Archive for the ‘Motivasi & Pengembangan Diri’ Category

Bakso U* & Adu Main Peran

Bakso U* pertama kali istilah itu muncul lewat kejadian spontan dialog singkat antara Afiqah dan Bu Imas, guru Main Peran di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Pekayon-Bekasi. Awalnya saya menjemput Afiqah pulang sekolah. Pas jalan menuruni tangga, ternyata kami bertemu Bu Imas yang sedang duduk di sebuah kursi panjang. Ia terlihat lelah, matanya sayu. Bu Imas itu kalau ngajar sepenuh hati. Wajar jika energinya terkuras habis.

Saat kami berpapasan setelah turun dari tangga, terjadilah dialog antara Bu Imas dengan Afiqah. Intinya, Bu Imas menyebutkan dirinya ingin sekali makan bakso. Entah siapa yang memulai duluan, tapi ujung pembicaraan tersebut mengarah pada sebuah kesepakatan. Afiqah berjanji untuk membawakan bakso U* untuk Bu Imas. Ia berdialog sebentar dengan abang Bleki (tokoh imajiner Afiqah yang direpresentasikan lewat boneka beruang hitam dan saat itu Bu Imas tidak tahu bahwa Abang Bleki adalah fiktif bukan tokoh nyata).

Alamak, kalau sudah berjanji, mesti ditepati. Bagaimana ini Afiqah berjanji pada Bu Imas? Ayahnya yang pusing. Hari itu kalau tidak salah Afiqah baru saja ikut kelas Main Peran bersama Bu Imas. Jadi materi Main Peran mungkin masih melekat hangat di ingatan Afiqah. So, wajar saja terjadi pembicaraan akrab diantara kedua insan tersebut. Aku pasrah saja menjadi pendengar sambil senyum-senyum meringis. Kenapa? Karena setiap janji harus ditepati. Kembali ke sana lagi pikiranku melayang. Meskipun aku tahu bahwa Bu Imas sedang bercanda.

Bu Risna & Bu Imas (pink) outing ke Bandung

Bu Risna & Bu Imas (pink) outing Batutis ke Bandung

Menjadi orangtua dengan pendidikan anak Metode Sentra, kita tidak boleh terlalu reaktif dalam merespon apapun kejadian. Dulu mungkin aku dan Andin masih tertanam tipe kaget-kagetan, “Masya Allah….Afiqah… Astaghfirullah…Afiqah…Ya Allah…Afiqah….”. Nah kalau sekarang, sudah ada remnya. Kami bisa kontrol diri. Tidak semua hal itu harus ditanggapi berlebihan. Biasa aja. Santai. Hadapilah hidup ini dengan santai. Jangan panikan. Beri anak ruang untuk berekspresi dan mengeksplorasi hal yang ia sukai. Meski dampaknya akan berimbas kepada kami. Misalnya rumah jadi lebih berantakan, tembok jadi tercorat-coret, atau si anak main kotor-kotoran tanah dengan senyum nyengir. Kami benar-benar belajar hal yang esensial dengan mengadopsi Metode Sentra ini sebagai salah satu tools dalam membangun karakter Afiqah.

Hari “Penagihan”

Keesokan harinya, tak sengaja Afiqah berpapasan lagi dengan Bu Imas. Kebetulan aku juga sedang berada di lokasi Batutis Al-Ilmi. Tempatnya kan tidak luas, jadi mudah menangkap kejadian apapun di lingkungan sekolah.

“Eh Afiqah….kebetulan ketemu lagi. Mana bakso U* yang dijanjikan? Bawa gak?” tanya Bu Imas.

“Hmmm…” Afiqah tampak sedang mikir.

Dalam hati aku berpikir, nah bagaimana nih Afiqah menanggapi janji yang telah ia utarakan sendiri kemarin. Kira-kira akan seperti apa responnya? Aku masih harap-harap cemas melihat respon natural anakku si pipi mentul ini.

Sejenak Afiqah berpikir, lalu ia segera merespon sapaan Bu Imas. “Ada kok.” Afiqah menggerakkan badannya ke arah belakang. Ia seolah-olah sedang membawa bakso dalam box yang diselempangin ke belakang punggungnya. Ia putar box bawaannya ke arah depan, lalu ia buka tutupnya dan ia berujar, “Ini bakso U*”

Aku kaget bukan kepalang. Tak menyangka, Afiqah ternyata menjawab tantangan dari Bu Imas itu dengan bermain peran, karena ia tahu sedang berhadapan dengan guru Main Peran dan pembicaraan kemarin adalah bagian dari pembicaraan dolan-dolanan Main Peran diantara mereka berdua. Bu Imas sejatinya memang bernada bercanda dalam meminta bakso karena Afiqah pamer cerita bahwa punya bakso U* yang enak untuk ditawarkan.

Kalau dipikirkan serius, maka rumusan bakunya adalah semua janji harus ditepati. Tapi untuk kasus Afiqah dan Bu Imas, ada kadar candaan yang tak perlu ditanggapi terlalu serius banget. Ada ruang imajinasi yang bermain diantara Bu Imas dan Afiqah di hari kemarin dan hari ini. Namun, diriku masih terjebak pada pemikiran, Afiqah sudah kadung berjanji. Kira-kira bagaimana menepatinya ya?

Bu Imas yang melihat respon Afiqah ternyata juga kaget. Ia kira Afiqah takkan bisa berkelit karena sudah kadung janji. Mungkin ia juga penasaran bagaimana si anak ini menepati janji yang sudah ia buat. Ternyata, candaan main peran yang dilontarkan oleh guru Main Peran, dibalas “secara tunai” oleh Afiqah dengan Main Peran juga. BRAVO! 1-1 skor kedua belah pihak. Tadinya Bu Imas udah girang melihat Afiqah kemungkinan tak bisa berkelit dan di awal Bu Imas bilang, “Ayo…..mana baksonya…kemarin udah janji…..”

Artinya apa? Artinya, dalam kondisi terdesak, otak Afiqah ternyata “jalan” untuk bagaimana memberikan respon terbaik dalam menghadapi kasus pelik “terjerat janji sendiri”. Aku gak kepikiran semua skenario pembicaraan itu bisa diarahkan ke Main Peran.

Bu Imas tidak mau kalah. Setelah ia mengucapkan terima kasih karena sudah dibawakan bakso U* oleh Afiqah meskipun sifatnya “virtual” samar-samar, di ujung pembicaraan Bu Imas menyisipkan pesan lanjutan, “Besok-besok bawa bakso lagi ya….” Afiqah mengangguk tanda setuju. Yah, Afiqah, kenapa menanggguk pula? Kan artinya janji lagi??? Si ayah kembali pusing.

Hari “Penodongan” Janji

Hari-hari berikutnya, aku datang bersama Andin untuk jemput Afiqah. Afiqah bertemu Bu Imas lagi di halaman sekolah. Nah lho…. “Afiqah, mana bakso U* nya? Bawa gak? Kemaren kan sudah janji mau bawakan bakso dari Abang Bleki?”

Aku penasaran juga melihat bagaiman respon Afiqah. Kondisi skor masih 1-1. Sekali bu Imas menodong, tapi Afiqah bisa jawab dengan main peran (pura-pura ambil bakso di tasnya).

Afiqah ternyata tak kehabisan akal. Ia rogoh koceknya, lalu ia keluarkan bakso dari balik kantongnya. “Ini bakso U*-nya,” sambil ia menyerahkan kepada bu Imas.

Bu Imas senyum lebar. “Lho, kok baksonya dikantongin? Gak panas? Kan ada kuahnya?” Nah, bagian ini benar-benar hal yang paling sering terjadi di Sentra Main Peran. Biasanya hal-hal logis dimasukkan ke dalam interaksi yang terjadi di Main Peran, agar anak terbentuk daya kritis berpikirnya.

Bu Imas, tersenyum lebar. Senyuman agak nakal, karena ia seperti yakin bahwa Afiqah tak bisa berkelit kali ini.

Afiqah tak kehabisan akal. “Yang ini baksonya di plastik, tidak pakai kuah. Kalau mau kuah, kan dibikin dulu.” Oh, jadi ia bisa memvisualisasikan bahwa yang ia bawa bakso-nya doank. Sementara kuahnya yang biasanya panas, harus dibikin sendiri terlebih dahulu. Customized sesuai keinginan pelanggan, kapan mau dimakan, baru dibuat kuahnya.

Bu Imas yang tadinya sudah berpikiran skor 2-1, eh sekarang malah disamakan jadi 2-2. Afiqah bisa menahan “serangan” Bu Imas.

Bu Imas bilang ke Bu Andin. “Bisa aja ya dia. Saya kira tadi udah mau kalah dia ga bisa jawab. Ternyata bisa aja jawabnya.”

Bu Andin dan aku senyum-senyum aja. Hihihi. Anak Metode Sentra mah, selalu ada akal untuk dijalankan. Tidak salah memang, guru Main Perannya adalah Bu Imas. Senjata makan tuan. Serangan pakai main peran, dibalas secara tunai dan tuntas dengan main peran juga oleh Afiqah.

Pembongkaran Misteri Abang Bleki

Setelah lama tak terdengar lagi tentang Bakso U*, barusan minggu lalu Andin bilang ke saya bahwa Bu Imas ngobrol lagi dengan Afiqah tentang Bakso U*. Ternyata, terkuaklah misteri yang selama ini tak diketahui oleh Bu Imas.

Misteri tersebut adalah bahwa Abang Bleki yang Afiqah klaim sebagai penjual Bakso U* terungkap identitas aslinya. Bu Andin-lah yang membocorkan ke Bu Imas. “Bu Imas, Abang Bleki itu tidak ada sebenarnya. Itu boneka beruang yang berwarna kehitam-hitaman.” Sebenarnya Bakso U* itu pun bakso ngarang.

Bu Imas kaget. Ia sudah menganggap Abang Bleki itu nyata. Selama ini, setelah melewati beberapa episode percakapan-percakapan tentang Bakso U* itu secara serial, ternyata Bu Imas larut dalam imajinasi yang dibangun Afiqah tanpa crosscheck terlebih dahulu validitas ceritanya. Afiqah memainkan peran sebagai broker diantara Bu Imas dengan Abang Bleki dengan lokus main perannya adalah Bakso U*. Anak Metode Sentra, memang tak pernah kehabisan akal. Skor 3-2 untuk Afiqah atas Bu Imas. 😉

Bu Imas selaku guru yang mengajarkan main peran, sekarang kena batunya. Muridnya lebih liar lagi imajinasinya. Senjata makan tuan. Hehehe. Terima kasih Bu Imas, sudah “menghidupkan” tombol imajinasi Afiqah lewat Sentra Main Peran. Semoga ia bisa tumbuh menjadi anak yang ketika menghadapi masalah, tak langsung freezing, tapi bisa cari solusi, karena imajinasinya sudah “dinyalakan” sejak usia dini. Terima kasih juga untuk guru-guru Batutis Al-Ilmi lainnya, yang juga membantu perkembangan Afiqah di sentra-sentra lainnya yang nanti juga akan saya tuliskan ceritanya (Seni, Persiapan, Imtaq, Balok, Bahan Alam).

Ingin mengetahui ilmu Metode Sentra secara mendalam? Teman-teman bisa diskusi dengan saya dengan kontak via Whatsapp di 08111170128 atau colek di Twitter saya @pukul5pagi

DIMODUSIN Afiqah

Sore itu, saya baru pulang dari Sovereign Plaza, mengikuti sebuah training penting. Manda Andin sudah tahu biasanya di tiap Senin, saya akan sampai Kota Wisata jam 18.00. Maka, Manda Andin menjemput saya di depan Kota Wisata. Tadinya Afiqah tak diajak serta. Tapi begitu tahu mau jemput Pak Ading, ia segera berubah pikiran, ingin turut serta.

Di Whatsapp saya meminta Andin ajak serta Afiqah. Entah kenapa, karena habis menyepi nulis di bawah kaki gunung Galunggung-Tasikmalaya selama 3 hari 3 malam, maka rasa kangen itu masih membuncah. Afiqah sekarang jauh lebih ceriwis. Ditinggal 3 hari, benar-benar ceriwis banget. Ngomongnya itu seperti orang dewasa.

Afiqah Melucu

Afiqah Berbahasa Betawi

Ada update-an baru pada diri Afiqah. Ia sekarang sedang terpengaruh gaya bicara khas Betawi. Pengaruh itu berasal dari teman sekolahnya di Batutis Al-Ilmi. Suatu kali saya menjemput Afiqah di sekolah, lalu dari kejauhan, saya sudah terlihat oleh teman-temannya. “Noh, bapak loe noh…” kata teman Afiqah memberi tahu bahwa ia sudah dijemput.

Kira-kira model ngomong khas Betawi begitulah yang sedang trending di dalam diri Afiqah. Sekarang ia biasa ngomong, “Iya yak…”. Ia juga mulai ngomong kata “gue”.

Ketika saya tanya, “Gue itu apa sih artinya dek?”

Dijawab Afiqah, “Betawi.”

“Iya, itu bahasa Betawi, tapi artinya apa?” tanyaku penuh selidik.

“Saya,” jawab Afiqah singkat. Ternyata ia tahu sedikit-sedikit arti kata bahasa Betawi.

Nada ngomong Afiqah sekarang cukup tinggi, seperti orang Betawi yang rame’ banget. Saya jadi ingat dulu sangat dekat dengan Mpok Ani, penjual nasi uduk yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri di Kukusan Depok, dekat Universitas Indonesia.

Padahal, tepat bulan Desember 2015 lalu, kami pulang ke Surabaya dan Mojokerto. Dari sana, Afiqah sudah bermetamorfosis jadi orang Jawa. Dialeg bahasanya medhok banget khas Suroboyoan. Tapi ternyata, setelah bergaul lagi dengan teman-temannya di sekolah, ia bisa dengan mudah berubah. Anak-anak di usia emas, memang paling cepat menyerap segala sesuatu dari lingkungannya. Mereka seperti sponge. Gampang nyerap cairan.

Apa reaksi saya dan Manda Andin terhadap Afiqah yang mulai berbahasa Betawi? Kami tidak menganggap ketika Afiqah berbahasa Betawi atau berbahasa Jawa sebagai sesuatu yang salah. Namun, kami anggap itu sebagai momen perkenalan Afiqah kepada bahasa daerah. Kami menanggapi Afiqah yang bilang “gue” dengan respon, “Oh, Afiqah sedang berbahasa Betawi. Tapi Pak Ading dan Bu Andin ingin kita di rumah pakai bahasa Indonesia ya…”

Meminta Secara Halus

Kembali ke laptop, cerita awal Afiqah menjemput saya di depan komplek Kota Wisata.

Saya turun dari angkot 121 jurusan Kampung Rambutan-Cileungsi. Setelah membayar ongkos angkot, pas turun saya sudah lihat ada mobil keluarga kami yang parkir di bundaran depan Kota Wisata. Alhamdulillah sudah standby.

Saya jalan menghampiri mobil, lalu lewat kaca mobil sebelah kiri depan, saya goda Afiqah. Saya gelitik ia dari belakang. Ia kaget. “Eh….., ada Pak Ading…”

“Terima kasih ya udah jemput ayah…,” kataku. “Afiqah kangen ayah? Katanya tadi mau main sama Uti?,” tanyaku pada Afiqah.

“Aku kangen ayah….,” balas Afiqah so sweet.

Kalau udah begini, saya hanya bisa menjadi lilin yang sedang dibakar api: MELELEH.

“Ayah duduk di belakang ya. Afiqah di depan,” begitu kata Afiqah mengatur posisi tempat duduk kami.

Okelah. Saya pun kemudian membuka pintu belakang, masuk, duduk, dan mengucap Alhamdulillah tanda bersyukur karena bisa bertemu keluarga lagi.

Baru beberapa detik duduk, lalu Afiqah nanya lagi, “Ayah bawa apa?”

“Maksudnya?” kataku heran. Tak biasanya dia bertanya seperti itu. “Ayah bawa tas.”

“Oooh, tas. Isinya apa?” selidik Afiqah lebih lanjut.

Saya segera buka tas dan menunjukkan kepada Afiqah isinya. “Ada laptop dan buku. Tidak ada yang spesial, biasa aja. Emangnya kenapa? Kok nanya begitu?” kataku balik bertanya.

“Nggak…kirain Pak Ading bawa mainan…” lanjut Afiqah lagi sambil tersenyum lebar.

Seketika juga saya dan Manda Andin pun ngakak. Gila ya. Dua orand dewasa sedang DIMODUSIN oleh anak umur 3 tahun 3 bulan. Ternyata Afiqah baru saja mempraktikkan bagaimana teknik berbahasa dengan cara yang tak biasa.

Ketika kami belajar ilmu Metode Sentra di Batutis Al-Ilmi, Bu Siska menjelaskan ada 4 jenis pertanyaan: konvergen, divergen, faktual, dan evaluatif. Pertanyaan konvergen itu biasanya dimulai dengan kata : apa, siapa, kapan atau dimana. Jawabannya pun agak mengerucut, sudah jelas. Pertanyaan divergen ini jenis pertanyaan terbuka, dan biasanya dimulai dengan kata: bagaimana dan mengapa. Pertanyaan factual mengacu pada pertanyaan yang meminta jawaban yang sifatnya pasti, ilmiah. Misalnya, ada berapa jenis pembagian lapisan langit? Jawabannya ada 7, diantaranya Termosfer, Stratosfer, dan seterusnya. Lalu pertanyaan evaluatif berupa pertanyaan nyecer mengejar sampai tuntas.

Pertanyaan konvergen itu contohnya: “Apa rasanya laut?”

Pertanyaan divergen itu contohnya: “Bagaimana ciri-ciri air laut?”

Pertanyaan faktual itu contohnya: “Apa nama laut diantara pulau Sumatera dengan pulau Kalimantan?”

Pertanyaan evaluatif itu contohnya: “Kamu menggambar apa? (dijawab: pohon pisang). Apa yang kamu tahu tentang pohon pisang? (dijawab: rasa buahnya manis). Bagaimana dengan tekstur buahnya? (dijawab seterusnya).”

Kalau kita lihat dalam perspektif umum, Afiqah menyelidikiku dengan pertanyaan evaluatif dalam kadar yang ringan, lalu ditutup dengan pernyataan tidak langsung (non-directive statement).

Afiqah: “Ayah bawa apa?”, dijawab Ayah: “Ayah bawa tas” à pertanyaan evaluative.

Afiqah: “Oooh, tas. Isinya apa?”, dijawab Ayah: “Ada laptop dan buku. Tidak ada yang spesial, biasa aja. Emangnya kenapa? Kok nanya begitu?” à pertanyaan evaluatif. Ternyata ia sudah puas mendengar jawaban ini.

Afiqah: “Nggak…kirain Pak Ading bawa mainan…” à Pernyataan kalimat tak langsung (non-directive statement). Ini pesan terselubung yang ingin disampaikan.

Simple-nya, Afiqah sebenarnya secara tidak langsung sedang menerapkan teknik persuasi untuk mewujudkan sebuah harapan atau ingin menyampaikan pesan: BELIIN AKU MAINAN DONK….

Tapi caranya halus. Caranya tidak langsung. Itu cukup elegan dan menarik buat kami berdua. Alhamdulillah Afiqah naik tingkat dalam hal kemampuan berbahasanya. Kalau kami ingat lagi masa kecil diri kami ataupun adik-adik kami, biasanya anak kecil minta mainan main langsung saja, tanpa tedeng aling-aling, “Mau ini, mau itu…” Kalau tidak dibelikan, bisa jadi pakai jurus nangis guling-guling di depan umum agar orangtua kita mau membelikan apa yang dikehendaki. Tapi untuk kasus Afiqah sore ini, ia benar-benar menunjukkan teknik berbahasa yang cukup tinggi untuk anak seusianya. Ini jenis high context communication. Komunikasi tingkat tinggi.

Anak-anak yang dibangun teknik berbahasanya dengan SPOK (Subjek Prediket, Objek, Keterangan) sejak usia dini, maka ketika besar nanti dia tidak akan kesulitan mengutarakan apa yang menjadi masalah dalam hidupnya. Daya ungkapnya mampu menolong dia untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup yang ia hadapi. Jadi, bukan lari dari masalah, tapi dihadapi dengan berbicara, berbahasa secara elegan. Jangan hanya bayangkan satu-dua anak Batutis saja. Bayangkan kalau kemampuan berbahasa ini dimiliki anak di seluruh Indonesia saat ini, maka nanti di tahun 2045, saat kita mendapatkan bonus demografi yang tumpeh-tumpeh itu, maka angkatan kerja (produktif) kita bisa berlaku sebagai BERKAH, bukan MUSIBAH. Orang-orang yang jelas tujuan dan mau kemana langkah, peran, dan karyanya karena konsep dirinya jelas sejak usia dini. Mereka mengerti AKU dan KEBUTUHANKU.

Ini sore yang indah buat saya. Satu-persatu bukti dampak mendalam dari pendidikan Metode Sentra di sekolah Afiqah, keluar secara alamiah dalam kehidupan keluarga kami. Kami semakin tertarik dan penasaran, apa lagi di masa mendatang yang keluar spontan dari tindakan Afiqah, yang bikin kita geleng-geleng kepala lagi.

Ingin ngobrol dengan saya tentang Metode Sentra? Silakan colek saya di Twitter saya @pukul5pagi atau kontak Whatsapp saya di 08111170128.

Insight Jauh ke Depan-nya Afiqah

Malam ini (4/2/2016), Manda Andin mengantarkan Afiqah tidur di kamar. Ia menemani Afiqah di kasur sambil cerita-cerita ringan. Afiqah sudah siap memakai baju tidurnya. Ia sudah makan, minum, dan sudah pipis ke toilet. Namun masih kurang satu hal sebenarnya, belum sikat gigi. Itu yang terlewatkan malam ini.

Afiqah tanya ke Manda Andin, “Manda, kalau Afiqah kuliah, Afiqah baru punya adik?”

Manda menjawab, “Nggaklah, kalau Afiqah kuliah, Manda udah tua. Coba itung. Kalau Afiqah kuliah, berarti umur Afiqah 20-an. Berarti Manda umurnya 48 tahun.”

Disanggah Afiqah, “Mungkin 18 tahun kalau Afiqah kuliah.”

“Oh iya ya? Bisa awal kuliah masuknya 18 tahun. Berarti Manda umurnya 46 tahun,” ralat Manda Andin.

“Berarti adikku yang satu SMA, yang satu SMP,” respon Afiqah.

Manda Andin cukup heran. Berarti dia sudah tahu urutan sekolah, urutan umur. Artinya, logika anak ini jalan. Otaknya bisa mikir secara logis.

“Kalau perempuan, lulus kuliah, trus wisuda, trus menikah,” kata Afiqah.

“Kalau perempuan, lulus kuliah boleh kok kerja dulu,” kata Manda Andin memberikan alternatif konsep lain di benak Afiqah.

Dibalas lagi oleh Afiqah,”Kalau laki-laki, lulus kuliah, kerja, menikah, baru punya anak.”

“Sama, perempuan bisa juga kerja dulu setelah lulus kuliah…” kata Manda.

“Nggak…,perempuan lulus kuliah, menikah, punya anak…”

Manda Andin mulai nge-test Afiqah, “Trus, uangnya dapat dari mana?”

“Ya dari suaminya dong,” kata Afiqah. Mukanya serius sekali menjawab pertanyaan tersebut.

“Afiqah tahu itu dari mana?”

Ia cengar-cengir saja, “Hmmmmmm….. dari otak…,” katanya sambil menunjukkan telunjuknya ke kepalanya.

“Beneran ini…darimana tahu konsep itu….” Kata Manda Andin sambil memelas kepo ingin tahu.

“Iya, dari dalam sini, dari dalam otak,” jawab Afiqah.

“Ah, yang benar?” manda Andin sambil terus menggali informasi. Ia penasaran, bagaimana bisa anak 3 tahun berpikir sejauh itu tentang konsep urutan kehidupan seseorang. “Dari Bu guru di kelas kali? Apa dari Bu guru di main peran?” selidik Manda Andin.

“Nggak….,” kata Afiqah sambil senyum-senyum.

Tetap Afiqah menjawab bahwa pemikiran tersebut berasal dari otaknya. “Ada di pikiran sini di dalam,” begitu jawabnya secara lugas.

Saya yang mendengar cerita tersebut merasa terkejut juga. Di saat jelang tidur, Afiqah bisa berpikiran jauh ke depan. Sebuah insight tentang kehidupan masa depan bisa ia bayangkan. Luar biasa menurut saya. Ini obrolan berat sekali.

Kami akan selidiki darimana konsep ini berasal. Bisa jadi dari gurunya, bisa jadi dari teman-temannya. Bisa jadi dari tantenya. Bisa jadi dari Uti-Akungnya. Entahlah. Besok akan kami caritahu darimana informasi itu bisa masuk, dan melekat terpatri di dalam pemikirannya.

Hari ini Afiqah pokoknya dewasa sekali deh. Cara ngomongnya itu seperti orang yang haus belajar. Ia tik-tok ngobrol dengan Manda Andin terus-menerus. Jika kurang puas, ia tanya lagi. Manda Andin sampai bilang begini ke saya setelah Afiqah tidur, “Ini seperti….anakku bukan anakku….Ini beneran ga sih Afiqah? Kok dia tahu konsep-konsep yang kita belum pernah ajarkan (baca: nikah)?” Begitulah keheranan dan penasaran Manda Andin terhadap pembicaraannya dengan Afiqah malam itu.

IMG-20160122-WA0024

Pembelajaran Anak Metode Sentra

Kadang ketika anak menyampaikan pemikiran-pemikirannya, kita selaku orangtua harus bisa bijaksana menanggapinya. Jangan sampai kita terburu-buru langsung men-judge pemikirannya salah. Cari tahu dulu penyebab atau asal-usul mengapa ia bisa berpikiran seperti itu. Kami pasti akan cari tahu, darimana ia bisa punya pemikiran itu. Uniknya di pendidikan Ber-Metode Sentra, meski anak terlihat main-main saja kegiatannya di sentra-sentra tersebut, sebenarnya di saat bersamaan, ia sedang dalam proses download dan instalasi konsep-konsep yang ia dengar dan lihat, yang dipandu oleh guru. Bahkan mungkin tidak dari gurunya saja. Dari temannya juga bisa jadi acuan dan masuk untuk dipikirkan makna dari kejadian-kejadian yang ia amati.

Misalnya bisa dari Sentra Main Peran. Dari sana, bisa jadi saat main peran, konsep-konsep tentang bagaimana peran seorang anak, ibu, bapak, kakak, adik, semuanya bisa terserap dan terinstall di dalam kepala anak, meski ia hanya melihat dan mendengar saja keterangan guru saat main peran. Serpihan-serpihan berupa puzzle tentang konsep kehidupan itu, dimaknai secara mendalam oleh anak dengan Metode Sentra karena itulah inti dari pendidikan: mampu membaca kejadian. “Iqra”. Kejadian bukan sekedar kejadian yang lolos dari pengamatan mata. Kejadian, jika kita jeli melihatnya, bisa jadi suatu pembelajaran yang berharga.

Lalu, jika ada kemungkinan-kemungkinan yang anak yakini saklek harus begini atau begitu, kita bisa luruskan pemahamannya terhadap suatu konsep. Misalnya pada kasus di atas konsep menikah, konsep bekerja antara perempuan dan laki-laki harus diluruskan agar ia tak hanya punya satu perspektif saja.

Perkara insight yang jauh ke depan itu juga dialami Andin saat jadi pengajar di SD Batutis Al-Ilmi di semester I tahun 2015. Waktu itu ada siswa kelas 3 bertanya, “Bu, diperkosa itu apa sih?” Sebagai guru science, Andin tidak reaktif menanggapi pertanyaan dengan topik tersebut. “Diperkosa itu dipaksa melakukan hubungan suami-istri, oleh orang yang bukan pasangan suami-istri,” jelas Andin pada siswanya.

Lalu para siswi malu-malu menanggapi pembicaraan itu. Sementara itu para siswa biasa saja menanggapinya. Andin mengingatkan para perempuan agar tidak berjalan sendiri, kalau ada orang yang mencurigakan atau memaksa, teriak saja. Bisa lari ke tempat ramai. Perempuan juga harus bisa bela diri, pertahankan diri.

Tiba-tiba saja seorang siswa bernama Fajri bilang, “Kalau aku nanti pasti akan lindungi istri aku bu.”

“Oh ya. Harus itu,” respon Andin sambil menelan ludah karena kaget. Anak kelas 3 sudah punya insight jauh ke depan tentang kehidupan berumah tangga dengan tekad yang mulia.

Ada lagi siswa lain yang memang emosinya bergejolak, bilang, “Kalau aku, kuhajar dia (pelaku pemerkosaan),” sambil memperagakan gaya menghantam seseorang. Benar-benar deh. Anak Batutis itu baik yang Bayi, Toddler, Playgroup, TK, dan bahkan SD, selalu punya pemikiran dengan pemaknaan mendalam atas suatu kejadian. Dipikiriiiiiiiin banget.

Kami berdua senang sekali, Afiqah bisa eksplorasi berbagai konsep-konsep yang berputar di dalam otaknya. Meskipun tidak semua pemikirannya tepat, tapi paling tidak, ia berani mengungkapkan apa yang ia pahami. Kami selalu menjunjung tinggi diskusi dua arah. Tak hanya satu arah. Ini sungguh asyik, menjalani dialektika dengan anak yang ikut serta dalam pendidikan Metode Sentra. Anda akan banyak kagetnya.

Ingin ngobrol dengan saya tentang apa dan bagaimana itu Metode Sentra? Silakan kontak saya di 08111170128 atau colek saya di @pukul5pagi

Sampai Jumpa! Baik di darat, laut, maupun udara!

Menepi Untuk Proyek Menulis

Hari ini Kamis (28/01/16) saya berangkat ke sebuah daerah untuk merampungkan tulisan draft buku tentang Afiqah. Beberapa tulisan lain tentang Metode Sentra juga turut akan ditulis. Biar gaya dikit, nulisnya harus menepi dulu ke daerah yang sangat asri dan indah. Mencari pencerahan, biar nulisnya lancar seperti di tol Jagorawi kalau lagi lebaran hari pertama abis shalat Ied.

Saya ikut Pak Yudhistira Massardi menyepi untuk menulis di saung milik keluarga Pak Yudhistira di Tasikmalaya. Kami merencanakan untuk berangkat jam 5 pagi. Ada tawaran dari Pak Yudhistira untuk menginap saja di Sekolah Batutis agar tetap bisa berangkat habis subuh. Tapi, karena malamnya hujan, niat menginap di Batutis saya urungkan. Rencananya besok paginya sebelum subuh, saya berangkat dari rumah naik motor, lalu motornya dititip di rumah Pak Yudhis.

Awalnya mau berangkat bertiga, dengan Pak Yanto Musthofa sekalian. Tapi, beliau ada urusan lain, sehingga berangkatnya menyusul belakangan. Tepat pukul 5.30, kami jalan. Kemacetan masih belum parah. Hanya agak melambat menjelang Cikarang Utama. Maklum, truk dan kontainer masih saling berebut untuk dahulu-mendahului di jalan tol, meski napas mereka ngos-ngosan sebenarnya tak kuat digeber sedemikian rupa.

Kami janjian di rest area KM 174 untuk bertemu Kang Taufik. Ia rekan kerja Pak Yudhistira mulai dari Gatra, hingga Nebula dulu. Sampai sekarang masih tetap berhubungan baik. Kebetulan rumah beliau ada di Bandung. Jadi, ketika kami pas jam 07:58 sampai di TKP, tak berapa lama Kang Taufik pun datang. Kami sarapan bersama.

Kami ngobrol banyak hal, salah satunya tentang suatu peluang bisnis. Itung-itung dan kalkulasinya enteng-entengan, bebas sebebas-bebasnya. Eksplorasi ide. Hal menarik, dalam diskusi peluang bisnis ini, tak lupa Kang Taufik mengingatkan bahwa ada kebutuhan dari orang untuk selfie jika sedang jalan-jalan kemanapun. Itu harus ditangkap sebagai sebuah peluang dan harus diakomodir. Biasanya kebutuhannya foto-foto tersebut dipajang di laman sosial miliknya. Jadi, kalau mau berbisnis, harap perhitungkan faktor tersebut. Pengamatan yang menarik. Ga cuma ibu-ibu sepertinya. Hampir semua orang yang sudah berinteraksi dengan social media, punya kecenderungan hobi selfie sepertinya.

Tahu H. Ateng

Pas keluar dari tol, Kang Taufik membocorkan rahasia tempat beli tahu Sumedang favorit untuk dikunyah di daerah Cileunyi. Setelah putaran sekeluarnya dari pintu keluar tol, Anda akan menemukan pertigaan lampu merah. Begitu belok kiri, tunggu Anda bertemu dengan pom bensin Pertamina. Sebelah kiri jalan beberapa meter setelah pom bensin, ada tulisan Tahu H. Ateng. Nah, di situlah toko tahu yang enak dan recommended untuk dikonsumsi.

Tahu H. Ateng

Selain tempat itu, sebaiknya jangan dibeli deh. Saya sekeluarga pernah beli di sembarangan tempat akhir bulan Desember 2015, dan ternyata abal-abal. Rasa tahu Sumedang-nya merusak citra tahu Sumedang yang sebenarnya. Bayangan tahu Sumedang, sirna dan tercerabut dari akarnya. Jangan main-main dan coba-coba membeli tahu lain deh. Peringatan keras. Hehehe.

Mampir ke Kakak Pak Yudhistira

Sebelum sampai ke Tasik, kami mampir dulu ke rumah kakak perempuan Pak Yudhis satu-satunya di sekitar Ciawi, sebelum masuk Tasik. Di dekat rumahnya ada pemandian air panas yang terbuka buat umum. Ipar Pak Yudhis ini diserahi tugas mengelola pemandian air panas. Kami menemukan banyak tempat-tempat wisata yang skalanya kecil, tapi menarik di perjalanan ini.

Sampai di Saung Tengah Sawah

Letak saung milik Pak Yudhis benar-benar strategis dan indah. Ia tepat berada di tengah sawah yang masih hijau di kaki gunung Galunggung. Meski jalannya belum terlalu bagus aspalnya, tapi paling tidak sudah diaspal. Konon kata penjaga saung, nanti bulan Maret 2016 jalanan akan dicor (hot mix). Wah, makin mantap nih. Mungkin bakal sering main ke sini lagi.

Saung ini punya parkiran seluas 6 buah mobil. Saung ini bentuknya rumah panggung. Di bawahnya seharusnya ada kolam ikan. Tapi saat ini ditumbuhi tanaman sejenis enceng gondok. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang diplitur. Ada teras yang cukup luas untuk duduk-duduk diskusi. Rumah ini lantainya dari kayu. Kayu dilapisi dengan karpet sejenis plastik. Tak tahu pasti aku namanya. Rasanya hangat duduk di lantainya. Mulai dari ruang tamu, hingga ruang lainnya terpampang lukisan karya pak Yudhis. Ada 4 ruang tidur, 2 toilet, dan satu dapur. Di tiap kamar, ada kasur busa yang empuk dan tebal. Ada alas dan selimutnya. Hangat. Tiap kamar ada 2 jendela. Pas melihat keluar jendela, terpampang indah sawah yang menghijau. Dari kamarku, matahari bisa terlihat muncul malu-malu di pagi hari. Benar-benar menenangkan secara psikologis. Aman. Nyaman. Tenang. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Di Kaki Gunung Galunggung

Hari ini saya mulai menepi dulu sementara di daerah terpencil yang indah, untuk menyelesaikan tulisan tentang Afiqah dan tulisan lain tentang Metode Sentra. Malam ini hujan awet sedari sore. Suara kodok berbunyi bersautan. Gemericik air di parit pinggir sawah dekat saung, membuat suasana malam ini begitu indah. Suasana desa banget. Sempat mati listrik. Namun menyala lagi. Ada yang ngopi, ada yang merokok, dan kami diskusi bersama tentang banyak hal tanpa batas. Kami membicarakan tentang hidup, visi, misi, realisasi mimpi, masalah politik, bisnis, yang bisa bikin kami terkadang tertawa terpingkal-pingkal. Renungan menarik tentang hidup. Semoga saya bisa fokus melahirkan karya. Wish me luck, bro and sis!

Ingin komunikasi dengan saya? Follow: @pukul5pagi

Baca juga tulisan reflektif lainnya: Raker Keluarga

Istiqomah-lah, Afiqah!

Sepulang shalat jemaah dari masjid Darussalam Kota Wisata, saya menyaksikan kepolosan Afiqah yang mengundang tawa. Kami selalu beri pijakan ketika akan menyeberang jalan, kita harus perhatikan jalan, toleh kiri-kanan apakah ada mobil. Jika ada mobil, kita bisa memberikan tanda dengan tangan agar si supir melambatkan mobilnya.

Nah, pas keluar dari area parkir masjid, ternyata Afiqah mempraktekkannya. Ia menyodorkan telapak tangan kirinya kepada sebuah mobil sebagai sinyal untuk memperlambat lajunya karena kami sekeluarga ingin menyeberang jalan. Sang sopir yang melihat tindakan Afiqah ternyata langsung stop, membuka kaca dan ia tersenyum pada keluarga kami.

Melihat Afiqah menyetop mobil itu lucu sekali. Kami tahunya belakangan, setelah sang sopir menyapa kami. Ada-ada saja si kakak Afiqah.

Afiqah Pulang dari Masjid

Nah, itu bagian bahagianya. Lalu masuklah ke bagian tantrumnya.

Afiqah Tantrum

Kami ingin ke minimarket untuk beli keperluan makan malam. Manda Andin rencananya mau membeli telor dan minyak goreng. Lalu Afiqah nyeletuk, “Afiqah haus. Mau beli minum, boleh?” Manda Andin mencoba negosiasi bahwa kita bisa minum nanti di rumah. “Tapi, hausnya sekarang,” kata Afiqah. Okelah, sebotol minuman air mineral tak mengapa. Bahaya juga kalau kurang minum. Kami juga kehausan. Butuh minum.

Begitu sampai di minimarket, Afiqah dan Manda Andin sudah berkeliling mencari barang yang dibutuhkan. telor dan minyak goreng sudah di tangan. Begitu pas mau bayar, ternyata mata Afiqah tertuju pada buku mewarnai. Ia pun berjalan nyamperin rak buku mewarnai. Lalu Afiqah pun mulai pasang jurus merengek. Ia mulai meminta dibelikan buku mewarnai karena buku mewarnai yang ia punyai, ketinggalan di apartemen di Jakarta. “Di Cibubur belum ada,” begitu penjelasannya untuk meyakinkan kami berdua.

Tapi kami berdua langsung membaca gelagat tidak baik ini. Kami harus berani dan istiqomah dengan tujuan awal ke minimarket, yaitu membeli telor dan minyak goreng untuk makan malam. Tidak ada agenda lain di luar itu. Jadi, kalau Afiqah mau mengada-ada membeli hal di luar tujuan awal, harus direm. Tidak bisa semua hal yang dimaui anak, harus kita turuti agar ia merasa senang. Tidak bisa seperti itu. Kita harus strict, bahwa jika kita ingin sesuatu, harus ada prosesnya, ada planningnya, ada pengalokasiannya. Tidak bisa segala sesuatu itu selalu datang tiba-tiba, tanpa rencana, atau bahkan hanya untuk memenuhi keinginan mendadak alias nafsu semata. Hal ini sangat perlu ditekankan kepada anak.

Afiqah mulai menangis. Mulai dari level nada rendah, sedang, lalu tinggi, dan sampai pada kondisi tidak terkontrol karena suaranya berisik mengganggu pengunjung minimarket. Akhirnya, saya harus ambil sikap. “Mohon maaf Afiqah, tidak semua keinginan kamu harus kami turuti. Kita harus istiqomah sesuai tujuan awal mau beli apa ke sini. Untuk beli buku mewarnai bukan sekarang waktunya. Itu bukan kebutuhan mendesak. Nanti bisa menunggu kita ke apartemen,” kataku sambil menggendong Afiqah keluar dari minimarket. Tindakan saya itu tergolong ke dalam tindakan opsi terakhir setelah negosiasi secara verbal tidak berhasil, yaitu physical intervention. Itu dibutuhkan dalam kondisi darurat chaotic terjadi.

Afiqah menangis makin menjadi-jadi. Semua orang lihat kami dengan seorang anak di gendongan yang meraung. Tak apa-apa dibilang macam-macam oleh orang lain. Ini momentum pembelajaran buat Afiqah. Tidak semua hal harus diikuti. Tidak semua kemauan dan keinginan bisa terwujud tiba-tiba. Semua butuh proses. Itu pesan mendalam yang ingin kami sampaikan kepadanya secara tidak langsung.

Kami terpaksa masuk mobil, lalu beranjak pulang. Ia tetap menangis. Manda Andin tetap memberikan sugesti positif. “Manda mengerti perasaan Afiqah. Afiqah sedih. Tapi kita tetap harus sesuai tujuan awal mau belanja apa tadi sebelum berangkat. Kita mau beli telor dan minyak goreng, kan?”

Manda Andin memeluk Afiqah dengan penuh kasih sayang, meski ia tetap dalam keadaan menangis. “Manda yakin Afiqah bisa mengontrol emosi. Afiqah kan sudah kakak-kakak, sudah sekolah playgroup” kata Manda Andin memberi apresiasi sekaligus menyindirnya secara halus.

Begitu masuk gerbang komplek perumahan kami, Afiqah masih menangis. Sampai di depan rumah, ia masih tetap menangis. Tapi begitu sudah turun dari mobil, tangisnya mulai reda. Ia sudah bisa kontrol emosi.

“Afiqah butuh berapa menit untuk tenangkan diri?” tanya Manda Andin.

Mulut Afiqah menjawab dalam kalimat terbata-bata sambil isakan tangis sesekali menyelinginya, “Lima menit.” Ok, kita beri lima menit. Biasanya sih lima menitnya masih belum akurat. Biasanya kurang dari waktu normal lima menit.

Sesuai Tujuan, Tetap Istiqomah

Praktis, dari sejak nangis awal, hingga reda, durasi menangis Afiqah hanya sekitar 12 menit. Waktu 12 menit yang sangat krusial dan menentukan pembentukan karakter seorang anak. Apakah orangtuanya “mengalah” demi anak, atau ia tetap pada pendirian dan istiqomah menjalani tujuan awal yang sudah ditetapkan?

Saya dan Andin meyakini, jika kita terlalu gampangan menuruti kemauan anak, kelak ia bisa dengan mudah minta ini-itu tanpa tahu ada proses yang berdarah-darah juga dalam mewujudkan keinginan tersebut. Ada yang miss di sana, yaitu proses mewujudkannya. Anak yang terbiasa sedikit-sedikit minta ini-itu lalu diwujudkan orangtuanya secara cepat, akan menganggap ketika minta sesuatu, jurus simsalabim bisa dipakai dan bisa berhasil. Tinggal minta, tiba-tiba barangnya ada. Ia tidak akan mau tahu bahwa untuk mau sesuatu itu, butuh perjuangan terlebih dahulu.

Namun beda hasilnya jika anak yang kita biasakan strict dengan memperhatikan proses serta mampu membedakan keinginan dengan kebutuhan. Kalau si anak mampu istiqomah pada tujuan awal, lalu ia juga mengerti bahwa jurus ujug-ujug bisa dapat ini-itu tidak berlaku, maka ia akan tumbuh menjadi orang yang sangat menghargai proses dan perjuangan hidup. Rasa syukurnya pun lebih tinggi.

Kami membiasakan Afiqah untuk bisa mengerem nafsu keinginannya. Ia harus bisa potong ego-nya. Beberapa bulan lalu, ketika Afiqah punya keinginan untuk memiliki sepeda, kami tidak langsung membelikan. Kami memberikan informasi bahwa untuk beli sepeda, butuh waktu dan usaha. Harganya mahal, dan kita harus kumpulkan uang dulu. Untuk mengumpulkan uang, kita harus bekerja, berkarya. Jadilah Afiqah menyibukkan diri seolah-olah ia bekerja di rumah. Ia sibuk belajar. Memberes-bereskan mainannya, dan dia anggap itu bekerja.

“Lagi apa kak?” tanyaku iseng di suatu siang. “Afiqah mau kerja dulu mau nabung buat beli sepeda.” Kami hanya senyum menanggapinya. Meski konsep kerjanya masih kurang tepat, tapi okelah. Ia tak langsung ujug-ujug bisa dapatkan sepeda dengan mudah. Harus kerja dulu, harus cari uang dulu. Harus hitung, berapa upaya dan usaha yang harus dilakukan untuk capai target yang sudah dikunci tadi. Konsep itu yang kami install di kepala Afiqah. Kalau mau sesuatu, harus ada usahanya. Tidak bisa menengadahkan tangan begitu saja. Terima pasif, terima jadi. Dengan begitu, kita melatih logika berpikir Afiqah (logic mathematic). Ia jadi tahu tentang sebab-akibat, konsekuensi logis dari suatu tindakan. Kalau mau sesuatu, rencanakan sejak jauh-jauh hari. Itu lebih baik. Meski kami tidak menutup ruang untuk tetap bisa melakukan tindakan impulsif seperti pemberian hadiah kejutan atau tindakan surprise lainnya.

Tantangan Lingkungan

Permasalahan yang kerap kita hadapi adalah manakala ada orang di sekeliling kita yang terlalu mudah memberikan atau memenuhi keinginan anak kita. Bisa saja kakek-neneknya, atau om-tantenya. Atas nama kasih sayang, semua barang yang diinginkan si anak segera hadir di pelupuk matanya dengan begitu cepat. Atas alasan agar si anak tidak nangis, semua barang dibelikan. Ini sulap dan ini sihir, TARA……

Untuk itu, perlu dikomunikasikan kepada keluarga besar kita bahwa untuk membangun mentalitas dan karakter anak yang lebih baik, kita jangan sampai memanjakan anak dengan gampangan memberikan ini-itu sesuai keinginan dia. Kita harus selektif, dan memperhatikan ada proses perjuangan yang harus dilalui seseorang jika ia inginkan sesuatu. Orangtua dan keluarga besar harus satu frekuensi dalam menjalankan pola asuh terhadap seorang anak agar tidak ada kebingungan di dalam dirinya.

Menghargai proses adalah sesuatu yang mahal di Indonesia, karena banyak orang yang tak sabaran dan ingin potong-kompas saja. Budaya ingin sukses instan adalah musuh yang harus dienyahkan dalam pikiran kita. Sukses yang dicapai lewat perjuangan yang berproses, masa “panen”-nya lebih lama. Tidak cepat hilang.

Dalam pengamatan kejadian kongkret di jalanan, kita sering lihat banyak motor karena buru-buru mengejar waktu, saban hari melawan arus untuk bisa sampai lebih cepat ke tempat yang dituju. Padahal sudah disediakan U-TURN meski memang sedikit lebih jauh dibandingkan memotong jalan atau melawan arus. Tapi tetap saja, pola pikir melawan arus lalu lintas, itu adalah salah. Selain melanggar aturan lalu lintas, hal itu juga bisa membahayakan si pengendara dan pengendara lainnya. Efek lainnya, kemacetan jadi mengular kemana-mana karena ada kumpulan ego yang tak bisa ditahan. Seenak jidatnya saja. Yang penting kepentingan saya pribadi terpenuhi (cepat nyampai). Peduli setan dengan urusan jalanan jadi tambah macet kek, mau mandeg kek. Sabodo teuing kalau dalam istilah urang Sunda. Ini contoh kongkret orang yang tidak menghargai proses, hanya berorientasi result, ingin cepat sampai, apapun caranya. Segala cara ditempuh untuk memenuhi hasrat dan ego.

Mari mengubah masyarakat kita mulai dari keluarga kita, dari anak kita sendiri. Pastikan anak kita tidak ter-install prinsip “simsalabim sulap”, “asal cepat sampai”, “potong-kompas”, “egosentris” di dalam dirinya. Pastikan ia menghargai proses. Pastikan ia melakukan sesuatu, sesuai tujuan awal, tidak gampang terdistraksi di tengah jalan. Pastikan apapun kegiatan yang ia lakukan, ia harus istiqomah menjalani pilihan kegiatannya hingga tuntas. Tidak melenceng sana-sini. Pastikan juga kegiatan tersebut harus memenuhi kebutuhannya, bukan karena impulsif memenuhi keinginan hawa nafsu belaka. Kebutuhan selalu ada batasannya karena ada elemen pengukuran yang bisa dikontrol di dalamnya. Sedangkan keinginan, tidak ada batasnya. Ia adalah laju nafsu yang tak terkendali. Ia adalah jelmaan kongkret dari istilah matematika, Tak Terhingga (~).

Istiqomah ya Kakak Afiqah,

Adlil Umarat

Tim Riset & Pengembangan

Sekolah Dhuafa Bermetode Sentra, Batutis Al-Ilmi, Pekayon-Bekasi

@pukul5pagi

umarat.adlil@gmail.com

http://www.umarat.wordpress.com

08111170128

Apa yang Salah dengan Volunter?

“Kamu perempuan, lahir dan besar di Jakarta, sekolah tinggi, kenapa mau bekerja keluar-masuk hutan hanya untuk orang-orang seperti mereka?” Begitu pertanyaan yang sering saya dapatkan selama tak kurang dari 15 tahun terakhir ini. Tidak ada jawaban yang memuaskan mereka. Setiap jawaban malah melahirkan pertanyaan baru.

“Memangnya di kota tidak bisa berarti?” “Di hutan, kan, tidak ada mal, sinyal telepon, teve, internet, bakso?” Atau, “Hobi, ya, hobi, pekerjaan itu pekerjaan, tidak bisa disatukan!” Lalu, “Tidak takut binatang buas, kena malaria, diperkosa, atau bertemu setan?”

Bekerja di kota, di mana banyak orang berkompetisi memperebutkan sedikit kesempatan, yang tak jarang hanya demi kesenangan dan memuaskan pancaindra semata, sampai-sampai harus sikut kanan-sikut kiri, bagi saya justru lebih menakutkan dibandingkan kemungkinan bertemu binatang buas di hutan. Tapi, kenyataannya, pekerjaan di kota memang menjadi incaran banyak orang. Teramat banyak sehingga kantor-kantor itu harus menyeleksi calon karyawannya habis-habisan dengan berbagai persyaratan. Pada situasi ini tampak sekali kalau kita yang memburu pekerjaan, bukan pekerjaan yang membutuhkan kita.

Masih ingatkah bagaimana rasanya langkah jadi ringan dan senyum terkembang seharian setelah bantuan kecil yang kita lakukan tulus untuk orang lain? Misalnya, setelah membantu seorang nenek menyeberang di jalanan yang ramai penuh mobil, atau saat membantu anak tetangga yang kesulitan menyelesaikan pekerjaan rumahnya?

Sulit digambarkan perasaan saya ketika mendengar kata pertama yang berhasil dibaca oleh murid saya, lalu di lain waktu melihatnya membantu orangtuanya di pasar menghitung hasil penjualan produk hutannya. Bantuan kecil kita bisa jadi besar maknanya bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Saya merasa dibutuhkan. Butuh dan dibutuhkan menghasilkan perasaan yang berbeda. Letaknya jauh di kedalaman hati, membuat kita merasa berharga, menghargai hidup dan akhirnya bersyukur.

Kerja Suka dan Rela

Orang banyak mengatakan kegiatan ini sebagai voluntary service. Voluntarybiasa diterjemahkan sebagai sukarela, sedangkan service dalam makna luas berarti pelayanan, bakti, jasa, atau pengabdian. Maka, mari kita artikanvoluntary service sebagai pekerjaan (kalau memang disebut pekerjaan) yang dilakukan bukan hanya dengan penuh suka, juga rela; bukan untuk mencari keuntungan pribadi, tetapi memberi apa yang kiranya dibutuhkan orang.

Indonesia punya 13.000 lebih pulau dan tak kurang dari 250 juta jiwa penduduk. Dengan luas hampir 2 juta kilometer persegi, tentu ada banyak peluang yang terbuka. Apalagi kalau kita baca surat kabar, rasanya tak pernah selesai persoalan di negeri ini.

Bagaimana kita bisa terlibat?

Kita hanya perlu lebih banyak melihat dan mendengar langsung. Langsung itu artinya dari luar layar monitor HP, tablet, atau laptop-mu! Ada banyak hal yang tak berada di tempatnya. Datang ke sana, diam, dan amati dengan rendah hati. Rendah hati artinya kita datang dengan pertanyaan, bukan jawaban. Sekalipun ada perasaan dibutuhkan, kita datang bukan untuk jadi pahlawan, bukan untuk menggurui, tapi mempelajari, mengenali, sambil mencari apa yang bisa kita bantu. Lalu biarkan hatimu mengatakan apa yang harus kamu lakukan.

Konon, ada tiga kekuatan dahsyat, mengutip Pramoedya dalam novelnyaRumah Kaca, “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang bisa timbul pada samudra, pada gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.” Saya setuju. Sekali kita menentukan tujuan, biarkan ia jadi kekuatan yang menggerakkan.

Ada lagi model pertanyaan yang sering saya jumpai, “Kak, saya suka bertualang, saya juga ingin mengajar di rimba, tapi saya takut gelap. Bagaimana, ya?” Atau, “Kak, saya sangat ingin mengajar anak-anak jalanan, tapi orangtua ingin saya jadi PNS.” Menghadapi pertanyaan itu, saya biasanya senyum-senyum saja. Atau kalau sudah terpojokkan, saya bilang, “Bereskan dulu tapi-mu, ya, setelah itu baru kita ngobrol lagi.”

Rasanya sulit menumbuhkan kekuatan pikiran dan hati kita kalau kita sendiri sudah membatasi diri kita dengan banyak “tapi”. Akan selalu ada alasan kalau kita fokus pada kalimat di belakang kata “tapi”. Karena bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, bukan? Bahwa dia tidak (akan) berusaha ke rimba atau apa pun mimpinya karena dia punya banyak “tapi”. Bagaimana kalau kalimat “tapi” itu kita balik? “Kak, sebenarnya orangtua saya ingin saya jadi PNS, tetapi saya sangat ingin mengajar anak-anak jalanan.” Dan, “Kak, saya itu sangat takut gelap, tapi saya suka bertualang dan ingin mengajar di rimba!”

Bekerja, apa pun itu, termasuk pekerjaan sukarela, menurut saya selalu dimulai dari menghargai diri sendiri, menghormati hidup kita sendiri. Bahwa kita begitu berharga, bermanfaat, dan berarti, sehingga kita ingin membagikan anugerah yang kita punya kepada orang lain melalui segala daya dan kreativitas. Melalui penghargaan kepada diri sendiri, kita akan menemukan banyak hal menarik dan berguna yang bisa dilakukan. Ini memang terlihat seperti pengabdian terhadap orang lain. Tapi tidak, karena sebenarnya kita mengabdi kepada kemanusiaan yang sejati.

Menghargai Diri Sendiri

Pertanyaan yang lain, “Saya ingin bergabung. Saya ingin bekerja sosial, mungkin satu atau dua tahun, tapi setelah itu saya akan bekerja serius. Saya tak munafik, hidup tentu butuh uang.”

Kalau memang begitu, mengapa tak bekerja serius dulu sampai punya cukup banyak uang lalu baru bekerja sosial sehingga tidak perlu lagi mencemaskan keuangan? Satu hal yang mengganjal, bahwa sering kali kerja sukarela tidak dianggap sebagai pekerjaan serius. Mungkin karena pekerjaan serius itu didefinisikan sebagai rutinitas kantor dari Senin sampai Jumat, berpakaian rapi, dan segala formalitas lainnya. Padahal, kerja sukarela tak kalah seriusnya, sama-sama menguras pikiran dan tenaga. Hanya karena formalitas yang berbeda, bukan berarti keduanya berlawanan.

Bagaimana dengan uang? Jutaan rupiah yang sudah habis untuk biaya sekolah, ditambah lagi tahun-tahun yang telah dilewati dengan penuh harap, sering kali dianggap sebagai piutang yang pada saatnya nanti harus bisa dipetik hasilnya. Setidaknya balik modal, syukur- syukur kalau bisa kembali dengan berlipat ganda. Ah, mari berhenti menyogok masa depan. Sekolah tidak ada hubungannya dengan banyaknya gaji yang akan kita terima. Demikian halnya prestasi (achievement), tidak selamanya diukur dengan uang.

Teman saya, lulusan S-2 dari universitas negeri di Jakarta yang juga bekerja di hutan, pernah ditanyai seorang wartawan yang berkunjung ke rimba dengan penuh apriori, “Berapa gaji yang kamu terima untuk pekerjaan gila seperti ini? Kalau tidak besar, mana mungkin ada yang mau?”

Teman saya menjawab dengan jengkel, setengah bercanda, “Kalau untuk mencari banyak uang, saya mendingan piara tuyul saja, Pak, bukan bekerja seperti ini. Uang bukan tujuan saya.” Si penanya tentu tidak puas, tetapi bagaimana menjelaskan keindahan lautan kepada orang yang tidak pernah tahu apa itu laut.

Lagi-lagi memang kembali kepada tujuan dan keberanian kita menjalani tujuan itu. Keberanian untuk menjadi berbeda dengan ribuan orang yang mengantre pekerjaan di kota. Pikiran-pikiran kami sering dianggap ajaib oleh kebanyakan orang. Sering juga setelah beberapa waktu bercakap-cakap mereka seperti disadarkan bahwa mereka juga ingin punya perasaan-perasaan seperti itu: melakukan hal yang disenangi, merasa bermanfaat.

Kekayaan batin akan senantiasa membuat kita bergairah. Namun, tentu gairah akan berlipat ganda kalau kita bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Kerja sukarela tak hanya bisa dilakukan di hutan, di dunia politik, atau di medan perang, tapi bisa di mana pun. Tidak perlu bermimpi menyelamatkan bumi karena itu tugas Superman dan James Bond. Tak juga harus baik hati selemah Cinderella yang mengharap uluran Ibu Peri karena yang kita perlukan justru kekuatan dan keberanian. Tidak juga sibuk cari pengakuan atas yang kita lakukan karena yang kita cari adalah penghargaan kita terhadap diri sendiri. Tidak juga harus mengikuti petunjuk orang-orang terkemuka yang seolah berhati peri karena dalam beberapa kasus yang menumbalkan rakyat negeri ini ternyata malah didalangi mereka. Tak juga harus sepakat dengan saya.

Seperti kita tahu, setiap orang memiliki ketertarikan, prioritas, dan kemampuan sendiri-sendiri. “Jadilah diri sendiri”, sering sekali dikumandangkan di mana- mana. Sekali lagi, taruh gadget- mu, lihat lekat-lekat dunia di luar sana, lalu dengarkan hatimu. Sebab, kita perlu menghargai hidup yang hanya sekali ini. Bayangkan jika suatu hari, di usia 75 tahun, tiba-tiba kita merasa hampa dan baru tersadar bahwa kita belum melakukan apa-apa untuk menghargai satu kali hidup kita.

BUTET MANURUNG

Penulis adalah pendiri dan direktur Sokola-Literasi dan Advokasi Untuk Masyarakat Adat.

[Artikel ini sudah dipublikasi di Harian Kompas, Selasa, 3 November 2015. Dipublikasi kembali oleh Floresa.co untuk tujuan pencerahan kepada publik]

Silaturrahim yang Memberi Energi

Sabtu Kelabu

Hari Sabtu lalu (8 Agustus 2015) adalah hari yang membahagiakan. Namun, sebelum hal membahagiakan itu tiba, kami diuji coba kesabaran terlebih dahulu.

Ceritanya, kami hendak pergi kondangan ke Gedung Smesco di Jakarta. Karena acaranya jam 11.00-13.00, maka kami putuskan berangkat pukul 10.30. Pas lihat di google maps, waktu tempuhnya sekitar 1 jam. Berarti jam 11.30 dah bisa sampai di lokasi.

Namun ternyata, ketika pas mau berangkat, cek lagi di google maps, waktu tempuh jadi 1 jam 43 menit. Pas sudah jalan lebih jauh lagi, ternyata makin menggila, lebih dari 2 jam. Ada gambar 5 kecelakaan di 5 titik berbeda di apps. Alamak. Udah terlanjur berangkat. Kami tetap paksakan berangkat dan bertekad sampai ke lokasi jam 13.00 paling pahit banget. Sekuat-kuatnya asa kami, begitu melihat kemacetan di sepanjang tol Jagorawi dan tol dalam kota, langsung jadi pesimis. Bahkan ketika keluar tol pun tetap macet. Macet is everywhere. Jakarta dan sekitarnya, sudah sangat tidak ramah lagi untuk penduduknya. Udah kebanyakan orang. Kemana-mana butuh 2-3 jam. Waktu banyak habis di jalan. Tua di jalanan ibukota. Betapa ruginya.

Akhirnya, kami sampai keluar dari tol dekat dari gedung Smesco sekitar pukul 13.15. Sudah lewat dari jadwal. Akhirnya kami memilih balik kanan, putar haluan menuju Pekayon-Bekasi. Terus terang, waktu yang terbuang, bahan bakar yang terbuang, tenaga nyupir yang terbuang, semua sia-sia. Dua jam 45 menit di jalan, untuk kemudian balik kanan grak. Amsyong.

Ketika perjalanan ke Pekayon-Bekasi, kami lewat tol. Suasana panas sekali. Afiqah mulai menangis. Mungkin ia lapar dan ngantuk. Suasana hati kami tidak enak. Aku dan Andin pun mulai kelaparan. Sudah 13.30 dan kami belum makan. Terjebak macet juga di tol. Kami keluar di tol Cikunir. Ternyata stuck. Lama sekali. Karena saya sudah kecapekan, pas ke Bekasi, Manda Andin yang nyetir. Lapar, haus, letih, berpadu jadi hal yang tidak nyaman buat kami di mobil. Ingin rasanya segera makan. Lapaaaarrr…

Begitu keluar dari jebakan macet, kami mencari tempat makan. Awalnya ada pilihan tempat makan Soto Kudus. Enak banget kebayangnya. Lagi capek, makan yang anget-anget. Tapi kemudian, mata tertuju pada sebuah restoran Padang yang besar dan megah. Letaknya ada di sebelah kanan jika kita baru keluar dari tol Cikunir. Namanya Sari Bundo.

Sabtu Ceria

Makan siang itu mengubah mood kami jadi lebih baik. Makanannya sangat enak sekali. Aku memilih makan dendeng kering balado dipisah, ayam panggang berbumbu. Andin makan dengan lahapnya. Afiqah juga ikut makan, meski sedikit. Ia belum siap makan makanan pedas. Agaknya ia masih rancu membedakan antara makanan pedas dan makanan berbumbu menyengat. Enaknya makanan di restoran Sari Bundo itu seperti membawa kita terbang ke Bukittinggi, dimasakin oleh ibunda tercinta. Semua bumbunya masih asli “Minangkabau” banget. Jadi kangen mama. I miss you mom.

Selesai makan siang yang sudah menjelang sore itu, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Bu Siska dan Pak Yudhis. Di tengah jalan, Afiqah minta dibelikan cemilan. Ia juga harus ganti pampers. Tadi di restoran Afiqah harus ke toilet. Kebetulan stok cadangan di tas habis.

Menariknya, awal memilih pampers di rak minimarket, Afiqah memilih pampers bergambar bayi. Setelah saya lihat, ternyata ukurannya S. Wah, salah ambil nih. “Afiqah sudah besar, bukan ukuran ini buat kamu. Ini S buat bayi, nak…” ujarku. Susah membujuknya pindah ke ukuran L. Kami berdebat cukup alot. Penjaga minimarket menyimak perdebatan kami. Ia sudah tak sabar menunggu kami untuk segera discan belanjaannya lalu masuk ke tahapan pembayaran. “Kalau Afiqah tetap memaksa membeli, nanti pampers bayinya tidak terpakai, akan terbuang percuma,” kataku memberi penjelasan. Barulah ia mau berubah mengambil ukuran L. Tapi pas mau bayar, ia kembali lagi ke rak pampers. Ia ambil lagi yang pampers ukuran S untuk bayi.

“Afiqah buat apa beli yang untuk bayi?” tanyaku. Ternyata jawab Afiqah, “Mau kasih adek Kiarakuma…” Oalah, ternyata di balik tindakannya itu ada maksud lain. Ia ingin berbagi hadiah untuk Kiarakuma. Bawa oleh-oleh khusus untuk Adek Kiarakuma, cucu Bu Siska. “Satu buat Afiqah, satu buat Kiarakuma….” Ujar Afiqah sumringah nyengir kuda “tengil”.

Alhamdulillah, ternyata anakku ada rasa care-nya kepada orang lain. Ia tahu akan berkunjung ke rumah neneknya Kiarakuma, lalu ia ingin membawa buah tangan ala dia. Hadiahnya hanyalah sebuah bungkusan pampers berisi beberapa lembar, tapi sepertinya itu berarti banget buat Afiqah. That was so sweet, darling. Cubit gemes buatmu, nak. Afiqah memang sejak awal dulu sudah nyantol banget di top of mind-nya nama Kiarakuma. Entah dari sisi spelling, nama itu unik sekali, entah emang adek Kiarakumanya yang emang cantik banget, atau faktor apa…entahlah. Tapi yang jelas, kalau kami kasih tahu mau ke rumah Kiarakuma, ia penuh semangat. Jangan-jangan ini #KodeKeras dari Afiqah yang pengen dihadirkan adek kandung secantik Kiarakuma juga. #Eh

Inspirasi Bu Siska

Pas tiba di TKP, kami disambut bu Siska dengan semua keceriaan di wajahnya. Senangnya ketemu bu Siska dan Pak Yudhis karena dari sana kami bisa belajar banyak hal. Meski hanya dari obrolan ringan, tetap saja ada inspirasi baru atau ide-ide baru yang muncul dari obrolan tersebut.

Bu Siska menceritakan keajaiban lain dari Allah lewat tangan seorang bule Amerika yang menghibahkan mainan anaknya yang se-gambreng. Jadilah Batutis menerima hibah mainan edukatif yang sangat berlimpah. Rezeki anak soleh/ah banget deh pokoknya. Bayangkan, rumah si bule ini di Pondok Indah. Tahu sendiri kan sebesar apa standar rumah di sana? Jika rumahnya besar-besar, mainannya ga mungkin sedikit atau kecil-kecil. Kata bu Siska, “Kita seperti mindahin isi satu rumah…” karena saking banyaknya mainan yang dihibahkan. Afiqah berkesempatan mencoba salah satu permainan edukatif milik si om bule. Ternyata Afiqah sangat tertarik. Sayang tidak kita abadikan lewat foto. Permainannya sederhana, tapi konsep di balik permainan tersebut, ternyata ada pesan penting nan mahal dalam melatih kecerdasan anak. Permainan bongkar-pasang, yang lobangnya sangat presisi dan akurat, dengan eksplorasi kemampuan untuk identifikasi warna buat anak-anak.

Update cerita-cerita keajaiban begini dari Batutis, selalu menarik untuk didengar. Ada saja orang baik yang membantu Batutis. Cerita-cerita ini sama serunya dengan cerita Bu Siska yang pernah suatu ketika berdoa di dalam hati di depan ATM agar ada donatur yang menyumbang buat Batutis di saat masa-masa seret kala itu. Doa orang yang punya niat baik membantu kaum dhuafa, biasanya makbul, dengan cara-cara yang tak terduga-duga. Kalau orang tv bilang mah, cerita perjuangan Bu Siska dan tim Batutis itu penuh twist, gimmick, dan drama yang tak disangka-sangka. Selalu terharu mendengar cerita perjuangan tersebut. Kalau tahu perjuangan guru-guru Batutis, lebih “gila” lagi. Benar-benar berjuang. Berjuang dengan arti sebenarnya berjuang. Ini akan kita bahas di bab terpisah saja ya, karena panjang dan ber-bab-bab ceritanya.

Lanjut ke cerita semula….

“Saya tahu sekarang mengapa orang Amerika dengan kelas sosial menengah dan terdidik itu pintar-pintar…” ucap Bu Siska kepada saya dan Andin.

Dalam hati saya langsung penasaran, “Kenapa memangnya?” Apa rahasianya?” Rasa kepo tingkat tinggi saya menyeruak di sela-sela otakku sambil menebak-nebak.

Bu Siska melanjutkan penjelasannya. Hampir semua mainan yang dihibahkan itu, tak ada satupun mainan yang tidak edukatif. Semua ada meaning di balik permainannya. Singkatnya, mainan si bule dan keluarganya itu sangat lekat dengan pengembangan kecerdasan jamak. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang ditetapkan di Metode Sentra.

Selama ini, mungkin kita selaku orangtua membelikan anak mainan dalam rangka membuat anak kita anteng, ga rese’, ndak nangis. Beda prinsip sama om bule Amrik itu. Semua permainannya sangat edukatif dan satu hal lagi, semua mainan diklasifikasikan sesuai dengan jenisnya. Misalnya boneka sama boneka, dan begitu seterusnya. Hanya orang yang sudah belajar Metode Sentra yang mengerti bahwa keluarga tersebut klasifikasinya kuat atau tidak. Mainannya semua terawat dengan baik. Itu juga jadi poin plus lainnya.

Kata bu Siska, seharusnya permainan untuk anak, harus ada nilai edukasinya. Orangtuanya harus tahu dulu apa fungsi permainan tersebut. Bagian kecerdasan anak yang mana yang dikembangkan lewat permainan tersebut? Mungkin terlihat rada rempong, tapi memang begitu seharusnya. Anda sebagai orangtuanya, harus tahu dulu apa manfaat mainan tersebut bagi anak. Orangtuanya bahkan harus tahu dulu bagaimana memainkan permainan tersebut secara benar. Bukan sekedar membelikan mobil-mobilan keren, tapi meaningnya entah apa. Ini bahan refleksi yang penting buat keluarga Indonesia dimanapun berada.

Update cerita lainnya yang tak kalah seru adalah ada seorang guru di Batutis yang sudah sempat berniat keluar dari Batutis, mencoba ngajar di sekolah lain, lalu ternyata tidak betah. Alhamdulillah guru tersebut balik lagi ke Batutis, siap berjuang bersama Batutis lagi.

Mengapa ia tak betah di sekolah lain? Kalau di Batutis, guru-guru harus punya konsep jelas sebelum musim ajaran baru dimulai. Guru sudah rapat bersama, kurikulumnya akan seperti apa, penjabaran konsep sampai tataran yang detail, sudah jelas. Seberapa jelas dan detailnya kurikulum di Batutis, nanti akan ditulis terpisah juga ya. Panjang soalnya.

Bedanya ketika ngajar di sekolah lain, guru tersebut merasa bahwa guru-guru di sekolah tempat barunya itu sama sekali tidak mengajar pakai hati. Tidak passionate istilah zaman orang kini. Mereke teng-go begitu bel berbunyi. Sementara jika di Batutis, begitu waktu pulang telah tiba, maka guru-guru melakukan refleksi terhadap apa yang sudah dijalani hari itu. Pelajaran apa yang didapat guru dari interaksinya dengan murid hari itu. Apa pengamatan terhadap individu muridnya, dicatat secara terperinci. Sehingga nanti saat dilakukan rekap, terlihat jelas perkembangan seorang anak/ siswa. Apakah ia improve, atau stagnan, atau ada aspek-aspek lain yang perlu perhatian khusus. Selain refleksi apa yang dijalani hari itu, guru di Batutis juga menyiapkan diri untuk lesson plan esok harinya. Mereka takut sekali jika tidak siap mengajar. Tidak siap mengajar, akan “dilumat” oleh anak didiknya yang kritis-kritis dalam bertanya dan berlogika. Anak Batutis seperti lagu Afgan, “sadis” dalam hal critical thinking.

Menilik kasus guru Batutis yang comeback ini, kalau bahasa saya, guru yang dah biasa mengenal Metode Sentra dalam pengajarannya, lalu masuk ke sekolah konvensional, ia akan merasa gamang. Terbiasa bermain dengan hal yang complicated, terkonsep, terperinci, impactful, lalu tiba-tiba masuk ke sistem yang tanpa strategi, loose begitu saja. Rasanya hambar. Biasa naik Ferrari yang mesinnya halus, lalu harus naik angkot yang njut-njutan. Tentu tidak nyaman. “Itu bukan gw banget” kira-kira begitu yang dirasakan guru yang comeback lagi ke Batutis itu.

Pertimbangan lain, di Batutis, setiap guru mempunyai hak khusus bahwa anaknya gratis bersekolah. Bayangkan, anak guru saja diperhatikan. Kalau di sekolah biasa, mungkin anak guru tidak terperhatikan. Urusan pribadi si guru tersebut. Batutis sangat concern dengan kualitas hidup guru dan keluarganya. Masa sih gurunya mendidik anak orang sampai pintar, tapi anaknya sendiri malah ga dibikin pintar? Rugi, bukan? Makanya, di Batutis banyak keuntungan yang sifatnya non-materi yang nilainya sangat mahal dan tak bisa digantikan dengan uang. Itu pembeda Batutis dengan sekolah konvensional pada umumnya.

Inspirasi Pak Yudhis

Kalau tadi kita udah dengar update cerita inspiratif dari Bu Siska, sekarang giliran Pak Yudhistira Massardi. Ternyata beliau tak kalah inspiratif. Beliau bilang ada rencana launching buku terbarunya 99 Sajak, di hari Rabu, 19 Agustus 2015, jam 19:00-21:00 di Galeri Indonesia Kaya (sebelah bioskop Blitz) di Mal Grand Indonesia (belakang Hotel Indonesia, Jakarta Pusat).

Ternyata, Pak Yudhis bangkit dari tidurnya. Ia merasa risih karena sudah lama juga tidak berkarya yang benar-benar serius. Beliau dulu terkenal dengan Novel Trilogi Arjuna Mencari Cinta, dan Sajak Sikat Gigi. Kali ini, ia menantang dirinya kembali, untuk berkarya serius. Akhirnya, dalam beberapa bulan ini, setiap harinya beliau membuat sajak dengan total jumlahnya 99 buah secara tematik. Setiap tema terdiri dari 9 sajak. Jadilah ada 11 tema sajak di dalam buku yang diberi judul 99 Sajak tersebut.

Pak Yudhis mengajarkan kepada saya secara tidak langsung, agar jangan mengisi hidup biasa-biasa saja. Kadang, kita perlu sedikit mendorong diri kita untuk berkarya yang serius. Rasanya sudah lama saya tak melakukan hal yang luar biasa, menantang diri sendiri, menaklukkan keinginan baik yang masih terpendam. Sejak aktif menulis lagi, sebenarnya pola “memaksa diri untuk berkarya-berprestasi” sudah muncul. Misalnya waktu itu, bisa sukses umroh dengan niatnya datang dari saat makan di warung padang, bisa nikah dengan modal tekad-nekat-dan proses cepat, menang di lomba-lomba kompetisi nulis blog, dan lain sebagainya. Rasanya sudah lama tidak menyetting proyek ambisius pribadi lagi. Sudah ada sebenarnya, tapi masih di tahap awal. Nanti dituliskan juga jika sudah mulai dieksekusi.

Pak Yudhis mendisiplinkan dirinya untuk menulis setiap hari. Bayangkan, setiap hari! Lalu agar tulisan tidak sekedar tulisan, ia memaksa diri untuk menjadikannya buku. Lalu tak puas di sana, buku bukan sekedar buku. Buku harus ada nilai lebihnya. Akhirnya ia minta tolong rekannya untuk kolaborasi membuat ilustrasi bagi 99 sajak yang dibuatnya. Jadi akan ada interpretasi berupa ilustrasi dari tiap sajak. Menarik sekali. Lalu, jika diterbitkan sendiri, mungkin butuh modal yang tidak sedikit. Lalu ia cari-cari link lewat teman ke penerbit mana yang bisa menerbitkan buku dengan konsep antologi sajak tersebut. Ternyata, penerbit besar Gramedia bersedia mencetak bukunya. Luar biasa. Waktunya sangat singkat. Baru selesai pengiriman naskah pas Ramadan kemaren. Seminggu setelahnya, Gramedia bilang sudah ok dan siap naik cetak. Pemberi komentar di bukunya pun bukan main-main, ada Goenawan Mohamad dan Radhar Panca Dahana. Nama terakhir adalah penulis kolom opini favorit saya sejak kuliah dulu. Ia juga ngajar di Sosiologi UI.

Lalu Pak Yudhis bertekad juga agar launching buku bukan sekedar launching biasa, harus catchy tingkat tinggi. Akhirnya setelah berjuang tanya sana-sini, menghidupkan jaringan sosial yang ia punya, dapat tempat launching di daerah elit nan prestisius, Galeri Indonesia Kaya (sebelah bioskop Blitz) di Mal Grand Indonesia (belakang Hotel Indonesia, Jakarta Pusat). Lalu agar launching buku tak sekedar launching buku, maka launching buku kali ini terasa spesial karena Pak Yudhis akan membacakan langsung 99 sajak yang ia buat. Untuk itu, ia rutin berlatih fisik dari hari ke hari agar fit di hari-H nanti. Sebagai variasi, ia juga mengajak kolaborasi beberapa artis ternama untuk tampil juga. Diantaranya adalah Renny Djajoesman dan Yuka Mandiri, Noorca M. Massardi  serta, Adhie M. Massardi. Wah, diboyong semua keluarga Massardi nih. Biar ndak monoton, ada juga kolaborasi Pak Yudhis dengan para pemusik muda:  Iga Massardi, Gerald Situmorang, Kartika Jahja dan Matatiya Taya. Dibantu olah visual/grafis karya desainer Risa Kumalasita dan Ario Kiswinar Teguh.

Cukup ngos-ngosan juga saya menceritakan hal ini ya. Saya nulis ini hanya dalam waktu 2 jam di pagi hari. Sekali nulis, tak bisa berhenti, sehabis nyeruput Chocofaza—cokelat premium hasil beli dari Mbak Mona Anggiani–

Tapi, dari cerita pak Yudhis itu, kita bisa ambil inspirasi. Pak Yudhis yang sudah berumur 61 tahun, semangatnya masih menggebu-gebu dalam berkarya. Kenekatannya seperti anak muda umur 16 tahun. Ia “tabrak” semua ketidakmungkinan, mengubahnya menjadi mungkin. Ia memaksakan diri mengisi hidup ini penuh makna. Hidup hanya sekali, mengapa tak berkarya yang bagus sekalian? Mengapa nanggung? Ia mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya, menghidupkan semua harapan dan kemungkinan dan relasi sosialnya untuk meng-goal-kan impiannya. Itu benar-benar arti sebenarnya dari perjuangan hidup. Pak Yudhis secara tidak langsung, sedang mengajarkan kepada kita bahwa untuk mewujudkan impian, kita perlu hidupkan tombol-tombol kecerdasan jamak kita: logika-matematika, linguistik, spasial, musikal, kinestetik tubuh, interpersonal, intrapersonal, naturalistik. Selanjutnya, silakan saksikan keajaiban setelahnya.

Dalam perspektif yang lebih makro, Pak Yudhis memprovokasi kita–khususnya saya—untuk bertanya pada diri sendiri: “Apa sih yang tidak mungkin diwujudkan dalam hidup ini? Asalkan engkau mau….semua bisa diwujudkan dengan niat, tekad, kerja keras, kerja cerdas, serta doa.” Masalahnya, dirimu mau ga? Harus jawab itu dulu.

Terima kasih Pak Yudhis. Terima kasih Bu Siska. Atas semua inspirasi yang saya dan Andin dapatkan dari hasil silaturrahim kemaren. Terima kasih sudah mengubah Sabtu Kelabu kami menjadi Sabtu Ceria. Mood kami benar-benar berubah, bahkan hingga tiba di rumah, rasanya adrenalin kami meningkat, menggebu-gebu. Kami diskusi ala orang besar (lanjut mendiskusikan ide-ide besar). Ini benar-benar silaturrahim yang memberi energi! Energi terbarukan!

Untuk Anda yang ingin hadir di launching buku Pak Yudhistira Massardi, sila simak undangan berikut:

UNDANGAN Peluncuran Buku & Pentas Pembacaan “99 Sajak” karya Yudhistira ANM Massardi, 19 Agustus 2015

PRESS RELEASE/UNDANGAN 

Dengan hormat, kami mengundang Anda untuk menghadiri acara:

Peluncuran Buku & Pentas Pembacaan “99 Sajak” karya Yudhistira ANM Massardi

Tempat: Galeri Indonesia Kaya (sebelah bioskop Blitz) di Mal Grand Indonesia (belakang Hotel Indonesia, Jakarta Pusat)

Waktu: Rabu, 19 Agustus 2015, pukul 19.00-21.00.

Gratis untuk umum (tempat terbatas). Registrasi di www.indonesiakaya.com/galeri-indonesia-kaya/kegiatan.

Setelah fokus selama 10 tahun mengelola sekolah gratis untuk kaum dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi di Bekasi, sekaligus mengampanyekan proses belajar-mengajar dengan Metode Sentra untuk jenjang pendidikan anak usia dini, kini Yudhistira ANM Massardi kembali ke dunia sastra. Langkah ini ditandai dengan penerbitan buku sekaligus peluncuran dan pentas pembacaan puisi-puisinya yang terbaru: 99 Sajak, yang diterbitkan oleh Gramedia (Tebal 250 halaman.  Harga Rp 50.000).

99 Sajak merupakan kumpulan puisi yang ditulis secara tematik. Ada 11 tema yang dipilih penyair. Setiap tema dieksplorasi dan diungkapkan dalam sembilan sajak. Semuanya ditulis dalam periode tiga bulan yang penuh gairah kreatif (Maret, April, Mei), sekaligus sebagai penanda ulangtahunnya yang ke-61 pada 28 Februari lalu.

Buku antologi  99 Sajak  ini dikemas sebagai karya kolaborasi visual dengan perupa Ramadhan Bouqie, yang menampilkan 99 karya ilustrasinya sebagai hasil “dialog” dengan 99 sajak.

Adapun acara peluncuran buku dan pentas pembacaan puisi diselenggarakan di

Gedung Galeri Indonesia Kaya (samping bioskop Blitz) di Mal Grand Indonesia (belakang Hotel Indonesia, Jakarta Pusat) pada hari Rabu, 19 Agustus 2015, pukul 19.00-21.00. Pertunjukan itu gratis dan terbuka untuk umum (dengan registrasi terlebih dahulu di www.indonesiakaya.com/galeri-indonesia-kaya/kegiatan).

Pentas pembacaan puisi itu juga merupakan hajatan kolaborasi dengan para pemusik muda:  Iga Massardi, Gerald Situmorang, Kartika Jahja dan Matatiya Taya. Dibantu olah visual/grafis karya desainer Risa Kumalasita dan Ario Kiswinar Teguh.

Tampil sebagai pembaca puisi, selain penyairnya sendiri, adalah aktris Renny Djajoesman dan Yuka Mandiri, Noorca M. Massardi  serta, Adhie M. Massardi.  Produksi: Kafka Dikara (☆)

 

KOMENTAR

GOENAWAN MOHAMAD, Penyair:

Setelah hampir empat dasawarsa yang lalu saya terpikat dengan Arjuna Mencari Cinta I,  saya merasakan kesegaran yang pulih kembali dalam sejumlah sajak-sajak dalam buku ini.  Yudhis tak menunjukkan gejala yang sering tampak pada sastrawan yang bertambah usia: puisinya tak amat ingin berpetuah, atau jadi nyinyir, karena merasa sudah begitu arif dan alim berkat pengalaman. Saya tak merasakan di dalamnya ada  ambisi besar untuk  bermanfaat dan jadi bimbingan.

Sajak-sajak ini memang lebih kalem, tapi masih sering bergurau, mungkin genit, mungkin nakal.

Pemandangan kota  sehari-hari, percakapan sehari-hari, di bait-baitnya tak terasa meletihkan, karena diungkapkan seakan-akan oleh seseorang yang baru menemui dunia dan merasa geli atau terpesona dan tak merasa berdosa.

Dalam pengantarnya, dengan kena  Radhar Panca Dahana membandingkan sajak-sajak ini dengan puisi Joko Pinurbo, meskipun yang terakhir ini datang setelah Yudhis, dan dalam banyak hal lebih “lugu” dan tanpa pretensi. Pada sajak-sajak ini, tulis Radhar, ada “kenakalan logika yang sering mengundang makna tambahan”. Atau semacam “satu patahan”, baik dalam gaya bahasa, rima sajak dan juga “pemikiran atau renungan di dalamnya.”[] Produksi: Kafka Dikara, dikutip dari note laman Facebook Yudhistira Massardi.

 

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Review & Share My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

De Dinis Stories

Si Sulung yang selalu beruntung

unspoken mind

if you can't tell, just write