Insight Jauh ke Depan-nya Afiqah

Malam ini (4/2/2016), Manda Andin mengantarkan Afiqah tidur di kamar. Ia menemani Afiqah di kasur sambil cerita-cerita ringan. Afiqah sudah siap memakai baju tidurnya. Ia sudah makan, minum, dan sudah pipis ke toilet. Namun masih kurang satu hal sebenarnya, belum sikat gigi. Itu yang terlewatkan malam ini.

Afiqah tanya ke Manda Andin, “Manda, kalau Afiqah kuliah, Afiqah baru punya adik?”

Manda menjawab, “Nggaklah, kalau Afiqah kuliah, Manda udah tua. Coba itung. Kalau Afiqah kuliah, berarti umur Afiqah 20-an. Berarti Manda umurnya 48 tahun.”

Disanggah Afiqah, “Mungkin 18 tahun kalau Afiqah kuliah.”

“Oh iya ya? Bisa awal kuliah masuknya 18 tahun. Berarti Manda umurnya 46 tahun,” ralat Manda Andin.

“Berarti adikku yang satu SMA, yang satu SMP,” respon Afiqah.

Manda Andin cukup heran. Berarti dia sudah tahu urutan sekolah, urutan umur. Artinya, logika anak ini jalan. Otaknya bisa mikir secara logis.

“Kalau perempuan, lulus kuliah, trus wisuda, trus menikah,” kata Afiqah.

“Kalau perempuan, lulus kuliah boleh kok kerja dulu,” kata Manda Andin memberikan alternatif konsep lain di benak Afiqah.

Dibalas lagi oleh Afiqah,”Kalau laki-laki, lulus kuliah, kerja, menikah, baru punya anak.”

“Sama, perempuan bisa juga kerja dulu setelah lulus kuliah…” kata Manda.

“Nggak…,perempuan lulus kuliah, menikah, punya anak…”

Manda Andin mulai nge-test Afiqah, “Trus, uangnya dapat dari mana?”

“Ya dari suaminya dong,” kata Afiqah. Mukanya serius sekali menjawab pertanyaan tersebut.

“Afiqah tahu itu dari mana?”

Ia cengar-cengir saja, “Hmmmmmm….. dari otak…,” katanya sambil menunjukkan telunjuknya ke kepalanya.

“Beneran ini…darimana tahu konsep itu….” Kata Manda Andin sambil memelas kepo ingin tahu.

“Iya, dari dalam sini, dari dalam otak,” jawab Afiqah.

“Ah, yang benar?” manda Andin sambil terus menggali informasi. Ia penasaran, bagaimana bisa anak 3 tahun berpikir sejauh itu tentang konsep urutan kehidupan seseorang. “Dari Bu guru di kelas kali? Apa dari Bu guru di main peran?” selidik Manda Andin.

“Nggak….,” kata Afiqah sambil senyum-senyum.

Tetap Afiqah menjawab bahwa pemikiran tersebut berasal dari otaknya. “Ada di pikiran sini di dalam,” begitu jawabnya secara lugas.

Saya yang mendengar cerita tersebut merasa terkejut juga. Di saat jelang tidur, Afiqah bisa berpikiran jauh ke depan. Sebuah insight tentang kehidupan masa depan bisa ia bayangkan. Luar biasa menurut saya. Ini obrolan berat sekali.

Kami akan selidiki darimana konsep ini berasal. Bisa jadi dari gurunya, bisa jadi dari teman-temannya. Bisa jadi dari tantenya. Bisa jadi dari Uti-Akungnya. Entahlah. Besok akan kami caritahu darimana informasi itu bisa masuk, dan melekat terpatri di dalam pemikirannya.

Hari ini Afiqah pokoknya dewasa sekali deh. Cara ngomongnya itu seperti orang yang haus belajar. Ia tik-tok ngobrol dengan Manda Andin terus-menerus. Jika kurang puas, ia tanya lagi. Manda Andin sampai bilang begini ke saya setelah Afiqah tidur, “Ini seperti….anakku bukan anakku….Ini beneran ga sih Afiqah? Kok dia tahu konsep-konsep yang kita belum pernah ajarkan (baca: nikah)?” Begitulah keheranan dan penasaran Manda Andin terhadap pembicaraannya dengan Afiqah malam itu.

IMG-20160122-WA0024

Pembelajaran Anak Metode Sentra

Kadang ketika anak menyampaikan pemikiran-pemikirannya, kita selaku orangtua harus bisa bijaksana menanggapinya. Jangan sampai kita terburu-buru langsung men-judge pemikirannya salah. Cari tahu dulu penyebab atau asal-usul mengapa ia bisa berpikiran seperti itu. Kami pasti akan cari tahu, darimana ia bisa punya pemikiran itu. Uniknya di pendidikan Ber-Metode Sentra, meski anak terlihat main-main saja kegiatannya di sentra-sentra tersebut, sebenarnya di saat bersamaan, ia sedang dalam proses download dan instalasi konsep-konsep yang ia dengar dan lihat, yang dipandu oleh guru. Bahkan mungkin tidak dari gurunya saja. Dari temannya juga bisa jadi acuan dan masuk untuk dipikirkan makna dari kejadian-kejadian yang ia amati.

Misalnya bisa dari Sentra Main Peran. Dari sana, bisa jadi saat main peran, konsep-konsep tentang bagaimana peran seorang anak, ibu, bapak, kakak, adik, semuanya bisa terserap dan terinstall di dalam kepala anak, meski ia hanya melihat dan mendengar saja keterangan guru saat main peran. Serpihan-serpihan berupa puzzle tentang konsep kehidupan itu, dimaknai secara mendalam oleh anak dengan Metode Sentra karena itulah inti dari pendidikan: mampu membaca kejadian. “Iqra”. Kejadian bukan sekedar kejadian yang lolos dari pengamatan mata. Kejadian, jika kita jeli melihatnya, bisa jadi suatu pembelajaran yang berharga.

Lalu, jika ada kemungkinan-kemungkinan yang anak yakini saklek harus begini atau begitu, kita bisa luruskan pemahamannya terhadap suatu konsep. Misalnya pada kasus di atas konsep menikah, konsep bekerja antara perempuan dan laki-laki harus diluruskan agar ia tak hanya punya satu perspektif saja.

Perkara insight yang jauh ke depan itu juga dialami Andin saat jadi pengajar di SD Batutis Al-Ilmi di semester I tahun 2015. Waktu itu ada siswa kelas 3 bertanya, “Bu, diperkosa itu apa sih?” Sebagai guru science, Andin tidak reaktif menanggapi pertanyaan dengan topik tersebut. “Diperkosa itu dipaksa melakukan hubungan suami-istri, oleh orang yang bukan pasangan suami-istri,” jelas Andin pada siswanya.

Lalu para siswi malu-malu menanggapi pembicaraan itu. Sementara itu para siswa biasa saja menanggapinya. Andin mengingatkan para perempuan agar tidak berjalan sendiri, kalau ada orang yang mencurigakan atau memaksa, teriak saja. Bisa lari ke tempat ramai. Perempuan juga harus bisa bela diri, pertahankan diri.

Tiba-tiba saja seorang siswa bernama Fajri bilang, “Kalau aku nanti pasti akan lindungi istri aku bu.”

“Oh ya. Harus itu,” respon Andin sambil menelan ludah karena kaget. Anak kelas 3 sudah punya insight jauh ke depan tentang kehidupan berumah tangga dengan tekad yang mulia.

Ada lagi siswa lain yang memang emosinya bergejolak, bilang, “Kalau aku, kuhajar dia (pelaku pemerkosaan),” sambil memperagakan gaya menghantam seseorang. Benar-benar deh. Anak Batutis itu baik yang Bayi, Toddler, Playgroup, TK, dan bahkan SD, selalu punya pemikiran dengan pemaknaan mendalam atas suatu kejadian. Dipikiriiiiiiiin banget.

Kami berdua senang sekali, Afiqah bisa eksplorasi berbagai konsep-konsep yang berputar di dalam otaknya. Meskipun tidak semua pemikirannya tepat, tapi paling tidak, ia berani mengungkapkan apa yang ia pahami. Kami selalu menjunjung tinggi diskusi dua arah. Tak hanya satu arah. Ini sungguh asyik, menjalani dialektika dengan anak yang ikut serta dalam pendidikan Metode Sentra. Anda akan banyak kagetnya.

Ingin ngobrol dengan saya tentang apa dan bagaimana itu Metode Sentra? Silakan kontak saya di 08111170128 atau colek saya di @pukul5pagi

Sampai Jumpa! Baik di darat, laut, maupun udara!

Menjadi Tua di Jakarta

Menjadi Tua di Jakarta

Source: google.co.id

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

– Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma

Menepi Untuk Proyek Menulis

Hari ini Kamis (28/01/16) saya berangkat ke sebuah daerah untuk merampungkan tulisan draft buku tentang Afiqah. Beberapa tulisan lain tentang Metode Sentra juga turut akan ditulis. Biar gaya dikit, nulisnya harus menepi dulu ke daerah yang sangat asri dan indah. Mencari pencerahan, biar nulisnya lancar seperti di tol Jagorawi kalau lagi lebaran hari pertama abis shalat Ied.

Saya ikut Pak Yudhistira Massardi menyepi untuk menulis di saung milik keluarga Pak Yudhistira di Tasikmalaya. Kami merencanakan untuk berangkat jam 5 pagi. Ada tawaran dari Pak Yudhistira untuk menginap saja di Sekolah Batutis agar tetap bisa berangkat habis subuh. Tapi, karena malamnya hujan, niat menginap di Batutis saya urungkan. Rencananya besok paginya sebelum subuh, saya berangkat dari rumah naik motor, lalu motornya dititip di rumah Pak Yudhis.

Awalnya mau berangkat bertiga, dengan Pak Yanto Musthofa sekalian. Tapi, beliau ada urusan lain, sehingga berangkatnya menyusul belakangan. Tepat pukul 5.30, kami jalan. Kemacetan masih belum parah. Hanya agak melambat menjelang Cikarang Utama. Maklum, truk dan kontainer masih saling berebut untuk dahulu-mendahului di jalan tol, meski napas mereka ngos-ngosan sebenarnya tak kuat digeber sedemikian rupa.

Kami janjian di rest area KM 174 untuk bertemu Kang Taufik. Ia rekan kerja Pak Yudhistira mulai dari Gatra, hingga Nebula dulu. Sampai sekarang masih tetap berhubungan baik. Kebetulan rumah beliau ada di Bandung. Jadi, ketika kami pas jam 07:58 sampai di TKP, tak berapa lama Kang Taufik pun datang. Kami sarapan bersama.

Kami ngobrol banyak hal, salah satunya tentang suatu peluang bisnis. Itung-itung dan kalkulasinya enteng-entengan, bebas sebebas-bebasnya. Eksplorasi ide. Hal menarik, dalam diskusi peluang bisnis ini, tak lupa Kang Taufik mengingatkan bahwa ada kebutuhan dari orang untuk selfie jika sedang jalan-jalan kemanapun. Itu harus ditangkap sebagai sebuah peluang dan harus diakomodir. Biasanya kebutuhannya foto-foto tersebut dipajang di laman sosial miliknya. Jadi, kalau mau berbisnis, harap perhitungkan faktor tersebut. Pengamatan yang menarik. Ga cuma ibu-ibu sepertinya. Hampir semua orang yang sudah berinteraksi dengan social media, punya kecenderungan hobi selfie sepertinya.

Tahu H. Ateng

Pas keluar dari tol, Kang Taufik membocorkan rahasia tempat beli tahu Sumedang favorit untuk dikunyah di daerah Cileunyi. Setelah putaran sekeluarnya dari pintu keluar tol, Anda akan menemukan pertigaan lampu merah. Begitu belok kiri, tunggu Anda bertemu dengan pom bensin Pertamina. Sebelah kiri jalan beberapa meter setelah pom bensin, ada tulisan Tahu H. Ateng. Nah, di situlah toko tahu yang enak dan recommended untuk dikonsumsi.

Tahu H. Ateng

Selain tempat itu, sebaiknya jangan dibeli deh. Saya sekeluarga pernah beli di sembarangan tempat akhir bulan Desember 2015, dan ternyata abal-abal. Rasa tahu Sumedang-nya merusak citra tahu Sumedang yang sebenarnya. Bayangan tahu Sumedang, sirna dan tercerabut dari akarnya. Jangan main-main dan coba-coba membeli tahu lain deh. Peringatan keras. Hehehe.

Mampir ke Kakak Pak Yudhistira

Sebelum sampai ke Tasik, kami mampir dulu ke rumah kakak perempuan Pak Yudhis satu-satunya di sekitar Ciawi, sebelum masuk Tasik. Di dekat rumahnya ada pemandian air panas yang terbuka buat umum. Ipar Pak Yudhis ini diserahi tugas mengelola pemandian air panas. Kami menemukan banyak tempat-tempat wisata yang skalanya kecil, tapi menarik di perjalanan ini.

Sampai di Saung Tengah Sawah

Letak saung milik Pak Yudhis benar-benar strategis dan indah. Ia tepat berada di tengah sawah yang masih hijau di kaki gunung Galunggung. Meski jalannya belum terlalu bagus aspalnya, tapi paling tidak sudah diaspal. Konon kata penjaga saung, nanti bulan Maret 2016 jalanan akan dicor (hot mix). Wah, makin mantap nih. Mungkin bakal sering main ke sini lagi.

Saung ini punya parkiran seluas 6 buah mobil. Saung ini bentuknya rumah panggung. Di bawahnya seharusnya ada kolam ikan. Tapi saat ini ditumbuhi tanaman sejenis enceng gondok. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang diplitur. Ada teras yang cukup luas untuk duduk-duduk diskusi. Rumah ini lantainya dari kayu. Kayu dilapisi dengan karpet sejenis plastik. Tak tahu pasti aku namanya. Rasanya hangat duduk di lantainya. Mulai dari ruang tamu, hingga ruang lainnya terpampang lukisan karya pak Yudhis. Ada 4 ruang tidur, 2 toilet, dan satu dapur. Di tiap kamar, ada kasur busa yang empuk dan tebal. Ada alas dan selimutnya. Hangat. Tiap kamar ada 2 jendela. Pas melihat keluar jendela, terpampang indah sawah yang menghijau. Dari kamarku, matahari bisa terlihat muncul malu-malu di pagi hari. Benar-benar menenangkan secara psikologis. Aman. Nyaman. Tenang. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Di Kaki Gunung Galunggung

Hari ini saya mulai menepi dulu sementara di daerah terpencil yang indah, untuk menyelesaikan tulisan tentang Afiqah dan tulisan lain tentang Metode Sentra. Malam ini hujan awet sedari sore. Suara kodok berbunyi bersautan. Gemericik air di parit pinggir sawah dekat saung, membuat suasana malam ini begitu indah. Suasana desa banget. Sempat mati listrik. Namun menyala lagi. Ada yang ngopi, ada yang merokok, dan kami diskusi bersama tentang banyak hal tanpa batas. Kami membicarakan tentang hidup, visi, misi, realisasi mimpi, masalah politik, bisnis, yang bisa bikin kami terkadang tertawa terpingkal-pingkal. Renungan menarik tentang hidup. Semoga saya bisa fokus melahirkan karya. Wish me luck, bro and sis!

Ingin komunikasi dengan saya? Follow: @pukul5pagi

Baca juga tulisan reflektif lainnya: Raker Keluarga

Quote of The Day

“Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan”

Friedrich Schiller–Penyair Jerman–

friedrich-schiller-1

Istiqomah-lah, Afiqah!

Sepulang shalat jemaah dari masjid Darussalam Kota Wisata, saya menyaksikan kepolosan Afiqah yang mengundang tawa. Kami selalu beri pijakan ketika akan menyeberang jalan, kita harus perhatikan jalan, toleh kiri-kanan apakah ada mobil. Jika ada mobil, kita bisa memberikan tanda dengan tangan agar si supir melambatkan mobilnya.

Nah, pas keluar dari area parkir masjid, ternyata Afiqah mempraktekkannya. Ia menyodorkan telapak tangan kirinya kepada sebuah mobil sebagai sinyal untuk memperlambat lajunya karena kami sekeluarga ingin menyeberang jalan. Sang sopir yang melihat tindakan Afiqah ternyata langsung stop, membuka kaca dan ia tersenyum pada keluarga kami.

Melihat Afiqah menyetop mobil itu lucu sekali. Kami tahunya belakangan, setelah sang sopir menyapa kami. Ada-ada saja si kakak Afiqah.

Afiqah Pulang dari Masjid

Nah, itu bagian bahagianya. Lalu masuklah ke bagian tantrumnya.

Afiqah Tantrum

Kami ingin ke minimarket untuk beli keperluan makan malam. Manda Andin rencananya mau membeli telor dan minyak goreng. Lalu Afiqah nyeletuk, “Afiqah haus. Mau beli minum, boleh?” Manda Andin mencoba negosiasi bahwa kita bisa minum nanti di rumah. “Tapi, hausnya sekarang,” kata Afiqah. Okelah, sebotol minuman air mineral tak mengapa. Bahaya juga kalau kurang minum. Kami juga kehausan. Butuh minum.

Begitu sampai di minimarket, Afiqah dan Manda Andin sudah berkeliling mencari barang yang dibutuhkan. telor dan minyak goreng sudah di tangan. Begitu pas mau bayar, ternyata mata Afiqah tertuju pada buku mewarnai. Ia pun berjalan nyamperin rak buku mewarnai. Lalu Afiqah pun mulai pasang jurus merengek. Ia mulai meminta dibelikan buku mewarnai karena buku mewarnai yang ia punyai, ketinggalan di apartemen di Jakarta. “Di Cibubur belum ada,” begitu penjelasannya untuk meyakinkan kami berdua.

Tapi kami berdua langsung membaca gelagat tidak baik ini. Kami harus berani dan istiqomah dengan tujuan awal ke minimarket, yaitu membeli telor dan minyak goreng untuk makan malam. Tidak ada agenda lain di luar itu. Jadi, kalau Afiqah mau mengada-ada membeli hal di luar tujuan awal, harus direm. Tidak bisa semua hal yang dimaui anak, harus kita turuti agar ia merasa senang. Tidak bisa seperti itu. Kita harus strict, bahwa jika kita ingin sesuatu, harus ada prosesnya, ada planningnya, ada pengalokasiannya. Tidak bisa segala sesuatu itu selalu datang tiba-tiba, tanpa rencana, atau bahkan hanya untuk memenuhi keinginan mendadak alias nafsu semata. Hal ini sangat perlu ditekankan kepada anak.

Afiqah mulai menangis. Mulai dari level nada rendah, sedang, lalu tinggi, dan sampai pada kondisi tidak terkontrol karena suaranya berisik mengganggu pengunjung minimarket. Akhirnya, saya harus ambil sikap. “Mohon maaf Afiqah, tidak semua keinginan kamu harus kami turuti. Kita harus istiqomah sesuai tujuan awal mau beli apa ke sini. Untuk beli buku mewarnai bukan sekarang waktunya. Itu bukan kebutuhan mendesak. Nanti bisa menunggu kita ke apartemen,” kataku sambil menggendong Afiqah keluar dari minimarket. Tindakan saya itu tergolong ke dalam tindakan opsi terakhir setelah negosiasi secara verbal tidak berhasil, yaitu physical intervention. Itu dibutuhkan dalam kondisi darurat chaotic terjadi.

Afiqah menangis makin menjadi-jadi. Semua orang lihat kami dengan seorang anak di gendongan yang meraung. Tak apa-apa dibilang macam-macam oleh orang lain. Ini momentum pembelajaran buat Afiqah. Tidak semua hal harus diikuti. Tidak semua kemauan dan keinginan bisa terwujud tiba-tiba. Semua butuh proses. Itu pesan mendalam yang ingin kami sampaikan kepadanya secara tidak langsung.

Kami terpaksa masuk mobil, lalu beranjak pulang. Ia tetap menangis. Manda Andin tetap memberikan sugesti positif. “Manda mengerti perasaan Afiqah. Afiqah sedih. Tapi kita tetap harus sesuai tujuan awal mau belanja apa tadi sebelum berangkat. Kita mau beli telor dan minyak goreng, kan?”

Manda Andin memeluk Afiqah dengan penuh kasih sayang, meski ia tetap dalam keadaan menangis. “Manda yakin Afiqah bisa mengontrol emosi. Afiqah kan sudah kakak-kakak, sudah sekolah playgroup” kata Manda Andin memberi apresiasi sekaligus menyindirnya secara halus.

Begitu masuk gerbang komplek perumahan kami, Afiqah masih menangis. Sampai di depan rumah, ia masih tetap menangis. Tapi begitu sudah turun dari mobil, tangisnya mulai reda. Ia sudah bisa kontrol emosi.

“Afiqah butuh berapa menit untuk tenangkan diri?” tanya Manda Andin.

Mulut Afiqah menjawab dalam kalimat terbata-bata sambil isakan tangis sesekali menyelinginya, “Lima menit.” Ok, kita beri lima menit. Biasanya sih lima menitnya masih belum akurat. Biasanya kurang dari waktu normal lima menit.

Sesuai Tujuan, Tetap Istiqomah

Praktis, dari sejak nangis awal, hingga reda, durasi menangis Afiqah hanya sekitar 12 menit. Waktu 12 menit yang sangat krusial dan menentukan pembentukan karakter seorang anak. Apakah orangtuanya “mengalah” demi anak, atau ia tetap pada pendirian dan istiqomah menjalani tujuan awal yang sudah ditetapkan?

Saya dan Andin meyakini, jika kita terlalu gampangan menuruti kemauan anak, kelak ia bisa dengan mudah minta ini-itu tanpa tahu ada proses yang berdarah-darah juga dalam mewujudkan keinginan tersebut. Ada yang miss di sana, yaitu proses mewujudkannya. Anak yang terbiasa sedikit-sedikit minta ini-itu lalu diwujudkan orangtuanya secara cepat, akan menganggap ketika minta sesuatu, jurus simsalabim bisa dipakai dan bisa berhasil. Tinggal minta, tiba-tiba barangnya ada. Ia tidak akan mau tahu bahwa untuk mau sesuatu itu, butuh perjuangan terlebih dahulu.

Namun beda hasilnya jika anak yang kita biasakan strict dengan memperhatikan proses serta mampu membedakan keinginan dengan kebutuhan. Kalau si anak mampu istiqomah pada tujuan awal, lalu ia juga mengerti bahwa jurus ujug-ujug bisa dapat ini-itu tidak berlaku, maka ia akan tumbuh menjadi orang yang sangat menghargai proses dan perjuangan hidup. Rasa syukurnya pun lebih tinggi.

Kami membiasakan Afiqah untuk bisa mengerem nafsu keinginannya. Ia harus bisa potong ego-nya. Beberapa bulan lalu, ketika Afiqah punya keinginan untuk memiliki sepeda, kami tidak langsung membelikan. Kami memberikan informasi bahwa untuk beli sepeda, butuh waktu dan usaha. Harganya mahal, dan kita harus kumpulkan uang dulu. Untuk mengumpulkan uang, kita harus bekerja, berkarya. Jadilah Afiqah menyibukkan diri seolah-olah ia bekerja di rumah. Ia sibuk belajar. Memberes-bereskan mainannya, dan dia anggap itu bekerja.

“Lagi apa kak?” tanyaku iseng di suatu siang. “Afiqah mau kerja dulu mau nabung buat beli sepeda.” Kami hanya senyum menanggapinya. Meski konsep kerjanya masih kurang tepat, tapi okelah. Ia tak langsung ujug-ujug bisa dapatkan sepeda dengan mudah. Harus kerja dulu, harus cari uang dulu. Harus hitung, berapa upaya dan usaha yang harus dilakukan untuk capai target yang sudah dikunci tadi. Konsep itu yang kami install di kepala Afiqah. Kalau mau sesuatu, harus ada usahanya. Tidak bisa menengadahkan tangan begitu saja. Terima pasif, terima jadi. Dengan begitu, kita melatih logika berpikir Afiqah (logic mathematic). Ia jadi tahu tentang sebab-akibat, konsekuensi logis dari suatu tindakan. Kalau mau sesuatu, rencanakan sejak jauh-jauh hari. Itu lebih baik. Meski kami tidak menutup ruang untuk tetap bisa melakukan tindakan impulsif seperti pemberian hadiah kejutan atau tindakan surprise lainnya.

Tantangan Lingkungan

Permasalahan yang kerap kita hadapi adalah manakala ada orang di sekeliling kita yang terlalu mudah memberikan atau memenuhi keinginan anak kita. Bisa saja kakek-neneknya, atau om-tantenya. Atas nama kasih sayang, semua barang yang diinginkan si anak segera hadir di pelupuk matanya dengan begitu cepat. Atas alasan agar si anak tidak nangis, semua barang dibelikan. Ini sulap dan ini sihir, TARA……

Untuk itu, perlu dikomunikasikan kepada keluarga besar kita bahwa untuk membangun mentalitas dan karakter anak yang lebih baik, kita jangan sampai memanjakan anak dengan gampangan memberikan ini-itu sesuai keinginan dia. Kita harus selektif, dan memperhatikan ada proses perjuangan yang harus dilalui seseorang jika ia inginkan sesuatu. Orangtua dan keluarga besar harus satu frekuensi dalam menjalankan pola asuh terhadap seorang anak agar tidak ada kebingungan di dalam dirinya.

Menghargai proses adalah sesuatu yang mahal di Indonesia, karena banyak orang yang tak sabaran dan ingin potong-kompas saja. Budaya ingin sukses instan adalah musuh yang harus dienyahkan dalam pikiran kita. Sukses yang dicapai lewat perjuangan yang berproses, masa “panen”-nya lebih lama. Tidak cepat hilang.

Dalam pengamatan kejadian kongkret di jalanan, kita sering lihat banyak motor karena buru-buru mengejar waktu, saban hari melawan arus untuk bisa sampai lebih cepat ke tempat yang dituju. Padahal sudah disediakan U-TURN meski memang sedikit lebih jauh dibandingkan memotong jalan atau melawan arus. Tapi tetap saja, pola pikir melawan arus lalu lintas, itu adalah salah. Selain melanggar aturan lalu lintas, hal itu juga bisa membahayakan si pengendara dan pengendara lainnya. Efek lainnya, kemacetan jadi mengular kemana-mana karena ada kumpulan ego yang tak bisa ditahan. Seenak jidatnya saja. Yang penting kepentingan saya pribadi terpenuhi (cepat nyampai). Peduli setan dengan urusan jalanan jadi tambah macet kek, mau mandeg kek. Sabodo teuing kalau dalam istilah urang Sunda. Ini contoh kongkret orang yang tidak menghargai proses, hanya berorientasi result, ingin cepat sampai, apapun caranya. Segala cara ditempuh untuk memenuhi hasrat dan ego.

Mari mengubah masyarakat kita mulai dari keluarga kita, dari anak kita sendiri. Pastikan anak kita tidak ter-install prinsip “simsalabim sulap”, “asal cepat sampai”, “potong-kompas”, “egosentris” di dalam dirinya. Pastikan ia menghargai proses. Pastikan ia melakukan sesuatu, sesuai tujuan awal, tidak gampang terdistraksi di tengah jalan. Pastikan apapun kegiatan yang ia lakukan, ia harus istiqomah menjalani pilihan kegiatannya hingga tuntas. Tidak melenceng sana-sini. Pastikan juga kegiatan tersebut harus memenuhi kebutuhannya, bukan karena impulsif memenuhi keinginan hawa nafsu belaka. Kebutuhan selalu ada batasannya karena ada elemen pengukuran yang bisa dikontrol di dalamnya. Sedangkan keinginan, tidak ada batasnya. Ia adalah laju nafsu yang tak terkendali. Ia adalah jelmaan kongkret dari istilah matematika, Tak Terhingga (~).

Istiqomah ya Kakak Afiqah,

Adlil Umarat

Tim Riset & Pengembangan

Sekolah Dhuafa Bermetode Sentra, Batutis Al-Ilmi, Pekayon-Bekasi

@pukul5pagi

umarat.adlil@gmail.com

http://www.umarat.wordpress.com

08111170128

2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 110,000 times in 2015. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 5 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Afiqah Nonton Inside Out

Kadang-kadang tindakan impulsif, bisa menimbulkan inspirasi besar. Kami menonton film di bioskop. Pilihan film tentu saja film anak-anak, disesuaikan dengan usia Afiqah.

Sebelumnya, Afiqah pernah diajak nonton premiere The Avenger terbaru. Akibatnya? Ia sangat terpengaruh dengan film juga. Ia mengerti konsep berantem, perang, tembak-tembakan. “Ciat….dor…dor…dor,” ujarnya mempraktekkan apa yang dilihatnya di film tersebut. Kami sampai pusing bagaimana menghapusnya dari memori Afiqah. Sampai suatu saat Bu Siska menyarankan agar Afiqah dibawa ke bioskop lagi, tapi nonton film yang anak-anak, biar terhapus pengalaman berantem-berantemnya.

Kami nonton di jam 14:30, di XXI Cibinong. Tumben-tumbenan kami nonton jauh banget ke Cibinong. Tempatnya nyaman juga. Tidak terlalu ramai dan jauh dari hiruk-pikuk.

Sebelum film mulai, kami sudah keliling-keliling melihat poster film baik yang sedang tayang maupun yang akan tayang dalam waktu dekat. Afiqah enjoy sekali bermain-berlari, di dalam area ruang tunggu XXI.

Waktu sudah menunjukkan 14:25. Kami segera masuk ke teater yang sudah tertera di tiket. Ternyata sudah ada tayangan yang dimulai. Kami kira benar-benar ini yang akan ditayangkan. Ternyata hanya extra saja. Promo film berikutnya. Namun soundtrack-nya lumayan racun juga. Easy listening banget, I Lava You. Coba dengarkan deh di Youtube.

Baru 10 menit film tayang, saya langsung ingat materi mendasar Metode Sentra.” Film ini bisa banget nih menjelaskan prinsip-prinsip dasar Metode Sentra,” ujarku dalam hati. Aku dan Manda Andin saling memandang. Kami sama-sama spontan mengatakan hal yang sama, “Sentra banget ya?” Ah, kompaknya. Makanya kami jodoh. Tanpa berkata, saya tahu apa yang ada di pikiran Andin, dan ia juga tahu apa yang akan saya utarakan. Pakai jurus bahasa kalbu, #eaaaa.

Kami begitu menikmati film Inside Out. Sempat juga kepikiran, apakah Afiqah mampu menikmati film ini sama seperti yang kami nikmati? Masalahnya, film ini berbahasa Inggris, dengan subtitle Bahasa Indonesia. Khawatir Afiqah tidak bisa mengikutinya dengan baik. Aku kira Afiqah bosan mengikuti cerita film ini, sampai akhirnya suatu saat kejadian penting terjadi setelah film mencapai klimaksnya.

Respon Afiqah

Afiqah menangis mendadak di ¾ film. Ada 4 momentum yang membuat ia melakukan 4 kali tarikan “gas” nangis kencang:

Pertama, saat Joy meninggalkan Sadness à ini menggambarkan ketakutan Afiqah ditinggalkan. Sedih karena temannya tidak setia kawan.

Kedua, saat Joy naik tersedot alat penghubung ke ruang kendali pusat à Afiqah merasakan sensasi ngeri karena diperlihatkan Joy seperti dalam kondisi tersiksa dengan keadaan tersedot tersebut karena tabungnya pecah, dan ia terjatuh ke jurang. Saat itu, tangis Afiqah meninggi.

Ketiga, saat Joy dan Bing Bong si gajah lucu, mencoba beberapa kali untuk naik kereta dorong, agar bisa mencapai ruang pusat kendali lagi setelah jatuh di lembah kegelapan. Mereka beberapa kali gagal.

Keempat, saat Bing Bong si gajah merelakan dirinya tidak ikut ke dalam kereta yang mendorong Joy naik ke ruang pusat kendali otak. Si Gajah lucu itu menjatuhkan dirinya ke lembah kegelapan. Ia rela berkorban demi keberhasilan sahabatnya menggapai misi penting. Itu merupakan momen paling iba bagi Afiqah. Mengapa ia terjatuh, dan tertinggal?

Saya dan Manda Andin yang kaget bukan kepalang, segera menenangkan Afiqah. Kami menghiburnya bahwa sebentar lagi nanti aka nada kesuksesan, keceriaan. Kita seperti seorang spoiler yang membocorkan kelanjutan isi cerita. Tapi ternyata di klimaks film tersebut, proses kegagalan Joy-Bing Bong jatuh lagi ke jurang kegelapan, benar-benar dieksplorasi secara optimal. Sedihnya dapat. Tegangnya dapat. Dramatisasinya juara. Di sana, sang sutradara berhasil mengobok-obok emosi Afiqah selaku anak kecil. Selamat ya bapak sutradara. Anak saya nangis nih 4 kali tarikan gaspol, hasil nonton film ente.

Afiqah nonton pakai perasaan sekali, BAPER (Bawa Perasaan). Ia serius sekali menikmati film Inside Out ini. Padahal film ini pakai bahasa Inggris, dengan teks subtitle Bahasa Indonesia. Ia belumlah mengerti cara membaca tulisan. Namun ternyata, ia menonton menggunakan hati. Ia membaca mimik di tiap adegan. Ada juga anak kecil sudah lebih besar dari Afiqah umur sekitar 5 tahun, ia kerap bertanya kritis ke orangtuanya, “Emangnya kenapa kalau begini….kalau begitu….?” Si orangtua harus menjelaskan penyebab dan konsekuensi dari adegan per adegan. Ia menonton tidak menghidupkan tombol “rasa”. Alhamdulillah Afiqah meski masih kecil, tapi ia punya tombol “rasa” yang aktif. Ia menikmati tontonan tersebut secara maksimal. Saya karena kaget Afiqah nangis, lalu punya ide, ini momen langka, akhirnya saya rekam lewat voice recorder beberapa menit akhir ketika ia menangis.

Afiqah, jika ia mau, ia bisa jadi analis program tv atau film. Ia menikmati karya seni dengan seluruh indera dan kemampuan analisanya. Ia menangis dikala memang adegannya sedih. Ia tertawa ketika memang ada yang lucu (little monkey scene antara ayah dan anak). Ia juga bisa mengekspresikan ketakutannya manakala ada adegan yang menegangkan. Senang sekali rasanya kami selaku orangtuanya. Kalau sebuah PH (Production House) ingin tahu bagaimana respon natural dari seorang anak untuk film anak, sila kontak anak saya, Afiqah Humayra Umarat. Bisa jadi tester/ reviewer untuk film yang akan di-launching.

Sinopsis Cerita

Inside Out adalah sebuah film Amerika Serikat dari Pixar. Film ini mengenai perjalanan seorang anak menuju remaja dengan segala emosi yang ia miliki; kesedihan (Sadness), kebahagiaan (Joy), kemarahan (Anger), rasa takut (Fear), dan keegoisan (Disgust). Production House yang merilis film super keren Inside Out ini adalah PH yang membuat film Toy Story, Toy Story 2, Toy Story 3, A Bug’s Life, Finding Nemo, The Incredibles, Cars, Cars 2, Ratatouille, WALL-E, Up, Monster Inc, Monster University, dan The Good Dinosaur.

Film yang disutradarai Pete Docter dan Ronnie del Carmen ini menyajikan sesuatu yang berbeda. Ia mengajak kita melihat dunia dari dalam kepala kita masing-masing, termasuk konflik yang terjadi di dalam fikiran. “Moms have inside voices, dads have them too, and we all have little voices in our head”. Jadi, film ini tidak hanya bisa dinikmati oleh anak kecil, tapi juga menjadi renungan yang sangat dalam bagi orang dewasa.

Kembali ke cerita di film Inside Out. Masa kecil Riley sangat bahagia. Seharusnya semua anak begitu. Dijelaskan dengan analogi tabungan bola memori berdasarkan warna. Semakin dominan suatu warna, maka demikianlah terbentuk karakter seorang individu. Kalau dari kecil biasa menerima dampak dari larangan, suruhan, marah, sang anak bisa jadi penakut, peragu, tidak bisa ambil keputusan, memori dikuasai hal-hal negatif, dan lain sebagainya.

Long term memory digambarkan dengan jejeran bola yang tersimpan rapi di rak. Jika ada yang tak terpakai/ tidak berkesan, dia akan gugur. Ada petugas Cleaning Service yang bertugas menyedot memori yang tak terlalu berkesan. Adegan tersebut sangat lucu, karena bisa menjelaskan kepada pemirsa bahwa jika si anak tidak melakukan sesuatu dengan kesan yang kuat, suatu memori akan lebih mudah hilang. Nah, mengapa film ini menurut saya dan Andin sangat “Metode Sentra” banget, karena di Metode Sentra, anak diajak untuk belajar sambil bermain secara menyenangkan. Ia harus menemukan sendiri keasyikan bermain ketika belajar. Belajar bukan dalam bentuk drilling hapalan. Belajar harus dilalui dengan proses penyerapan dan pemahaman secara personal. Ketika proses belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar itu begitu menyenangkan, maka hal itu akan masuk ke dalam long term memory si anak.

Rontoknya pulau-pulau imajinasi yang membentuk karakter sang anak, merupakan hal yang sangat penting penggambarannya di film ini. Pulau ambruk diantaranya: pulau keluarga (saat Riley meninggalkan rumah), pulau kejujuran (saat Riley mencuri uang di dompet ibunya), pulau persahabatan (saat Riley kesal teman lamanya ternyata sudah dapat teman baru dan ia marah merasa ditinggalkan), pulau permainan (personal moment Riley dengan ayahnya ledek-ledekan little monkey karena tidak mau pakai baju), dan pulau hobi (pengalaman mencetak gol pertama kali saat berlatih hoki).

Saat dewasa, pulau-pulau imajinasi dan kepribadian tersebut akan bertambah. Diantaranya: fashion, asmara, dengan semakin banyak cabang masing-masing, dengan tombol yang sangat variatif.

Tiap anak punya teman imajinasinya sendiri. Misalnya Afiqah punya Edi, Afla, Sakar. Itu karangan dia sendiri. Tapi selalu disebutkan, dimanapun berada. Pernah suatu ketika kita baru sampai di apartemen setelah berangkat dari rumah di Cibubur. Lalu tiba-tiba Afiqah bilang, “Eh, itu Edi sudah sampai duluan…” kita yang ada di mobil langsung kaget. Edi temannya Afiqah ternyata ngikutin ke apartemen. Spooky. Tapi kami selalu luruskan lagi, “Afiqah bicara sesuai fakta. Tidak ada Edi di sini.”

Di film ini dijelaskan juga bahwa jingle iklan di tv yang biasanya diputar berulang-ulang, justru itu hal yang sangat mudah melekat di memori anak-anak. Tidak heran, anak-anak gampang ingat iklan yang berulang-ulang. Bahkan bisa diulang sampai 3 kali dalam satu kali putar. Ini kekuatan teori repetisi.

Ada saatnya perasaan sedih perlu dikeluarkan. Jangan dominan rasa senang saja. Itulah manusiawinya manusia. Kalau senang terus, lalu denial terhadap kondisi yang ada, tidak akan optimal hasil yang dijalani. Kalau memang harus sedih, sedihlah. Butuh menangis, menangislah. Setelah itu, segera cari solusi, dan kembali bergembira menghadapi hidup ini.

Orang kalau hanya punya marah, jijik, takut, maka kendali terhadap “rasa”nya rendah. Kalau menurut istilah Metode Sentra, batang otaknya tertutup (freezing). Sehingga di film tersebut digambarkan meja kendalinya hitam dan tidak bisa diapa-apakan. Ini fase manusia tersebut ada dalam keadaan apatis. Sudah mati rasa, terutama ketika core memory terganggu. Maka, berhati-hatilah memperlakukan anak.

Recalling Inside Out

Selesai nonton, ternyata di luar bioskop ada box khusus film Inside Out. Walhasil Afiqah tertarik main ke sana. Kami foto-foto di sana. Lalu Afiqah mulai melakukan review atau recalling terhadap film yang sudah ia tonton. Mulai cerita satu-satu dari warna dan gambar yang tertera di box tersebut. Afiqah akhirnya berfoto di masing-masing karakter emosi di film Inside Out. Ia fasih dan mahir menjelaskan bagaimana ekspresi tematik yang tepat untuk tiap karakter emosi: marah, takut, jijik, senang, sedih. Afiqah juara deh pokoknya. Sampai-sampai si security yang kami minta tolong fotoin bertiga, geleng-geleng kepala. “Kok anak kecil ini bisa aja ya ekspresinya? Kok dia tahu ya isi filmnya?” ujarnya terheran-heran. Kami hanya tertawa melihat reaksi si bapak security.

Di film Inside Out, ada satu pesan penting juga. Ternyata, pujian atau support saat main hoki di masa kecil, jadi memori yang indah jangka panjang buat si anak. Ia jadi suka sekali dengan hoki. Bahkan hingga ia besar. Saat bermain bersama anak di kala ia kecil, kita harus beri penghargaan terhadap upaya anak. Waktu itu digambarkan di film bahwa Riley terpeleset saat main hoki dan tak sengaja malah mencetak gol. Tapi, orangtuanya memberi apresiasi. Ayah ibunya memberi semangat. Maka, once dia ingat sesuatu yang sangat berkesan, dia akan mencintai momen tersebut dan bisa jadi ia jatuh cinta pada apa yang dilakukan saat itu (hoki).

Carilah sisi positif anak sekecil apapun. Beri ia penghargaan. “Terima kasih ya meski kondisi sulit, tapi kamu tetap bisa senyum tadi…” ujar ibu kepada Raily. Si anak yang tadinya sempat mau marah, karena dipengaruhi Si Marah di dalam otaknya, ternyata malah berganti arah. Ia malah merasa terenyuh. Ia jadi respect ke orangtuanya.

Anak waktu lahir, yang muncul harusnya Joy dahulu. FItranya anak masih di masa-masa bermain, eksplorasi neuron, masih polos. Jika joy dominan saat kecil, ini jadi tabungan yang bagus buat masa depannya karena core memory-nya dibalut oleh sesuatu yang positif.

Jika kembali ke cerita film Inside Out, ada adegan yang menjelaskan bagaimana rasa senang dan pengalaman yang dominan bisa mengubah respon orang jika menghadapi situasi yang tak menyenangkan. Riley hampir sedih pas lihat rumah yang ia pindah ke sana tidak sesuai harapan, bapaknya sibuk, tapi karena si anak selalu didominasi hal positif, gembira, lahirlah ide untuk pergi membeli pizza. Padahal ada opsi untuk mengamuk, tapi tak ia lakukan.

Anak kecil juga perlu dibangun trust ke orangtuanya dulu sebagai bagian dari ring 1. Dia harus merasa nyaman di ring 1 agar perkembangan kecerdasan jamaknya optimal. Jika trust-nya terbangun, insya Allah lebih mudah membangun karakter yang kuat dalam diri anak.

Dampak setelah nonton film Inside Out pada keesokan harinya, Afiqah bilang, “Afiqah uu’ (buang air besar), mau cebok. Berarti mbak-mbak hijau di kepala Afiqah jijik ya, dah sadar.” Kami tertawa bertiga. Ternyata gampang sekali memberi pengertian kepada anak umur 2 tahun 10 bulan bagaimana mengambil manfaat dari menonton film. Ia langsung praktekkan makna dari film tersebut. Makasih ya nak. Itu adalah insight yang paten kali bisa keluar dari anak usia segitu. Ini adalah bagian dari berkembangnya logic-mathematic Afiqah. Ini perkara sebab-akibat. Otaknya sedang berlatih dan bergelut dengan itu.

Sebelumnya kami beri pijakan dulu ke Afiqah bahwa si hijau itu (disgust) berkaitan dengan sikap jijik. Kalau mbak-mbak jijik sudah sadar, Afiqah akan merasa risih/ tidak nyaman saat ada uu’ di pampers atau pas mau pipis, atau ada yang kotor, atau ada yang berantakan. Ternyata, hal itu dipraktekkan oleh Afiqah. Film ini benar-benar impactful buat Afiqah. Positif buat anak, asal disampaikan pesan yang tepat ke dalam pijakannya.

Hikmah film ini bisa menyasar ke semua kalangan, baik anak, orangtua, ataupun keluarga besar. Kita bisa memilih sikap mau memborbardir anak cucu kita dengan tindakan atau sikap marah, takut, senang, jijik, sedih di dalam interaksi kita sehari-hari dengan mereka. Hal ini akan mempunyai konsekuensi logis dan mempengaruhi karakter si anak ke depan.

Kalau anak bisa handle perasaan kapan harus mengeluarkan sedih, marah, takut, jijik, senang, dengan kadar yang pas, dan konteks yang tepat, maka dia akan jadi anak cerdas secara emosional. Ia akan mudah bergaul dengan lingkungannya.

Ada sindiran satir di film ini tentang bagaimana cara berpikir bapak, ibu, anak di keluarga. Misalnya, bapak-bapak kerap tidak fokus ketika diajak bicara oleh keluarga karena sedang memikirkan pertandingan olahraga favoritnya. Ah, jadi ingat kalau Pak Ading sedang nonton pertandingan bola di tv. Manda Andin bagaimanapun ngototnya ngajak bicara, tidak akan pernah bisa dijawab dengan fokus, karena pikiran orang yang sedang nonton pertandingan bola tidak sedang berada di rumah. Ruhnya hanyut-larut-terbang ke negara Inggris, Italy, Spanyol, atau Jerman. Betulkah begitu, wahai pecinta bola? Hehehe.

Nah, Anda sudah nonton film Inside Out se-keluarga kah? Cobain deh. Rasakan sendiri sensasinya. Ini film buat Anda kaum yang berpikir. Menurut saya, ini adalah film terbaik dari keseluruhan film Pixar yang pernah ada. Level puas menontonnya bisa mencapai tingkat tinggi!

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it, ... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Review & Share My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

De Dinis Stories

Si Sulung yang selalu beruntung

unspoken mind

if you can't tell, just write