#KelasInspirasi: Penyemat Mimpi Siswa-siswi (Part 3)

“Grogol” di Kelas Perdana

Sebelum masuk ke #KelasInspirasi, kami kelompok 6 berkumpul, briefing akhir untuk segera memulai kelas yang sudah hampir jam 7 pagi. Kami terlihat agak nervous. Masing-masing menarik napas panjang mengusir galau.

Kami pun serempak saling memberi semangat. #KelasInspirasi siap dimulai.

Pertama kali akan masuk, ternyata sudah ada wali kelas mereka di kelas. Aku kebagian kelas 2. Imut dan unyuk-unyuk banget. Sebelum masuk, aku sudah siapkan strategi, bahwa di kelas 2 ini, aku harus mendongeng agar tepat dan cepat sampai di pemahaman anak yang masih kecil.

Awalnya ketika masuk, mengucap salam, selama 2 menit di awal, aku panik. Panik karena masih belum terbiasa, bagaimana kenalan dengan anak kecil, yang jumlahnya banyak, lalu bisa mencuri perhatian darinya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Aku jujur saja, takut gagal.

Beberapa kali bolak balik mengeluarkan peralatan “tempur” dari tas, untuk mengusir “grogol”. Tapi tetap tak berhasil. Sampai pada akhirnya, aku mendapatkan ide mengeluarkan bola takraw.

Iseng-iseng, aku tanya ke mereka, “Apakah ada yang tahu, ini bola apa namanya?” Ternyata mereka diam seribu bahasa. Sebagian lagi menggeleng tanda tidak tahu. Karena aku dari Riau, dan dari kecil suka takraw, jadi aku membaca bola ini sebagai alat penarik perhatian mereka. Meski mereka tak kenal itu bola jenis apa. Aku lalu menjelaskan bahwa nama bola unik itu adalah bola takraw.

Akhirnya, anak kelas 2 SD itu aku minta membereskan kursi dan mejanya. Peralatan kursi dan meja digeser sedikit ke arah belakang. Aku ingin anak-anak siswaku duduk melingkar di depan kelas, dan mengerumuniku, persis seperti orang yang sedang tukang jualan obat di terminal-terminal yang penuh sesak. Itu visualisasi yang aku coba bayangkan.

Kenalan dgn bola takraw: langsung senyum-senyum dan “cair”

Kami membentuk lingkaran. Saling berpegangan. Lalu aku sebagai pemegang bola takraw memperkenalkan diri sambil menyebutkan cita-cita. “Halo semua, kenalkan, namaku Adlil Umarat atau biasa dipanggil Aad. Cita-citaku ingin jadi peneliti” Lalu bola takraw aku lambungkan ke siswa lain yang berada di lingkaran. Ia menangkap bola takraw sambil mengenalkan diri pula. “Halo Kak Aad yang peneliti, namaku Aat. Aku ingin jadi pemain bola.”

Nah lho. Lha, namanya kok sama. Waduh, gimana ini? Kami tertawa sekelas karena dua orang bernama sama, saling kenalan. Untuk membedakan diriku dan murid di kelas, akhirnya aku ambil topi dari Suku Sasak dari dalam tas. Aku pakai topi itu, dan anak-anak kembali melihatku terheran-heran, namun senyum-senyum. “Kakak pakai topi dulu ya biar beda dari Aat yang satunya,” ujarku.

Begitu seterusnya kami kenalan hingga semua orang menyebutkan cita-cita temannya, dan cita-cita dirinya.

Dinamika Kelas

Suasana kelas cukup hidup. Anak-anak bersemangat, karena aku membawakan perbedaan cara kenalan. Ini adalah bagian dari teknik kreatifitas untuk mencuri perhatian mereka. Ingat, bahwa salah satu kegiatan “mencuri” yang dihalalkan oleh KPK atau Satgas Pemberantas Mafia Hukum adalah “mencuri” perhatian anak-anak di #KelasInspirasi.🙂 Anda yang kelak menjadi pengajar di #KelasInspirasi, harus temukan juga cara Anda sendiri untuk menarik perhatian mereka. Ingat, 10 menit pertama adalah penentu apakah Anda disukai atau malah dianggap basi oleh murid di kelas. I

Ada kejadian menarik. Ketika ada anak yang baru menerima bola dan sudah sumringah mendapatkan kesempatan memperkenalkan diri, ia lalu akan memperkenalkan diri, tiba-tiba temannya nyeletuk. “Ah, palingan dia nanti jadi tukang tambal ban.”

“Hahahahhahaha,” begitu respon teman-temannya menanggapi celetukan itu. Anak kecil, berkulit gelap, dan pendiam itu lalu terdiam. Ia murung seketika. Wajah sumringahnya sekelebat hilang ditelan oleh rasa sakit dihina temannya sendiri.

Aku tak tinggal diam. Aku notice ini masalah. Masalahnya ada di karakter. Karakter suka mengolok-olok. Mengolok-olok bisa jadi terbawa oleh lingkungan yang biasa ia lihat, dengar, dan amati. Maka, aku segera bilang ke murid di kelas. “Kita tidak bisa meremehkan cita-cita teman kita. Terserah mereka mau jadi apa. Tiap orang berhak punya cita-cita. Mari kita dengarkan. Kan sudah disepakati di awal tadi. Kalau ada yang berbicara, yang lain mendengar. Kalau ada yang ingin berbicara, silahkan angkat tangan. Kalau sudah dipersilakan bicara, baru bicara,” begitu sergapku.

Bagiku, melihat anak sedih dihina temannya, itu jauh lebih menyakitkan dari apapun. Aku ingin kelas yang aku pimpin, mampu menularkan keceriaan, rasa optimis, dan sifat-sifat positiflainnya. Kalau ada unsur negatif, harus segera aku netralisir.

Sekolah dasar, esensinya pendidikan karakter. Ini sebenarnya inti dari sekolah. Entahlah apakah kurikulum sekarang punya penjabaran rinci untuk aspek pendidikan karakter ini atau tidak. Aku ingin mengisi #KelasInspirasi yang hanya 4 jam pelajaran itu, punya makna lebih dalam dari sekadar cerita tentang profesi an sich.

Lalu kegiatan selanjutnya kami mulai. Sekarang masuk ke sesi dongeng. Aku mengambil sebuah kursi yang tak terlalu tinggi, lalu menempatkan replika tv dari gabus dan ditaruh di atas kursi. Anak-anak duduk melantai di depan tv. Aku membuat seolah-olah mereka sedang menonton tv.

Isi acaranya adalah mendongeng. Aku menggunakan boneka jari untuk menceritakan apa saja kegiatanku di tv. Jadi, mereka tidak merasa bosan mendengarkannya. Karena aku juga membedakan suara tiap boneka jari. Kebetulan siswaku waktu itu menginginkan nama boneka jarinya bernama Minni dan Pinokio. Aku ikut suara dan keinginan kelas saja.

Aku menceritakan apa saja profesi yang tersedia di dunia pertelevisian. Mulai dari jadi presenter, host, artist, bintang iklan, magician, dubber, wardrobe, kameraman, hingga yang terakhir research analyst. Minni dan Pinokio bergantian menjelaskan semua profesi itu, dibantu dengan sebuah flash card berupa foto. Jadi inti dari metode pengajaran anak-anak itu ada tiga hal: visual, auditori, dan kinestetik. Ketiga hal itu terpenuhi dengan caraku menyampaikan informasi profesi di tv, melalui boneka jari.

Dongeng Sambil Diliput “Kameraman” Cilik

Untuk memeriahkan suasana, satu orang anak yang hiperaktif, aku minta menjadi pengawas kelas. Karena ia selalu ribut dan nyeletuk tanpa bisa distop. Tugasnya adalah mengawasi, jika ada anggota kelas yang ribut, harus diminta diam. Tugasnya adalah tugas mulia. Padahal sejatinya, aku sedang mengerem keributan si anak tadi. Siswa yang dianggap bandel, kalau diberi tanggung jawab, mereka juga bisa bertanggung jawab kok. Ini trik agar Anda tidak kewalahan mengatasi siswa yang jadi biang keramaian kelas. Anda tak harus jadikan dia “musuh”. Tapi baca potensinya, jadikan ia partner dalam kelas. Di sini Anda dipaksa belajar untuk mengubah sesuatu yang potensial negatif, menjadi kekuatan positif. Aku betul-betul belajar banyak hikmah dari #KelasInspirasi.

Terakhir, sebagai pamungkas, aku mempertontonkan video penyemangat dari Raffi Ahmad untuk #KelasInspirasi. Mereka sangat-sangat-sangat excited. Kelas menjadi ramai. Rebutan posisi pun terjadi. Saling sikut-saling dorong, demi mendapatkan tempat untuk posisi enak menonton video dari Kak Raffi Ahmad.

Beberapa anak yang tak kebagian tempat, sempat ngambek. Susahnya mengatur anak kelas 2 karena mereka terlalu bersemangat. Jadi kita harus pintar-pintar memberikan arahan. Sempat terjadi insiden. Seorang anak yang terdorong oleh tangan temannya karena rebutan posisi, akhirnya menangis. Aku segera memberhentikan aktivitas di kelas.

“Ayo, siapa yang bikin temannya nangis? Kakak tidak akan mulai video kak Raffi jika tidak saling minta maaf. Ayo maaf-maafan dulu.”

Akhirnya ada seorang anak yang menjadi pelaku pendorongan, meminta maaf kepada temannya yang perempuan. Adegan ini khas film-film. Kedua anak dengan dibalut rasa gengsi, buang muka, tapi tetap menyodorkan tangannya sambil minta maaf. Si korban pendorongan, juga tetap menyodorkan tangannya. Aku menuntun mereka berdamai. Dan akhirnya video Raffi Ahmad pun dimulai.

Bermaaf-maafan, tp buang muka. Hihihihi. Anak-anak..

Akhirnya dimaafkan….🙂

Kak Raffi menjelaskan kalau kerja pagi, istirahat harus cukup. Ia mengaku tak pintar-pintar amat pas SD. Tapi ia termasuk siswa rajin. Ia menceritakan enaknya jadi artis karena dikenal orang, dan banyak kemudahan. Tapi memang privasi terganggu. Selain itu, ia juga menceritakan proses karirnya yang dari model, hingga pemain sinetron, dan aktif di belakang layar. Ia juga punya production house sendiri saat ini. Kak Raffi juga mengingatkan bahwa kerja itu bukan karena uang. Tapi kita kerja yang bagus, sepenuh hati. Uang akan mengikuti. Untuk meningkatkan pengetahuannya, kak Raffi sering membaca koran saat sarapan pagi. Ia mengingatkan agar siswa SD di #KelasInspirasi agar terus belajar, kapanpun.

Selesai bermain dengan teman-teman cilik di Kelas 2, aku mendapatkan masa istirahat di base camp yang telah disediakan pihak sekolah. Huf…..Ini pertama kali yang aku rasakan: Capek banget!

Tapi rasa senang dan puas karena mampu mencuri perhatian siswa yang unyuk-unyuk itu, menjadi obat capek yang sepadan. Suara serak, badan basah kuyup. Aku benar-benar butuh minum. Dalam hati aku berujar, “Oh….begini toh rasanya jadi guru di sekolah. Capek sekali. Bahkan lebih capek dari kerja kantoran. Menjadi guru, kita harus bisa siap sedia menguasai kelas setiap saat.”

Michael, one of inspirational teacher, berpeluh keringat

Di sesi selanjutnya, aku masuk kelas 5 dan 6. Nah, di sini benar-benar beda pendekatan dan metodenya. Kalau kelas 2 kita bisa main dongeng. Kalau di kelas yang lebih besar, kita lebih banyak dialog, main logika, memperlihatkan flash card, dan bukti-bukti lainnya. Dan yang tak kalah penting, kita harus membuka lebih banyak kesempatan untuk dialog. Jangan sampai satu arah saja.

Di Kelas 5, aku ajak siswa main ke lapangan. Kami melakukan proses kenalan dengan bola takraw juga. Mereka sangat antusias. Malah, sebagian besar langsung mengajakku main bola. Kaki mereka “gatal”.

Sementara istriku, Ikhyandini Garindia, yang juga turut serta di #KelasInspirasi, membantuku menempelkan kertas bertuliskan “hal baik dan hal buruk” di tiap bawah kursi siswa kelas 5. Ketika siswa sudah balik lagi ke kelas, dan di sesi akhir, aku minta mereka mengambil kertas di bawah kursi, dan mengidentifikasi apakah tulisan di kertas mereka termasuk kata kunci untuk “sukses”, atau “gagal”. Lalu masing-masing menempelkan di papan tulis, apakah tulisan di kertas mereka termasuk kategori “sukses” atau “gagal”. Kelas 5 itu memang mereka memang lagi caper-capernya.

Lihat, 1 anak sdg aksi akrobatik: kaki di atas, tangan di bawah

Untuk treatment kelas 6, aku merasa mereka lebih tertib. Jadi, unsur dialog aku kedepankan. Mungkin karena mereka sudah dekat UAN. Jadi kepribadian mereka lebih matang. Ketika menonton video testimoni dari Raffi, mereka sangat tertib menyimak. Mereka tak percaya bahwa Raffi Ahmad bersedia merekam pesan untuk mereka. Keterkejutan mereka, sama dengan keterkejutanku juga. Bahkan mereka dengan malu-malu menyampaikan video pesan balasan ke Raffi Ahmad. Mereka minta didoain agar sukses juga ujiannya.

Anteng Menyimak Video Penyemangat dari        Raffi Ahmad

Di akhir acara, aku meminta mereka menuliskan cita-cita di kertas post-it dan menuliskan juga cara dan tekad mereka mencapai cita-citanya di kertas lainnya. Mereka sangat bersemangat sekali. Aku melihat rasa optimisme yang terpendam dari wajah mereka. Sungguh, kembali ke SD itu, bisa membuat semangat hidup Anda bangkit lagi. Merasa melayang, masuk ke mesin waktu, dan serta merta memaksa diri merenung tentang arti penting hidup dan apa yang sudah dijalani selama ini.

Cita-cita keren

Jadi Ustadz! : Sebuah Pilihan!

Melepas Balon Cita cita

Saat meeting di Never Been Better Cafe, kami kedatangan tamu dari Kelompok sebelah yang bertugas di SD 02 Petojo Selatan. Mereka punya ide cemerlang. Di Akhir acara, mereka ingin melepas balon, sambil cita-cita anak ditempel di sana.

Kami menyambut baik ide gila itu. Rasanya itu akan menambah semangat anak-anak, dan tentu terbayang kemeriahan di sana. Kami juga menambahkan bahwa selain menerbangkan cita-cita itu, kita juga harus merekam tekad anak-anak itu mengenai cita-citanya. Maka, kami menyediakan kertas untuk ditulisi target/ tekad mereka meraih cita-cita itu.

Kami menggunakan wadah toples kue untuk mengumpulkan list tekad itu. Ada 6 kotak berarti, sesuai jumlah kelasnya.

Di hari H, kami sudah berkoordinasi dengan semua pihak agar pelepasan balon cita-cita akan digilir per kelas. Berbarengan dengan SD sebelah. Namun, entah kenapa, di bagian akhir terjadi chaos. Banyak siswa yang tak pulang, tapi balik lagi minta balon karena saking senangnya melepas balon.

Cita-cita itu gratis. Bisa terbang tinggi ! Bebas !

Aku dan kelompok merasa tak enak hati terhadap kelompok sebelah. Mereka punya ide melepas balon, malah salah satu kelasnya kekurangan balon. Tak kebagian bahkan. Akhirnya, salah satu dari kami menyediakan beberapa balon untuk ditempeli tulisan cita-cita murid SD 02 Petojo Selatan secara beramai-ramai. Meskipun ditempel bersama-sama, rona wajah senang tetap terpatri dari raut muka mereka. Kami sama-sama senang. Sekali lagi, kami minta maaf kepada kelompok sebelah karena koordinasi yang kurang pas, jadi jumlah balon belum bisa disesuaikan dengan rencana.

Terbang Tinggi Cita-citaku!

Pamitan Pulang

Selesai #KelasInspirasi, kami berpamitan dengan guru-guru dan kepala sekolah. Sebagai kenang-kenangan, kami menyerahkan kertas dari siswa yang berisi tekad siswa-siswi untuk mencapai cita-citanya. Aku menyerahkan toples berisi tulisan berharga itu kepada wali kelas 6. Mudah-mudahan, kelak suatu saat, ketika mereka sudah lulus, atau sudah besar, tulisan tekad di secarik kertas mungil itu, bisa jadi saksi bisu betapa mereka sudah berani bermimpi. Dan setiap orang yang sudah bermimpi, punya kekuatan magis untuk mewujudkan mimpinya itu. Persis seperti di film-film Korea, semoga mereka mengenang lagi tekadnya di #KelasInspirasi hingga mereka tambah semangat menjalani hidup ini.

Sepulang dari SD 01 Petojo Selatan, tim kami makan siang bersama di rumah makan Manado, tak jauh dari Jalan Tanah Abang V. Kami makan dengan sangat lahap. Beberapa sukarelawan menyampaikan uneg-unegnya yang sudah ngiler sekali dengan air es berwarna orange alias jus jeruk. Tadi di SD, anak-anak rata-rata minumnya es berwarna kuning. Bikin ngiler saja.

Michael selaku ketua kelompok secara mengejutkan ntraktir kami saat makan siang. Ia nyelonong ke kasir secara diam-diam, lalu simsalabim, semua tagihan di meja kami sudah dibayar dengan sekali gesek. Wush…Terima kasih Michael…Tepuk wush dulu buat Michael.

Aku dan istri pulang ke rumah di tengah terik matahari yang teramat sangat. Jalanan menuju rumah kami di Kebon Jeruk tidak terlalu padat, tapi juga tak terlalu sepi. Aku tak tahan panasnya. Kami mampir di minimarket untuk beli minuman. Setelah sampai di rumah, siang itu listrik Jakarta padam, termasuk bandara Soekarno Hatta. Jadilah kami kecewa berat. Sudah panas, tak ada pendingin. Kami istirahat berdua sambil berbaring dan akhirnya tertidur hingga sore.

Bangun tidur, badanku masih pegel. Tapi hal pertama yang aku lakukan adalah tersenyum. Rasanya menjalani hari ini sangat puas sekali. Ada kepuasan batin yang tak bisa dijelaskan dengan detil. Rasanya, bermanfaat sebagai manusia. Rasanya, hari ini semua potensi diri untuk mempengaruhi orang, bisa dikeluarkan 100%. Mungkin ini yang dinamakan bahagia karena menolong orang lain. Menolongnya mungkin tak pakai uang, tapi membantu siswa siswi berani bermimpi tentang cita-cita mereka.

What Next After #KelasInspirasi?

Selama break saat mengajar di #KelasInspirasi, aku coba berkeliling kantin sekolah. Aku ambil beberapa foto kantin dari berbagai sudut. Ternyata, fenomena yang kurang sehat aku temui. Rata-rata stand di kantin menjual mie instan. Jangan-jangan anak SD ini doyan makan mie?

Mie Siap Saji, dimasukkan ke bungkusnya lagi setelah direbus.

Benar saja. Ketika siswa istirahat, mereka banyak mengkonsumsi mie instan. Teknik memasak mie instan di salah satu stand kantin menghkawatirkan. Mie direbus di wajan secara bersamaan. Lalu ketika matang, mie dimasukkan lagi ke bungkus plastik. Lalu mie itu diparkir. Ketika ada yang beli, barulah mie tadi dikeluarkan, digodok bersama bumbu, dan dimasukkan ke stereform tanpa alas. Lalu diberi sumpit dan siap santap.

Makanan murah, tp kurang sehat

Bayangkan jika tiap istirahat, siswa mengkonsumsi mie instan selama 6 tahun. Penyakit apa yang bisa datang? Ini perlu segera kita cari solusinya bersama. Kalau tidak, tentu cita-cita siswa tadi yang sudah keren, variatif, tinggi, akan sia-sia karena mereka terjebak ke dalam penyakit lambung akut karena kebanyakan konsumsi mie instan. Aku yakin, hampir sebagian besar SD keadaan penjual makanan di sekitar sekolahnya punya kemiripan jenis jajanan. Hal ini tidak hanya di sekolah yang aku kunjungi saja. Telah banyak aku tanya, jawabannya hampir mirip. Mie instan makanan nomor 1.

Usul dariku, Kemendiknas bisa bekerjasama dengan perusahaan makanan, untuk melakukan kegiatan Community Development atau Corporate Social Responsibility dengan mengadakan pelatihan membuat jajanan sehat, murah, meriah. Datangkan chef-chef di ibukota ke sekolah. Buka cooking class untuk ibu-ibu wali murid atau untuk penjaga kantin. Semua bebas ikut. Dengan begini, anak-anak bisa lebih sehat jasmaninya. Tak jarang juga, ibu-ibu wali murid mengantarkan makanan saat anaknya istirahat. Ini bisa ditiru dan digalakkan agar makanan anak lebih terjaga.

Wali murid rela mengantar makanan saat jam istirahat. Lebih sehat daripada makan mie.

Tentu kita tidak ingin mematikan rezeki pedagang di kantin sekolah. Kita hanya ingin memberi solusi. Solusi yang baik untuk semua pihak. Pedagang makanan di kantin juga secara tidak langsung diajak punya kemampuan lain dalam menciptakan jajanan kreatif, murah, meriah, tapi bergizi. Pedagang untung, siswa bisa kenyang dan sehat.

Bagi perusahaan yang sudah sering meraup keuntungan dari jualan produk makanannya, aku rasa tak masalah jika harus merelakan sedikit keuntungannya untuk edukasi wali murid atau pedagang kantin. Ini sudah tanggung jawab sosial mereka. Kegiatan ini bisa juga menaikkan nama (brand image) mereka di mata masyarakat sebagai perusahaan yang peduli pada kesehatan masyarakat, tak sekadar mencari untung. Tinggal bagaimana kita menghimbau perusahaan itu agar mau terlibat di dunia pendidikan.

Membaca Potensi Cita-cita

Selalu ada kejadian unik di kelas saat kita mengajar. Seorang anak pendiam, bertubuh agar besar, berkulit gelap. Ketika akan bicara tentang cita-citanya, ia ditertawakan terlebih dahulu oleh teman-temannya. Ada satu orang yang langsung nyeletuk: ”Ah, palingan dia jadi tukang tambal ban….”

Dalam hati aku langsung kaget. Marah. Kesal. Kasihan. Si anak yang dihina temannya tadi, tertunduk lesu. Aku segera netralisir keadaan. Ini sudah keterlaluan. Tidak boleh ada harrasement di kelasku. Dengan tegas aku melarang tiap orang menertawakan cita-cita teman lainnya.

Aku sedih bukan karena tindakan anak yang menghina temannya sebagai tukang tambal ban. Tapi aku marah karena melihat, beginilah memang potret keluarga yang hadir di kelas. Anak adalah barang suci. Ia akan meniru apa yang biasa ia lihat, dengar, lalui. Dalam kasus bullying cita-cita tadi, si anak yang menghina itu mungkin terbiasa melihat lingkungannya meremehkan orang lain.

Kejadian itu tak hanya di kelas 2, tapi juga ada di kelas 6. Aku ingatkan di kelas, bahwa Presiden Obama dulu tak ada yang menyangka. Anak gendut, berkulit gelap, rambut keriting, ada di Menteng (tak jauh dari sini), bisa jadi Presiden Amerika Serikat. Negara yang super power. Siapa yang menyangka dulu di SD nya? Jadi, kita tak boleh menertawakan cita-cita teman. Barangkali, teman yang kita tertawakan itu nanti akan menertawakan kita kelak, karena ia jauh lebih berhasil di kehidupannya daripada kita. Suasana kelas jadi hening. Mungkin kata-kataku tepat menusuk tindakan brutal bullying cita-cita tadi. Aku sadar suasana jadi hening, lalu aku keluarkanlah pencuri perhatian berikutnya. Foto Afiqah. Ya, perempuan mungil, lucu, imut, pelaku iklan Oreo yang terkenal belakangan ini.

Anak-anak yang sempat tegang, kembali bergairah melanjutkan kegiatan belajar-mengajar kami. Mereka secara spontan memberikan respon menirukan iklan Oreo dari awal hingga akhir. Aku sempat merekamnya di sebuah kelas.

Games: Cara Cepat Sukses, Cara Cepat Gagal

Games: Cara Cepat Gagal

Terkait cita-cita juga, anak SD yang aku temui, buuuaaaanyyyaaakkk banget yang ingin jadi pemain bola. Dari 30 siswa kelas 6, ada 7 yang ingin jadi pemain sepakbola. Kalau dipersentase, sekitar 23,3%. Perlu dicatat. Yang aku tampilkan itu adalah kelas 6 saja lho. Kalau kelas 2, 3, 4, peminat jadi pemain bola jauh lebih banyak lagi. Lebih gila lagi. Bisa-bisa setengah isi kelas ingin jadi pemain bola (50%). Kalau kelas 6 kan mereka mulai lebih realistis. Tapi yang namanya mimpi yang benar-benar polos, ya bisa dilihat pada anak kelas 1-5.

Aku menengarai, sejak suksesnya Piala AFF yang tayang di RCTI tahun 2010 akhir, lalu dilanjutkan trend film bioskop anak-anak bertema bola (Garuda di Dadaku), dan terakhir Sinetron Tendangan Si Madun di MNCTV, serta masifnya tayangan bola  seperti Liga Inggris dan Italy di layar tv, maka ini bisa jadi ini sebagai faktor utama perangsang mereka terinspirasi untuk jadi pemain bola. Ini momen dimana televisi bisa juga jadi inspirasi. Tak selamanya yang ada di tv itu adalah hal yang merusak. Tergantung kita mau konsumsi yang mana. Filternya ada di dalam diri penonton dan keluarganya.

Anak SD Petojo Selatan, dan mungkin anak-anak di SD lain, dikasih bola kertas aja, mereka pasti mau main bola di lapangan. Waktu itu aku bawa bola takraw, dan mereka sangat bernafsu mengajak main bola meski hanya pakai bola takraw. Begitu kira-kira gambaran semangat baja mereka bermain bola. Ini bisa dibaca sebagai potensi. Itu passion mereka. Kalau menurut terminologi Rene Suhardono, passion itu adalah what you enjoy the most. Nah, bola itu adalah hal yang bikin mereka merasa enjoy sekali.

Sementara itu, mari kita lihat kiprah PSSI. PSSI selaku pengurus sepakbola tingkat negara, bukannya menjemput mimpi dan passion anak-anak tadi, eh, malah asyik main politik sikut-sikutan dengan dualisme kepemimpinan, dualisme liga sepakbola. Pengurus macam apa itu? Dewasakah mereka? Aku kira anda punya jawaban sendiri.

Nah, ini ada ide gila dariku. Kalau saja, semua guru #KelasInspirasi mencatat apa cita-cita siswa yang mereka ajar, lalu mencatat juga apa tekad dan upaya mereka guna mencapai cita-citanya tersebut, tentu ini bisa jadi sebuah database yang sangat mahal harganya. Kita bisa melakukan social engineering dengan tingkat kompleksitas tinggi.

Kita bisa membaca bagaimana potret cita-cita siswa SD di kota besar seperti Jakarta. Apa pula faktor yang paling mempengaruhi cita-cita mereka itu? Apa saja tantangan dari lingkungan dan sekolah? Apa potensi yang bisa dilakukan guru dan sekolah dalam rangka mendukung cita-cita mereka? Kalau kita mampu membuat penelitian ilmiah tentang cita-cita siswa di Jabodetabek, lalu membandingkannya pula dengan siswa di luar Jabodetabek, ini bisa jadi bahan pelajaran yang menarik untuk dikaji. Data yang sangat mahal dan bisa diolah sebagai bahan pengambilan kebijakan sekolah, agar tepat dalam memupuk mimpi/ cita-cita siswa.

Testimoni sebelum aku selesai #KelasInspirasi

Permintaan paling sering didengar saat berpisah di #KelasInspirasi

Guru Honorer “Abadi”

Isu lain yang perlu dibahas adalah bagaimana sebenarnya mekanisme pengangkatan guru honorer. Ini perlu penanganan khusus. Di Petojo Selatan, ada guru honorer sudah 31 tahun. Mungkin ini perlu perhatian khusus dari pejabat terkait. Mekanisme pengangkatan guru honorer harus dibuat dengan sistem meritokrasi yang fair.

Kalau kita mau belajar pada Finlandia tentang guru, pasti kita akan terbelalak. Di Finlandia, secara sosiologis, guru termasuk profesi yang berada pada strata sosial masyarakat di level atas. Peran mereka begitu penting. Untuk menjadi guru, seseorang harus menjadi siswa berprestasi (10 besar) di pendidikannya. Hanya orang-orang terpilih yang bisa jadi guru. Bukan sembarang orang. Menurut mereka guru begitu penting karena di tangan mereka akan lahir para profesional di beragam bidang dengan kualitas mumpuni. Bukan kualitas abal-abal.

Kalau di Indonesia, agaknya guru masih belum dijadikan profesi dengan posisi di strata teratas. Belum pula dianggap pekerjaan mulia. Tidak semua orang berlomba-lomba jadi guru. Prestise sebagai guru belum dianggap menjual, belum dianggap sebagai sesuatu yang bisa menjamin kenyamanan masa depan. Guru di Indonesia masih dianggap sebelah mata. Proses pengembangan kapasitas dan kemampuan guru juga kurang optimal dilakukan. Guru seolah terjebak, teralienasi dengan aktivitasnya yang super sibuk sehingga kurang punya waktu “me time” untuk memperhebat dirinya.

Company Visit

Mungkin ini adalah usulan agak gila lainnya. Tapi murah-meriah, namun kaya makna. Dari wawancara dengan pihak SD Petojo Selatan, hampir tiap tahun mereka melakukan nginap di puncak, atau tamasya ke tempat lain yang memakan biaya cukup besar. Nah, Aku mengusulkan, agar proses jalan-jalan tamasya itu bisa diganti sebenarnya dengan melakukan company visit ke berbagai kantor yang dianggap bisa menimbulkan inspirasi bagi mereka. Satu hari, bisa kunjungi beberapa jenis kantor. Misalnya, mengunjungi stasiun tv, mengunjungi kantor-kantor mewah di pusat kota (Sudirman, Thamrin dan Kuningan), atau ke profesi yang unik seperti pemadam kebakaran, polisi lalu lintas, pembaca berita, dan lain-lain.

Menurutku, memberikan sensasi yang bisa menyentuh mereka langsung, dan bisa dilihat langsung, bisa jadi lebih membekas di dalam memori mereka yang terdalam. Seeing is believing!

Biaya yang dibutuhkan untuk berkunjung ke perusahaan mungkin tak butuh biaya menginap. Mungkin hanya butuh biaya transportasi saja. Ini jauh lebih murah. Sehingga siswa dan sekolah tak terbebani. Ini sejenis liburan gratis, tapi meaningful.

Aku pernah mengajak seorang anak TKW di kost untuk berkunjung ke kantorku dan nonton acara Dahsyat. Ternyata ia terkagum-kagum melihat ruangan mewah, furnitur lux, dan suasana kerja yang adem, tenang, dan wangi. Bisa cek cerita lengkapnya klik di sini: Rahmat & Dahsyat.

Dari sana ia bertekad untuk rajin belajar agar bisa bekerja di tempat yang enak. Kadang, inspirasi juga bisa datang dari tekad anak yang ia lihat dari hal sekitarnya. Nah, usahakan memberikan sensasi yang luar biasa kepada anak agar ia termotivasi dalam belajar.

Lakukan Sekarang, Kapanpun, Dimanapun

Di tengah kesibukanku kerja, aku merelakan cuti tahunan dipotong untuk mengambil peluang berkreativitas di #KelasInspirasi. Rugikah aku? Tidak. Justru merasa beruntung. Rasa senang mengajar dan berbagi itu tak bisa dibeli dengan uang. Bukan hanya siswa yang terinspirasi, tapi malahan kami para pengajar yang turut terinspirasi. Istriku yang sedang hamil 3 bulan, memaksa untuk ikut di #KelasInspirasi sebagai co-partnerku. Ia banyak memberi masukan. Termasuk untuk memberi judul tulisanku kali ini. Aku ingin, kelak ketika bayi kami sudah beranjak dewasa, ia punya kepedulian sosial yang tinggi, punya ruang di hatinya untuk berbagi, melayani, dan membantu orang lain. Aku yakin akan hal itu, karena kami telah melatihnya sejak panjang badannya hanya 6,7 cm di kandungan Mamandanya.

Sesi Refleksi dan Evaluasi #KelasInspirasi bersama Anies Baswedan

Istriku & Istri Anies Baswedan

Menurutku, untuk mencari inspirasi baru, menemukan kearifan dalam diri, seorang profesional muda tak harus liburan ke Eropa, keliling dunia. Cukup “turun gunung” dari lapangan pekerjaan sehari-hari, lihat kehidupan nyata di SD-SD, atau kantong-kantong kehidupan yang nyata seperti di stasiun kereta, terminal, pinggiran rel kereta. Di sana, kita akan dapat pelajaran hidup dan kearifan anak manusia. Tak percaya? Silahkan coba! Ciptakan #KelasInspirasi versimu!

Kurangi bicara, banyak berkarya

Salam Inspirasi,

Adlil Umarat (follow me: @pukul5pagi)

“Biasakanlah yang benar, jangan benarkan kebiasaan”

Klik Cerita Sebelumnya Part 2: http://bit.ly/IIG2y1

(Link cerita seru lainnya: Petualangan Sosial)
(Religi)

10 responses to this post.

  1. inspiring…
    cendolnya banyak banget !!!

    Reply

  2. sukaaaaa…. kapan ada kelas inspirasi lagi kak?

    Reply

  3. Keren mas adlil…

    Reply

  4. Posted by theo on February 12, 2013 at 2:07 PM

    great works. sukses terus mas baut murid2nya😀

    Pest Control

    Reply

  5. Posted by Taufik Hidayat on January 13, 2015 at 5:45 AM

    Sangat menginspirasi….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: