(More) Pratices Make Perfect!

Apa yang membuat seseorang bisa sukses di bidang apapun yang ia tekuni?

Jawaban versi saya salah satunya adalah rajin berlatih.

Tapi tunggu dulu. Rajin berlatih pun tidak lah cukup. Tantang diri Anda berlatih lebih dari tantangan standar yang akan dihadapi. Barulah kesuksesan akan mampir dengan mudah.

Ini cerita pengalamanku saat SD dulu. Aku sekolah di SDN 003 Talang Mandi, Duri-Riau. Aku ingat, mulai suka main volley dan sepak takraw sejak kelas 3. Dulu tanganku rasanya kecil sekali. Rasanya tak mungkin bisa main volley. Butuh energi besar untuk bisa memukul bola volley. Main takraw juga tak pernah terlintas dalam benak. Tapi ternyata bisa dijalani, dan menjadi hobi. Sampai sekarang, aku masih mengingat bagaimana menjadi toser dan juga menguasai bola takraw dengan baik. Aku bahkan mengoleksi bola takraw plastik saat ini. Kalau sedang iseng, main sendirian di Senayan saat weekend.

Latihan Volley Pakai Bola Basket: “Sesuatu deh”

Guru olahraga kami namanya Pak Asril. Guru olahragaku ini adalah olahragawan sejati. Ia sering ikut perlombaan olahraga dari berbagai tingkat. Namun, kakinya mengalami masalah sehingga kurang bisa berjalan dan berlari dengan benar. Kalau tak salah, beliau cedera parah saat sebuah pertandingan.

Pak Asril guru yang visioner. Ia melihat bakat kami selaku kelas 3 yang bisa digarap untuk mencapai kesuksesan di bidang olahraga. Selalu ada event olahraga tahunan se kecamatan. Maka mulailah pak Asril melatih kami sejak kelas 3 sebagai kader pengganti kakak-kakak kelas kami yang secara heroik selalu menang lawan SD tetangga. Main apapun, ya volley ya takraw, ya atletik, ya sepakbola.

Kelas 3 SD aku ingat, selalu menonton pertandingan volley yang sangat seru antara SD 003 vs SD 005. Mereka selalu jadi “musuh” dalam bidang olahraga. Pemainnya rata-rata berbadan besar. Smashnya tajam dan kontrol tangan yang sangat sempurna. Tapi SD 003 saat itu aku ingat mampu memberikan perlawanan dalam pertandingan yang sangat sengit. Sering ada eksebisi dan SD 003 dan SD 005 saling mengalahkan. Menonton pertandingan mereka seru sekali, layaknya big match di Liga Inggris. Proses menonton pertandingan seru itu adalah pengalaman yang diberikan oleh Pak Asril kepada murid kelas 3 yang masih piyik piyik bau kencur.

Aku merasakan sendiri, dalam hati berujar, “Sepertinya keren sekali kalau bisa main volley, bertanding dengan SD lain, lalu menang. Rasanya bangga bukan main. Aku harus jadi anggota tim volley SD-ku suatu saat kelak,” begitu tekadku.

Aku dulu biasa melihat pertandingan volley dari atas tempat mainan anak-anak seperti atas permainan seluncuran, atau tempat gelantungan. Dari atas sana, nonton olahraga rasanya seru sekali. Tapi resikonya, sekali-kali terkena bola volley nyasar. Kalau tak hati-hati, kita bisa jatuh. Untunglah pernah kena bola, tapi tak pernah jatuh.

Berlatih Lebih Dari Rata-rata

Setelah memprovokasi kami untuk selalu menonton pertandingan maha penting antar SD, Pak Asril menyusun rencana dan meminta kami mulai berlatih rutin. Target utama kami ada di olahraga: volley dan takraw. Memang ada atletik dan sepakbola. Tapi keduanya terlalu menyita waktu untuk dilatih secara serius. Jadilah volley dan takraw jadi primadona.

Pertama tentang berlatih volley. Aku ingat, bola favoritku adalah bola volley merk Molten. Bolanya agak berat, padat, dan enak dipakai. Ada lagi bola lainnya, Mikasa. Sangat ringan, ukuran agak besar dari Molten, tapi keras. Jadi agak kurang suka pada waktu itu.

Saat kelas 4, kami sudah mulai menunjukkan gelagat jadi pemain yang disegani seantero Sebanga Duri. Apa yang diajarkan oleh Pak Asril kepada kami cukup ekstrim. Kami diminta untuk berlatih bola volley dengan bola basket merk Spalding yang agak dikempesin. Sakit sekali tangan kami awalnya. Tangan kami yang mungil sepertinya kaget bersentuhan secara keras dengan bola basket yang dijadikan bola volley. Tapi Pak Asril tetap memaksakan. Kami pun mengikutinya tanpa banyak tanya. Kalau ditanya alasannya, pak Asril menjawab, “Coba aja dulu seminggu”.

Jadwal “latihan gila” kami adalah setengah jam sebelum masuk kelas jam 07.00 pagi, ketika istirahat jam 9.30, lalu kalau ada waktu ya sesaat setelah pulang sekolah. Hal itu rutin kami lakukan. Setiap hari bahkan. Salah satu siswa biasanya mengambil bola dari gudang kantor guru. Biasanya ruangannya tak dikunci. Di sana ada beragam bola. Bola volley, takraw, basket. Biasanya ketiga bola itu dikeluarkan dari pagi.

Latihan bola volley pakai bola basket biasanya dilakukan campuran siswa-siswi. Kami membentuk dua barisan yang saling berhadapan, minimal 2 orang, maksimal bisa 10 orang. Lalu mulailah semua orang yang berjejer itu saling berlatih passing agar lancar. Kadang bolanya jatuh ke got dan berbau teramat sangat. Biasanya kami keringkan dulu, baru dipakai bermain lagi. Kalau lagi iseng, bola kotor itu sengaja dikenakan ke tangan atau bandan siswi dan mereka jerit-jerit terkena percikan bau got dari bola. Kadang dilanjutkan dengan kejar-kejaran ala India karena mereka (siswi) marah. Ya biasa, kenakalan anak SD suka usil.

Apa yang kami pelajari dari berlatih di atas rata-rata adalah kami berlatih volley yang bolanya ringan, dengan menggunakan bola basket yang berat. Jadi, tujuannya nanti, ketika benar-benar ada di pertandingan, kami sudah merasa ringan kalau harus memukul bola volley karena standar daya pukul kami adalah bola basket yang berat. Ini pelajaran pentingnya. Praktis, mungkin setahun sebelum perhelatan event berlangsung kami sudah berlatih rutin menggunakan bola basket.

Tak hanya latihan volley, kami juga berlaith main sepak takraw. Kali ini metode yang dipakai pun sama: berlatih melebihi rata-rata. Aku juga berlatih sepak takraw dengan bola dari rotan yang super keras. Bola yang paling tidak enak untuk ditendang, ditimang, dan disundul. Kadang sehabis berlatih, jidatku terasa bonyok ketika sujud shalat akibat berlatih keras dengan bola yang super keras. Teman-teman dari SD lain malah memilih berlatih takraw dengan bola rotan yang super ringan, dan sudah hampir hancur. Mereka lebih memilih latihan dengan mudah. Tidak ada tantangannya. Sementara aku dan tim, berlatih dengan giat, latihan sundul bola dengan ditemani dinding sekolah (ditik-tok antara kepala dan dinding, kebayang kan?).

Bola Takraw Ringan, Tak Sakit, Dipakai Banyak Orang Untuk Menghindari “Sakit”

Bola Takraw Dari Rotan, Padat, dan Bikin Sakit Kepala dan Kaki Saat Berlatih

Di sini proses perjuangan yang luar biasa. Namanya perjuangan selalu butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Kami mengorbankan sebagian besar jam istirahat kami, untuk berlatih volley dan takraw. Porsi latihannya pun dinaikkan tingkatannya, lebih keras, lebih menantang. Padahal, kalau melihat anak SD lainnya, mereka pas istirahat ya main, benar-benar memanfaatkan waktu untuk rileks. Namun, kami mengisi jam istirahat dengan berlatih volley plus takraw. Apakah aku dan teman SD-ku sudah tahu manfaat berlatihnya? Saat itu belum terasa dan belum tahu juga. Kami hanya patuh menjalani porsi latihan yang ditetapkan guru olahraga. Kami enjoy sekali menikmati latihan demi latihan. Dibawa senang aja. Kadang, untuk mengisi kebosanan, sebelum latihan kami makan bakwan kesukaan di kantin sebelah.

Bola Standar Internasional untuk Pertandingan

Di sini ada pelajaran penting. Di saat dirimu berlatih keras di atas rata-rata usaha normal orang pada umumnya, biasanya banyak godaan. Kalau mau tetap sukses, harus tahan dengan godaan. Jangan bandingkan diri kita dengan orang awam yang hanya punya target biasa-biasa saja dalam hidup. Kita beda! Maka, ketika orang dari SD lain menganggap kami “aneh” dengan rajin latihan volley dan takraw secara ekstrim, kami abaikan mereka. Mereka lewat! Kadang bukan tak jarang kita dicibir, diolok-olok, atau bahkan diremehkan dengan melakukan berlatih keras di atas rata-rata standar orang awam. Biarkan saja anjing menggonggong. Kafilah tetap berlalu!

Event Tahunan Bikin Bangga

Tanpa terasa, saat kami sudah duduk di kelas 5, musim pertandingan tahunan pun dimulai. Event yang ditunggu-tunggu oleh setiap angkatan di SD di komplek kami di Sebanga. Rasanya seperti event bergengsi tingkat tinggi. Di sepakbola kami kalah. Atletik pun begitu. Namun sekarang moment untuk berjuang di takraw dan volley yang sudah kami latih lebih dari setahun lamanya.

Setelah melalui perjuangan keras, tim takraw kami berhasil maju ke babak final. Di final kami menghadapi tim dari SD yang pemainnya lebih jago, lebih keren, lebih kuli, dan berteknik tinggi. Rasanya mereka sudah seperti anak SMP saja. Meski dalam permainan kami tak kalah kelas, namun Dewi Fortuna belum berpihak ke kami saat itu.

Tapi secara umum aku cukup puas. Setelah berlatih menggunakan bola takraw dari rotan super keras, saat pertandingan, kami benar-benar enjoy. Sakit di bagian kepala? Sudah biasa. Jidat lecet? Sudah biasa. Saat pertandingan, kami benar-benar larut dan menikmati betul. Sebagai tekong, aku mengalirkan bola untuk di smash. Willy Tazu yang berbadan kecil tapi lincah, bertugas sebagai tukang smash. Rekanku satu lagi kalau tak salah Riki Hendra. Ia pemain kidal seingatku.

Untuk volley, kami mendapatkan undian yang cukup ringan. Meski badan tim kami tak terlalu besar seperti SD lainnya, tapi kami cukup tangguh dalam mengontrol bola. Hanya Dadang yang bisa nyemesh bola melewati net, karena temanku ini tinggi dan berbadan tegap. Yang lainnya ya tergolong krucil-krucil tapi tangguh dalam bertahan dan penguasaan bola.

Pemain kami yang aku ingat diantaranya: Willy Tazu, Riki Hendra, Dadang, Jerry, Adlil Umarat, dan beberapa teman yang masih samar-samar dalam benakku. Mungkin kalau ada reuni bersama ke SDN 003 Sebanga Duri, bakal seru nih.

Anak perempuan SD kami memberi support yang luar biasa. Veramawita, Titin 1 dan Titin 2, Wenny, Karina, Delani, dan lainnya (aku lupa). Mereka berteriak seperti cheerleaders sejati. Kami yang di lapangan merasa sangat terbantu. Supply energi yang lain daripada biasanya. Biasanya kan kami sering ejek-ejekan khas anak SD lah. Sok-sok berantem gitu lho…

Kemenangan demi kemenangan kami raih. Pelan tapi pasti, kami akhirnya menatap tiga besar. Tanpa terasa, babak yang paling menentukan sudah menanti kami. Mental harus siap. Kami menghadapi sebuah SD yang pemainnya berbadan besar, tenaga kuli (kuat-kuat), skill bermain mumpuni dan tampangnya tua-tua. Serem dah pokoknya waktu itu. Rasanya kami melawan anak SMP.

Seingatku pertandingan kali itu seru sekali. Kami main rubber set. Pertandingan di set terakhir sangat menguras energi. Terlebih kondisi lapangan becek sehabis hujan. Bola licin. Perlu ketelatenan dan skill tinggi menguasai bola licin dan bisa mengarahkannya dengan benar ke area lawan. Kalau hujan, jika tangan terkena bola, terasa lebih sakit dari biasanya. Tapi karena ini pertandingan penghabisan, maka kami tampil all-out. Ditambah lagi saat break, Pak Asril sempat menawarkan akan memberi kami hadiah uang. Ia memprovokasi kami dengan mengeluarkan lembaran uang bergambar pak Harto yang ia kibas-kibaskan layaknya toke beras di pasar, “Ayo, menang ditraktir,” katanya. Sungguh menegangkan dan selalu manis untuk dikenang.

Kemenangan kami pun diraih dengan perjuangan yang tak mudah. Kami menang mental. Pemain lawan banyak melakukan kesalahan sendiri. Mungkin karena kondisi hujan dan bola licin, mereka kurang bisa menguasai bola. Kami sudah terbiasa menghadapi bola licin. Saat berlatih dulu, bola kami sering masuk got, bau, maka secara tak sadar, di sanalah kami latihan menghadapi bola licin. Ternyata belajar itu baru ketahuan manfaatnya saat kita sudah selesai belajar dan sedang mempraktekkan ilmunya di lapangan sebenarnya. Maka, jangan banyak mengeluh saat engkau belajar. Ada hikmah di balik itu semua.

Seusai menang, kami bersorak gembira, berpelukan. Hampir semuanya menyeburkan diri ke lapangan yang becek. Saking teramat senangnya, kami lupa dengan kibasan uang pak Asril (guru olahraga kami tadi) yang di saat rubber set sempat memotivasi kami dengan cara nyeleneh. Maka semuanya pun mencari pak Asril, menagih janji uang yang ditawarkan. Dengar-dengar mau ditraktir. Tapi ternyata pak Asril sudah menghilang entah kemana. Tak apa. Kami tetap merasa senang. Perjuangan belajar bola volley dengan menggunakan bola basket, baru dirasakan benar manfaatnya di saat pertandingan final. Di saat hujan baru saja mengguyur lapangan, dan bola berat, licin. Dan kami sudah terbiasa menghadapi bola berat dan licin.

Pesan yang bisa diseruput dari pengalaman di atas adalah adalah jika ingin sukses di satu bidang tertentu, rajinlah berlatih. Kalau perlu latihan melebihi rata-rata yang dilakukan orang lain agar ketika menghadapi tantangan yang ada, tantangan itu akan terasa sangat ringan, bahkan kelewat ringan. Aku dan rekan SDN 003 Sebanga-Duri-Riau telah merasakan nikmatnya berlatih volley dengan bola basket meski awalnya merasa berat. Hasilnya? Saat memukul bola volley di pertandingan yang sangat tegang dan menentukan, rasanya enteng sekali. Juara 3 volley se-kecamatan pun di tangan.

Sekarang, silahkan anda hubungkan dalam konteks kehidupan nyata yang Anda hadapi. Apapun status dan profesi Anda saat ini (pekerja, pengusaha, pelajar, mahasiswa, dosen, guru, dll), Anda bisa memakai formula menggapai sukses seperti yang saya ceritakan di atas. Jangan lihat pada level apa suksesnya. Tapi ambil saripati pelajarannya. Mana bola basket (bahan uji latih), dan mana bola volley (uji tanding sebenarnya) yang akan Anda hadapi? Mana bola takraw rotan yang super sakit (uji latih), dan mana yang jadi bola plastik ringan (uji tanding)? Semua pilihan Anda yang menentukan.

Jika Anda selalu memposisikan diri berlatih melebihi tantangan yang akan Anda hadapi, maka kesuksesan akan segera dan sangat mudah menghampiri Anda. Selamat berlatih! (More) practices make perfect!

Sebelum memposting tulisan ini, istriku mereview dan memberi komentar. Sejak kami menikah, ia adalah editor dari tiap tulisan yang aku posting di blog ini. Katanya setelah baca tulisan ini intinya aku pengen bilang gini: “give more than you get to get more!”. Thanks dear…You always live my life. Ketjup batsah khusus hanya untuk-mu.🙂

Sukses = Berlatih Lebih Dari Rata-rata

Follow me: @pukul5pagi

Sila mampir di tulisan menarik lainnya:

(Seputar Jodoh)
(Religi)
(Petualangan Sosial)

12 responses to this post.

  1. pantesannn gw ga sukses2, ga rajin berlatih sih!😀
    iya, kuncinya (ini kata mantan manager gw dulu), persistency..

    Reply

  2. dulu sekali, sewaktu saya masih kelas 5 SD sayapun sempat merasakan kerasnya bola Rotan itu, tp sayang saya hanya sekitar setahun belajar takraw, karena terpaksa ikut hijrah ortu ke kota lain.

    baca tulisan ini saya tiba-tiba ingat salah satu kalimat agnes monica “Jika kita mau sukses maka kita harus berusaha 10 kali lebih keras dari orang kebanyakan”
    atau kata-kata bijak lainnya “keraslah terhadap dirimu, maka dunia akan lunak terhadapmu”

    Reply

  3. bermanfaat bung ad.. trims sdh sharing cerita masa kecil

    Reply

  4. Posted by M Nur on May 26, 2012 at 8:19 PM

    kisah umrohnya kapan di lanjut bang ? aku dah g sabar

    Reply

  5. Kalo kata suamiku, “bisa karena biasa, bu…” hihihi, ini kata2 yang gw inget pas gw nyobain masak apaaa gitu. Secara gw nggak pernah masak. Ampun dah, Mona gituuu, disuruh masak. Hands up. Tapi mau nggak mau, kan yang namanya suami ya kudu dimasakin. Hehehe, akhirnya gw belajar degh. Masakan pertama, lumayan (nggak lumanyun yeah…), masakan kedua, lebih meningkat (alhamdulillah)… Makanya bener, banyak latihan, makin bisa…

    Nah, ini sih yang kedua Ad, emak gw itu galak banget kalo udah urusan yang namanya matematika. aseli, nggak ada ampun degh. dulu, matematika itu gw harus latihan tiap hari tiap malam. duduk di meja belajar, ngadep papan tulis. udah kaya guru sama murid aja degh itu ruangan. maklum, gw nggak cerdas, jadi emak gw kudu nyambuk anaknya yang satu ini. tapi Ad, alhamdulillah, Ad… gw lulus dengan nilai matematika yang sangat memuaskan. Bahkan sampe sekarang, itu rumus yang emak gw ajarin, masih melekat di kepala. *hugs my mom

    Nah, makanya, berlatih dan berlatihlah terus… Setuju sama Aad…

    Reply

  6. Posted by dandy hullka on June 3, 2012 at 11:10 AM

    SD 003 melawan SD 001 Talang Mandi siapa yg menang Ad?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: