 at 1:33 AM

        Sangat bahagia,,
        Inilah minat saya sesungguhnya,,
        Saya tidak tahu apakah suatu saat nanti saya benar2 akan memulai berbisnis properti, tapi yg jelas saya sangat menikmati masa2 berburu ilmu properti sekarang.
        Mengikuti seminar properti hingga keluar kota dan mengoleksi buku2 properti yang bahkan jauh lebih banyak dari buku2 kuliah saya.

      • Finally, u have found ur passion! Congrats bro!

  14. Posted by Ismail on June 24, 2012 at 1:36 AM

    Mungkin ada yg berminat membuat riset ilmiah tentang berapa persentase mahasiswa STAN yg benar2 berminat kuliah di STAN?

    Reply

  15. Posted by riri on July 29, 2014 at 3:19 PM

    Tulisan tulisan kaka keren kaa sangat menginspirasi, alhamdulillah makasih banyak yaa🙂 saya maba va ui 2014 kaa, semoga saya bisa banyak belajar dari kaka yaa🙂

    Reply

  16. Posted by Arman on August 3, 2014 at 6:16 PM

    Alhamdulillah … tulisan kakak ini bisa sangat menginspirasi saya. makasih ya kak. Sy juga baru masuk Akuntansi UI 2014/2015.
    Salam kenal dari saya Arman. SMA Labschool Kebayoran tamatan 2014
    Saya ingin belajar banyak dari kakak2 yg kasih masukan di atas. Itu sgt memotivasi saya.
    tanggal, 5 Agustus 2014, kami akan dikumpulkan di Kampus UI, Balaiurang Depok.
    semoga sy berhasil di UI, Aamiin

    Reply

  17. Posted by vicky on September 18, 2014 at 1:16 PM

    baru nemu blog ini..
    sy jg sedang merasakan kegalauan yg sama dgn penulis di atas, bahkan kondisi sy mgkn lebih parah krn sy belum lulus2 padahal seharusnya bs lulus tepat waktu.
    thanks buat tulisan, jawaban, dan komentar2 di halaman ini. sy baca semua dan alhamdulillah cukup menguatkan hati sy utk mau berdamai dgn takdir saat ini.
    minta doanya jg, smoga sy bisa segera lulus dan mengejar ketertinggalan sy atas kawan2 yg lain. smoga sy bs segera menemukan passion sy jg🙂

    Reply

  18. Cerita Anda mirip sekali dengan saya…..

    Saya pernah ikut test STAN tapi gagal, akhirnya saya kuliah satu tahun di ITB jurusan Geologi. Beberapa hal membuat saya tidak niat kuliah di ITB salah satunya saya dulu sebenarnya pengen masuk perminyakan ITB (FTTM), entah kenapa jurusan itu tidak ada di pilihan makanya saya pilih jurusan Geologi (FITB). Saya baru tau ada jurusan FTTM setelah masuk ITB.

    Trus tahun depannya saya ikut lagi test STAN dan keterima. Tanpa pikir panjang saya putuskan keluar dari ITB. Saya pun telah lulus STAN dan bekerja sebagai PNS. Lantas baru terpikir di benak saya, ternyata menjadi PNS bukan passion saya. Saya sejak SD, SMP, SMA sangat gemar dengan Matematika dan saya juga ikut Olimpiade Matematika. Saya tidak terpikir jurusan Matematika karena berpikiran sangat awam nanti kerja apa???

    (Seandainya) bisa memilih ulang, tentu saya akan memilih jurusan Matematika ITB daripada jurusan lainnya atau STAN karena hobi, minat, dan potensi terbesar saya adalah Matematika bahkan sampai sekarang.

    Memang setelah lulus SMA adalah masa depan depan kamu akan bekerja apa jadi harusnya dipikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan.

    Karena sekarang sudah terlambat? jalanin saja hidupmu sebaik-baiknya. Saya yakin Allah akan memberikan petunjuk jalan yang terbaik untuk kita.

    Hidup adalah pilihan.

    Reply

  19. Posted by cahndez0 on January 4, 2015 at 12:37 AM

    semangat saya lagi jatuh dan naik turun.
    lagi cari inspirasi dan semangat bwat motivasi diri,

    terima kasih bwat semangat yang membahana itu.
    mohon doanya agar saya bisa lulus S1 (dah semester 12)

    semoga jodoh yang jadi istri di semester 5, dan si kecil yang sekarang dah 2 tahun
    bukan jadi hambatan,tapi jadi lecutan.

    salam semangat.
    cahndez0

    Reply

  20. Posted by Iki Agun on February 11, 2015 at 7:33 PM

    Slow ajja mas bro… jangan mengikuti hasrat ingin jd yg terbaik tp lakukanlah yg terbaik..
    Emang pas dipajak agan ga bs jaya kayak dlu waktu sekolah, jd wajar merasa gagal dan ga cocok dengan situasi yg agan jalanin.
    Saran ane si kelarin aja dlu tuh kuliah. Nanti agan bakalrasain kok manfaatnya pas udh lulus.
    Oia ortu agan gak kuno tapi ortu agan kyknya udh mengusai lapangan kehidupan makanya nyaranin nambil pajak. Suer pas lulus agan bakal sukses.

    Reply

  21. Posted by Berliana Napitupulu on December 25, 2015 at 9:50 PM

    Aku mau nanya seputar STAN,apa beda D1 ama D3 didalam jurusan STAN,dan apa bisa memilih D1 dan D3 sekaligus?

    Reply

  22. Walah dalah..
    Si mas ini hebat ya..
    Bener tu..
    Jujur saya juga kepengen Masuk STAN..
    Banyak orang kepengen masuk ke sana
    Maka bersyukurlah karna mas bisa keterima di STAN
    Ingat ” Tuhan punya Rencana”

    Reply

  23. Posted by yoga on April 30, 2016 at 7:25 PM

    salam untuk semua. melihat semua komentar, saya juga mempunyai pengalaman yang hampir sama dengan admin. saya diterima di d1 pajak STAN di Manado thn 2015. berhubung saya orang jawa dan anak rumahan, saya sangat galau waktu diterima, karena dorongan ortu saya berfikir untuk mencoba dan berangkat. sesampainya disana saya sangat syok dengan keadaan di sana. selama disana saya selalu sedih dan galau setiap hari, dan di tengah perjalanan saya memutuskan untuk mengakhirinya. mendengar keadaan saya saat disana, ortu sangat tidak tega dan menarik saya untuk kembali pulang. sebelum pulang saya sempat berpikir “kenapa saya bisa merasakan seperti ini? kesedihan yang mendalam dan kegalauan yang tiada henti” sampai sekarang kadang saya merasa menyesal kenapa saya bisa seperti itu, padahal saya ingin membahagiakan ortu. namun kadang saya berpikir juga InsyaAllah akan diberikan jalan yg terbaik dari Allah untuk saya dan orang2 yang kita sayangi

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: