Afiqah Mau Berbagi

Akhir-akhir ini aku suka geleng-geleng kepala karena Afiqah. Ia mengalami tantrum yang kita belum temukan solusi tepat untuk meredam atau mengatasinya secara tuntas. Sampai akhirnya ketika pembagian raport Toddler di Sekolah Batutis, kami diberikan pencerahan yang luar biasa banyak dari guru Afiqah. Nama bu gurunya adalah Bu Nur. Beliau sangat klik dengan Afiqah. Ia sudah mendapatkan trust dari Afiqah. Jadi, ketika komunikasi, seperti tidak ada barrier diantara mereka.

Salah satu sikap tantrum yang cukup mengganggu dari Afiqah adalah saat ia ngamuk-ngamuk selalu mengatakan hal berbeda dari yang sebaiknya dilakukan oleh orang normal/ awam. Ia sedang dalam fase selalu mengatakan hal negatif alias kebalikan dari yang disarankan. Misalnya, “Berbagi lebih baik…” lalu Afiqah akan menjawab, “Afiqah gak mau berbagi…” atau dengan kalimat lain, “Afiqah belum siap berbagi terus-terus…”

Kalau dari kacamata orang awam, mungkin Afiqah akan diberi label “anak yang kurang sopan” atau “kurang diajari”. Maklum, jika ia tak mau salaman dengan orangtua yang ia temui, atau secara spontan dan lantang bilang “tak mau berbagi”, tentu akan ada dahi yang mengernyit melihat sikap anak kecil seperti itu. Jadi, kami harus meluaskan dan melapangkan hati kami. Kami harus yakin bahwa anak kami bukannya tidak mau berbagi, tapi ia memang sedang dalam fase selalu bertolak belakang dari apa yang diucapkan lawan bicaranya.

Tips dari Bu Nur

Setelah puyeng mencari solusi bagaimana mengatasi kekeuh-nya Afiqah untuk selalu berkata berkebalikan dari lawan bicaranya, maka akhirnya dapat juga tips dari Bu Nur, gurunya Afiqah. Beliau menyarankan kepada saya dan Andin untuk tidak perlu panik. Jika ingin mengubah sikap Afiqah, tidak perlu berkata-kata ini dan itu. Cukup berikan contoh, maka Afiqah akan berpikir, dan ia akan mengikuti sesuai teladan yang diberikan.

Wah, terdengar begitu idealis dan mungkin nyaris utopis itu nasehat bu Nur. Itu seperti pelajaran-pelajaran PPKN di sekolahan. Seperti melakukan hal baik yang normatif. “Rasanya tak mungkin,” ujarku dalam hati. Masa sih tanpa diomongin, dan hanya memberi contoh, kita bisa mengubah tabiat tantrum Afiqah? Tapi karena yang berbicara dan memberi masukan adalah guru Afiqah yang selalu berinteraksi dengan Afiqah di weekdays, dan kami percaya padanya, maka saya dan Andin pun mengatur strategi, bagaimana biar Afiqah ini bisa berubah sedikit demi sedikit. Terutama saat ia kena tantrum. Jangan sampai selalu saja hal negatif yang ia ungkapkan.

Praktek Tips

Sebelumnya, kami ingin menjelaskan bagaimana kondisi Afiqah saat ini. Saat ini dia selalu bilang, “Afiqah gak mau berbagi”. Ia ada di fase sebagai “raja yang egois tingkat tinggi”. Serba “Aku sendiri” deh pokoknya. Kalau dibantu, malah marah. Kalau gak dibantu, bakal butuh waktu lama dan dia kesal sendiri, lalu akhirnya nangis. Misalnya saja ketika membuka kancing baju. Itu hal yang sedang digandrunginya. Beli baju atau memakai baju hanya mau yang berkancing.

Afiqah Mau Berbagi

Afiqah Mau Berbagi

Maka kami pun menyiapkan beberapa action plan sebagai implementasi dari strategi mengubah Afiqah. Pertama, kami menyiapkan niat dulu. Niat kami adalah mengubah agar Afiqah mau berbagi. Kami ingin menetapkan kampanye untuk mengubah prinsip Afiqah yang “tak mau berbagi” jadi “mau berbagi”. Pilihan timing-nya adalah saat ada rencana pulang ke Pemalang di akhir pekan. Rencananya kami ingin berbagi pakaian yang masih bagus, tapi sudah tidak muat di perut/ lingkaran perut. Itu yang akan kami bagikan kepada orang yang membutuhkan.

Kedua, bagaimana caranya? Kami harus memberi contoh kepadanya, tak perlu kata-kata direct yang kesannya menasehati seperti seorang ustadz menceramahi jemaah. Kami berdua –saya dan Andin—sepakat untuk membongkar lemari pakaian kami, lalu melakukan klasifikasi mana pakaian yang akan tetap kami keep, mana yang akan kami bagikan kepada orang yang membutuhkan di kampung mertua di Pemalang. Waktu itu sebenarnya Afiqah masih tidur. Tapi kami sisakan ada beberapa pakaian agar aksi bongkar lemari ini bisa dilihat oleh Afiqah lewat mata kepalanya sendiri. Jadi tidak based on “katanya…..” atau perintah langsung ke anak. Kami ingin memberikan contoh lewat aksi nyata, bukan retorika.

Ketiga, eksekusi. Ketika Afiqah bangun tidur, kami ajak ia datang ke kamar di bagian belakang rumah. Saat itu kami sedang sibuk-sibuknya menyusun dan memilah-milih baju mana yang harus disimpan mana yang harus dibagi kepada orang yang membutuhkan.

Afiqah celingak-celinguk. Ia heran melihat tumpukan pakaian yang banyak berserakan di kasur. Kami hanya mengamati saja tingkah Afiqah. Nyawanya belum menyatu betul dengan badan. Masih mengusap-usap mata. Tak berapa lama ia bertanya, “Kenapa bajunya ditaruh di sini?”

Nah, dalam hati aku berkata, “Wah, umpan mulai dimakan nih ama Afiqah…sip banget”

Kami menjelaskan dengan santai dan seolah ini adalah hal yang biasa dilakukan. “Oh, pak Ading dan Manda Andin mau berbagi pakaian yang masih bagus buat tetangga Akung di kampong di Pemalang.”

“Afiqah ga mau berbagi terus-terus….!” Ucapnya merespon.

Oke. Ga apa-apa. Respon yang sudah kami tebak sebelumnya. Kami pun lalu tetap melanjutkan proses pemilihan baju-baju yang akan disumbangkan. Kami tak terganggu dengan respon Afiqah. Manda Andin merespon, “Oh, Afiqah belum mau berbagi. Tidak apa-apa. Manda sama Pak Ading tetap mau berbagi kok.”

Afiqah dengan wajah tengilnya tetap tidak mau berbagi. Ia belum siap. Kami pun tetap melanjutkan aktivitas bongkar lemari dan pilah-pilih pakaian yang masih bagus. Kata hadist, berikanlah barang yang kau cintai untuk diberikan kepada orang lain. Di sanalah konsep keikhlasan diuji. Rela gak ngasih barang terbaik yang kita punya?

Tengil Dikit

Tengil Dikit

Manda Andin bolak-balik dari satu kamar ke kamar lain, mencari pakaian yang masih bagus. Setelah 10 menit berlalu, Afiqah mulai bertanya. “Kenapa bajunya dikasih ke orang manda?”

Manda Andin secara brilian menjelaskan, “Di kampung Akung di Pemalang itu dingin. Banyak adik kecil yang kedinginan di sana. Jadi mereka butuh baju.”

Ini penjelasan yang sangat pas, tepat, cucok.

Apa respon Afiqah? Ternyata ucapan Manda Andin itu langsung kena di hati Afiqah. Nyangkut. Instalasi alasan “why” ini berdampak sangat positif. Seketika itu juga ia langsung berubah dari “tidak mau berbagi”, jadi mulai terbuka untuk “mau berbagi”.

Afiqah mulai membuka laci pakaiannya. Ia mencari baju bayi yang sudah sempit, untuk diberikan kepada adik bayi di kampung Akung. Ia lalu meletakkan satu baju itu ke kardus yang kita sudah siapkan. Kami seperti coach yang memancing lagi agar coachee-nya menemukan sendiri jawaban kenapa kita “harus berbagi”.

Afiqah tidak puas dengan hanya memberi satu baju. Sementara itu, kami tetap masih sibuk mengumpulkan lagi baju yang bisa disumbangkan. Afiqah mulai membuka lagi laci pakaiannya. Ia ambil lagi baju lainnya, lalu ditaruh di kardus lagi. Sampai akhirnya, ia mengumpulkan cukup banyak baju.

Kami iseng nanya, “Kenapa Afiqah mau ngasih bajunya?” Ia lalu menjawab, “Afiqah mau berbagi untuk adik bayi, kasihan kedinginan.”

“Alhamdulillah, Afiqah sudah mau berbagi sekarang….” Ternyata untuk menyentuh hati seorang anak kecil yang egonya sedang tinggi banget ke-AKU-annya, tidak terlalu sulit. Rumusnya, cukup beri contoh tindakan secara persistence, lalu suntikkan alasan “WHY” yang tepat dari balik suatu tindakan, lalu lihat reaksi dari dirinya. Jika tepat, hasilnya akan luar biasa. Alhamdulillah.

Hasil dari bongkar lemari pakaian adalah 3 kardus. Dua diantaranya kardus kecil, dan satu kardus besar. Rasanya senang bisa melepaskan barang-barang yang kita cintai. Saya membayangkan, jika tiap keluarga melakukan hal yang sama, membongkar barang-barang yang tak lagi mereka gunakan, namun kualitasnya masih bagus, tentu akan sangat membantu keluarga lain yang membutuhkan.

Penutup

Buat orangtua yang sedang kesulitan menaklukkan anaknya yang sedang egois, silakan coba tips dari guru Afiqah di atas. Untuk mengubah perilaku dan prinsip seseorang, kita tidak harus ceramah berbusa-busa. Cara terbaik adalah memberikan teladan secara tulus. Lalu lihat keajaiban darinya.

Terima kasih Bu Nur, terima kasih Bu Siska, Pak Yudhis, dan semua guru Batutis yang keren-keren dalam berjuang mempraktekkan Metode Sentra untuk membangun karakter anak. Makin banyak bukti bahwa metode ini memanusiakan manusia (khususnya anak) dan mudah dipraktekkan di rumah karena si anak sudah punya SOP yang rapi di dalam sikapnya. Ketika Afiqah menemukan alasan yang tepat (why) atas lahirnya suatu tindakan, maka tidak sulit mengarahkannya ke jalan kebaikan. Rasa empatiknya yang sudah dibangun di sekolah, jadi modal dasar yang sangat kami syukuri. Hidup rasanya menjadi lebih mudah beberapa tingkat.🙂

Bagaimanakah aksi Afiqah ketika bertemu dengan anak-anak di kampung di Pemalang, tepatnya di kaki gunung Slamet? Apakah ia mampu persistence menyelesaikan misinya berbagi pakaian dengan adik bayi yang kedinginan? Nantikan kelanjutan ceritanya di part 2.

Sila baca buku Metode Sentra sebagai referensi membangun karakter anak:

https://umarat.wordpress.com/2012/12/10/buku-pemantik-kecerdasan-jamak/

4 responses to this post.

  1. Anak saya laki2 usia 30 bulan, lg fase kata tidak, diminta, “jangan lari2 di masjid,” akan membantah bilang nggak mau, diminta salaman, bilang nggak mau, diminta berbagi, nggak mau, gimana ya cara ngatasinnya? *maaf jd curcol

    Reply

    • Fasenya sama dengan yang anak saya sedang alami. Yang pertama harus dipegang prinsipnya adalah orangtuanya jangan panik, jangan merasa “gagal mendidik anak”, atau merasa tertekan dengan lingkungan sosial. Harus berani menerima bahwa fase perkembangan anak kita sedang ada di sana. Fase egois dan melawan/ kebalikan dari apa yang diminta, itu wajar kok. Ada fasenya. Fase itu harus dilewati. Jika tidak dilewati, atau tidak keluar egoisnya, maka ada perkembangan yang tak tuntas sejak kecil. Kalau menurut diskusi dengan pakar2 praktisi pendidikan metode sentra, nanti egonya malah keluar saat dia dewasa. Mendingan dikeluarin pas dia masih anak-anak. Yang terpenting, bagaimana kita me-manage-nya agar tidak keterusan egois.

      Untuk bagaimananya tips mengarahkannya, saya juga sedang belajar. Nanti saya tanya2 dulu ya ke yang lebih ahli. Saya akan share di sini. Makasih dah mau mampir membaca.

      Reply

  2. Afiqah pinter yaa udah mau berbagiii

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Share And Review My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

D L A`s Stories

Mylife, Mydeath are all for Allah SWT.

unspoken mind

if you can't tell, just write

%d bloggers like this: