Archive for the ‘Cerita Pendek’ Category

Beli 1 Comel, Manalah CUKUP?

Sudah lama saya kagum sekali dengan teman saya yang satu ini. Kita tidak pernah kopi darat, tapi kita pernah satu organisasi di kampus dulu. Dia lalu bekerja di sebuah stasiun televisi ternama. Aku terus memantau kiprahnya dari jauh.

Tak berapa lama, waktu terus berjalan. Dia memutuskan resign dan memulai usaha baru. Aku tetap memantaunya. Apa sebenarnya yang ia lakukan? Kenapa ia berani resign dari perusahaan bonafid, yang sebenarnya satu grup dengan tempat kerjaku dulu? Aku akui, keputusan itu butuh nyali yang besar di tengah perekonomian yang tak terlalu baik. Semua status update-nya kuikuti. Ada nomor Whatsapp, aku ikuti. Aku ikuti inovasi-inovasi produk yang ia buat.

Sepertinya ia begitu passionate berkecimpung di dunia karya ilmiah. Agaknya sejak dulu itu adalah ekspertisnya. Beberapa kali jadi pembicara atau juri atau mentor, entahlah. Tapi semakin hari, peran dan karyanya semakin jelas. Ia memainkan peran sebagai entrepreneur muda yang juga jadi dosen di universitas swasta. Bisnisnya makin berkibar.

Suatu kali, aku lihat produknya di website. Aku pesan. Afiqah penasaran melihat botol jar lucu gambarnya, karena ada cokelat-cokelatnya. Setelah pesan sekali, Afiqah ketagihan. Kalau ia makan, selalu cemang-cemong. Sekali pesan, tidak bisa hanya pesan 1-2, tapi harus 6. Kenapa? Karena selain Afiqah, emak bapaknya juga ketagihan. Satu rangkaian frase buat produknya adalah: ENAK BANGET!

Nama produknya adalah COMEL. Websitenya adalah: http://www.steakotakingdom.com/

Nama teman saya itu adalah Andy Setyawan.

Dan ini adalah foto Afiqah, sedang makan COMEL yang lezat. Beneran, kangen COMEL, nih!

Comel

Alhamdulillah, Afiqah Anak Singkong

Saya sedang di rumah menemani Afiqah bermain. Teman Afiqah, tetangga kami, turut serta bermain di ruang tamu. Terjadilah percakapan.

Afiqah: Ayah, aku mau singkong.

Ayah: Oh ya. Silakan ambil sendiri.

Ucuk-ucuk Afiqah ambil sendiri piringnya dan mengambil singkong yang sudah direbus manda Andin Garindia tadi pagi. Afiqah melahap 2 potong besar singkong.

Lalu di sela-sela makan, ia promosi ke anak tetangga. “Singkong ini lezat lho? Enaaaaakkkk sekali.”

Saya menawarkan kepada anak tetangga itu, apakah ia mau singkong juga atau tidak. Ia mengernyitkan dahinya tanda heran. Lalu dijawab, “Nggak suka singkong. Sukanya roti #$XYZ* yang di mall. Ada keju, ada cokelatnya.”

Illustration picture is taken from bing.com

Illustration picture is taken from bing.com

Setelah itu saya merenung, betapa setelah Afiqah masuk sekolah ke Batutis Al-Ilmi, ia sudah berubah jadi anak singkong. Ia jadi penyuka jajanan pasar yang dibuat homemade. Ia suka juga pisang kepok rebus. Ia juga suka sayur bening, dan jenis sayuran lain yang dimasak ala rumahan. Di sekolahnya, ia terbiasa makan makanan yang dibuat oleh orang dapur Batutis. Afiqah jadi tidak susah lagi makannya sekarang. Ia bisa bersyukur atas semua nikmat yang terhidang di meja makan karena di sekolah, guru menstimulus murid agar bersyukur atas makanan yang bisa hadir di atas meja makan. “Alhamdulillah, teman-teman, hari ini rezeki kita adalah tempe, tahu, sayur oyong,” begitu pijakan dari gurunya sebelum makan dan sebelum memulai doa.

Dari sini, murid harus makan sesuai kebutuhannya. Kalau ambil banyak, ditungguin sampai piringnya licin. Kalau ambil sedikit, dan masih lapar, bisa tambah nasi lagi. Kalau ada lauk tersisa, harus dibagi ke sejumlah murid (besaran potongannya). Bisa sekalian belajar matematika dalam wujud kongkret. Kecuali jika ada murid yang mengikhlaskan untuk tak ambil bagiannya. Ternyata, dari meja makan saja, kita bisa belajar banyak hal.

Alhamdulillah, Afiqah bisa diajak makan apa aja. Makanan mahal, makanan murah, semua bisa. Ia mengerti apa tujuan makan. Ia juga tahu khasiat yang terkandung di dalam makanan. Ia mengerti karbohidrat buat energi ketika bermain, protein yang bisa bikin tinggi badan, vitamin yang bikin sehat dalam buahan dan sayuran.

Alhamdulillah, Afiqah adalah anak singkong. Saya bersyukur atas hal itu. Orangtuanya merasakan betul manfaatnya. Selain hemat, tidak perlu beli makanan mahal di mall, kami juga terhindar dari makanan berpengawet dan merusak badan.

Adik Untuk Afiqah

Hari Kamis, 26 Mei 2016, saya baru saja pulang dari roadshow sebagai Ketua Ikatan Alumni Rumah Kepemimpinan (IA RK) sekaligus melaksanakan riset MONEV (Monitoring dan Evaluasi) ke Alumni RK Jogjakarta dan Surabaya. Saya pergi sejak hari Minggu, dan baru tiba kembali setelah berpisah dengan Afiqah selama 4 hari 4 malam.

Sesampainya di bandara Halim Perdanakusuma, saya naik Grabcar menuju Batutis Al-Ilmi di Pekayon-Bekasi. Saya sudah rindu sekali rasanya bertemu buah hati nan ceriwis, Afiqah Humayra Umarat.

IMG-20160528-WA0003

Sesampainya di Batutis, saya mengendap-endap, mengintip dimana Afiqah berada. Lalu saya berdiri seperti patung di pojokan sekolahnya. Saya mengamati, Afiqah sedang mengambil air minum bersama tantenya, Amirinnisa. Oh ya, si tante kebetulan sedang belajar dan mendalami ilmu Metode Sentra di Batutis. Praktis, hampir seluruh keluarga kami ingin terjun mendalami ilmu pembangunan karakter anak usia dini ini.

Dalam beberapa detik, Afiqah sadar, ada orang yang mengamatinya dari jauh. Mata ketemu mata, ia pun kaget, dan langsung melonjak girang-gembira. Ia langsung berlari ke arah saya, “Ayaaaaaah…….”

Afiqah memeluk erat tubuh saya, dalam dekapan penuh makna. Ada rasa kangen yang membuncah, yang kemudian pecah, ditutup dengan senyuman yang sumringah.

“Kirain Afiqah siapa tadi….eh tahunya Ayah datang….” Ia lalu memperagakan ulang kekagetannya melihat ayahnya ketika sedang asyik mengambil minum dari galon di pojokan sekolah. “Tadi Afiqah kan lagi di sini…..lalu ayah….bla bla bla…” sambil ia reka ulang.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah sebuah kenikmatan luar biasa. Klasik. Seorang ayah pulang dari sebuah perjalanan, ia kangen anaknya, dan anaknya juga kangen, lalu terjadilah peluk-pelukan ala India-Indiaan. Sedikit bumbu drama, tapi saya menyadari bahwa itu adalah my very precious moment sebagai ayah. Saya senang, bahagia, bangga, pulang disambut anak saya dengan kondisi ia sudah menanti-nanti sebelumnya. Saya merasa menjadi ayah yang dirindukan, bukan ayah yang menyeramkan.

Dalam sebuah seminar parenting yang disampaikan oleh Ustadz Arifin Jayadiningrat beberapa tahun lalu, beliau menyampaikan tips parenting, bahwa untuk mengetes apakah anak kita dekat dengan kita, coba lihat dan amati, apakah anak kita berteriak girang ketika kita pulang kerja, atau malah ia memperlihatkan gelagat ketakutan dengan “kabur” atau masuk kamar, menghindar bertemu dengan kita. Apakah ketika kita datang, senyum bahagia, gelak tawanya tetap tersungging di mulutnya, atau suasana berubah jadi tegang benderang dan penuh hening? Alhamdulillah, saya dan istri bersepakat untuk menciptakan suasana bahagia, ceria, penuh canda tawa di rumah. Tidak ada ketegangan. Anak harus bahagia bertemu saya. Bertemu ayah artinya akan bertemu kesempatan main penuh makna bersama. Itu strategi kampanye yang kami atur buat Afiqah. Alhamdulillah, so far berhasil. Saya ingin kebahagiaan ini tetap berlangsung hingga kapanpun.

Karena belum shalat, akhirnya saya memutuskan untuk berwudhu, dan numpang shalat di Sekolah Batutis. Begitu mau shalat, Afiqah berkomentar, “Yah, ayah shalatnya sendiri, dapat pahala satu donk?” Hah? Benar juga nih perkataan anak kecil. “Ayo makanya, Afiqah ikut shalat sama ayah ya?” rayu saya padanya.

“Kalau jemaah, dapat pahalanya berapa?” selidik Afiqah. Sebenarnya ia sudah tahu, tapi pengen ngetest ayahnya. “Oh, kalau berjemaah, pahalanya 27 kali.”

“Kalau jemaah, Allah bilang apa?” tanya lagi. “Oh, kalau shalat jemaah, Allah bilang, nah….ini shalat jemaah, dapat 27 kali pahala…”

Sepertinya ada materi pijakan dari sekolah yang menempel di kepalanya, hingga ia ingin mengulang-ulang hal ini, terkait pahala shalat berjemaah.

Afiqah akhirnya ambl wudhu juga. Seperti biasa, anak kecil ini tidak mau dibantu. Ia terbiasa dididik di sekolahnya untuk mandiri. Meski percikan air itu membasahi beberapa bagian bajunya, tak apa. Ia butuh diberi kepercayaan dan kesempatan untuk berwudhu sendiri. Ia berkuasa atas dirinya sendiri. Saya percaya itu.

Selesai wudhu, kami pun shalat berjemaah, setelah menggelar sajadah yang dibagi satu berdua. Saya shalat, Afiqah ada di samping. Tak sampai beberapa rakaat, ia sudah kabur main ke tempat lain. Akhirnya saya tetap lanjut shalat sendiri. Ternyata, ia belum bisa fokus saat itu. Tak apa. Tadi shalat Zuhur di sekolah, pasti ia sudah shalat berjemaah juga, pikir saya. Tapi, begitu shalat hendak berakhir di rakaat empat, Afiqah muncul lagi. Selesai salam, Afiqah turut serta berdoa. Bahkan, ia meminta saya untuk berdoa khusus agar segera diberikan adik, “Ayo ayah minta adik, doa sama Allah…” Di dalam hati saya tersenyum, kenapa ini Afiqah? Selesai saya berdoa, giliran Afiqah berdoa dalam lafal yang terdengar jelas oleh saya. Setelah mendoakan kedua orangtuanya dalam bahasa Arab, lalu ia terjemahkan ke bahasa Indonesia. Rasanya saat itu, mendengar kefasihan doanya, melihat kepolosannya sebagai anak kecil, jadi gemeeeeessss banget. Terlebih doanya ditutup dengan doa minta diberikan adik. “Ya Allah, berikanlah Afiqah adik yang pintar, yang nurut…..Amin…”

Dari belakang saya hanya senyum-senyum saja. Anak kecil ini, benar-benar deh.

Pun ketika shalat Ashar tiba dan saya selesai shalat, Afiqah mengingatkan kembali perihal doa minta adik ini. What? Ini sudah jadi rutinitas setiap selesai shalat jadinya. Afiqah sudah ada di level pengen banget nget nget punya adik.

Tidak cukup Ashar, saat kami shalat jemaah di waktu Maghrib, selesai pulang dari Batutis, lagi-lagi Afiqah meminta saya berdoa tentang minta adik. Lengkap sudah. “Teror dilancarkan di semua shalat fardhu”. Segitu persistence-nya Afiqah ingin punya adik. Mungkin ini saatnya kami tancap gas lagi untuk berikhtiar menghadirkan adik bagi Afiqah. Kami lihat, beberapa kolega dan sahabat kami sudah ngebut nambah anak jadi 2, 3, 4. Rasanya kok seru juga ya punya banyak anak. Hidup keluarganya pasti lebih dinamis. Bayangkan, ada 2, 3, 4 krucil yang mengerumuni Anda, saat Anda pulang bekerja. Rasanya pasti lebih maknyus dan makjleb daripada hanya satu krucil saja. Nambah anak lagi, akan menaikkan level hidup jauh lebih tinggi, karena tantangan dan keseruannya akan sangat berbeda.

Bismillah, jika Allah berkenan, kami ingin memberikan Afiqah seorang adik, lewat proyek besar berhastag #AdikUntukAfiqah. 😉

Doakan proyek besar kami sukses ya, kawan-kawan…..

Kepingan Koin Itu, Bikin Haru

Banyak orang bertanya, mengapa saya begitu berani pindah haluan ke dunia pendidikan di Batutis Al-Ilmi yang notabene sekolah untuk kaum dhuafa? Padahal sebelumnya karir sudah enak di TV. Pertanyaan-pertanyaan ini memang tidak mudah dijawab dengan gamblang. Namun kisah pagi ini sepertinya mampu menjawab salah satu alasan mengapa keputusan berani itu saya ambil.

Rupiah demi rupiah

Pagi ini saya dikejutkan dengan cerita dari Pak Yudhistira tentang orangtua murid Batutis Al-Ilmi yang tiba-tiba datang ke sekolah dan menyerahkan segepok kumpulan uang koin sejumlah Rp 150.000. Uang tersebut diberikan oleh orangtua murid tersebut sebagai infaq uang makan anaknya selama sebulan. Bu Siska dan Taya awalnya tidak ngeh tentang segepok kumpulan koin itu. Mereka bertanya-tanya, siapa yang mau tukaran uang koin? Ternyata, petugas TU sekolah menyampaikan bahwa uang tersebut adalah hasil keringat dari salah satu orangtua murid yang diserahkan tadi pagi.

FYI, Sekolah Batutis Al-Ilmi adalah sekolah bagi kaum dhuafa. Jumlah persentase siswa dari keluarga dhuafa sebanyak 70% dan 30% sisanya adalah kalangan mampu. Ada subsidi silang dari siswa dari kalangan yang mampu untuk biaya operasional sekolah. Banyak juga infak, shadaqah, zakat dari banyak orang yang concern dengan dunia pendidikan anak usia dini.

Pendanaan lain dari mana? Sisanya, Tim Batutis Al-Ilmi berjuang peras keringat banting tulang mencari pendanaan sana-sini. Lewat pelatihan Metode Sentra, penjualan buku, penjualan majalah, konsultansi sekolah yang ingin hijrah ke Metode Sentra, seminar parenting dengan tema based on request, dan kegiatan kreatif lainnya untuk menghasilkan pundi-pundi bagi pembiayaan operasional sekolah.

Kembali ke cerita di atas. Istimewanya dari infaq koin senilai Rp 150.000 itu dilakukan oleh orangtua dari tergolong dhuafa. Anda bisa bayangkan, bagaimana proses orangtua tersebut secara telaten mengumpulkan satu demi satu koin tersebut. Jika dalam sebulan ada 30 hari, maka 150.000/30 hari = Rp 5.000/ hari. Artinya, orangtua murid itu mengumpulkan 10 koin Rp 500 untuk biaya makan siang dan snack setiap hari di sekolah dalam sebulan.

Orangtua murid itu boleh saja tak mampu secara ekonomi, tapi semangat dan perjuangannya untuk tak melulu menengadahkan tangan agar terus dibantu, dikasihani, patut diacungi jempol.

Saya membayangkan bagaimana perjuangan yang persistence dari orangtua murid tersebut. Itu sangat mempengaruhi semangat kami di Tim Batutis Al-Ilmi. Temuan-temuan ajaib ini kadang jadi charger yang memenuhkan lagi semangat kami untuk berjuang membangun Batutis Al-Ilmi jadi lebih baik lagi.

Saya ingin sekali bertemu dan mewawancarai orangtua wali murid tersebut. Nantikan reportase mendalam tentang koin perjuangan yang bikin haru itu.

Anda ingin turut serta membantu Batutis Al-Ilmi agar lebih maju? Hubungi saya di nomor 08111170128 atau kontak ke email saya: umarat.adlil@gmail.com. Bantuan tidak harus berupa uang. Bisa memberikan tenaga, link jaringan sosial, mempertemukan kebutuhan training parenting di lingkungannya (tempat kerja atau rumah), bisa sharing soft skill, atau bisa macam-macam bentuknya. Yuk, turun tangan bantu Batutis Al-Ilmi. Saya tunggu ya, bro and sis!

Jasa Kargo Jumbo? Pakai Ini Aja…

PT Intan Rahayu

Kami PT. INTAN RAHAYU CEMERLANG EXPRESS sebagai perusahaan penyedia jasa transportasi yang bergerak dalam bidang pengiriman barang. Adapun jasa kami yang tersedia sebagai berikut :
FERRY CEPAT : (Wilayah Kalimantan dan Sulawesi)
LAUT : (Wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, NTT)
DARAT : (Wilayah Surabaya (kota-kota), Jabodetabek, Sumatera, Bali, Lombok)

Armada yang tersedia sebagai berikut :
1. Trucking (PickUp, Colt Diesel Box/Bak, Fuso Engkel, Tronton, Built Up)
2. Full Container 20″ dan 40″
3. LCL (Barang Campuran)
4. Lost Cargo
5. LCT dan Kapal Tongkang

Kami juga menerima pengiriman berupa material proyek, konstruksi, alat berat, barang pindahan, dan pelayanan kami adalah door to door service.

Keterangan lebih lanjut bisa menghubungi :
Phone : Agil (082230025411)
Office : 031-8547912, 031-8543458
Email : info@irc-express.com, pt.intanrahayucemerlang@gmail.com
Website : www.irc-express.com
Adress : Jl. Brigjen Katamso No. 65 Janti Waru Sidoarjo

“Kecepatan dan Ketepatan Kami adalah Profit dan Benefit Anda”

Wanna Be Writer –Menulis Semudah Bicara– (Psikologi Universitas Indonesia)

Tiba-tiba saja ada undangan untuk berbagi ilmu nulis dari Fitri, adek kelas di Insan Cendekia yang sedang kuliah di Universitas Indonesia, jurusan Psikologi. Ia ikut organisasi FUSI Psikologi, sebuah organisasi rohis di level fakultas.

Setelah diskusi tentang tanggal dan waktu yang tepat, akhirnya dipilihlah tanggal 25 April 2015, jam 10:00-12:00. Lalu Fitri mengirimkan detail acara dan TOR ke emailku. Tempat penyelenggaraan ada di Gedung D202 Psikologi.

WBW Menulis Semudah Bicara

WBW Menulis Semudah Bicara

Alhamdulillah, pelaksanaan sesi Wanna be Writer WBW –Menulis Semudah Bicara– di Psikologi Universitas Indonesia berjalan lancar. Peserta antusias sekali. Mereka fokus mendengarkan sesi sharing #tipsnulis. Bahkan, ada 2 orang yang menangis ketika kita mempraktekkan bikin outline tulisan untuk orangtua. Mungkin tema orangtua itu mendalam sekali bagi mereka. Nanti di tgl 2 Mei, rencananya mereka yang berkomitmen kuat untuk menulis, akan memberikan tulisan dari outline yang telah kita bikin bersama di tgl 25 Apr 2015. Jika ada yang berani memberikan surat/ tulisan reflektif tentang orangtua tersebut, maka saya tidak ragu untuk menayangkannya di blog saya sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat mereka. Mudah2an mereka tidak hanya semangat di awal, tapi letoy di eksekusi menulisnya. Menulis memang butuh konsistensi semangat untuk menuntaskan apa yang harus dimulai.

Simulasi Menulis Outline

Simulasi Menulis Outline

 

Pengen tahu bagaimana respon peserta Wanna be Writer WBW –Menulis Semudah Bicara– di Psikologi UI? Ini dia komentar terlampirnya. Jika Anda ingin mengundang saya untuk berbagi materi #tipsnulis Wanna be Writer –Menulis Semudah Bicara– kepada komunitas Anda, silakan ajukan undangan via email ke umarat.adlil@gmail.com :

Wanna be Writer FUSI Psikologi UI

Anonim

  • Merasa terbantu
  • Memotivasi untuk menulis
  • Tema hari ini sangat bagus
  • Mas, tolong berikan feedback untuk blog teman saya ya. Hehehehe epjuliana.blogspot.com

 

Endah A –Mahasiswa Psikologi UI 2012—

Materi hari ini bukan hanya sekedar technical skills mengenai menulis yang mungkin udah biasa banget. Hari ini saya merasa terdorong untuk kembali aktif menulis di blog dengan tujuan untuk menyebarkan kebermanfaatan bagi banyak orang. Sukses terusm Mas! Salam untuk keluarga, terkhusus Afiqah.

Note: Insya Allah nanti saya coba kirim tulisan saya ke email. Mohon koreksi (feedback dan sarannya mas).

 

Anonim

Mas Aat, terima kasih sudah memberikan kami materi yang luar biasa. Saya jadi termotivasi untuk menulis dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Semoga motivasi yang diberikan akan terus melekat pada diri saya. Saran saya untuk mas Aat yaitu waktunya aja yang kurang lama. J Terima kasih.

 

RVM

Assalamu’alaikum. Terima kasih banyak bang atas penyampaian materi tentang Wanna be Writer—Menulis Semudah Bicara—Materinya sangat inspiratif. I got the point that Menulis itu memang akan semudah bicara. Insya Allah. Kelebihannya adalah: penyampaian dikemas menarik mulai dari PPT & lelucon2 yang mengena. Kekurangannya: belum tahu. Mungkin harus lebih heboh lagi. Sarannya: sosialisasikan terus bang ke orang yang belum nulis bahwa menulis bukan bakat.

 

Anonim

Saya mendapatkan banyak pelajaran pada hari Sabtu, 25 Apr 2015. Saya mendapatkan insight2 tentang cara menulis. Saya sangat senang karena saat ini dalam keseharian saya saya sedang membiasakan diri untuk menulis, baik itu keluhan, motivasi hidup, persepsi dan segala hal yang saya temui di rutinitas saya. Materi hari ini adalah suatu bentuk pencerahan untuk saya. Menambah percaya diri saya setelah mengetahui bahwa menulis bukan sebuah bakat dari Allah dan menulis itu semudah berbicara. Alhamdulillah…. Saya jadi lebih yakin untuk memulai menjadi penulis.

 

Anonim

Yang telah saya dapatkan:

  • Mengapa menulis itu penting
  • Menulis itu mudah, inspirasi dimana-mana
  • Be creative

Yang sayangnya belum saya dapatkan:

  • Tips and trick to write interesting stories
  • Menyusun kalimat yang baik dan menarik pembaca

That’s all, thank you for sharing your knowledge with us. J

 

Anonim

Materi yang disampaikan sangat bermanfaat dapat menambah kemampuan kami dalam menulis. Namun, menurut saya kakak kurang bisa memanaskan audience karena kurang “eh”. Mungkin karena saya yang terlambat jadi tidak lihat dari awal maka kurang berasa panasnya atau memang kurang panas saja suasananya. Tapi overall keren kak. Terima kasih banyak Mas Aat.

 

Anonim

Materinya memotivasi dan menginspirasi dan cukup seru hingga lewat waktunya. Sarannya supaya lebih bisa latihan lagi. Materinya dibuat misalnya waktu menulisnya lebih panjang dari materinya.

 

Juliana

  • Termotivasi untuk menulis dan berkarya
  • Berkesan karena menginspirasi untuk menulis
  • Ingin berkonsultasi tentang tulisan juga yeay!

Mas, tolong feedback blog saya yah. Ingin jadi penulis tapi masih belum pede epjuliana.blogspot.com

 

Anonim

  • Materinya menginspirasi mas, membua saya ingin menulis lagi
  • Pengalaman2nya menarik
  • Mungkin sesi latihan/ praktiknya lebih banyak aja daripada pemaparan materinya.

 

Anonim

Terima kasih kak. Pelatihan menulisnya menginspirasi sekali. J Kalau kritik untuk bikin cerita (fiksi) begitu terima juga nggak kak? Hehehe.

 

Anonim

Sangat membantu motivasi menulis, dan membantu saya secara jelas bagaimana caranya menulis, dengan cara 3 AT dan struktur menulis.

 

Anonim

Materi kali ini sangat bermanfaat. Menyadarkan saya untuk peka dengan lingkungan dan menuangkan kepekaan tersebut dalam bentuk tulisan. Terima kasih mas Aad.

 

Anonim

Makasih bang! Bagus banget materinya!

Mungkin belum kebayang aja sih apakah teknik di semua jenis penulisan itu dibangun dengan outline yang sama? Misalnya esai dan karya tulis ilmiah atau untuk tulisan seperti surat pendapat & kritik.

 

Anonim

Satu kata dari pelatihan ini adalah LUAR BIASA!! Terima kasih banyak bang Aad yang telah memberikan banyak insight kepada saya. Dari pelatihan ini saya belajar banyak tentang menulis. Mulai dari tips dan trik dll. Pelatihan ini juga membuat saya tertawa dan menangis pula. Terima kasih banyak bang.

 

FUSI 17 #CerdasBermanfaat

Dengan ikut acara ini semakin membuat saya tertarik dengan “menulis”. Dari acara ini saya mendapatkan strategi untuk mulai menulis (lagi). Terima kasih mas Aad. Sangat inspiratif!

 

Anonim

Terima kasih atas sharing ilmu menulisnya Bang Aad. Materi ini sangat membantu saya untuk kembali menulis, menghidupkan semangat menulis yang telah lama dipendam sejak SMP. Dan juga mengingatkan saya besarnya manfaat dari menulis. Semoga sukses selalu, bang!

 

Mia

Terima kasih bang Adlil. Sudah membuat saya semakin termotivasi dan yakin untuk terus menulis. Semoga bisa konsisten dan bisa memberikan inspirasi/ manfaat bagi banyak orang. J

 

Nurma-Psikologi

Terima kasih bang Aat. Salam buat Afiqah. Apabila diijinkan boleh minta feedback gitu ya atas tulisan? Ini memberikan inspirasi baru. Oya kenapa nama twitternya @pukul5pagi ya? Sukses terus bang.

 

Anonim

Assalamualaikum,

Jujur saya tidak full mengikuti acara ini. Tapi pada akhir acara, saya bisa memahami dan merasakan pentingnya menulis sebagai seorang muslim karena manusia mati meninggalkan nama dan karya. Bahwa menulis bukan bakat dan bisa dilakukan oleh semua orang, sangat berbekas dalam hati saya. Terima kasih.

 

Anonim

Terima kasih mas! Selain saya mendapatkan dasar-dasar menulis, saya juga mendapat motivasi. Semoga setelah ini saya dapat menulis dengan baik. Amin. Sukses terus ya mas.

 

Anonim

Sharing kali ini merupakan sharing yang bermanfaat bagi saya, yang kebetulan sedang mengumpulkan motivasi untuk mulai menulis lagi. Materinya lumayan memberikan motivasi, lengkap dan menyeluruh. Terus tebarkan inspirasi, mas!

 

Anonim

Makasih kak untuk sesi sharingnya. Sangat membuka wawasan akan dunia kepenulisan.

Afiqah Bertanggungjawab, Pak Ading!

Tiba-tiba saja malam itu, ada kata-kata yang tak biasa, muncul dari mulut kecil-imut Afiqah: “Afiqah bertanggungjawab, Pak Ading!”

Aneh sekali. Kenapa tiba-tiba lewat telepon genggam Afiqah ngomong seperti itu? Apakah itu kosakata baru yang ingin ia pamerkan padaku? Sejak sekolah di Batutis, Afiqah jadi kaya kosakata. Kosakatanya dari bahasa Indonesia yang sudah jarang terdengar di kehidupan sehari-hari. Misalnya warna orange disebut Afiqah dengan jingga.Lalu ada lagi kata “tidak akurat”, “matanya tidak fokus”, “mau berbagi”, “belum siap”, “Manda, lihat apa yang terjadi” dan lain sebagainya.

Lalu manda Andin menceritakan memang ada masalah. Saat itu, aku sedang berada di foodcourt masjid Darussalam Kota Wisata. Sementara manda Andin, Tante Icoet, dan Afiqah sedang otw ke Kota Wisata, setelah selesai mengantar 3 guru Batutis survey lokasi ke Sentul Fresh.

Afiqah di Sapulidi

Afiqah di Sapulidi

“Apa masalahnya?” tanyaku penasaran.

Manda Andin menjelaskan padaku, bahwa tadi Afiqah yang sedang dalam proses adaptasi untuk tidak pakai pampers, ternyata “kebobolan” pas ditinggal di dalam mobil bersama Tante Icoet. Afiqah ada di posisi di belakang supir. Ia mondar-mandir kesana-kemari sambil bernyanyi. Walhasil, pup-nya yang terdiri dari 2 gumpalan besar-kecil, jatuh mengenai lantai mobil. Untunglah tidak kena kursi, hanya lantai karpet saja. Masih lebih mudah dibersihkan karena bahannya terbuat dari karet yang mudah dicuci.

Manda Andin sempat marah (nada agak meninggi) kepada Apita terkait insiden pup di mobil tersebut. Parahnya lagi, karena ia bergerak kesana kemari, jadilah terinjak dan terseret kesana kemari pula pup tersebut. Mobil jadi bau sangat-lah. Wajar manda Andin rada marah. Afiqah terus bergerak gelisah, meski sudah diperingatkan oleh manda Andin.

Tak berapa lama setelah dimarahi manda Andin, tiba-tiba Afiqah berujar, “Manda, maafkan Afiqah. Afiqah bertanggung jawab. Afiqah mau cuci mobil.” Afiqah tidak mau pulang ke rumah. Ia tetap ngotot mau membersihkan mobil. Termasuk ketika ditawari untuk makan dulu di foodcourt masjid Darussalaam, ia tetap menolak. Ia ingin segera membersihkan mobil. Manda Andin memberitahu opsi bahwa membersihkan mobilnya bisa di tempat cuci mobil.

Ada rasa bersalah dari dalam diri Afiqah ketika ia pup di mobil. Itu point yang bagus yang harus disyukuri menurutku. Ketika Manda Andin mendengar pengakuan Afiqah yang mau bertanggungjawab, seketika itu juga ia meleleh. Sama persis sepertiku yang begitu tahu maksud dari kata-kata Afiqah tentang “mau bertanggungjawab” tadi.

Ternyata, sebagai anak yang dididik dengan metode sentra di Batutis, Afiqah sudah mengenal konsekuensi dari tindakannya. Pelajaran yang sangat berharga. Anak umur 2 tahun 5 bulan, dan ia sudah berani mengakui kesalahannya, dan hendak menebus kesalahannya dengan tindakan kongkret. Perfecto!

Tadinya aku kira aku akan marah juga karena mobil jadi kotor. Tapi, begitu mendengar komitmen yang kuat dan mantap dari Afiqah yang mau membersihkan mobil, tentu aku harus angkat topi terhadap sikapnya itu. Tak banyak anak kecil yang bisa dengan mudah membaca situasi yang terjadi.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, lalu ia mengakuinya, lalu ia berkomitmen untuk melanjutkan tindakan recoverynya, maka rasanya kita sudah tidak perlu lagi pusing untuk marah-marah. Semua masalah sudah solved jadinya. Afiqah dewasa sekali. I love you, nak! Aku juga ikut manda Andin, tak jadi ikutan marah tanpa tentu arah, meski mobil jadi kotor. Poin utama yang jadi pelajaran berharga, keberanianmu mengakui salah, lalu bertanggungjawab membereskan apa yang jadi masalah, itulah inti dari proses kehidupan. Semua masalah muncul, lalu dicari jalan solusinya. Kalau pada kasus afiqah ini, orangtua lanjut marah, buat apa? Marah tidak menyelesaikan masalah karena anaknya sudah bisa baca situasi dan berkomitmen membereskan masalah.

Ini adalah rangkaian tulisan series tentang “Akibat Trial di Batutis”. Terima kasih Allah, terima kasih Bu Siska, terima kasih Batutis, terima kasih guru-guru Batutis yang luar biasa membimbing Afiqah dalam menyuntikkan value dan membentuk karakter. Rasanya hidup jadi enteng jika anak kita mampu membaca situasi sosial, mau bertanggungjawab atas konsekuensi dari tindakannya. Kalau Anda lihat politisi, para pejabat negara sekarang, mereka banyak yang lari dari tanggung jawab. Kalau dia yang salah, cari-cari celah, lempar bola. You know lah siapa yang dimaksud.

Walhasil, setelah makan malam di foodcourt, kami meluncur ke tempat cuci mobil. Tidak tega rasanya kalau Afiqah yang benar-benar mencuci sendiri mobilnya. Hehehehe.

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Review & Share My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

De Dinis Stories

Si Sulung yang selalu beruntung

unspoken mind

if you can't tell, just write