Posts Tagged ‘#BatutisAl-Ilmi’

Bakso U* & Adu Main Peran

Bakso U* pertama kali istilah itu muncul lewat kejadian spontan dialog singkat antara Afiqah dan Bu Imas, guru Main Peran di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Pekayon-Bekasi. Awalnya saya menjemput Afiqah pulang sekolah. Pas jalan menuruni tangga, ternyata kami bertemu Bu Imas yang sedang duduk di sebuah kursi panjang. Ia terlihat lelah, matanya sayu. Bu Imas itu kalau ngajar sepenuh hati. Wajar jika energinya terkuras habis.

Saat kami berpapasan setelah turun dari tangga, terjadilah dialog antara Bu Imas dengan Afiqah. Intinya, Bu Imas menyebutkan dirinya ingin sekali makan bakso. Entah siapa yang memulai duluan, tapi ujung pembicaraan tersebut mengarah pada sebuah kesepakatan. Afiqah berjanji untuk membawakan bakso U* untuk Bu Imas. Ia berdialog sebentar dengan abang Bleki (tokoh imajiner Afiqah yang direpresentasikan lewat boneka beruang hitam dan saat itu Bu Imas tidak tahu bahwa Abang Bleki adalah fiktif bukan tokoh nyata).

Alamak, kalau sudah berjanji, mesti ditepati. Bagaimana ini Afiqah berjanji pada Bu Imas? Ayahnya yang pusing. Hari itu kalau tidak salah Afiqah baru saja ikut kelas Main Peran bersama Bu Imas. Jadi materi Main Peran mungkin masih melekat hangat di ingatan Afiqah. So, wajar saja terjadi pembicaraan akrab diantara kedua insan tersebut. Aku pasrah saja menjadi pendengar sambil senyum-senyum meringis. Kenapa? Karena setiap janji harus ditepati. Kembali ke sana lagi pikiranku melayang. Meskipun aku tahu bahwa Bu Imas sedang bercanda.

Bu Risna & Bu Imas (pink) outing ke Bandung

Bu Risna & Bu Imas (pink) outing Batutis ke Bandung

Menjadi orangtua dengan pendidikan anak Metode Sentra, kita tidak boleh terlalu reaktif dalam merespon apapun kejadian. Dulu mungkin aku dan Andin masih tertanam tipe kaget-kagetan, “Masya Allah….Afiqah… Astaghfirullah…Afiqah…Ya Allah…Afiqah….”. Nah kalau sekarang, sudah ada remnya. Kami bisa kontrol diri. Tidak semua hal itu harus ditanggapi berlebihan. Biasa aja. Santai. Hadapilah hidup ini dengan santai. Jangan panikan. Beri anak ruang untuk berekspresi dan mengeksplorasi hal yang ia sukai. Meski dampaknya akan berimbas kepada kami. Misalnya rumah jadi lebih berantakan, tembok jadi tercorat-coret, atau si anak main kotor-kotoran tanah dengan senyum nyengir. Kami benar-benar belajar hal yang esensial dengan mengadopsi Metode Sentra ini sebagai salah satu tools dalam membangun karakter Afiqah.

Hari “Penagihan”

Keesokan harinya, tak sengaja Afiqah berpapasan lagi dengan Bu Imas. Kebetulan aku juga sedang berada di lokasi Batutis Al-Ilmi. Tempatnya kan tidak luas, jadi mudah menangkap kejadian apapun di lingkungan sekolah.

“Eh Afiqah….kebetulan ketemu lagi. Mana bakso U* yang dijanjikan? Bawa gak?” tanya Bu Imas.

“Hmmm…” Afiqah tampak sedang mikir.

Dalam hati aku berpikir, nah bagaimana nih Afiqah menanggapi janji yang telah ia utarakan sendiri kemarin. Kira-kira akan seperti apa responnya? Aku masih harap-harap cemas melihat respon natural anakku si pipi mentul ini.

Sejenak Afiqah berpikir, lalu ia segera merespon sapaan Bu Imas. “Ada kok.” Afiqah menggerakkan badannya ke arah belakang. Ia seolah-olah sedang membawa bakso dalam box yang diselempangin ke belakang punggungnya. Ia putar box bawaannya ke arah depan, lalu ia buka tutupnya dan ia berujar, “Ini bakso U*”

Aku kaget bukan kepalang. Tak menyangka, Afiqah ternyata menjawab tantangan dari Bu Imas itu dengan bermain peran, karena ia tahu sedang berhadapan dengan guru Main Peran dan pembicaraan kemarin adalah bagian dari pembicaraan dolan-dolanan Main Peran diantara mereka berdua. Bu Imas sejatinya memang bernada bercanda dalam meminta bakso karena Afiqah pamer cerita bahwa punya bakso U* yang enak untuk ditawarkan.

Kalau dipikirkan serius, maka rumusan bakunya adalah semua janji harus ditepati. Tapi untuk kasus Afiqah dan Bu Imas, ada kadar candaan yang tak perlu ditanggapi terlalu serius banget. Ada ruang imajinasi yang bermain diantara Bu Imas dan Afiqah di hari kemarin dan hari ini. Namun, diriku masih terjebak pada pemikiran, Afiqah sudah kadung berjanji. Kira-kira bagaimana menepatinya ya?

Bu Imas yang melihat respon Afiqah ternyata juga kaget. Ia kira Afiqah takkan bisa berkelit karena sudah kadung janji. Mungkin ia juga penasaran bagaimana si anak ini menepati janji yang sudah ia buat. Ternyata, candaan main peran yang dilontarkan oleh guru Main Peran, dibalas “secara tunai” oleh Afiqah dengan Main Peran juga. BRAVO! 1-1 skor kedua belah pihak. Tadinya Bu Imas udah girang melihat Afiqah kemungkinan tak bisa berkelit dan di awal Bu Imas bilang, “Ayo…..mana baksonya…kemarin udah janji…..”

Artinya apa? Artinya, dalam kondisi terdesak, otak Afiqah ternyata “jalan” untuk bagaimana memberikan respon terbaik dalam menghadapi kasus pelik “terjerat janji sendiri”. Aku gak kepikiran semua skenario pembicaraan itu bisa diarahkan ke Main Peran.

Bu Imas tidak mau kalah. Setelah ia mengucapkan terima kasih karena sudah dibawakan bakso U* oleh Afiqah meskipun sifatnya “virtual” samar-samar, di ujung pembicaraan Bu Imas menyisipkan pesan lanjutan, “Besok-besok bawa bakso lagi ya….” Afiqah mengangguk tanda setuju. Yah, Afiqah, kenapa menanggguk pula? Kan artinya janji lagi??? Si ayah kembali pusing.

Hari “Penodongan” Janji

Hari-hari berikutnya, aku datang bersama Andin untuk jemput Afiqah. Afiqah bertemu Bu Imas lagi di halaman sekolah. Nah lho…. “Afiqah, mana bakso U* nya? Bawa gak? Kemaren kan sudah janji mau bawakan bakso dari Abang Bleki?”

Aku penasaran juga melihat bagaiman respon Afiqah. Kondisi skor masih 1-1. Sekali bu Imas menodong, tapi Afiqah bisa jawab dengan main peran (pura-pura ambil bakso di tasnya).

Afiqah ternyata tak kehabisan akal. Ia rogoh koceknya, lalu ia keluarkan bakso dari balik kantongnya. “Ini bakso U*-nya,” sambil ia menyerahkan kepada bu Imas.

Bu Imas senyum lebar. “Lho, kok baksonya dikantongin? Gak panas? Kan ada kuahnya?” Nah, bagian ini benar-benar hal yang paling sering terjadi di Sentra Main Peran. Biasanya hal-hal logis dimasukkan ke dalam interaksi yang terjadi di Main Peran, agar anak terbentuk daya kritis berpikirnya.

Bu Imas, tersenyum lebar. Senyuman agak nakal, karena ia seperti yakin bahwa Afiqah tak bisa berkelit kali ini.

Afiqah tak kehabisan akal. “Yang ini baksonya di plastik, tidak pakai kuah. Kalau mau kuah, kan dibikin dulu.” Oh, jadi ia bisa memvisualisasikan bahwa yang ia bawa bakso-nya doank. Sementara kuahnya yang biasanya panas, harus dibikin sendiri terlebih dahulu. Customized sesuai keinginan pelanggan, kapan mau dimakan, baru dibuat kuahnya.

Bu Imas yang tadinya sudah berpikiran skor 2-1, eh sekarang malah disamakan jadi 2-2. Afiqah bisa menahan “serangan” Bu Imas.

Bu Imas bilang ke Bu Andin. “Bisa aja ya dia. Saya kira tadi udah mau kalah dia ga bisa jawab. Ternyata bisa aja jawabnya.”

Bu Andin dan aku senyum-senyum aja. Hihihi. Anak Metode Sentra mah, selalu ada akal untuk dijalankan. Tidak salah memang, guru Main Perannya adalah Bu Imas. Senjata makan tuan. Serangan pakai main peran, dibalas secara tunai dan tuntas dengan main peran juga oleh Afiqah.

Pembongkaran Misteri Abang Bleki

Setelah lama tak terdengar lagi tentang Bakso U*, barusan minggu lalu Andin bilang ke saya bahwa Bu Imas ngobrol lagi dengan Afiqah tentang Bakso U*. Ternyata, terkuaklah misteri yang selama ini tak diketahui oleh Bu Imas.

Misteri tersebut adalah bahwa Abang Bleki yang Afiqah klaim sebagai penjual Bakso U* terungkap identitas aslinya. Bu Andin-lah yang membocorkan ke Bu Imas. “Bu Imas, Abang Bleki itu tidak ada sebenarnya. Itu boneka beruang yang berwarna kehitam-hitaman.” Sebenarnya Bakso U* itu pun bakso ngarang.

Bu Imas kaget. Ia sudah menganggap Abang Bleki itu nyata. Selama ini, setelah melewati beberapa episode percakapan-percakapan tentang Bakso U* itu secara serial, ternyata Bu Imas larut dalam imajinasi yang dibangun Afiqah tanpa crosscheck terlebih dahulu validitas ceritanya. Afiqah memainkan peran sebagai broker diantara Bu Imas dengan Abang Bleki dengan lokus main perannya adalah Bakso U*. Anak Metode Sentra, memang tak pernah kehabisan akal. Skor 3-2 untuk Afiqah atas Bu Imas. 😉

Bu Imas selaku guru yang mengajarkan main peran, sekarang kena batunya. Muridnya lebih liar lagi imajinasinya. Senjata makan tuan. Hehehe. Terima kasih Bu Imas, sudah “menghidupkan” tombol imajinasi Afiqah lewat Sentra Main Peran. Semoga ia bisa tumbuh menjadi anak yang ketika menghadapi masalah, tak langsung freezing, tapi bisa cari solusi, karena imajinasinya sudah “dinyalakan” sejak usia dini. Terima kasih juga untuk guru-guru Batutis Al-Ilmi lainnya, yang juga membantu perkembangan Afiqah di sentra-sentra lainnya yang nanti juga akan saya tuliskan ceritanya (Seni, Persiapan, Imtaq, Balok, Bahan Alam).

Ingin mengetahui ilmu Metode Sentra secara mendalam? Teman-teman bisa diskusi dengan saya dengan kontak via Whatsapp di 08111170128 atau colek di Twitter saya @pukul5pagi

Advertisements

Insight Jauh ke Depan-nya Afiqah

Malam ini (4/2/2016), Manda Andin mengantarkan Afiqah tidur di kamar. Ia menemani Afiqah di kasur sambil cerita-cerita ringan. Afiqah sudah siap memakai baju tidurnya. Ia sudah makan, minum, dan sudah pipis ke toilet. Namun masih kurang satu hal sebenarnya, belum sikat gigi. Itu yang terlewatkan malam ini.

Afiqah tanya ke Manda Andin, “Manda, kalau Afiqah kuliah, Afiqah baru punya adik?”

Manda menjawab, “Nggaklah, kalau Afiqah kuliah, Manda udah tua. Coba itung. Kalau Afiqah kuliah, berarti umur Afiqah 20-an. Berarti Manda umurnya 48 tahun.”

Disanggah Afiqah, “Mungkin 18 tahun kalau Afiqah kuliah.”

“Oh iya ya? Bisa awal kuliah masuknya 18 tahun. Berarti Manda umurnya 46 tahun,” ralat Manda Andin.

“Berarti adikku yang satu SMA, yang satu SMP,” respon Afiqah.

Manda Andin cukup heran. Berarti dia sudah tahu urutan sekolah, urutan umur. Artinya, logika anak ini jalan. Otaknya bisa mikir secara logis.

“Kalau perempuan, lulus kuliah, trus wisuda, trus menikah,” kata Afiqah.

“Kalau perempuan, lulus kuliah boleh kok kerja dulu,” kata Manda Andin memberikan alternatif konsep lain di benak Afiqah.

Dibalas lagi oleh Afiqah,”Kalau laki-laki, lulus kuliah, kerja, menikah, baru punya anak.”

“Sama, perempuan bisa juga kerja dulu setelah lulus kuliah…” kata Manda.

“Nggak…,perempuan lulus kuliah, menikah, punya anak…”

Manda Andin mulai nge-test Afiqah, “Trus, uangnya dapat dari mana?”

“Ya dari suaminya dong,” kata Afiqah. Mukanya serius sekali menjawab pertanyaan tersebut.

“Afiqah tahu itu dari mana?”

Ia cengar-cengir saja, “Hmmmmmm….. dari otak…,” katanya sambil menunjukkan telunjuknya ke kepalanya.

“Beneran ini…darimana tahu konsep itu….” Kata Manda Andin sambil memelas kepo ingin tahu.

“Iya, dari dalam sini, dari dalam otak,” jawab Afiqah.

“Ah, yang benar?” manda Andin sambil terus menggali informasi. Ia penasaran, bagaimana bisa anak 3 tahun berpikir sejauh itu tentang konsep urutan kehidupan seseorang. “Dari Bu guru di kelas kali? Apa dari Bu guru di main peran?” selidik Manda Andin.

“Nggak….,” kata Afiqah sambil senyum-senyum.

Tetap Afiqah menjawab bahwa pemikiran tersebut berasal dari otaknya. “Ada di pikiran sini di dalam,” begitu jawabnya secara lugas.

Saya yang mendengar cerita tersebut merasa terkejut juga. Di saat jelang tidur, Afiqah bisa berpikiran jauh ke depan. Sebuah insight tentang kehidupan masa depan bisa ia bayangkan. Luar biasa menurut saya. Ini obrolan berat sekali.

Kami akan selidiki darimana konsep ini berasal. Bisa jadi dari gurunya, bisa jadi dari teman-temannya. Bisa jadi dari tantenya. Bisa jadi dari Uti-Akungnya. Entahlah. Besok akan kami caritahu darimana informasi itu bisa masuk, dan melekat terpatri di dalam pemikirannya.

Hari ini Afiqah pokoknya dewasa sekali deh. Cara ngomongnya itu seperti orang yang haus belajar. Ia tik-tok ngobrol dengan Manda Andin terus-menerus. Jika kurang puas, ia tanya lagi. Manda Andin sampai bilang begini ke saya setelah Afiqah tidur, “Ini seperti….anakku bukan anakku….Ini beneran ga sih Afiqah? Kok dia tahu konsep-konsep yang kita belum pernah ajarkan (baca: nikah)?” Begitulah keheranan dan penasaran Manda Andin terhadap pembicaraannya dengan Afiqah malam itu.

IMG-20160122-WA0024

Pembelajaran Anak Metode Sentra

Kadang ketika anak menyampaikan pemikiran-pemikirannya, kita selaku orangtua harus bisa bijaksana menanggapinya. Jangan sampai kita terburu-buru langsung men-judge pemikirannya salah. Cari tahu dulu penyebab atau asal-usul mengapa ia bisa berpikiran seperti itu. Kami pasti akan cari tahu, darimana ia bisa punya pemikiran itu. Uniknya di pendidikan Ber-Metode Sentra, meski anak terlihat main-main saja kegiatannya di sentra-sentra tersebut, sebenarnya di saat bersamaan, ia sedang dalam proses download dan instalasi konsep-konsep yang ia dengar dan lihat, yang dipandu oleh guru. Bahkan mungkin tidak dari gurunya saja. Dari temannya juga bisa jadi acuan dan masuk untuk dipikirkan makna dari kejadian-kejadian yang ia amati.

Misalnya bisa dari Sentra Main Peran. Dari sana, bisa jadi saat main peran, konsep-konsep tentang bagaimana peran seorang anak, ibu, bapak, kakak, adik, semuanya bisa terserap dan terinstall di dalam kepala anak, meski ia hanya melihat dan mendengar saja keterangan guru saat main peran. Serpihan-serpihan berupa puzzle tentang konsep kehidupan itu, dimaknai secara mendalam oleh anak dengan Metode Sentra karena itulah inti dari pendidikan: mampu membaca kejadian. “Iqra”. Kejadian bukan sekedar kejadian yang lolos dari pengamatan mata. Kejadian, jika kita jeli melihatnya, bisa jadi suatu pembelajaran yang berharga.

Lalu, jika ada kemungkinan-kemungkinan yang anak yakini saklek harus begini atau begitu, kita bisa luruskan pemahamannya terhadap suatu konsep. Misalnya pada kasus di atas konsep menikah, konsep bekerja antara perempuan dan laki-laki harus diluruskan agar ia tak hanya punya satu perspektif saja.

Perkara insight yang jauh ke depan itu juga dialami Andin saat jadi pengajar di SD Batutis Al-Ilmi di semester I tahun 2015. Waktu itu ada siswa kelas 3 bertanya, “Bu, diperkosa itu apa sih?” Sebagai guru science, Andin tidak reaktif menanggapi pertanyaan dengan topik tersebut. “Diperkosa itu dipaksa melakukan hubungan suami-istri, oleh orang yang bukan pasangan suami-istri,” jelas Andin pada siswanya.

Lalu para siswi malu-malu menanggapi pembicaraan itu. Sementara itu para siswa biasa saja menanggapinya. Andin mengingatkan para perempuan agar tidak berjalan sendiri, kalau ada orang yang mencurigakan atau memaksa, teriak saja. Bisa lari ke tempat ramai. Perempuan juga harus bisa bela diri, pertahankan diri.

Tiba-tiba saja seorang siswa bernama Fajri bilang, “Kalau aku nanti pasti akan lindungi istri aku bu.”

“Oh ya. Harus itu,” respon Andin sambil menelan ludah karena kaget. Anak kelas 3 sudah punya insight jauh ke depan tentang kehidupan berumah tangga dengan tekad yang mulia.

Ada lagi siswa lain yang memang emosinya bergejolak, bilang, “Kalau aku, kuhajar dia (pelaku pemerkosaan),” sambil memperagakan gaya menghantam seseorang. Benar-benar deh. Anak Batutis itu baik yang Bayi, Toddler, Playgroup, TK, dan bahkan SD, selalu punya pemikiran dengan pemaknaan mendalam atas suatu kejadian. Dipikiriiiiiiiin banget.

Kami berdua senang sekali, Afiqah bisa eksplorasi berbagai konsep-konsep yang berputar di dalam otaknya. Meskipun tidak semua pemikirannya tepat, tapi paling tidak, ia berani mengungkapkan apa yang ia pahami. Kami selalu menjunjung tinggi diskusi dua arah. Tak hanya satu arah. Ini sungguh asyik, menjalani dialektika dengan anak yang ikut serta dalam pendidikan Metode Sentra. Anda akan banyak kagetnya.

Ingin ngobrol dengan saya tentang apa dan bagaimana itu Metode Sentra? Silakan kontak saya di 08111170128 atau colek saya di @pukul5pagi

Sampai Jumpa! Baik di darat, laut, maupun udara!

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Review & Share My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

De Dinis Stories

Si Sulung yang selalu beruntung

unspoken mind

if you can't tell, just write