Menjemput Jodoh Part 8 (Akad & Resepsi)

Siang ini aku dan istri sedang menikmati tayangan tv Jodohku di RCTI sambil leyeh-leyeh. Kali ini acaranya benar-benar eksklusif. Liputan khusus akad nikah Anang-Ashanty. Kami berdua jadi senyum-senyum berdua. Saling tatap, lalu mata kami menerawang membayangkan lagi cerita akad dan resepsi pernikahan kami Desember tahun lalu.

“Insya Allah kita menyusul segera!” ujar Anang menanggapi desakan pertanyaan fansnya kapan menikah lagi. Ya, Anang Hermansyah secara mengejutkan datang ke pernikahan kami jadi tamu istimewa. Ia tak sendirian. Ia membawa serta pasangannya, si cantik Ashanty. Mereka menyanyikan 3 buah lagu sebagai hadiah buatku dan Andin. Senang sekali plus tentu saja kaget bukan main. Aku sangat ingat dengan janji Anang kala itu.

Alhamdulillah, Anang Sudah Menyusul Kami

Mungkin aku takkan bahas bagaimana bisa Anang-Ashanty bisa datang ke pernikahan kami dan menyanyi pula. Jangankan Anda, saya saja yang jadi penganten kaget setengah mati. Papa saya sampai terperanjat melihat seorang tamu VIP, dikawal, lalu ia naik ke stage mengapit seorang perempuan cantik yang biasa dilihat di tv. Lalu Anang-Ashanty bersalaman dengan kami satu persatu. Papaku bilang begini, “Eh, ini Anang ya? eh eh..yang di tv?” Papa seperti masih menerka-nerka, benarkah ini Anang yang ia kira. Anang yang mendengarnya lalu menoleh dan langsung merespon, “Iya pak. Saya Anang”

What a surprise! Really!

Mamaku juga tak kalah kaget. Biasanya nonton Anang-Ashanty di tv pada acara infotainment, sekarang tiba-tiba orang yang ditonton, ada di hadapan. Nah lho. Lucu sekali melihat kejadian saat itu. Seluruh tamu yang sedang menikmati makanan yang kami sediakan, pun berhamburan menuju stage Anang-Ashanty yang sudah bersiap untuk bernyanyi. Bahkan petugas jaga stand makanan “kabur” menuju panggung Anang-Ashanty. Fokus acara resepsi kami untuk sejenak beralih. Penganten dan orangtuanya sudah tidak laku lagi disalami tamu. Mereka menyemut, mengelilingi Anang-Ashanty yang siap tuk bernyanyi. Hikmahnya, kami bisa duduk istirahat setelah pegal menyalami tamu yang sangat banyak. Huff. Selalu ada hikmah di balik sesuatu.

Stage Utama Berpindah

Anang dan Ashanty membawakan 3 lagu. Lagu pertama “Cinta”. Lalu dilanjutkan “Jodohku”. Ditutup dengan lagu yang mengajak goyang para tamu “Aku Bukan Bang Toyib”.

Kalau Anda para pembaca blogku menikah nanti suatu saat, pasti ada 1001 kejutan yang tak Anda pernah duga sebelumnya. Kedatangan Anang-Ashanty adalah salah satunya bagiku. Tak pernah aku bayangkan, apalagi merencanakan. Memang, Anang sedang bertugas di minggu itu untuk audisi Indonesian Idol RCTI di Surabaya. Mungkin itu pula yang memuluskan bagaimana bisa ia datang ke Gresik, sebuah kota kecil di Jawa Timur.

Tiga “PR” di Hari Bahagia

Setelah seharian istirahat dan sempat keliling Surabaya membeli sandal dan membersihkan karang gigi, aku bisa beristirahat dengan tenang malamnya. Tidur terakhir sebagai lajang punya perasaan yang berbeda. Aku tidur jam 12 malam. Sebelum tidur, sempat mengetes jas dulu dan berlatih ijab-qabul. Ketika bangun jam 04.00 pagi, aku langsung mandi. Lalu aku, papa, dan mama shalat subuh berjemaah. Papa memintaku jadi imam. Mungkin ia ingin memberiku kesempatan untuk melatih kepercayaan diriku: bahwa aku akan jadi imam bagi seseorang mulai hari ini.

Selesai shalat, aku mulai pasang baju. Perias untuk mama dan Ika (adekku) mulai datang ke penginapan kami. Mama dimake-up. Papa juga sudah siap. Adekku juga sudah siap. Keluarga kami tinggal bang Il saja yang belum hadir. Ia terjebak kemacetan di jalan Duri-Pekanbaru. Akhirnya naik ojek ke bandara Pekanbaru. Kalau di Sumatera sih emang gitu. Kalau kena macet, tak bisa berbuat apa-apa, karena hanya ada satu jalan menuju “Roma”.

Selesai dandan, dan pasang baju, serta sarapan, aku dan keluarga berangkat pukul 7 ke tempat akad dan resepsi, di gedung Semen Gresik. Benar-benar dag-dig-dug. Hari ini ada 3 hal yang jadi PR-ku: 1) Ngaji dengan lancar, indah, merdu. 2) Ijab-Qabul dengan lancar tanpa terbata-bata. 3) Nyanyi untuk istriku di resepsi.

Aku dan papa-mama naik mobil yang sudah disediakan oleh keluarga Andin. Aku memakai stelan jas, berpeci, berkacamata frame hitam, dan bergigi bersih. Hehehe. Jujur saja, jantung ini dag-dig-dug bukan main. Sembari di dalam mobil, aku banyak berdoa agar diberikan ketenangan hati jelang ijab-qabul, dilancarkan lidahnya, dilegakan hatinya.

Sesampainya di depan gedung Semen Gresik, keluarga kami disambut dengan pasukan rebana. Aku berbaris paling depan bersama papa-mama. Di belakang kami, ditambahkan rombongan keluarga dari pihak Andin agar terlihat ramai. Inilah indahnya kesederhanaan berpikir keluarga Andin. Mereka tidak ribet. Termasuk saat lamaran. Kami hanya datang bertiga. Pembawa hantaran/ seserahan adalah para sepupu Andin.

Aku, papa, mama bersiap masuk ke gedung. Seseorang yang jadi protokoler memberi kode bahwa aku sudah siap. Maka dimulailah langkah kaki kanan menuju kebaikan dunia akhirat: Aku Siap Untuk Menikah!

Aku masuk ke dalam gedung digandeng papa-mama. Jalan kami diatur agar pelan sekali. Langkah harus singkat-singkat. Padahal aku sudah tak sabar ingin segera duduk saja, menghilangkan nervousini. Begitu melewati pintu masuk gedung, ternyata aku disambut oleh calon mertua. Ini serah terima diriku dari orangtua ke calon mertua. Papa calon mertua mengalungkan rangkaian bungan ke leherku. Lalu kedua calon mertua menuntunku menuju tempat ijab-qabul.

Serah Terima Calon Menantu

Akhirnya sampailah aku di kursi “panas”. Di depanku sudah ada 2 orang saksi, 1 orang penghulu, 1 orang pemberi nasehat (Robach, mantan bupati Gresik 2 periode) dan calon mertua sebagai wali nikah, serta rombongan marawis sebagai pendukung di belakang. Suasananya khusyu’ sekali. Sepi, senyap. Dunia terasa berhenti berdetak. Hop…adrenalinku bertambah kencang.

MC segera memulai acara. Ia membacakan susunan acara. Singkat saja, tiba-tiba acara inti sudah di depan mata. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-quran oleh diriku sendiri selaku mempelai pria. Setelah sejak lama belajar membaca Al-quran, rasanya menurutku akan sangat baik jika yang membaca Al-quran saat nikahan kita adalah diri kita sendiri, si pengantin pria. Ini hari bahagia kita. Jangan sampai melewatkannya tanpa kesan mendalam. Aku terbiasa jadi pembaca Al-quran di nikahan teman sejawat, termasuk juga pejabat. Masa di nikahanku, aku meminta jasa orang lain membacakan Al-quran? Ini impian dan rencana kerenku sejak lama. Ingin mengaji, di nikahan sendiri. Rasanya tentu berbeda kalau ngajinya dalam rangka nikahan orang lain. Ini punya momen khusus yang takkan terlupakan seumur hidup.

Aku pun mulai mengaji. Namun ternyata mic nya rusak. Jadi, setelah ayat pertama, aku dengan kontrol diri penuh, menerima mic baru sambil tetap konsentrasi membaca Al-quran. Hanya tanganku saja yang fokus mengganti mic. Mata dan wajah tetap fokus ke Al-quran. Aku membacakan ayat Annisa ayat 1 & Ar-Rum ayat 20-21.

Mengaji Sendiri di Nikahan Sendiri

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan istrinya (Hawa); dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An-Nisa: 1)

Dan diantara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.

Dan diantara tanda-tanda kebesarn-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu, dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (Kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (Ar-Ruum: 20-21)

Andin Duduk Manis Menanti Ijab Qabul

Selesai mengaji, acara sengaja diset untuk nasehat pernikahan terlebih dahulu sebelum akad dimulai. Aku diberikan waktu untuk “ambil napas”. Sementara  itu nasehat nikah disampaikan oleh Pak Robach. Beliau adalah mantan bupati Gresik 2 periode. Dulu salah satu om Andin dianggap anak oleh pak Robach karena mondok di pesantrennya pak Robach.

Ini inti dari ceramah pak Robach. Ingin jadi keluarga sakinah mawaddah warahmah? Gampang: tiru Nabi Muhammad SAW yang sudah terbukti sukses menjalani rumah tangga. Ada beberapa pesan dari beliau bahwa pertengkaran suami-istri bisa disebabkan dari pihak istri, suami, atau pihak ketiga. Jadi, kita harus pintar-pintar berkomunikasi dan saling pengertian. Saya sependapat dengan nasehat pak Robach. Kalau kita sudah ada contoh prototype kesuksesan, lalu kenapa bingung mencari referensi untuk sukses berumah tangga? Semudah itu hidup berumah tangga secara teoritik: ikuti Nabi Muhammad SAW. Selesai perkara.

Setelah itu, barulah dimulai proses Akad Nikah. Awalnya sempat kaget. Tiba-tiba calon mertua selaku wali nikah membacakan kalimat dalam bahasa Arab yang intinya aku ketahui ingin menikahkanku dengan anaknya. “Lha, ini ga salaman langsung nih? Gimana nih?” Aku mengerti kosakata Arab. Sempat aku interupsi kecil ke penghulu, “Ini langsung pak?”. “Iya,” jawabnya singkat. Busyet dah. Penghulu kagak ada basa-basinya sama sekali. Dari puluhan kali aku menghadiri pernikahan (akad), hampir semuanya penghulunya bercanda dulu, ngecek kelengkapan syarat dan rukun nikah dulu, dan melakukan apapun untuk mencairkan ketegangan penganten dan seisi ruangan. Ini pak penghulu seperti MAGABUT, makan gaji buta aja. Tanpa penghulu pun, akadku bisa jalan sendiri lho menurutku. Keberadaannya tak lebih untuk melengkapi syarat administrasi dari KUA.

Ijab Qabul: Became a real man!

Aku jadi ingat joke dari mas Fani dan mas Adrian, rekan kerjaku. Entah ini benar atau tidak, tapi mungkin tak bisa digeneralisasi ke semua penghulu. Kalau penghulu kita bayar tidak terlalu banyak alias pas-pasan, ia takkan memberi service terbaiknya. Ada unsur “ngerjain”nya. Mas Fani juga dulu begitu pas akad nikah. Ia tak dibimbing sama sekali. Penghulu menganggap penganten sudah berpengalaman. Sehingga, kita mungkin sering lihat penganten pria harus mengulang ijab-qabul beberapa kali karena grogi, tanpa dilatih terlebih dahulu. Tanpa dicairkan suasana terlebih dahulu.

Aku sendiri saat ijab qabul, tak ada proses checking dari penghulu. Semua serba sendiri. Tanpa ada latihan. Calon mertua selaku wali nikah membawa kertas sendiri untuk berdoa dalam bahasa Arab sebelum akad nikah. Lalu pas ijab qabul, calon mertua dan aku sama-sama tak pakai teks bantuan. Kami koboy banget. Nekat. Benar-benar mata menatap mata. Gentleman to gentleman. Ini momen sakral, penyerahan tanggung jawab seorang anak manusia dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Segala dosa, segala pahala, sudah dibeabalik nama dari orangtuanya ke diriku selaku suami dari anaknya. Anda akan merasakan bagaimana getaran hati ketika membayangkan dan meresapi tanggung jawab besar dunia-akhirat ini di momen pernikahan Anda nanti. Rasakanlah. Ngeri-ngeri sedap, euy!

“Saudara Adlil Umarat bin Asril Julis, saya nikahkan dan kawinkan Anda dengan anak saya yang bernama Ikhyandini Garindia Atristyanti dengan mas kawin 12.5 gram emas dibayar tunai”

Tanpa tedeng aling-aling, aku langsung menyahut karena memang tak boleh ada jeda saat akad nikah, “Saya terima nikah dan kawinnya Ikhyandini Garindia Atristyanti dengan mas kawin 12.5 gram emas dibayar tunai.”

Semua saksi dan seisi ruangan merasa pernikahanku sudah sah. Semua berujar, “Sah, sah, sah”. Alhamdulillah. Maka mulai saat itu, resmilah Andin menjadi istriku. Semudah itu, secepat itu. Tidak perlu repot-repot, apalagi ribet. Memang, beban pahala dan dosa istriku akan jadi tanggunganku. Maka aku ditantang mulai saat itu untuk menjaga istriku agar tetap berada di Jalan-Nya. Karena sepenuhnya kebenaran dan kesalahannya nanti aku yang dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.

Mahar

Mahar atau Mas kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan (wikipedia).

Kembali kepada masalah contoh mahar, akan disalinkan secara ringkas kutipan dari kitab Al-Insyirah Fi Aadaabin Nikah, edisi Indonesia Bekal-Bekal Menuju Pernikahan oleh Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari.

Sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, “Artinya : Diantara keberkahan seorang wanita ialah yang mudah urusannya dan murah maharnya.” [Hadits Shahih Riwayat Abu DawudVI/77&91, Ibnu Hibban 1256, Al-Bazar III/158, Ath-Thabrani dalam Mu’jamus Shaghir I/169 dst…]

Dipertegas lagi dengan ucapan Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. “Ketahuilah janganlah berlebih-lebihan dalam menetapkan mahar para wanita. Karena sesungguhnya jika (mahar yang mahal) itu dimaksudkan sebagai bukti kemuliaan di dunia atau sebagai sarana bertakwa kepada Allah, maka orang yang paling bertakwa di antara kamu adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak pernah menetapkan mahar kepada seorangpun di antara istri-istrinya begitu pula kepada putri-putrinya melebihi 12 Uqiyah (1 uqiyah = 40 dirham).

Sesunggunya bila seorang lelaki dikenakan tarif mahar yang tinggi, niscaya dapat menimbulkan permusuhan dalam dirinya kepada istrinya” [Hadits Shahih riwayat Abu Dawud VI/135, (silakan lihat ‘Aunul Ma’bud), An-Nasa’i VI/117, At-Timidzi IV/255 (lihat Tuhfatul Ahwadzi) beliau berkata : ‘Hasan Shahih’ dst…]

Nah, masalah penetapan mahar ini bisa jadi polemik juga. Pada dasarnya menurutku, mahar memang tak harus mahal dan memberatkan. Yang penting dari pihak suami mengerti bahwa mahar diperlukan sebagai sebuah simpanan yang bisa dipakai sewaktu-waktu dalam keadaan darurat jika misalnya suami dipanggil Allah SWT terlebih dahulu, atau keadaan darurat lainnya. Jadi, istri tak kelimpungan dan punya modal awal untuk usaha atau menyambung hidup.

Jadi, proses penetapan mahar antara aku dan Andin berawal dari usulanku. Aku lihat Andin tak terlalu senang memakai emas. Lalu aku sebutkan saja emas padu sebagai mahar. Andin setuju. Namun besarannya masih belum ditetapkan. Setelah beberapa kali negosiasi, akhirnya dicapai kesepakatan sebesar 12.5 gram emas padu. Emas padu itu adalah emas tradisional. Tak jauh beda dari Logam Mulia Antam. Tapi ini dijual di toko emas kampung. Aku beli emas di Bukittinggi, toko langganan emas mama. Inti dari mahar itu, jangan memberatkan calon suami, tapi tetap memuliakan sang calon istri, dan mendapat keikhlasan dari calong istri tersebut.

Jeli Pilih Tanggal Nikah

Satu hal yang tak kalah penting dalam mempersiapkan pernikahan adalah memilih tanggal menikah. Kalau Anda tipe yang simple, bisa menikah di rumah dan waktunya bisa terserah Anda, fleksibel saja. Nah, yang jadi masalah adalah kalau Anda mengadakan pesta pernikahan di gedung. Ini aka nada masalah dengan tanggal pernikahan Anda.

Menikah itu mudah. Jangan dipersulit. Kalau Anda tidak terlalu terikat dengan kata orang, budaya, tanggal baik, tanggal lahir dan sejenisnya, maka Anda bisa memilih menikah di saat low season. Jangan pilih high seson, ketika musim nikah. Pada dasarnya semua hari adalah baik. Jadi, aku sendiri tak percaya ada hari baik dan hari buruk. Aku sendiri memilih menikah di bulan syura. Menurut kalender Jawa, menikah di bulan itu adalah pantangan. Nah, ada berkah di balik itu. Di saat orang Jawa pada umumnya tak menikah, maka aku dan pasanganku memilih menikah di low season. Gampang cari gedung, gampang dapat catering, mudah membooking penghulu.

Hati hatilah. Bijak dalam berpikir. Apakah Anda akan dikalahkan “apa kata orang” atau budaya? Atau Anda menentukan keinginan Anda sendiri secara independen?

Pengajian Jelang Nikah

Ada lagi hal yang mungkin bikin ribet ketika jelang nikah, yaitu pengajian jelang nikah. Biasanya kalau di budaya masyarakat yang umumnya dijalani, ada pengajian, mengundang ibu-ibu tentangga pengajian, dan pulangnya si empunya hajat harus menyediakan besek sebagai oleh-oleh dan ucapan terima kasih.

Perlukah yang demikian itu? Tidak perlu. Kalau mau mengaji, mengaji saja sendiri. Atau kalau mau banyak, undang seluruh keluarga besar. Tak perlu harus menyediakan besek dan sejenisnya. Ini bagian dari pengeluaran yang tidak perlu. Selain tidak ada syariatnya dalam Islam, juga ini bisa mencekik calon penganten secara materi. Andin dan keluarganya hanya melakukan pengajian keluarga, dipimpin oleh Pak De-nya. Simple, ga ribet.

Kejutan Pamungkas

Kembali ke cerita di hari bahagia aku dan Andin. Setelah penampilan Anang-Ashanty memukau seisi gedung, maka kini giliranku yang mengagetkan semua orang. Aku ingin member kesan mendalam kepada semua orang. Maka, setelah mengaji dengan indah, ijab qabul dengan lancar, maka sekarang aku akan menghadiahkan sebuah lagu untuk Andin.

Aku ditodong sih oleh MC. Memang sudah menyiapkan diri, namun tak pernah ada kesepakatan kapan waktu tepatnya. Maka aku pun tergagap-gagap menerima mic. Ragu, apakah bisa bagus atau tidak nih. Jangan sampai malu-maluin.

Aku menyanyikan lagu Kahitna, “Takkan Terganti”, dengan sedikit mengubah liriknya agar pas momennya. Ada kata “tiada dirimu di sisiku” lalu aku ubah jadi “ada dirimu di sisiku”. Lagu ini sebenarnya lagu perpisahan dan sedih. Tapi cukup dengan mengubah liriknya seperti di atas, maka lagu itu berubah jadi lagu romantis yang meluluhlantakkan hati.

3 PR Sukses: Mengaji, Ijab-Qabul, Menyanyi

Ini petikan lagunya:

Takkan Terganti

Telah lama sendiri
Dalam langkah sepi
Tak pernah kukira bahwa akhirnya
Ada dirimu di sisiku

Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua tak ‘kan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti

Tak pernah kuduga bahwa akhirnya
Tergugat janjimu dan janjiku

Andin kaget dan tersipu malu saat aku beri hadiah sebuah lagu. Aku genggam erat tangan kirinya dan di akhir lagu, aku cium pipinya. Dan semua tamu pun bertepuk tangan. Entahlah suaraku saat itu bagus atau tidak, yang jelas senyum sumringah menyungging di banyak bibir hadirin.

Acara resepsi pernikahan kami berakhir pukul 14.00 dan kami pun pulang ke rumah Andin di perumahan Semen Gresik. Rasa capek dikalahkan oleh rasa bahagia. Untuk pertama kalinya, aku gandeng Andin, masuk ke mobil pengantin untuk diantar pulang istirahat melepas penat setelah beberapa jam berdiri.

Selanjutnya, acara kami adalah ngunduh mantu yang diadakan di Bukittinggi. Setelah menikah bulan Desember akhir, acara ngunduh mantu (manjampuik marapulai bahasa Minangnya) diadakan di pertengahan bulan Januari. Bagaimana keseruan acara di Bukittinggi? Nantikan di cerita selanjutnya: Menjemput Jodoh Part 9 (Kenalkan, Namaku Kari Mangkuto).

Sila klik tulisan menarik lainnya di bawah ini:
(Seputar Jodoh)
 (Seputar Passion)
(Religi)
(Petualangan Sosial)

22 responses to this post.

  1. Ada-ada aja ceritanya nih. Debut pertama mu mengaji di akad nikah tu, di nikahanku bukan ya Ad? hmmmm

    Reply

  2. wah, kak Aad, dream weddingnya akhirnya kesampaian juga ya *pengen juga bisa dingajiin calon suami pas akad*😀 baru kali ini aku baca wedding review dari seorang groom, biasanya yang suka wedding review itu si bride-nya, menarik sekali ternyata😀 mungkin kalo kak Andin nulis wedding reviewnya oke juga kali ya kak😀

    Reply

    • Minggu ini akan diposting penulis tamu: Ikhyandini Garindia Atristyanti (Kak Andin), untuk menjawab rasa penasaranmu. Selamat membaca!

      Reply

  3. Posted by mukhlason on June 25, 2012 at 12:57 PM

    sayangnya nyanyinya cuma 2 lagu🙂

    Reply

  4. Posted by aripmuttaqien on June 26, 2012 at 11:26 AM

    si anang itu pasti diatur sama temen2 RCTI, coba elo tanya temen2 lo, pasti ada sutradara yg ngatur, hahaha

    Reply

    • Nggak Rip. Kebetulan kenal ama mertua gw. Dan kebetulan juga dia lagi audisi Indonesian Idol di Surabaya. Dekatlah dari Gresik. Jadi dia mampir.

      Reply

  5. Hahaha, ada nama suamiku diatas disebut, jadinya istrinya muncul degh. Wkwkwk…

    Hehehe, ga tau bener apa nggak, emang dulu kejadiannya gitu. Si penghulu kan minta sumbangan untuk KUA setempat pas kita daftar. Katanya sih seikhlasnya. Akhirnya mas Fani kasih, 6digit. Menurut informasi yang beredar, KUA situ maunya kalo di gedung itu ya 7digit. Tapi karena nyambangin KUA pake baju kebesaran, pak penghulu pun gak berani banyak comment. Ya tapi gitu, no briefing at all pra akad nikah. Beda banget sama temen2 lain yang ngasih 7digit, di briefing pra akad.

    Bukannya gak mau ngasih 7digit. Tapi itu kan memang sudah kerjaannya mereka. Masa’ dikomersialkan gitu?

    Reply

    • Temanku, nikah di sebuah hotel di Kemang, pas ngasih beberapa juta ke KUAnya, eh malah diremehin. “Masa cuma ngasih segitu, padahal nikahnya di hotel mewah. Biasanya yang lain ngasihnya #### juta,” begitu ujar penghulunya. Nah lho. Kok malah makin aneh Penghulu dan institusi KUA kita? Sudah digaji, malah “malak” dan bikin standar bayaran sendiri. Hanya bisa geleng-geleng.

      Reply

      • Hehehe, gitu degh Ad… Penghulu di kota besar itu emang cenderung minta “jatah reman”. 7 digit buat di gedung menurut aku keterlaluan. Padahal di papan informasi KUA setempat waktu itu, kalo menikah di KUA pada hari kerja biaya formal adalah Rp 30rb, sementara kalo di luar hari kerja adalah Rp 90rb. Kok bisa2nya jadi membengkak kaya gaban gitu ya?

        Tapi Ad, sodaraku du Magelang sana jadi Kepala KUA dan ya tugasnya menikahkan orang. Sungguh beda kondisinya Ad. Kalo dirinya cerita, menikahkan orang di kampung itu ibadahnya saja yang diambil. Boro2 mau minta “jatah reman”, yang ada paklik (om dalam bahasa jawa) malah tekor di bensin. Lha gimana nggak tekor bensin, orang pernikahannya di kaki gunung yang jaraknya 30km dari kota? Kalo pulang pergi udah 60km. Pulang2 setelah menikahkan bukannya dikasih duit, tapi dikasih beras, ayam, hasil palawija. Nah, paklik bilang malah, kalaupun yang dinikahkan tidak mampu, malah paklik yang kasih uang ke si pengantin. Udah bensin keluar sendiri, angpau buat pengantin.

        Mau nggak ya, penghulu2 yang di kota besar itu tukeran lokasi? Suruh mereka kerja di kota2 kecil kaya paklik?

      • Ide yang menarik. Rotasi penghulu daerah dan kota. Ada pengaruh tertentu ga nanti ya? Hehehe. Thanks for sharing mbak Mona.

  6. Posted by a luky on June 28, 2012 at 4:24 PM

    mantabbb

    adlil…

    cak nun

    Reply

    • Ini Abdul Lucky kah? Masih ingat aja yang Cak Nun. Makasih sudah mampir di blogku dan meninggalkan komen. Mampir lagi lain waktu ya. Ada update tulisan tiap minggunya.

      Reply

  7. Posted by Duha on June 28, 2012 at 8:46 PM

    mantap brooo sukses slalu..

    Reply

  8. Mas, ntar bisa diajak sharing nih kalau aku sudah waktunya ? Amin !

    Reply

  9. keren ceritanya,, pengalaman yang menarik.. nice post

    Reply

  10. Mengesankan dan membahagiakan tentunya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: