Niat Baik (tak) Salah Alamat!

Tak selamanya niat baik disambut baik pula. Terkadang, niat baik, bisa juga salah alamat. Ini aku alami beberapa minggu lalu.

Begini ceritanya. Hampir tiap weekend, aku dan istri melakukan perjalanan dari rumah kontrakan menuju rumah baru kami di Kota Wisata Cibubur, cluster America. Aku bergembira dengan membeli rumah ini. Setelah menikah, biasanya dalam diri seseorang akan muncul panggilan jiwa untuk punya rumah sendiri. Itu sudah aku buktikan sendiri. Rezeki ga kemana pun telah kualami. Kami dapat rumah yang dijual murah, dengan informasi yang tiba-tiba nyamber begitu cepat dan di moment yang pas. Cerita mengenai rumah dan pintu rezeki mendapatkannya nanti saja diceritakan di part lain di kemudian hari ya.

Nah, untuk berkunjung ke rumah yang sedang kami renovasi itu, maka pilihan transportasi menuju sana jatuh pada bus. Biasanya kami naik bus patas AC dari Slipi Palmerah. Turun di depan Kota Wisata Cibubur dan naik ojek atau taksi ke dalam.

Dari beberapa kali kami naik bus patas AC, ada beberapa pengalaman menarik dan ada juga yang kurang berkenan di hati. Cerita yang jelek dulu deh ya. Pengalaman yang paling berkesan itu, saat kami naik bus dan pilih tempat duduk di belakang, eh ternyata di tol busnya naikin penumpang yang jualan pakaian untuk lebaran. Berkarung-karung dipaksakan naik ke bus. Sampai-sampai jalan menuju turun terhalang. Bingung turun harus bagaimana. Ditambah istriku hamil pula. Akhirnya hanya bisa mengeraskan suara, minta pedagang yang membawa barang seabreg itu bertanggung jawab. Karena ndak mungkin istriku manjat-manjat melangkahi kursi bus. Bisa lahiran prematur nanti. Akhirnya bisa juga lewat turun dari pintu depan, setelah sempat marah-marah ke pedagang yang tak bermodal itu, dan melempar senyum kecut ke mukanya. Untung aku masih sabar. Memang cobaan puasa banget deh.

Itu tadi cerita buruk pengalaman naik bus. Selanjutnya ada lagi cerita pengalaman lucu tentang niat baik yang ternyata bisa juga salah alamat.

Ketika istriku beranjak hamil dan semakin membesar perutnya, ada suatu rasa toleran yang muncul dalam hatiku. Tiap melihat ibu hamil, atau orang tua, rasa kasihanku lebih tinggi dari biasanya. Kalau ada ibu-ibu hamil yang sedang kesulitan dapat tempat duduk, dipastikan aku akan inisiatif memberi tempat duduk, atau mencarikan tempat duduk. Itu udah seperti otomatis muncul dari hati. Naluri laki-laki yang sudah menikah dan calon ayah kali ya.

Aku bisa merasakan bagaimana beratnya istriku membawa beban (benda asing) di dalam perutnya dan harus naik turun tangga, atau bus. Itu sesuatu yang berat. Jadi, ketika melihat ibu-ibu hamil atau ibu-ibu tua yang berada di posisi tak menguntungkan, langsunglah aku datang menjadi penyelamat.

Tapi tak selamanya niat baikku disambut dengan tepat. Tak selamanya gayung bersambut, atau pungguk merindukan bulan. Suatu waktu, aku naik bus bersama istriku ke CIbubur. Kami terpaksa duduk terpisah karena memang busnya sedang full. Istriku duduk di barisan depan, aku satu baris di belakangnya.

Begitu bus akan masuk tol dalam kota di depan Hotel Kartika Chandra, aku melihat sesosok ibu-ibu tua sedang berjalan dari belakang menuju depan. Ia seperti melirik kiri-kanan. Seolah mencari tempat duduk kosong. Seketika itu juga, hati kecilku berujar halus, “Ini ibu tua butuh bantuan. Aku harus segera bergerak beri bantuan”

Meski mataku sedang ngantuk-ngantuknya, tapi melihat ibu tua–lebih tua dari ibuku malahan– rasanya tak tega. Rasa kasihanku lebih besar daripada rasa sayangku pada diri sendiri. Seketika itu juga aku bangkit dari tempat dudukku. Aku berjalan mengejar ibu itu, untuk mempersilahkannya duduk menempati kursiku.

Satu langkah kulewati. Dua langkah lalu menyusul. Aku melewati istriku yang duduk di depan. Tapi ternyata istriku memanggilku. “Kak…kak…itu bukan….”

Aku hiraukan panggilan dari istriku. Pas sesaat dipanggil aku sebenarnya merasa heran, kok dipanggil istriku dari belakang? Kan aku mau bantu orang, malah kesannya dilarang? Orang tua ini aku yakini butuh tempat duduk. Aku lewati istriku dalam hitungan detik. Aku sentuh pundak si ibu tua dari belakang. “Puk-puk, ibu silahkan duduk di kursi saya,” ujarku singkat.

Si ibu belum juga menoleh padaku. Kok sepertinya aku dicuekin nih. Sekali lagi aku ulangi. “Bu duduk di sini bu,” sambil aku tunjukkan dimana kursiku yang sudah siap aku hibahkan untuknya. Ia menoleh sebentar, menatapku dengan tatapan datar, lalu kembali melihat ke depan lagi.

Kok aku dibeginiin? Niat baik, tapi malah ditolak? Nah, ternyata langsung terjawab keherananku. Belum sempat aku menganalisis lebih jauh, ternyata si ibu tua berbalik badan ke arahku, mengarahkan badannya ke semua penumpang yang duduk. Sekelebat ia langsung berujar, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…” Maka mulailah ia mengucapkan kata-kata sakti berikutnya.

“Oalah. Pantesan tadi istriku memanggil-manggilku seperti melarangku menarik-narik ibu tua tadi. Ternyata ia notice bahwa ibu tua itu bukan sedang mencari tempat duduk. Ternyata ia adalah pengamen!”

Aku memang salah sangka ke ibu tua itu. Aku kira ia penumpang umum. Ternyata ia pengamen. Tapi bagaimanapun, aku tak sedikitpun merasa malu pada salah sangkaku. Aku merasa sebagai seorang gentleman di tengah halayak yang (sedikit) menertawakanku karena salah tebak. It’s ok.

Dengan niat baikku memberikan tempat duduk kepada ibu tua–yang jalannya sudah sempoyongan itu—nah bukti hatiku tak beku. Aku cukup senang. Naluriku ternyata masih hidup, masih menyala, masih peduli pada lingkungan sekitar, meski kali ini salah alamat.

Mengapa aku bilang salah alamat? Bayangkan saja, kalau aku tetap memaksa si ibu itu untuk duduk, tentu dampaknya akan salah alamat.  Masa ibu-ibu pengamen itu nyanyinya duduk di kursi? Kan nanti ndak kelihatan orangnya dan ndak kedengaran suaranya oleh penumpang bus. Bus Patas AC kursinya cukup tinggi lho. Hehehe.

Kadang kita sebagai orang muda, badan masih fit, ketika naik angkutan kota entah itu bus, angkot, kereta, tampil egois dan tanpa belas kasih pada orangtua, anak kecil dan ibu hamil. Di saat desak-desakan di TransJakarta misalnya, ada aja anak muda yang pura-pura tidur dan tidak memberikan kesempatan duduk pada orang yang prioritas mendapatkan tempat duduk. Sungguh memalukan. Semoga kita tidak termasuk orang yang seperti itu, khususnya buat pembaca blogku. Pasti kalian lebih keren dari itu ya. Pasti kalian gentle! Pasti kalian care! Pasti kalian peduli dengan lingkungan sekitar!

Kembali ke laptop. Terlepas dari salah alamat atau tidak, aku sebenarnya tetap saja merasa kasihan dengan ibu tua itu. Jika ia punya anak, kenapa anaknya tega membiarkan ibunya mencari uang di masa tuanya? Kalau benar ada anaknya, aku benar-benar tak suka dengan sikap anaknya. Kalau ia punya suami, aku akan marahi suaminya karena tidak bertanggung jawab. Kalau semua keluarganya sudah meninggal, ya itu baru namanya nasib. Pikiranku terbang kesana-kemari.

Aku lalu menyimak lagu apa kira-kira yang dibawakan si ibu tua. Ternyata ia membawakan lagu lawas, Widuri kalau tak salah. Ya sejenis tembang kenangan lah kira-kira. Seperti yang sering dibawakan di acara Zona Memori-nya Metro TV.

Ibu tua renta, menyanyi tembang lawas, dengan suara yang tak jelas, dan tanpa nada yang hampir datar tanpa irama (fals). Sungguh aku merasa kasihan melihat kejadian itu. Ia tetap berdiri mengikuti liukan bus yang serong kanan-kiri secara serabutan di tol. Aku amati, ada anak kecil yang tepat duduk di samping ibu itu dan sedang dipangku bapaknya, melihat si ibu tua yang bernanyi itu sambil cengok mukanya. Mungkin si anak kecil itu berpikir, “Ini ibu tua nyanyi lagu opo siiiih….” Mulut si anak kecil mengaga melihat aksi ngamen si ibu tua. Lucu sekali melihatnya. Sayang sekali saat itu tak ada kamera hp karena lowbat. Momen itu terlewatkan begitu saja.

Ketika beberapa lagu telah selesai dinyanyikan, ibu tua itu meminta uang kepada penumpang. Aku memberikan sejumlah uang. Kasihan sekali, ia tua renta, tapi harus berjuang menyeimbangkan badannya di tengah goyangan bus yang tak stabil. Sebenarnya ia akui malu meminta-minta. Tapi ia juga mengatakan terpaksa pada keadaan.

Kalau menurutku, ia layak berada di kursi penumpang, tak perlu minta-minta. Aku yakini lagi, niat baikku ingin memberinya tempat duduk tak salah alamat sebenarnya. Niat baikku Insya Allah tetap tepat sasaran di hati Gusti Allah yang Maha Tahu. Hati kecilku tak bisa berbohong dan selalu ingin teriak melihat kondisi yang tak seharusnya terjadi. Ibu tua renta, alih-alih menikmati sisa umur dengan tenang, malah terombang ambing nasibnya mengikuti jalan bergelombang di jalanan ibukota.

Aku membayangkan ibu tua itu adalah ibuku. Bayangkan jika ibuku ada di bus, lalu ia tak dapat tempat duduk karena kepenuhan dan terombang-ambing? Tentu takkan pernah aku biarkan itu terjadi! Titik!

Atas nama motivasi “membayangkan ibu tua itu = orangtuaku sendiri”-lah aku bergerak maju, berdiri dari kursiku dan rela memberikannya pada si ibu tua.

Nah, minggu lalu aku ketemu lagi dengan ibu tua pengamen itu, di bus yang sama, Maya Raya jurusan Kalideres-Cileungsi. Langsung saja aku foto beliau pake hp. Pertanyaanku sekarang, enaknya ibu tua ini diapain ya? Mengingat, pasti aku akan sering bertemu dia dan melihat dia melakukan aktivitas yang serupa: mengamen di bus kota. Apa yang akan Anda lakukan ketika bertemu lagi dengan ibu tua ini? Ada ide “gila” kah? Ada gagasan bernas? Ada usulan maknyus? Aku tunggu ide paling gokil!

Ibu Tua Pengamen

Ingin diskusi denganku? Hubungi di aku saya @pukul5pagi

12 responses to this post.

  1. Posted by Duha on September 8, 2012 at 6:03 AM

    sungguh mulai niatmu..broooo….

    Reply

    • Hahaha. Ada usulan ga bro, ibu itu diapain? Jengah juga lama2 liat dia melakukan aktivitas itu. Bakal ketemu terus karena aku akan sering naik bus tersebut.

      Reply

  2. Posted by idel on September 8, 2012 at 7:08 AM

    Dikasih kerjaan aja. Yg ringan. Kdg org tua jg g mau diam saja. Maklum jiwa pelindungnya ito lho yg bikn dy nya tetap bekerja. G tegaan…. Klo anak2 msh byk yg tegaan:-(

    Reply

  3. huahahahaaaaaa____ *ketawa dulu*
    seru ceritanya, Kak.
    jarang-jarang ya, kalau diliat memang si ibu itu gak tampilan banget pengamen… selayaknya penumpang lah…
    dan gak salah juga niat Kakak nawarin tempat duduk ke si ibu pengamen itu…

    BTW…
    mau diapain?
    wah, kudu menyikat otak neh, biar kinclong ide-nya.

    tapi barusan aku kepikiran, gimana kalo si ibu di tes dulu kemampuannya?
    kalau ada kemampuan khusus (selain menyanyi dengan fals- dan -naik turun bus kota), mungkin bisa dikembangkan….
    atau, kalau si ibu memang berbakat di bidang akting (secara penampilan mengamen-nya setara dengan penumpang bus umum), kenalin aja ke PH iklan, kak… (dijadikan bintang iklan, iklan layanan masyarakat jg bisa tuh!!)
    pesan moral-nya “JANGAN SIA-SIAKAN ORANG TUA-MU!”
    kalau mungkin si ibu keberatan untuk jadi terkenal di luar dari kotak bis kota….
    boleh deh dititipkan ke pak sopir bus-nya, untuk bikin liveshow ___ di video-in … diputerin di bis kota :p

    udah ah…
    *gokilgilapagi2*

    Reply

  4. Posted by shelly on September 25, 2012 at 9:21 PM

    Udah lama euy ga mampir ke blognya add😀 soal berempati di dalam bus jg pernah aq alami ad, wktu itu aq berangkat ke kampus, naik bus yg penuh sesak (sampe berdiri2) aq pun berdiri.. Lalu naiklah seorang ibu sambil menggendong anaknya yg masi balita.. Ibu2 itu berdiri tepat disamping seorang cewek berjilbab lebar (jilbaber) yg sedang asyik membaca al-quran kecil ditangannya.. Awalnya anak kecil yg digendong sama ibunya itu diam saja, mungkin krna semakin lama semakin sesak keadaan didalam bus dan AC bus jd ga terasa, mulailah anak itu rewel dan kemudian nangis kejer, seantero bus terdengar suara tangisnya saja.. Si ibu masi berusaha menenangkan anaknya tetap sambil berdiri, yg duduk disekelilingnya tidak ada yg memberinya tempat duduk, terlebih lagi si cewek tdi, dia tetap saja asyik dengan kegiatannya, padahal jelas2 siibu berdiri tepat disampingnya sambil kerepotan menggendong anak yg tengah meronta2… Jujur saja melihat adegan itu aq kesel juga sama sicewek jilbaber itu, duhh gak malu yahh sama jilbab dan al-quran ditangannya itu,ngeliat seorang ibu susah payah menggendong anaknya tp dia ga bergeming sedikitpun, dimana letak hablumminannasnya yaa *masisukakeselsampesekarangkaloingetkejadianitu*

    Nah lohh jadi panjang komennya qiqiqiqi… Btw, istrimu lahiran dimana? Kalo disby kabar2in yaa…

    Reply

    • Perempuan berjilbaber itu mgkn tingkat ilmunya masih sebatas “baca alquran”, belum mengamalkan. Itu kesimpulan saya. Shelly, istriku sekarang di Gresik, aku komuter Jkt-Sby-Gresik 2 minggu sekali. Lahiran di RS Semen Gresik sptnya. Kemungkinan Idul Adha, tapi bisa juga lbh cepat kata dokter.

      Reply

  5. wah kasihan banget ngelihat ibu-ibu tua ngamen bgitu. rasanya kl aku yang ada di bus itu mau aku kasih uang yg lebih, itung2 bersedekah.

    Reply

  6. hmmm baca tulisan ini jadi kepikiran menjamurnya anak jalanan menjelang musim liburan sekolah, kasian banget masi kecil dah nantangin mobil n motor😦 , udah sering banget mikirin gimana caranya biar anak2 jalanan itu kembali keorang tuanya, bermain belajar dirumah gak perlu cari duit ngamen2 nantangin mobil dan motor, tapi belum ada nemu jawaban yang pas😦

    Reply

    • Kompleks sekali masalahnya. Ada jg ibu2 yg tak kuat menanggung biaya anak, ia buang anaknya di terminal, di stasiun, dll. Ditinggal begitu aja. Harus mulai dari mana? Mungkin dari pendidikan. Tp lagi2 tak mudah.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: