“Emang, Olimpiade Ndak Penting Ya?”

Olimpiade di London-Inggris baru saja berakhir. Amerika Serikat melibas Cina dan menjadi negara terdepan dalam perolehan medali. Nah, kali ini ada cerita lucu dari teman saya, Boy Andy Tirta. Ia mahasiswa S3 di salah satu universitas di Korea Selatan. Ia mantan Ketua PPI Korsel periode 2011- 2012. Aku dan istri janjian bertemu Boy dan teman-teman PPSDMS (Arif Aprizal dan Habibi) di Car Free Day hari Minggu lalu, 26 Agustus 2012, tepat sehari sebelum ia balik lagi ke Korsel.

Ada cerita lucu mengenai olimpiade yang telah lewat. Boy bercakap-cakap ringan dengan temannya tentang Olimpiade saat di Korea. Boy hanya sesekali membalas. Ia lebih banyak mengamati saja.

Teman Boy (Orang Indonesia): Gimana nih, Korsel masih kalah dari China di Olimpiade.

Teman Boy (Orang Korsel): Iya nih, kita masih kalah. Tapi memang wajar sih. Kalau dihitung dari komposisi penduduk, ya wajar. Cina pendudukanya 1 miliar lebih. Kami Cuma 50 juta. Tapi yang saya heran itu negara kamu, Indonesia. Emangnya menurut kalian Olimpiade itu ndak penting ya (bagi orang Indonesia)? Kok cuma peringkat-peringkat akhir? Emang penduduk kalian berapa?

Teman Boy (Orang Indonesia): 250 juta…..(5 x lipat Korsel) *&*@#%&^*#&$(*&(*#&$#(*$&#^

Entah apa komentar balik dari teman Boy yang orang Indonesia. Komentar Boy pun aku tak tanyakan apa persisnya. Agaknya ia speechless. Kalau sekilas mendengar percakapan di atas memang makjleb banget. Nyesek gitu. Kalau saya ditanya begitu ya jawab jujur dari hati pasti begini: “Indonesia kalah di Olimpiade bukan karena tidak menganggap penting itu Olimpiade. Kami sudah berusaha maksimal. Tapi memang kami tidak mampu meraih medalinya. Emang kalah kualitas aja dari negara lain. That’s it. Tidak bisa jawab yang lain karena memang faktanya kita kalah kualitas. Apa mau dikata?”

Tapi, malu juga kalau harus berkata jujur-polos seperti itu. Cukup jadikan itu renungan bagi kita, memangnya kenapa kita bisa kalah sedemikian telak? Bahkan bulutangkis yang bertradisi emas, malah tidak dapat apa-apa dan “disapu bersih” oleh Cina. Pertanyaan kritisnya adalah: Apa tidak bisa mencari bakat dan talenta terbaik dari 250 juta orang Indonesia? Segitu sulitnya kah? Apa memang manajemen dan sistem olahraga kita yang kacrut?

Aku pun lanjut menyimak sharing cerita dari Boy tentang atlet di Korsel. Kata Boy, Atlet di Korsel itu rata-rata “dipegang” oleh perusahaan. Misalnya Samsung megang atlet cabang mana gitu. Anggaran mereka untuk pelatihan setahun sekitar Rp 16 Miliar/ orang. Jadi, si atlet selama 250 hari dalam setahun dia diikuti oleh 3 orang: Ahli Gizi, Coach, dan 1 lagi lupa fungsinya apa. Jadi, kemanapun atlet ini pergi, makan apa, hangout dimana (boleh hangout ga ya?), maka dia akan diikuti oleh 3 orang maha penting itu. Tujuannya kurang lebih untuk mengawasi disiplin dan pola makan serta latihan si atlet.

Kalau di Indonesia, bagaimana? Untuk uji latih tanding saja, si atlet harus mengais-ngais ke pemerintah. Ada secercah harapan seperti Rio Haryanto yang disponsori Pertamina. Ia berprestasi di kancah internasional sekarang. Kurang lebih seperti itulah semua atlet di Korsel. Disupport secara komplet dan mereka tinggal konsentrasi untuk mempertajam kualitasnya tanpa harus mikirin bagaimana nasib saya dan keluarga nantinya.

Lanjut lagi cerita dari Boy. Katanya di Korsel, orang keranjingan belajar. Sampai-sampai pemerintah membuat pengawas khusus agar siswa tidak boleh belajar lebih dari jam tertentu (sekitar 11 malam). Tempat-tempat bimbel diawasi agar para siswa tidak belajar melebihi jam belajar. Tujuannya apa? Agar siswa tidak stres. Ya, siswa di Korsel  memang sudah dihinggapi stres sejak SMA. Persaingan ketat, sehingga segala upaya dilakukan.

Kalau di Indonesia, masa SMA adalah masa terindah dalam hidup kata orang banyak. Bukan begitu?

Ada lagi cerita tentang perpustakaan. Kalau di sana, perpustakaan adalah tempat kongkow paling ajiiib. Kalau di kita Indonesia, biasanya tempat nongkrong di kampus adalah kantin. Kalau di sana beda. Ke kantin hanya dijadikan tempat makan, lalu langsung balik lagi ke perpustakaan. Karena peminat di perpustakaan tinggi, maka tiap orang yang duduk di satu kursi perpus, dibatasi maksimal 4 jam di perpustakaan. Selanjutnya, orang tersebut harus ke luar dulu dari perpus, lalu registrasi ulang lagi untuk masuk perpus. Ke perpus, belajar, itu sudah jadi kebutuhan mereka.

Kalau kita? Sudahkah rajin membaca? Apakah membaca sudah jadi kebutuhan atau hobi, atau budaya?

Cerita lainnya terus mengalir. Kata Boy, orang Korsel biasanya kalau akan ujian, 3 minggu sebelum hari-H, sudah mempelajari materi yang akan diujiankan. Berapapun banyaknya materi yang harus dipelajari, meski bertumpuk-tumpuk, tetap akan dibaca dan harus habis sebelum 3 minggu.

Kalau kita, belajar mepet waktu H-J bukan (H-jam/ menit)?

Kata Boy, prinsip orang Korsel seperti nelayan yang menjaringkan “jala” sebesar-besarnya, seluas-luasnya. Dengan demikian, peluang untuk dapat “ikan” yang banyak, jadi lebih besar.

Di sini ada sisi positif-negatifnya. Sisi positifnya, dia akan belajar semua hal hingga detil. Sisi negatifnya, analisa dan kreatifitas menjadi kurang karena polanya terlalu kaku. Kalau orang Indonesia yang dikenal kreatif, kan biasanya mengambil hal-hal penting saja, pelajari intinya, lalu dimodifikasi sendiri saja interpretasi ilmunya. Ibarat kata menurut Boy, orang Indonesia itu seperti “memancing”. Orang Korsel menebar “jala”. Kita sudah menduga-duga, menebak, apa kira-kira materi yang akan keluar di ujian. Kalau orang Korsel, harus pelajari semuanya.

Kami berlima masih lanjut berbagi cerita sambil makan sate Padang di Bundaran HI. Menurutnya, artis-artis Korsel itu berlatih fisik dan vokal secara “gila-gilaan”, keras, dan disiplin. Tidak heran, Korean Wave begitu menjalar ke seluruh penjuru dunia karena keseriusan orang Korsel mempelajari berbagai aspek kehidupan hingga detil dan penuh dedikasi.

Jurusan olahraga jadi favorit di Korsel. Kurang lebih seperti masuk jurusan di PTN Favorit-nya Indonesia lah. Hampir semua aspek didalami secara serius. Termasuk untuk urusan seni sekalipun. Diagarap secara profesional dan detil. Tidak sekadar haha-hihi nari sana-nari sini. Apapun bidangnya, diseriusin. Nah, ketika si Boy ditanya ama ponakannya yang pengen daftar jurusan Olahraga di UNJ, si Boy malah mendukung. Biasanya orang awam menganggap itu kurang penting, karena prospek profesi ke depannya hanya satu: jadi guru olahraga. Padahal, kalau kita kreatif, tidaklah demikian. Kita bisa jadi instruktur senam ibu hamil dimana notabenenya banyak dibutuhkan ibu-ibu Indonesia. Bisa juga nantinya jadi pelatih senam, atau instruktur fitnes. Begitu banyak peluang sebenarnya kalau kita buka mata lebar-lebar. Kalau saya pikir-pikir benar juga. Meski di Indonesia belum terlalu jelas peluangnya, tapi di Indonesia itu, apapun sebenarnya bisa jadi peluang. Di jembatan penyeberangan aja, di Indonesia bisa mengais rezeki.

Lanjut lagi ya cerita dari Boy. Memang ada efek buruknya di sana (Korea). Karena tingkat persaingan tinggi, tuntutan melakukan yang terbaik tinggi, dan ditambah tidak punya faith (iman), maka banyak yang bunuh diri karena stres. Seorang profesornya si Boy di tengah-tengah mengajar tiba-tiba nyeletuk secara filosofis, “Hidup ini buat apa sih? Saya capek-capek belajar, cari duit, punya anak-istri, lalu saya nanti juga bakal mati.” Dia lalu bertanya kepada mahasiswanya. Ada yang muslim menjawab, “hidup itu untuk ibadah.” Si dosen pun mengangguk-angguk. Entah ngerti entah nggak. Yang jelas, itu dosen yang berpendidikan tinggi pun gamang alias galau menjalani hidup setelah ia ada di puncak tertinggi karirnya.

Selesai ketemu Boy, aku sempatkan diskusi dengan istriku. Ia memberi input untuk tulisanku ini. Katanya, ia pernah lihat Yusuf Mansyur dalam sebuah ceramahnya di tv pernah mengatakan begini: “Iman itu dibutuhkan untuk setting goal (tujuan) hidup. Dan ilmu pengetahuan dibutuhkan sebagai kendaraan menuju goalnya.” Dilihat dosennya si Boy, bisa jadi dia itu hanya membaguskan kendaraannya, nge-gas sekencang-kencangnya, tapi tanpa tahu harus kemana, mau ngapain setelah itu, dan untuk apa semua itu dilakukan. Untuk itu, kita butuh keseimbangan. Jangan setting goal belakangan. Tentukan di awal. Baru gas sekencang-kencangnya setelah kau tentukan goal-mu.

Kami sempat bercakap-cakap sedikit mengenai kepemimpinan nasional. Kami sepakati bahwa menjadi pemimpin itu harus tegas dan jelas memutuskan sesuatu kepada anak buah. Biar anak buah tidak kebingungan, ke mana arah keputusan yang kita ambil. Misalnya anak buah nanya, ke kiri atau ke kanan? Harus jelas memutuskan belok mana. Kiri atau kanan, berikut dengan penjelasan logis di balik itu. Menjadi pemimpin, adalah puncak tertinggi dari suatu strata. Jadi, kalau Anda tetap bingung dan ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu, ya di tataran akar rumput juga akan turut bingung bin ragu.

Ditraktir Boy Makan Sate Padang @ Bunderan HI

Setelah puas ditraktir makan sate bersama, kami harus berpisah karena Boy ada kegiatan lainnya. Pertemuan pagi itu di Car Free Day begitu bermanfaat dan berkualitas. Meski kurang dari 2 jam saja. Menurutku, kadang kita sering minta oleh-oleh kepada teman kita di luar negeri, minta ini-itu. Tapi, sebenarnya, oleh-oleh yang jauh lebih berharga itu bukan berupa barang, tapi bisa berupa cerita, inspirasi, dan sudut pandang baru yang bisa teman kita tawarkan dari kehidupan yang tak pernah kita lihat sebelumnya. Itu jauh lebih berharga dan bernas. Barang bisa lekang oleh waktu. Pengalaman, cerita, inspirasi dan sudut pandang, bisa jadi akan mengubah hidup seseorang. Mulai sekarang, stop minta oleh-oleh barang ya! Perbanyak minta cerita dari temanmu yang dari luar negeri. Gimane? Sepakat ya?

Kesimpulan cerita seputar Korsel di atas tentu bukan bermaksud memuja-muja Korsel sebagai sebuah negara keren. Tapi paling tidak, kita punya gambaran, seberapa keras usaha kita di berbagai bidang yang kita dalami. Apakah sudah sekeras cerita orang Korsel di atas? Atau masih rata-rata alias standar saja? Mari merenung masuk ke dalam hati. Salam penuh makna, kawan!

15 responses to this post.

  1. Posted by Fani on September 1, 2012 at 6:16 AM

    waah gak nanya tipi di korsel yak, hehe…

    Reply

  2. Posted by Kuswantoro Marco Al-Ihsan on September 1, 2012 at 6:58 AM

    mantaff

    Reply

  3. Posted by Purba on September 1, 2012 at 8:04 AM

    Mantabsssss…..

    Reply

  4. sepakat kak ^^d
    oleh2 cerita lebih seru. coba semua orang berbekal blog ya, kalau habis ngapa2in bisa tunai ditagih oleh-olehnya😀

    btw, annyeong haseyo sapaan khas korea itu konon artinya sama kayak assalamualaikum. pernah dengar orang korea lagi nelpon bilang annyeong haseyo berkali-kali waktu nggak kedengeran orang diseberangnya bilang apa. ngebayangin kalau dia muslim, alangkah manteupnya doa itu diucap berkali-kali.

    ayo kak, lebih gampang nge’muslim’in orang korea yang udah potensial luar biasa dengan berbagai kebiasaannya atau nge’korea’in muslim supaya jadi super-luar-biasa?😀

    Reply

  5. wah ceritane kereeen..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: