Start with a single step!

“A journey of a thousand miles begins with a single step”

(Lao-tzu, the way of Lao-tzu, Chinese philosopher (604 BC – 531 BC))

Kata bijak di atas berkesan mendalam buatku. Tiap orang yang punya mimpi, harus berani mewujudkan mimpinya. Jangan sampai mimpi hanya sekadar mimpi, tanpa action. Harus ada pergerakan, mulai dari langkah kecil. Jika kita punya mimpi besar, tanpa gerak dengan langkah kecil, niscaya langkah besar dan jauh itu takkan pernah kita gapai. Kalau nggak mulai-mulai, kapan mau sampai garis finis?

Kali ini aku akan ceritakan pengalaman pertama menulis di Koran dan bagaimana dampaknya terhadap perjalananku menemukan passion dalam menulis.

Start today with a single step

Bahan Bakar Menulis: Baca & Belajar

Aku kuliah di Sosiologi Universitas Indonesia. Di jurusan itu secara umum ada 3 keunggulan kompetensi yang dipelajari: Teori Sosial, Statistik, dan Metode Penelitian Sosial.

Teori sosial diajarkan di tahun kedua, tepatnya semester 3. Untuk Teori Sosial, kami mendapatkan 3 mata kuliah (Tesos 1, Tesos 2, dan satu lagi lupa namanya). Beda dari jurusan lain di FISIP yang hanya Teori Sosial 1 saja. Bisa dibayangkan, betapa jurusan kami lebih expert dalam berdiskusi mengenai teori sosial dibandingkan mahasiswa jurusan lain. Keunggulan kami adalah: Dipaksa dan terpaksa belajar teori sosial dalam 3 mata kuliah. Ini bisa jadi bencana atau berkah. Bencana mungkin ketika proses belajarnya berlangsung. Harus pontang-panting memahami teks Inggris yang diberikan tiap minggu sebagai bahan review. Menjadi berkah ketika kita sudah menyusun skripsi. Biasanya anak Sosiologi akan lebih mudah menganalisis, menyambungkan kejadian di realitas sosial dengan teori sosial yang ada.

Dulu aku ingat, dosen Teori Sosial kami adalah Pak Tamrin Amal Tomagola. Ia dosen senior yang tegas. Lebih tepatnya mengerikan. Mengerikan bagi orang-orang yang tak siap mental untuk belajar di kelas. Setiap saat kita harus bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan.

Hal yang menarik dari Pak Tamrin adalah ia anak luar Jawa (Sulawesi). Ia lalu berjuang dan belajar di Jawa, dan bisa sampai kuliah ke luar negeri (Australia) lewat program beasiswa. Suatu saat ia juga bercerita inspirasinya memaksakan diri belajar bahasa Inggris di Australia. Waktu itu ia menerima besiswa dan belum gape bahasa Inggris. Sebagai anak daerah yang masih cupu (hehehe), ia bertekad kuat belajar dalam waktu singkat. Akhirnya, begitu mendarat di Australia, ia membeli sebuah radio sederhana agar bisa mendengar siaran bahasa Inggris. Sekitar 6 bulan katanya, ia sudah percaya diri.

Pak Tamrin tipe dosen disiplin berat. Kalau telat, maksimal hanya 15 menit. Itu pun si mahasiswa terlambat itu harus masuk diam-diam tanpa mengganggu konsentrasi orang di kelas. Pernah juga kami terpaksa mengakhiri kelas lebih cepat karena Pak Tamrin ngambek, ada mahasiswa yang asyik berbicara saat beliau memberikan penjelasan. Ternyata ia sudah menandai orang yang sering bisik-bisik dalam pengamatan panjang. Sosiolog sekali. Pengamatan panjang dan mendalam.

Dulu saat kelas Teori Sosial berlangsung, aku sering bertanya ke Pak Tamrin tentang kejadian kekinian dihubungkan dengan teori sosial yang beliau ajar. Bagaimana korelasi keduanya. Cara pikirku secara tak sengaja mempertanyakan bagaimana ketajaman analisis teori sosial untuk membedah fenomena sosial di masyarakat. Ya DPR, ya masala politik, dan lain-lain.

Dari sini, aku banyak belajar bagaimana cara mengamati, membaca masalah sosial, dan merumuskannya. Setelah belajar Teori Sosial, maka makin gampanglah melakukan analisis terhadap fenomena sosial. Dulu waktu SMA aku pun melakukan hal yang sama. Sering sekali ke perpustakaan baca Koran Kompas, di kolom Opini dan berita olahraga. Aku tertarik dengan analisa-analisa sosial. Ini yang kelak jadi cikal bakal kekuatanku dalam menulis.

Untuk mata kuliah statistik, aku mohon ampun deh. Nyerah total. Statistik ada jilid I & II. Lebih banyak dari jurusan lain di FISIP UI. Mata kuliah Statistik ini menakutkan banyak orang. Tapi percaya atau nggak, banyak anak jurusan lain jadi berguru pada anak Sosiologi karena mereka hanya belajar Statistik I. Sementara kami harus I & II. Antara kenyang dan mual menjadi satu.

Terakhir, ada mata kuliah yang super keren: Metode Penelitian Sosial. Kami mendapatkan mata kuliah ini dalam 4 episode. Pertama, Belajar teorinya dan membuat research design (MPS 1). Kedua, belajar penelitian langsung ke masyarakat (LP-MPS). Ketiga, belajar mengolah data lapangan (MPS 2). Keempat, belajar metodologi penelitian selain survey lapangan (MPS 3).

Pada MPS 1 dan 2, kami diajar oleh Mbak Shanty, Mas Iwan Carik, Rusfadia Saktiyanti Jahja, serta Indra V. Termasuk saat turun lapangan di daerah wisata Borobudur, Magelang Jateng. Itu pengalaman yang luar biasa. Berkesan sekali.

Selanjutnya di MPS 3, kami diajar oleh Mbak Wiwit. Dosen yang sangat telaten, dengan memberikan bertumpuk-tumpuh materi berbahasa Inggris tentang metode penelitian, agar mahasiswanya pintar penelitian. Salut!

My First Step: Menulis di Suara Pembaca

MPS ini mata kuliah yang takkan pernah dilupakan. Modal besar untukku pribadi dan juga mahasiswa Sosiologi lainnya. Di mata kuliah inilah pertama kalinya membuatku bertekad jadi penulis, atau menemukan passion dalam hal menulis.

Ceritanya begini. Saat belajar MPS 1, kami belajar dan merancang pertanyaan untuk kuesioner survey. Sehingga kami mempelajari mendalam bagaimana syarat membuat pertanyaan yang netral, objektif, tidak mengarahkan, tidak tendensius, dan lain sebagainya. Hal ini penting untuk menjaga “validitas” dan “reliabilitas” pertanyaan di penelitian kita.

Nah, satu ketika aku yang hobi baca koran, menemukan di Koran Tempo yang saat itu sedang heboh Hasyim Muzadi yang mencalonkan diri jadi wakil Megawati pada Pilpres. Kalau tidak salah waktu itu saat-saat mendekati ujian. Jadi materi metode penelitian begitu melekat dalam otak. Ketika ada yang aneh pada polling yang dilakukan oleh Koran Tempo waktu itu, aku langsung “cling”, mendapatkan ide untuk mengkritik bentuk pertanyaan dari polling itu. Ini enaknya belajar di universitas. Kita dapat ilmu, dan akan lebih seru lagi kalau ilmu yang didapat, kita berdayakan untuk kehidupan sehari-hari.

Ada banyak alasan untuk mengkritisi jenis pertanyaan di polling tersebut. Tapi yang jelas, pertanyaan di polling itu termasuk kurang baik karena ada unsur leading (mengarahkan) dalam bridging menuju pertanyaan inti polling. Selain itu, ada label negatif terhadap objek yang ditanyakan. Ini lebih tepat sebagai pertanyaan penuh kebencian. Pilihan jawaban waktu itu adalah Ya (Hasyim Muzadi berkhianat), atau Tidak (Hasyim Muzadi tidak berkhianat), atau Tidak Tahu. Pertanyaan polling itu juga bisa dikategorikan pertanyaan retoris. Jika memang NU sudah deklarasi sejak dulu tidak akan turun ke politik praktis, maka tindakan Hasyim Muzadi (Ketua PBNU) yang mencalonkan diri jadi Wakil Presiden ya sudah pasti termasuk turun ke politik praktis Tidak perlu ditanyakan lagi. Nenek-nenek yang udah mau koid juga tahu jawabannya. Tapi kan permasalahan politik tak segampang itu kalkulasinya.

Untuk lebih jelsnya, berikut aku lampirkan karya fenomenal pertamaku di Koran Tempo:

 

Selasa, 18 Mei 2004

Jajak Pendapat Koran Tempo

Suatu sore saya membaca Koran Tempo yang terbit pada Rabu, 12 Mei. Pada halaman 12 bagian pojok bawah, saya melihat ada sebuah jajak pendapat lewat pesan pendek (SMS) tentang pendapat pembaca soal pencalonan Hasyim Muzadi sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati.

Ada hal menarik berkaitan dengan pertanyaan jajak pendapat tersebut, yang cukup mengganggu saya sebagai seorang civitas academica yang mengetahui beberapa hal tentang jajak pendapat.

Pertanyaan jajak pendapat yang saya anggap mengganggu adalah sebagai berikut: “NU telah bertekad untuk tidak terjun dalam politik praktis sesuai dengan khitah 1926. Namun, kenyataannya, Hasyim Muzadi telah bersedia menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati. Pertanyaan: Menurut Anda apakah Hasyim Muzadi telah mengkhianati khitah 1926? a) ya, b) tidak, c) tidak tahu.”

Menurut saya, pertanyaan di atas sangat jauh dari standar “ilmiah” dan termasuk jajak pendapat yang berkategori “kurang baik”. Karena, sebelum pertanyaan, kita jumpai pernyataan faktual yang sifatnya memojokkan Hasyim Muzadi yang dianggap telah berkhianat terhadap khitah NU.

Pernyataan awalan itu dalam metode penelitian sosial disebut sebagai pertanyaan leading (mengarahkan). Jajak pendapat yang menggunakan proses leading dianggap kurang baik, karena telah memberikan justifikasi awal, dan hal ini dapat mempengaruhi (menggiring secara tidak langsung) jawaban yang akan diberikan oleh pemilih.

Menurut saya, penggunaan konsep leading tadi akan memperburuk citra Koran Tempo sebagai salah satu koran baru yang berkualitas. Netralitas dan obyektivitas dari Koran Tempo akan tercoreng.

Untuk itu, saya menyarankan agar pertanyaan yang ada di berbagai jajak pendapat yang akan diadakan Koran Tempo hendaknya bebas dari leading. Hal ini sangat diperlukan agar posisi Koran Tempo sebagai media massa cetak nasional yang netral dan obyektif tetap terjaga. Maju terus Koran Tempo!

Adlil Umarat

  Mahasiswa Fisipol Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia

  Jalan Juragan Sinda 2 No. 15

  Kukusan, Kelurahan, Beji, Depok 16425

Terima kasih atas surat Anda. Kritik Anda sangat kami perhatikan dan menjadi masukan bagi kami. – Redaksi


Waktu itu setelah baca polling di koran, aku lalu menyimpannya dan langsung mencoba menuliskan surat pembaca Koran Tempo. Iseng aja sebenarnya. Eh, ternyata iseng membawa berkah. Beberapa hari berikutnya langsung dimuat. Sungguh rasanya waktu itu sangat senang sekali. Bisa memanfaatkan ilmu yang didapat di MPS 1, dan juga pendapatkau diamini oleh redaksi Koran Tempo.

Dari surat pembaca itu telihat bahwa aku belajar untuk pertama kalinya bagaimana menyusun kata-kata dalam rangkaian kalimat yang singkat, efektif dan efisien. Kalau kepanjangan pasti dipotong oleh redaksinya.

Sebagai first timer tulisannya dimuat di Koran, meski di kolom suara pembaca, rasa senangnya bukan main. Ditambah dosenku juga tahu belakangan bahwa aku mengkritisi polling kompas. Rasanya senaaaaaaaannnggg sekali.

Sejak saat itu aku merasa sangat termotivasi menulis di Koran. Seperti misalnya pak Tamrin Amal Tomagola yang opininya sering dimuat di Koran Kompas. Kok kelihatannya keren? Kok kayaknya pendapatnya bisa berkontribusi dalam menganalisis masalah sosial yang bertubi-tubi dihadapi bangsa ini. Aku merasa akan percuma jika kita jadi ilmuwan tapi tak ada manfaat buat orang lain. Khususnya dalam hal berbagi ide dan analisis.

Sejak saat itu, saya bertekad menulis di kolom Opini Koran. Pemuatan tulisan di Koran Tempo, di kolom suara pembaca itu adalah momen pertamaku untuk selangkah lebih dekat menjadi penulis beneran.

Ini dia pelajaran yang bisa diambil: temukan momen-mu pribadi untuk memulai langkah kecil (satu langkah) untuk menekuni suatu dunia yang menarik minat Anda (the things that make you enjoy the most kalo meminjam istilahnya Rene Suhardono). Kalau langkah pertama ini sudah jebol, Insya Allah langkah berikutnya akan lebih ringan. Anda dipastikan ketagihan untuk berjalan lebih jauh, lebih dalam, lebih ahli. Itu yang berlaku dalam pengalaman menulisku. Sekali masuk Koran, ada candu yang merasuk dalam jiwa, ingin menulis lagi dan lagi. Find your own first moment!

Cari Partner Penyemangat

Usaha menembus jadi penulis di kolom opini Koran tak butuh waktu lama. Aku bergabung juga dengan Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya Universitas Indonesia. Di sana para penulis dan aktivis (berlogika dan bernalar) berkumpul. Maka aku ambil step pendukung untuk mendapatkan tularan virus pandai menulis dari kelompok studi itu.

Virus menulis itu mulai muncul di dalam diriku saat melihat teman-teman di Kelompok Studi bisa dengan mudah tulisannya dimuat di Koran. Macam-macam Koran nasional waktu itu. Lama-lama jengah juga melihat kita sendirian doang yang ga sehebat mereka. Apalagi mereka seperti sedang bergiliran tulisannya dimuat di berbagai koran nasional. Kok bisa ya? Udah kayak arisan aja. Lalu muncullah tekad dalam hati untuk bisa menulis di Koran juga. Waktu itu diam-diam aku mulai mengamati, meneliti, aspek apa saja sebenarnya yang dibutuhkan untuk bisa tulisan kita dimuat di Koran. Setelah mengamati dan membuat check list, akhirnya ketemu juga formulanya.

Ini dia tips belajar menulis: bergabunglah ke komunitas ahli menulis jika Anda ingin pandai menulis. Berlatihlah, dan jangan berhenti belajar. Menulis itu menurut Yudhistira Massardi tidak sulit, tapi juga tidak membuatnya jadi mudah.

Aku lalu mencari tanggal untuk mencari momen tulisan. Akhirnya aku pilih hari Pahlawan 10 November. Kebetulan saat itu aku menulis “Soekarno dan Kepahlawanan”. Judul aku beri terakhir biar mencerminkan apa yang termaktub dalam tulisan. Mulailah mengumpulkan bahan untuk tulisan. Setelah itu satu persatu dipilah dan dimasukkan ke dalam kerangka tulisan yang telah dibuat sebelumnya. Setelah selesai menulis, kembali diendapkan, lalu dibaca lagi dan dipoles sana-sini. Akhirnya dikirim ke email redaksi Jawapos.

Secara mengejutkan, tulisan pertamaku itu langsung dimuat. Tapi sayangnya aku tak tahu bahwa tulisanku dimuat hari itu. Jadi baru beberapa hari setelahnya tahu bahwa namaku ada di kolom opini. Teman di Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya yang memberi tahu. Awalnya tak percaya, tapi ternyata benar adanya. Aku cek versi online dan berhasil! Tak percuma diam-diam belajar menulis dan mengejutkan banyak orang.

Selanjutnya, hasratku seperti tak terbendung untuk menulis di Koran. Memang, tak rutin menulis karena jadwal kuliah sedang padat-padatnya. Tapi, hampir tiap meyakini ada pemikiranku yang punya positioning yang tepat dalam menanggapi suatu isu, lalu aku tuliskan dan kirim ke redaksi, hampir selalu dimuat. Hanya beberapa kali saja gagal. Aku tak hanya menulis di Jawapos. Tapi juga merambah ke Koran lain, Seputar Indonesia.

Dan tentu saja, hal itu memberikan dampak yang luar biasa. Dengan menulis, kita bisa kenal banyak orang, dikenal banyak orang, dan karena saat itu masih mahasiswa, orientasi uang pun tak kalah membuat girang. Banyak email masuk minta kenalan dari berbagai wilayah Indonesia. Jadi punya banyak teman. Dosen dan teman pun jadi respect ke kita. Tak semua orang bisa menulis di Koran. Karena tak semua orang mau dan berani menulis dan mengirimkan tulisannya di Koran. Ini masalah mau atau tidak mau.

Sekarang passion menulisku semakin mengental. Setelah berpetualang menulis di Koran, aku tertarik mendalami gaya penulisan feature, reportase mendalam, dan narasi. Setelah sebelumnya berguru pada Pak Yudhistira AMN Massardi di majalah Nebula ESQ Community selama kurang lebih 1 tahun, dan juga mendapat kesempatan belajar menulis dari Eka Tjipta Foundation pertengahan tahun 2010, di bawah asuhan Andreas Harsono, Anugerah Perkasa, dan Fahri Salam. Kapanpun ada kesempatan belar menulis, pasti kuambil. Prinsip jadi penulis adalah never stop learning.

Kalau sekarang aku lebih nyaman menulis di blog (www.umarat.wordpress.com) karena kita bisa sebebas-bebasnya mengutarakan pendapat tanpa terbatas jumlah karakter dan tanpa harus ikut nilai, warna, prinsip, atau pandangan redaksi tertentu. Aku menulis untuk mencari saripati hidup. Saripati hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Semoga ada manfaatnya ke depan.

Perjalananku sebagai penulis belumlah usai. Baru mulai bahkan. Kemampuanku menulis mungkin masih selevel anak TK. Masih nulis mendasar. Target ke depan, blogku harus bisa dikonversi jadi buku. Sekarang sedang proses menawarkan ke beberapa penerbit. Semoga ini langkah awal (first step) untuk menggapai hal besar ke depan. Mohon doanya.

Ini langkah awalku. Berani mimpi jadi penulis dengan memulai langkah menulis di suara pembaca. Mana langkah awalmu? Sudahkah kau mulai? Let’s start from a single step, to catch your (big) dream!

Follow me: @pukul5pagi

Sila mampir di tulisan menarik lainnya:

(Seputar Passion)
(Seputar Jodoh)
(Religi)
(Petualangan Sosial)

2 responses to this post.

  1. huaaa, kak Aad, tulisannya menarik, membakar semangat saya lagi untuk tetap menulis (terutama di media massa) setelah vakum beberapa bulan terakhir. “A journey of a thousand miles begins with a single step”. Tetap semangat menulis dan “Never Stop Learning ” – KSM banget😀

    Reply

    • ALhamdulillah kalau membakar ya. Minta tolong diajak KSM’ers yang baru-baru biar baca tulisan ini dan follow blogku ya. Biar pada semangat menulis di media. Terima kasih Vina

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: