Menjemput Jodoh Part 7 (Lamaran & Seserahan)

Bagaimana proses lamaranku bersama orangtua yang hanya berselang 2 hari jelang akad nikah? Apakah kami pakai adat Jawa saat lamaran? Apa pula cerita di balik sederhananya seserahanku? Apa kesibukanku bersama keluarga sehari jelang akad dan resepsi? Episode ini akan kita kupas tuntas.

Setelah rumah kontrakanku diterjang “Badai Katrina”, keadaan cukup memusingkan. Tinggal belasan hari jelang nikah. Aku hidup tunggang-langgang. Masih numpang di kos bu Bisono. Untung aku bertemu beliau dan baik hati menyediakan tempat penampungan.

Tak terasa, 3 hari jelang nikah. Papa-mama sudah datang dari Riau. Karena aku ada di kos dan persiapan nikah banyak yang belum beres, akhirnya papa mama menginap di kosku saja. Jujur, papa-mama belum begitu tahu apa saja yang musti disiapkan untuk seserahan dan lainnya. Jangankan itu. Calon menantunya saja mereka belum pernah lihat yang seperti apa bentuk-rupa-wujudnya. Jadi, kami perlu konsolidasi lebih erat agar persiapan matang. Kalau Papa-mama tinggal di hotel, tentu ribet urusannya. Koordinasi terbatas.

Untung orangtuaku tipe yang easygoing. Mereka tidak banyak menuntut ini-itu. Aku bertiga dengan orangtua sebenarnya masih terkaget-kaget, bisa menikah dalam waktu singkat dengan jodoh yang tak disangka-sangka. Dan rumah jodohku jauh pula. Dari ujung ke ujung, dari Barat (Riau/ Sumatera Barat) ke Timur (Jawa Timur). Ini seperti ungkapan when west meets east.

Aku kerja seperti biasa. Ketika jam kerja, Papa-mama biasanya jalan-jalan. Aku dibelikan baju baru, celana baru, dan barang-barang serba baru. Saat itu aku tak bisa mikir sebenarnya. Sudah sangat mepet, dan kondisi juga sedang cari rumah kontrakan baru untuk ditempati. Kan ga lucu, setelah menikah, lalu istrinya diajak ke kos yang sempit?

Malam hari, aku, papa, mama saling ngobrol. Kami tukar pikiran. Papa-mama nanya soal bagaimana karakter Andin dan keluarganya. Mereka belum pernah bertemu juga soalnya. Aku ceritakan sebisaku. Karena aku juga terbatas pengetahuan dan interaksi dengan keluarga Andin. Tapi, ditilik dari latar belakang orangtuanya, keluarga kami tidak jauh beda visi-misinya. Menurutku tidak akan jadi masalah untuk ke depannya. Akan mudah menyatukan karakter kami berdua. Itu keyakinanku.

Ini bisa jadi pegangan bagi Anda yang masih bingung, bagaimana menentukan apakah keluarga kedua calon mempelai cocok atau tidak. Bisa dilihat dari bagaimana cara mereka mendidik, visi mereka dalam menyekolahkan anaknya, etos kerja keluarga masing-masing. Semua hal detil bisa jadi pertimbangan. Kalau hampir mirip, bisa dipastikan adaptasi kedua keluarga bisa cepat.

Kembali ke ceritaku. Enaknya papa-mama menginap di kos, kami bisa tidur dempet-dempetan. Sesuatu yang jarang aku rasakan. Maklum, lebih dari 15 tahun aku merantau ke pulau Jawa, pisah dari orangtua. Paling ketemu pas lebaran.

Dipeluk mama saat tidur itu, rasanya nikmat. Rindu terpendam sekian tahun, bisa lenyap dalam sekejap.

Oia, aku hampir lupa. Ketika papa-mamaku datang ke Jakarta, aku sedang bertugas di sebuah pernikahan sepupu temanku, Jefri Abdullah. Ia memintaku mengaji di akad nikah sepupunya. Aku menyanggupi meski waktu persiapan nikahku sudah tinggal mepet. Minimal, dalam hitung-hitunganku, ini sejenis gladi resik jelang aku nikah. Melihat proses menikah orang lain sebelum nikah aku rasa penting, agar tidak nervous saat giliran kita menikah. Aku terbiasa jadi qori di acara nikahan. Jadi, kalau dihitung-hitung, sudah belasan kali aku menjalaninya. Melihat sang pengantin mengucap janji suci dari jarak yang sangat dekat. Kadang, rasa grogi mereka tertular padaku. Aku seolah merasakan bagaimana tegangnya menjadi pengantin.

“Latihan Nikah”

“Belajar” Akad Nikah

Nah, di nikahan sepupu Jefri, aku berlatih untuk terakhir kalinya jelang hari-H. Aku nikmati setiap rangkaian prosesnya. Mulai dari iseng memotret kalimat saat ijab qabul, memotret ruangan akad, semua begitu aku nikmati. Aku larut dalam sindrom “segera menikah”. Pesan penting buat Anda yang ingin menikah: coba hadiri acara pernikahan teman, dari awal ampe akhir. Ini pengalaman yang sangat bagus untuk memantapkan hati, menghilangkan grogi, melegakan kegalauan-kegalauan.

Teks Anak Perempuan Minta Maaf & Izin Orangtua

Teks Jawaban Orangtua pada Anak

Di sini saya lampirkan juga contoh ucapan “anak minta maaf dan izin ke orangtua” dan “ijab-qabul” Semoga Anda bisa belajar dan tak terbata-bata saat menghadapi pernikahan Anda sendiri. Selamat berlatih ya!

Teks Ijab dibacakan wali nikah

Teks Qabul (Jawaban Pria)

Terbang ke Surabaya

Akhirnya hari yang dinanti-nanti tiba. Aku, papa, mama, berangkat ke Surabaya. Semua barang sudah dicek. Kami tak harus bawa seserahan dari Jakarta. Andin dan keluarganya sangat-sangat amat membantu. Mereka menawarkan seserahan sudah dibungkuskan di Gresik. Aku dan keluarga tinggal menitipkan uang saja untuk menggantinya. Alhamdulillah. Andin mengerti betul posisiku yang sedang terjepit. Tak jelas nasib karena rumah roboh. Untung keluarganya sangat praktis dan modern. Kami pakai prinsip “cincailah”.

Aku dan Mama @Bandara

Aku, papa, mama, naik Citilink ke Surabaya. Penerbangan pagi itu menurutku sangat bikin dag-dig-dug. Jadwal yang dirancang Andin dan keluarga sangat ketat. Ada 3 hari. Hari pertama, kami datang, lamaran. Hari kedua, gladi resik, silaturrahmi antar-keluarga. Hari ketiga, menikah. Simpel sekali.

Saking simpelnya, aku banyak khawatirnya. Apa semua hal sudah siap ya? Aku dan Andin saling kroscek terhadap hal detil yang sekiranya masih belum diurus. Aku mengobrol ringan dengan papa-mama, mengusir rasa gelisah, dag-dig-dug. Man, ini gw mau nikah man….gimana ga dag-dig-dug. Kilat pula prosesnya.

Perjalanan di pesawat 1 jam lebih beberapa menit. Ketika mendarat di Bandara Juanda Surabaya, aku sangat bersyukur. Sebentar lagi akan bertemu kekasih hati, calon istriku. Orangtuaku juga akan segera melhat calon menantunya untuk pertama kalinya. Mereka juga dag-dig-dug. Terlihat dari guratan wajah mereka.

Barang di bagasi sudah kami ambil. Karena nervous, aku sempat ke kamar mandi beberapa kali. Kami keluar dari pintu kedatangan. Aku lihat kiri-kanan, mencari Andin. Tak berapa lama, Andin muncul melambaikan tangan. Sudah lama tak bertemu Andin, aku kagok juga sih jadinya. Orangtuaku untuk pertama kalinya aku kenalkan secara langsung dengan Andin. Mereka terlihat senang. “Cantiknya,” komentar mama spontan. Andin tak sendirian. Ia membawa serta 2 adiknya yang juga cantik-cantik, Icut dan Ulin.

Selesai ngobrol-ngobrol sebentar dalam percakapan yang agak kikuk, aku dan Andin harus segera mengikuti kegiatan lain. Papa-mama, dan 2 adik Andin kami tinggalkan di restoran. Aku dan Andin menjalani sesi foto-foto untuk keperluan foto pre-wed kalau menurut istilah orang-orang. Awalnya kami tak berminat. Tapi, atas anjuran calon mertua, akhirnya kami bersedia. Tadinya aku kira hanya bawa 1 orang fotografer. Ternyata, tim fotografernya bawa lengkap, 4-5 orang. Maka, jadilah kami pasangan model yang sedang dimabuk asmara di bandara Juanda.

Tak hanya mengambil foto di bandara saja. Kami juga merambah ke taman kota Surabaya. Di sana, beberapa foto berhasil didapat. Aku mengganti baju jadi pakai batik. Andin juga berganti kostum. Sebenarnya energiku cukup terkuras. Terkuras bukan karena apa-apa. Semalam tak bisa tidur nyenyak. Dag-dig-dug jelang nikah itu bikin energi terkuras.

Kami juga mengambil sesi foto di Gresik, di sebuah taman kanak-kanak. Indah sekali.

You and me, we gonna make a big family

Papa-mamaku sudah duluan diantar ke penginapan oleh Icut. Di penginapan, sudah ada calon besan yang akan menyambut. Jadi, kami berpisah sejak di bandara.

Ternyata, jadi model itu ndak mudah. Kita dipaksa harus tetap senyum, meski badan capek dan pengen istirahat. Berkali-kali fotografer mengingatkanku agar senyum dengan ikhlas. Hmmm… gimana itu ya? Katanya senyummku dari awal foto sampai akhir, selalu sama. I just want to be me. Cuek aja.

Aduh. Aku tak tahu caranya senyum yang ikhlas itu. Aku bukan seorang model cover boy.

Selesai sesi foto-foto, aku pulang ke penginapan. Sebelumnya mampir dulu ke rumah Andin untuk menyapa papa-mama calon mertua. Semua orang di rumah itu terlihat jelas sedang senang. Aura senang begitu dominan. Termasuk diriku dan keluarga.

Saranku untuk teman-teman yang merencanakan menikah: sesi foto pre-wedding bukanlah suatu keharusan. Ini sama sekali tidak wajib. Jadi, kalau memang budget terbatas, elemen ini bisa dieliminir. Biaya foto biasanya cukup mahal. Jadi eman-eman juga kalau harus dipaksakan. Mending uangnya disimpan buat keperluan yang lebih penting. Lain cerita, kalau misalnya ada rezeki lebih, atau punya kenalan fotografer “gratisan”. Kalau itu mah, boleh-boleh aja dimanfaatkan. Ini hanya buat seru-seruan aja. Tidak lebih.

Seserahan

Seserahan itu kalau bahasa Indonesia-nya adalah hantaran. Sejenis hadiah dari mempelai pria ke wanita. Nah, kalau budaya Jawa, seserahan itu harus ganjil jumlah paketnya, berisi keperluan wanita dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Nah, kebayang kan bagaimana ribetnya kalau harus memenuhi semuanya satu-persatu? Untunglah keluarga Andin, calon istriku, tidak ribet. Meski seserahan punya definisi, tapi kami juga tak serta merta patuh pada definisi tersebut. Kami adalah orang merdeka menentukan sikap dan pilihan. Jumlah paket seserahan tak harus ganjil. Apa adanya. Kami ambil yang penting-penting saja. Kami tak mau jadi orang yang terkungkung oleh budaya yang tak wajib diikuti dan dilaksanakan. Kami punya kuasa atas penciptaan budaya kami sendiri. Budaya simpel!

Kebanyakan orang yang mau nikah merasa berat karena harus nurutin apa maunya budaya yang sudah jadi tradisi. Mereka seperti tak berdaya atas dirinya sendiri dan harus ikut sistem yang sudah baku di masyarakat. Dalam sebuah rapat kepanitiaan nikah di keluarga Andin, sempat “orang luar” mengusulkan agar pengantin pria dan tamu laki-laki menggunakan sarung, seperti budaya elit “Gresikan”. Bayangkan saja, kalau usulan atas nama “biasanya sih begitu” itu, dituruti oleh keluarga Andin, tentu bisa berabe. Selain biaya meningkat, ketidakpraktisan juga pasti menyelimuti kami. Di moment itu, seolah kita harus manut dengan budaya yang sudah ada.

Padahal, kita sejatinya adalah orang yang merdeka. Bebas menentukan pilihan. Jangan sampai karena tak bisa beli seserahan, cincin nikah, atau syarat-syarat aneh yang bukan bagian dari rukun nikah, kita malah jadi tertawan sendiri. Tertawan oleh kepandiran kita sendiri. Maka dari itu, kita harus punya sikap. Sikap untuk berkuasa atas pilihan kita sendiri! Aku dan Andin sudah mengambil sikap: be simple!

Seserahan: Kalau bisa, simple dan tidak memberatkan

Lamaran

Setelah istirahat beberapa jam, setelah Isya, aku, mama, papa, segera meluncur ke rumah Andin. Kami naik mobil yang disediakan oleh keluarga Andin. Mobil itu standby ada di penginapan kami selama berada di Gresik.

Sebelum Lamaran: Dapat Support

Proses lamaran pun segera kami mulai. Sejujurnya Papa memang belum terlalu mengerti bagaimana proses unggah-ungguh, tata krama melamar versi Jawa. Maklum, kalau di Minangkabau, yang melamarkan adalah mamak (paman). Papaku juga tak mengerti adat lamaran orang Jawa seperti apa. Jadi ia bertanya-tanya dulu ke temannya yang suku Jawa. Apa saja yang perlu disampaikan saat lamaran. Aku juga nelpon Andin, bagaimana proses detil nanti saat lamaran. Alhamdulillah dapat bayangan. Aku kasih tahu ke papa, dan papa masih tetap saja belum dapat gambarannya. Aku minta papa siapin speech saja yang menyatakan ingin melamar Andin. Aku minta papa cerita apa adanya, apa yang dirasakan, apa yang dialami dalam proses kilat menuju pernikahan kami. Papa-mama kan tinggal tahu beres saja. Mereka sedang ada di Mekkah (haji) saat proses nekat memutuskan untuk nikah itu aku tetapkan.

Seserahan Simbolik

Nah, ini dia sumber yang bikin grogi jelang lamaran. Ini pertemuan pertama antar keluarga kami, dan langsung melamar. Kalau tidak cocok, bagaimana? Banyak pertanyaan muncul dalam pikiranku. Semua hal terngiang-ngiang dalam pikiran. Ditambah aku bertemu seluruh keluarga besarnya Andin yang jumlahnya puluhan. Jujur, agak merasa kaget dan sulit menghapal nama mereka satu persatu dalam waktu singkat. Sementara aku dan keluarga hanya 3 orang saja. Tapi tetap harus PD.

Jujur saja, kalau harus dibandingkan dengan akad nikah, maka proses lamaranku lebih membuatku cekat-cekot jantung. Pertaruhannya besar sekali. Aku belum ketemu dengan seluruh keluarga Andin. Ini pertemuan pertama. Tapi harus bisa memutuskan, diterima atau tidak lamarannya. Bagaimana jika terjadi sesuatu di luar kehendakku? Bagaimana jika keluarganya tak bisa menerima aku dan keluarga? Ah, semua itu bikin dag-dig-dug. Sensasi dag-dig-dug saat lamaran, sumpah, itu paling parah seumur hidup. Aku terbiasa ikut lomba MTQ tingkat propinsi. Groginya tak segini. Biasa aja. Padahal jumlah penontonnya jauh lebih banyak. Mungkin di sini letak istimewanya menikah. Bikin dag-dig-dug, tapi seru. Enjoy the feeling.

Kata pengantar pertama disampaikan oleh Pak De Sis. Ia adalah kakak tertua dari mama Andin. Beliau memperkenalkan keluarga Andin dan menyebutkan satu persatu sanak family yang hadir dan tidak hadir. Sekaligus ia memberi kata pembuka acara lamaran ini.

Berikutnya, kata sambutan datang dari papaku selaku perwakilan rombongan tamu yang akan melamar Andin. Papa cerita cukup panjang lebar tentang keluargaku, dimulai dari arti filosofis nama lengkapku, proses kilat yang mereka tak sangka-sangka saat di tanah suci, serta harapan ke depannya terhadap pasangan Andin-Adlil. Terakhir, papa mewakili diriku, mengajukan lamaran terhadap Andin. Sempat takjub juga papaku ngomong panjang lebar. Tak menyangka, ia punya bakat untuk jadi orator. Tanpa grogi, runut, dan tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Memang agak panjang, tapi tetap mantap bisa dinikmati. Terstruktur dan jelas.

3C (Trio Cantik): Andin diapit 2 Adiknya

Lalu, berikutnya ada balasan dari Papa Andin dalam menjawab lamaran dari pihak keluargaku. Setelah cerita panjang lebar, akhirnya Papa Andin mengatakan, menerima dengan senang hati lamaran dari pihak keluargaku.

Suasana memang terasa agak tegang. Namun menjadi berkurang ketegangannya karena acara dipandu oleh Tante Yuni, tantenya Andin yang jago cuap-cuap dan nge-joke. Jadinya rasa rileks bisa sedikit merasuk dalam diri, di balik ketegangan yang luar biasa.

Silaturrahim Antar-mama

Setelah acara lamaran selesai, semua orang sudah lega, kami lalu dijamu makan oleh keluarga Andin. Senang bukan main. Aku beramah tamah, kenalan satu-persatu dengan keluarga Andin. Andin menuntunku menemui pakde, bu de, om, tante, dan sepupu-sepupunya.

Makan Malam

Selesai pulang acara lamaran, hati lega. Alhamdulillah lamaranku diterima! Malam itu, bisa tidur dengan nyenyak.

Ha Minus One (H-1)

Keesokan harinya kami istirahat. Jumat terasa lebih singkat karena dipotong oleh shalat Jumat. Keluarga kami sempat makan siang bersama di rumah makan Pak Elan. Rumah makannya menjual Khas bandeng. Ada minuman legen. Air nira dari pohon nira (siwalan), yang ditaruh di wadah bambu. Unik sekali. Di Sumatera juga ada minuman serupa, tapi namanya tetap air nira.

Keluarga kami sejujurnya masih agak kagok ketika bertemu. Maklum, masih sekali ketemu. Tapi lama-lama juga cair.

Sepulang dari makan bersama, kami berpisah. Aku dan keluarga yang saat itu sudah hadir juga Uul dan Ika (adekku), jalan ke Surabaya dengan mobil dan supir yang disediakan oleh keluarga Andin.

Kami ke makam Sunan Ampel. Sempat sholat Ashar di sana, lalu akhirnya beli sandal untukku. Maklum, aku hanya bawa sandal jepit, dan itu langsung dimarahin papaku. “Kenapa cuma bawa sendal jepit ketika menikah?” katanya.

Sebenarnya aku ini tipe orang yang sangat apa adanya. Sandal jepit buatku bukan berarti tak menghormati tuan rumah dengan memakainya. Tapi aku ingin tampil apa adanya seperti bagaimana aku hidup sehari-hari. Aku tak ingin membagus-baguskan diriku di depan orang lain. Unsur pakaian menurutku termasuk faktor menentukan kejujuran seseorang dalam berpenampilan. Memang, pasti akan didebat banyak orang bahwa “ini kan hari spesial?” dan sebagainya. Pergulatan seperti itu bisa saja terjadi jelang hari H nikah. Aku pilih mengalah terhadap pandangan papa. Kami mampir di mall, membeli sandal yang agak bagusan.

Belum cukup sampai di sana. Ketika akan pulang ke Gresik, aku diseret juga oleh papa untuk membersihkan karang gigi. “Karang gigi udah dibersihkan?” “Belum,” jawabku polos. Ga pernah sempat memikirkan sampai ke sana. Persiapan nikah itu kalau tak dibuat check list, bisa terlupa begitu saja. Ini pelajaran pentingnya: buat check list persiapan nikah sedetail mungkin. Terpaksalah kami cari dokter gigi di Surabaya dan langsung antri, dan langsung eksekusi. Aku cuma bisa senyum-senyum mengingat kejadian itu. Aku rasa papa benar. Kebersihan mulut dan karang gigi juga penting menyambut pernikahan. Kelak, kau akan mengetahuinya jika sudah menikah. Hehehehe.

Ketika kami akan pulang ke hotel, hujan turun deras sekali. Jalanan banjir. Petir menggelegar sana-sini tanpa henti. Andin menelponku, menanyakan posisiku dimana. Maklum, calon penganten, dilarang pergi jauh biasanya. Sebelum istirahat, kami makan di warung padang. Ternyata, banyak juga warung makan Padang di Gresik. Karena Semen Gresik dan Semen Padang itu satu grup, konon kabarnya banyak orang Padang yang kerja di Semen Gresik juga. Entah itu mutasi, atau promosi, pokoknya banyaklah. Begitu cerita pemilik waung Padang pada kami.

Aku jadi yakin, bahwa pernikahan Andin dan diriku tak sekadar pernikahan antara orang Jawa dan Padang, tapi juga pernikahan yang mengkolaborasikan motto Semen Gresik dan Semen Padang: “Kokoh tak tertandingi” & “Kami Telah Berbuat Sebelum yang Lain Memikirkan”. Aku harap, hubunganku dengan Andin sekokoh motto Semen Gresik dan se-visioner motto Semen Padang. #Eeeaaaaa.

Anggota keluargaku belumlah lengkap. Aku, papa, mama, dan kedua adikku Uul & Ika sudah hadir. Rima dan keluarganya tidak bisa hadir karena masih punya bayi (Khayla) yang lagi lasak-lasaknya. Sementara Bang Ilham, belum bisa hadir karena terjebak kemacetan di jalan Kandis-Pekanbaru. Konon ada kecelakaan dan evakuasi lama dan sulit. Kalau tak salah, bang Ilham terpaksa harus naik ojek menuju bandara di Pekanbaru. Ia sudah terjebak macet 8 jam lebih. Kami masih menunggu kehadirannya dengan harap-harap cemas. Kalau ia beruntung, ia bisa hadir tepat sebelum akad nikah dengan berangkat pakai pesawat pagi dari Jakarta. Posisi malam itu, ia sudah dapat pesawat dari Pekanbaru ke Jakarta. Tinggal nyari tiket Jakarta-Surabaya. Akhirnya dapat juga pakai Citilink dengan mencari online via hape android.

Setelah semua anggota keluarga tidur, aku masih tak bisa tidur. Ini hari terakhir jadi lajang. Jujur saja, gelisah. Akan seperti apakah acara sakral akad nikah besok? Jadi kepikiran. Akhirnya malam-malam aku cobain pake jas. Sembari bercermin, latihan salaman untuk akad (monolog). Apakah aku sudah lancar atau belum. Jangan sampai terbata-bata besok. Untuk mencapai kesuksesan, konon kata temanku, kita harus bayangkan kesuksesan yang hendak dicapai. Lebih mantap lagi, visualisasi itu juga dipraktekkan. Biar lebih mantap. Setelah berlatih, rasanya lega. Feelingku, besok akan lancar jaya.

Selanjutnya, aku pergi tidur. Besok pagi harus bangun jam 04.00.

Bagaimana cerita saat akad dan resepsiku? Siapa tamu istimewa yang mengejutkan datang ke pernikahanku dan Andin? Apa tiga “PR” yang harus aku rampungkan di saat hari bahagia? Nantikan di lanjutan “Menjemput Jodoh Part 8”. Dijamin seru!

SALAM CARI JODOH

ADLIL UMARAT

“Biasakanlah Yang Benar, Jangan Membenarkan Kebiasaan”

Follow me: @pukul5pagi
Beri komentar di: www.umarat.wordpress.com, berpeluang dpt hadiah (diundi)
Klik tulisan dgn isu menarik lainnya:
(Seputar Jodoh)

38 responses to this post.

  1. Posted by Budi on May 13, 2012 at 8:39 AM

    Muantapppsss… Inspiring sekali niy, buat jadi panduan menikah nanti.. hehehhehhee
    Ijin share yach, Mas..
    Btw makasih banyak kiriman materi otak kanannya kemarin..

    Reply

    • Sip Bud. Perbanyak nekat, tapi tetap in control. Selamat mempraktekkan.

      Reply

      • Posted by Budi on May 13, 2012 at 9:24 PM

        Oke, Mas.. Thanks a lot yach.. Btw aku pgn curhat dunks Mas ttg masalah pernikahan. Bingung niy, setahun terakhir aku dah 2 kali gagal melangsungkan pernikahan, meskipun memang aku sudah niat untuk menikah. Seharusnya menurut LOA (Law Of Attraction), niat/hasrat/impian yang sudah benar2 kita rasakan untuk bisa kita genggam itu akan bisa kita laksanakan. Tapi mengapa masih berakhir kegagalan juga? Aku takut rencanaku menikah 2 bulan lagi juga jadinya bisa gagal lagi. Kalo Mas Aad dah jodoh sama Mbak Andin, makanya prosesnya bisa begitu mudah bisa langsung ke pernikahan. Tapi akhir-akhir ini koq aku ngerasa banyak banget aral rintangannya yach? Selalu makin banyak aja tuntutan dari pihak keluarganya. Niy aku curhat sama Ibuku tentang masalahku ini. Rencananya besok kami (Aku dan Mama) mau bicara via telepon sama Ayahnya tentang komitmen pernikahan. Seandainya memang pihak mereka tidak bisa menerima kami apa adanya, meskipun cincin kawin dah diberikan, DP vendor dah dibayar, tapi kami sudah siap mundur (batal meminang) jika memang ternyata terlalu sulit dilaksanakan. Tapi tadi juga mama dah ngomong langsung sama calonku itu, kalo memang argumenku belum cukup kuat meyakinkan dia, berhubung orang tuanya sudah tidur tadi.

        Ibuku juga sangat sedih sebenarnya melihat kondisiku. Dari dulu niat tulus menikah tapi selalu saja ada halangannya. Berkali harus putus disaat sudah komitmen ingin menikah. Ibuku juga terus berdoa agar aku bisa cepat menemukan jodohku dan bisa dilancarkan. Sekarang cuma tinggal 2 bulan lagi menikah tapi koq halangannya semakin banyak aja (tuntutannya). Masa harus hattrick gagal nikah sebanyak 3x dalam setahun??

        Baik pengetahuan agama maupun materi, keluarganya jauh lebih baik dari keluargaku. Sejak awal aku juga sudah memberitahu kondisiku. Sebenarnya apalagi yang harus aku lakukan?? Mengapa orang lain sebegitu mudahnya menikaha sementara aku sulit banget??

        Mohon masukannya yach, Mas Aad. Terima kasih banget.

      • Bud. Mau chatting hr ini ga?

  2. wuaahh…seru banget ceritanya, ditunggu lanjutannya😀
    aku yang baca aja deg-deg an sendiri, gimana kak Aad sama Andin ya..kayak apa deg-deg an nya. film action kalah ini. wqwqwqwq
    jadi ngga kebayang gimana nanti kalau sudah mau nikahan. hehee
    bahagia terus yaa😀

    Reply

  3. Posted by b.oktavianto on May 19, 2012 at 9:33 AM

    saya tunggu cerita selanjutnya……

    Reply

  4. Posted by b.oktavianto on May 22, 2012 at 3:10 PM

    yg bisa aku ajak membangun kelg sakinah mawadzah warahmah
    baik didunia n akhirat amin

    Reply

  5. mantap, btw selamat menempuh hidup baru, dan mengisi lembaran hidup baru semoga selalu dipayungi dan dipenuhi kelimpahan berkah.

    Reply

  6. kereeeeeeeen….selamat ya….

    *inspiring me :)*

    Reply

  7. Posted by Ana Aulia on June 6, 2012 at 8:36 PM

    Mas aad.. Udh nikah yaa?? Selamat yaa.. Mo punya anak brp?? Cie..cie.. Gmn rasanya??

    Mo naya donk mas.. Itu ada teks pas pengantin perempuan minta izin sm org tuanya. Nah klo ortunya ga ada gmn?? Minta izin sm sapa yak??

    Reply

    • Iya, sudah nikah. Terima kasih ucapannya. Kalau orang tua ga ada, kamu bisa minta izin ke kakak kandung, atau wali nikahmu. Segera menyusul. Nikah enak lho..🙂

      Reply

      • Posted by b.oktavianto on June 8, 2012 at 8:35 AM

        kapan ya segera naik level seperti mas aad….hehehehehe
        kok lm ya dtgnya pendamping?

      • Naik level dalam hidup itu sangat seru. You never know until u try it. Ayo segera cari. Tak perlu terburu-buru. Ketika terlihat target sasaran, diamati, dipertimbangkan, segera action menghadap orangtuanya. Semudah itu! Selanjutnya rezeki akan datang melimpah dari Yang Maha Kuasa. Sudah dijanjikan.

      • Posted by b.oktavianto on June 8, 2012 at 1:44 PM

        ada email gak mas bro biar lbh private hehehehe……

      • Jika ada pertanyaan private, sila kontak ke: umarat.adlil@gmail.com

  8. Posted by b.oktavianto on June 9, 2012 at 8:15 AM

    sukron mas hehehehehe

    Reply

  9. ASSLM…..
    SAYA MAW TANYA TETNTANG KATA-KATA PERMINTAAN MAAF KEPADA ORG TUA MENJELANG PERNIKAHAAN, ATU PAS NY D SAAT PENGAJIANNNN..
    TQ

    Reply

    • Saya tidak bisa menuliskan kata2nya pada Anda. Saran saya, Lebih baik sampaikan permintaan maaf tulus dari hati. Meski tidak tertulis, tapi coba pikirkan segala kesalahan Anda dari kecil, dan minta maaf secara sepenuh jiwa. Kata-kata akan keluar sendiri kalau diniatkan dengan sepenuh hati. Yang penting ada unsur minta maaf, lalu minta izin dan restu ingin menikahi pasangan (sebutkan nama calon pasangan Anda) dan memulai hidup baru. Ridho orangtua setali dengan ridho Allah. Semoga cukup membantu ya jawabannya.

      Reply

  10. Posted by p415 on October 15, 2012 at 8:05 PM

    bermanfaat thanks….

    Reply

  11. Posted by Inneke on April 7, 2013 at 1:19 PM

    mana mas kelanjutan ceritanya?? gak sabaran pengen baca nieee…

    Reply

  12. Terdampar gara-gara umroh backpacking eh tahunya keterusan hingga menjemput jodoh part 7 ini🙂
    Semoga part 8 segera diposting🙂

    Reply

  13. Posted by Iswan Deni N on August 19, 2013 at 4:54 PM

    Mas, Part ke 8 nya mana???? Kentang nih.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: