Posts Tagged ‘#MetodeSentra’

Kepingan Koin Itu, Bikin Haru

Banyak orang bertanya, mengapa saya begitu berani pindah haluan ke dunia pendidikan di Batutis Al-Ilmi yang notabene sekolah untuk kaum dhuafa? Padahal sebelumnya karir sudah enak di TV. Pertanyaan-pertanyaan ini memang tidak mudah dijawab dengan gamblang. Namun kisah pagi ini sepertinya mampu menjawab salah satu alasan mengapa keputusan berani itu saya ambil.

Rupiah demi rupiah

Pagi ini saya dikejutkan dengan cerita dari Pak Yudhistira tentang orangtua murid Batutis Al-Ilmi yang tiba-tiba datang ke sekolah dan menyerahkan segepok kumpulan uang koin sejumlah Rp 150.000. Uang tersebut diberikan oleh orangtua murid tersebut sebagai infaq uang makan anaknya selama sebulan. Bu Siska dan Taya awalnya tidak ngeh tentang segepok kumpulan koin itu. Mereka bertanya-tanya, siapa yang mau tukaran uang koin? Ternyata, petugas TU sekolah menyampaikan bahwa uang tersebut adalah hasil keringat dari salah satu orangtua murid yang diserahkan tadi pagi.

FYI, Sekolah Batutis Al-Ilmi adalah sekolah bagi kaum dhuafa. Jumlah persentase siswa dari keluarga dhuafa sebanyak 70% dan 30% sisanya adalah kalangan mampu. Ada subsidi silang dari siswa dari kalangan yang mampu untuk biaya operasional sekolah. Banyak juga infak, shadaqah, zakat dari banyak orang yang concern dengan dunia pendidikan anak usia dini.

Pendanaan lain dari mana? Sisanya, Tim Batutis Al-Ilmi berjuang peras keringat banting tulang mencari pendanaan sana-sini. Lewat pelatihan Metode Sentra, penjualan buku, penjualan majalah, konsultansi sekolah yang ingin hijrah ke Metode Sentra, seminar parenting dengan tema based on request, dan kegiatan kreatif lainnya untuk menghasilkan pundi-pundi bagi pembiayaan operasional sekolah.

Kembali ke cerita di atas. Istimewanya dari infaq koin senilai Rp 150.000 itu dilakukan oleh orangtua dari tergolong dhuafa. Anda bisa bayangkan, bagaimana proses orangtua tersebut secara telaten mengumpulkan satu demi satu koin tersebut. Jika dalam sebulan ada 30 hari, maka 150.000/30 hari = Rp 5.000/ hari. Artinya, orangtua murid itu mengumpulkan 10 koin Rp 500 untuk biaya makan siang dan snack setiap hari di sekolah dalam sebulan.

Orangtua murid itu boleh saja tak mampu secara ekonomi, tapi semangat dan perjuangannya untuk tak melulu menengadahkan tangan agar terus dibantu, dikasihani, patut diacungi jempol.

Saya membayangkan bagaimana perjuangan yang persistence dari orangtua murid tersebut. Itu sangat mempengaruhi semangat kami di Tim Batutis Al-Ilmi. Temuan-temuan ajaib ini kadang jadi charger yang memenuhkan lagi semangat kami untuk berjuang membangun Batutis Al-Ilmi jadi lebih baik lagi.

Saya ingin sekali bertemu dan mewawancarai orangtua wali murid tersebut. Nantikan reportase mendalam tentang koin perjuangan yang bikin haru itu.

Anda ingin turut serta membantu Batutis Al-Ilmi agar lebih maju? Hubungi saya di nomor 08111170128 atau kontak ke email saya: umarat.adlil@gmail.com. Bantuan tidak harus berupa uang. Bisa memberikan tenaga, link jaringan sosial, mempertemukan kebutuhan training parenting di lingkungannya (tempat kerja atau rumah), bisa sharing soft skill, atau bisa macam-macam bentuknya. Yuk, turun tangan bantu Batutis Al-Ilmi. Saya tunggu ya, bro and sis!

DIMODUSIN Afiqah

Sore itu, saya baru pulang dari Sovereign Plaza, mengikuti sebuah training penting. Manda Andin sudah tahu biasanya di tiap Senin, saya akan sampai Kota Wisata jam 18.00. Maka, Manda Andin menjemput saya di depan Kota Wisata. Tadinya Afiqah tak diajak serta. Tapi begitu tahu mau jemput Pak Ading, ia segera berubah pikiran, ingin turut serta.

Di Whatsapp saya meminta Andin ajak serta Afiqah. Entah kenapa, karena habis menyepi nulis di bawah kaki gunung Galunggung-Tasikmalaya selama 3 hari 3 malam, maka rasa kangen itu masih membuncah. Afiqah sekarang jauh lebih ceriwis. Ditinggal 3 hari, benar-benar ceriwis banget. Ngomongnya itu seperti orang dewasa.

Afiqah Melucu

Afiqah Berbahasa Betawi

Ada update-an baru pada diri Afiqah. Ia sekarang sedang terpengaruh gaya bicara khas Betawi. Pengaruh itu berasal dari teman sekolahnya di Batutis Al-Ilmi. Suatu kali saya menjemput Afiqah di sekolah, lalu dari kejauhan, saya sudah terlihat oleh teman-temannya. “Noh, bapak loe noh…” kata teman Afiqah memberi tahu bahwa ia sudah dijemput.

Kira-kira model ngomong khas Betawi begitulah yang sedang trending di dalam diri Afiqah. Sekarang ia biasa ngomong, “Iya yak…”. Ia juga mulai ngomong kata “gue”.

Ketika saya tanya, “Gue itu apa sih artinya dek?”

Dijawab Afiqah, “Betawi.”

“Iya, itu bahasa Betawi, tapi artinya apa?” tanyaku penuh selidik.

“Saya,” jawab Afiqah singkat. Ternyata ia tahu sedikit-sedikit arti kata bahasa Betawi.

Nada ngomong Afiqah sekarang cukup tinggi, seperti orang Betawi yang rame’ banget. Saya jadi ingat dulu sangat dekat dengan Mpok Ani, penjual nasi uduk yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri di Kukusan Depok, dekat Universitas Indonesia.

Padahal, tepat bulan Desember 2015 lalu, kami pulang ke Surabaya dan Mojokerto. Dari sana, Afiqah sudah bermetamorfosis jadi orang Jawa. Dialeg bahasanya medhok banget khas Suroboyoan. Tapi ternyata, setelah bergaul lagi dengan teman-temannya di sekolah, ia bisa dengan mudah berubah. Anak-anak di usia emas, memang paling cepat menyerap segala sesuatu dari lingkungannya. Mereka seperti sponge. Gampang nyerap cairan.

Apa reaksi saya dan Manda Andin terhadap Afiqah yang mulai berbahasa Betawi? Kami tidak menganggap ketika Afiqah berbahasa Betawi atau berbahasa Jawa sebagai sesuatu yang salah. Namun, kami anggap itu sebagai momen perkenalan Afiqah kepada bahasa daerah. Kami menanggapi Afiqah yang bilang “gue” dengan respon, “Oh, Afiqah sedang berbahasa Betawi. Tapi Pak Ading dan Bu Andin ingin kita di rumah pakai bahasa Indonesia ya…”

Meminta Secara Halus

Kembali ke laptop, cerita awal Afiqah menjemput saya di depan komplek Kota Wisata.

Saya turun dari angkot 121 jurusan Kampung Rambutan-Cileungsi. Setelah membayar ongkos angkot, pas turun saya sudah lihat ada mobil keluarga kami yang parkir di bundaran depan Kota Wisata. Alhamdulillah sudah standby.

Saya jalan menghampiri mobil, lalu lewat kaca mobil sebelah kiri depan, saya goda Afiqah. Saya gelitik ia dari belakang. Ia kaget. “Eh….., ada Pak Ading…”

“Terima kasih ya udah jemput ayah…,” kataku. “Afiqah kangen ayah? Katanya tadi mau main sama Uti?,” tanyaku pada Afiqah.

“Aku kangen ayah….,” balas Afiqah so sweet.

Kalau udah begini, saya hanya bisa menjadi lilin yang sedang dibakar api: MELELEH.

“Ayah duduk di belakang ya. Afiqah di depan,” begitu kata Afiqah mengatur posisi tempat duduk kami.

Okelah. Saya pun kemudian membuka pintu belakang, masuk, duduk, dan mengucap Alhamdulillah tanda bersyukur karena bisa bertemu keluarga lagi.

Baru beberapa detik duduk, lalu Afiqah nanya lagi, “Ayah bawa apa?”

“Maksudnya?” kataku heran. Tak biasanya dia bertanya seperti itu. “Ayah bawa tas.”

“Oooh, tas. Isinya apa?” selidik Afiqah lebih lanjut.

Saya segera buka tas dan menunjukkan kepada Afiqah isinya. “Ada laptop dan buku. Tidak ada yang spesial, biasa aja. Emangnya kenapa? Kok nanya begitu?” kataku balik bertanya.

“Nggak…kirain Pak Ading bawa mainan…” lanjut Afiqah lagi sambil tersenyum lebar.

Seketika juga saya dan Manda Andin pun ngakak. Gila ya. Dua orand dewasa sedang DIMODUSIN oleh anak umur 3 tahun 3 bulan. Ternyata Afiqah baru saja mempraktikkan bagaimana teknik berbahasa dengan cara yang tak biasa.

Ketika kami belajar ilmu Metode Sentra di Batutis Al-Ilmi, Bu Siska menjelaskan ada 4 jenis pertanyaan: konvergen, divergen, faktual, dan evaluatif. Pertanyaan konvergen itu biasanya dimulai dengan kata : apa, siapa, kapan atau dimana. Jawabannya pun agak mengerucut, sudah jelas. Pertanyaan divergen ini jenis pertanyaan terbuka, dan biasanya dimulai dengan kata: bagaimana dan mengapa. Pertanyaan factual mengacu pada pertanyaan yang meminta jawaban yang sifatnya pasti, ilmiah. Misalnya, ada berapa jenis pembagian lapisan langit? Jawabannya ada 7, diantaranya Termosfer, Stratosfer, dan seterusnya. Lalu pertanyaan evaluatif berupa pertanyaan nyecer mengejar sampai tuntas.

Pertanyaan konvergen itu contohnya: “Apa rasanya laut?”

Pertanyaan divergen itu contohnya: “Bagaimana ciri-ciri air laut?”

Pertanyaan faktual itu contohnya: “Apa nama laut diantara pulau Sumatera dengan pulau Kalimantan?”

Pertanyaan evaluatif itu contohnya: “Kamu menggambar apa? (dijawab: pohon pisang). Apa yang kamu tahu tentang pohon pisang? (dijawab: rasa buahnya manis). Bagaimana dengan tekstur buahnya? (dijawab seterusnya).”

Kalau kita lihat dalam perspektif umum, Afiqah menyelidikiku dengan pertanyaan evaluatif dalam kadar yang ringan, lalu ditutup dengan pernyataan tidak langsung (non-directive statement).

Afiqah: “Ayah bawa apa?”, dijawab Ayah: “Ayah bawa tas” à pertanyaan evaluative.

Afiqah: “Oooh, tas. Isinya apa?”, dijawab Ayah: “Ada laptop dan buku. Tidak ada yang spesial, biasa aja. Emangnya kenapa? Kok nanya begitu?” à pertanyaan evaluatif. Ternyata ia sudah puas mendengar jawaban ini.

Afiqah: “Nggak…kirain Pak Ading bawa mainan…” à Pernyataan kalimat tak langsung (non-directive statement). Ini pesan terselubung yang ingin disampaikan.

Simple-nya, Afiqah sebenarnya secara tidak langsung sedang menerapkan teknik persuasi untuk mewujudkan sebuah harapan atau ingin menyampaikan pesan: BELIIN AKU MAINAN DONK….

Tapi caranya halus. Caranya tidak langsung. Itu cukup elegan dan menarik buat kami berdua. Alhamdulillah Afiqah naik tingkat dalam hal kemampuan berbahasanya. Kalau kami ingat lagi masa kecil diri kami ataupun adik-adik kami, biasanya anak kecil minta mainan main langsung saja, tanpa tedeng aling-aling, “Mau ini, mau itu…” Kalau tidak dibelikan, bisa jadi pakai jurus nangis guling-guling di depan umum agar orangtua kita mau membelikan apa yang dikehendaki. Tapi untuk kasus Afiqah sore ini, ia benar-benar menunjukkan teknik berbahasa yang cukup tinggi untuk anak seusianya. Ini jenis high context communication. Komunikasi tingkat tinggi.

Anak-anak yang dibangun teknik berbahasanya dengan SPOK (Subjek Prediket, Objek, Keterangan) sejak usia dini, maka ketika besar nanti dia tidak akan kesulitan mengutarakan apa yang menjadi masalah dalam hidupnya. Daya ungkapnya mampu menolong dia untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup yang ia hadapi. Jadi, bukan lari dari masalah, tapi dihadapi dengan berbicara, berbahasa secara elegan. Jangan hanya bayangkan satu-dua anak Batutis saja. Bayangkan kalau kemampuan berbahasa ini dimiliki anak di seluruh Indonesia saat ini, maka nanti di tahun 2045, saat kita mendapatkan bonus demografi yang tumpeh-tumpeh itu, maka angkatan kerja (produktif) kita bisa berlaku sebagai BERKAH, bukan MUSIBAH. Orang-orang yang jelas tujuan dan mau kemana langkah, peran, dan karyanya karena konsep dirinya jelas sejak usia dini. Mereka mengerti AKU dan KEBUTUHANKU.

Ini sore yang indah buat saya. Satu-persatu bukti dampak mendalam dari pendidikan Metode Sentra di sekolah Afiqah, keluar secara alamiah dalam kehidupan keluarga kami. Kami semakin tertarik dan penasaran, apa lagi di masa mendatang yang keluar spontan dari tindakan Afiqah, yang bikin kita geleng-geleng kepala lagi.

Ingin ngobrol dengan saya tentang Metode Sentra? Silakan colek saya di Twitter saya @pukul5pagi atau kontak Whatsapp saya di 08111170128.

Insight Jauh ke Depan-nya Afiqah

Malam ini (4/2/2016), Manda Andin mengantarkan Afiqah tidur di kamar. Ia menemani Afiqah di kasur sambil cerita-cerita ringan. Afiqah sudah siap memakai baju tidurnya. Ia sudah makan, minum, dan sudah pipis ke toilet. Namun masih kurang satu hal sebenarnya, belum sikat gigi. Itu yang terlewatkan malam ini.

Afiqah tanya ke Manda Andin, “Manda, kalau Afiqah kuliah, Afiqah baru punya adik?”

Manda menjawab, “Nggaklah, kalau Afiqah kuliah, Manda udah tua. Coba itung. Kalau Afiqah kuliah, berarti umur Afiqah 20-an. Berarti Manda umurnya 48 tahun.”

Disanggah Afiqah, “Mungkin 18 tahun kalau Afiqah kuliah.”

“Oh iya ya? Bisa awal kuliah masuknya 18 tahun. Berarti Manda umurnya 46 tahun,” ralat Manda Andin.

“Berarti adikku yang satu SMA, yang satu SMP,” respon Afiqah.

Manda Andin cukup heran. Berarti dia sudah tahu urutan sekolah, urutan umur. Artinya, logika anak ini jalan. Otaknya bisa mikir secara logis.

“Kalau perempuan, lulus kuliah, trus wisuda, trus menikah,” kata Afiqah.

“Kalau perempuan, lulus kuliah boleh kok kerja dulu,” kata Manda Andin memberikan alternatif konsep lain di benak Afiqah.

Dibalas lagi oleh Afiqah,”Kalau laki-laki, lulus kuliah, kerja, menikah, baru punya anak.”

“Sama, perempuan bisa juga kerja dulu setelah lulus kuliah…” kata Manda.

“Nggak…,perempuan lulus kuliah, menikah, punya anak…”

Manda Andin mulai nge-test Afiqah, “Trus, uangnya dapat dari mana?”

“Ya dari suaminya dong,” kata Afiqah. Mukanya serius sekali menjawab pertanyaan tersebut.

“Afiqah tahu itu dari mana?”

Ia cengar-cengir saja, “Hmmmmmm….. dari otak…,” katanya sambil menunjukkan telunjuknya ke kepalanya.

“Beneran ini…darimana tahu konsep itu….” Kata Manda Andin sambil memelas kepo ingin tahu.

“Iya, dari dalam sini, dari dalam otak,” jawab Afiqah.

“Ah, yang benar?” manda Andin sambil terus menggali informasi. Ia penasaran, bagaimana bisa anak 3 tahun berpikir sejauh itu tentang konsep urutan kehidupan seseorang. “Dari Bu guru di kelas kali? Apa dari Bu guru di main peran?” selidik Manda Andin.

“Nggak….,” kata Afiqah sambil senyum-senyum.

Tetap Afiqah menjawab bahwa pemikiran tersebut berasal dari otaknya. “Ada di pikiran sini di dalam,” begitu jawabnya secara lugas.

Saya yang mendengar cerita tersebut merasa terkejut juga. Di saat jelang tidur, Afiqah bisa berpikiran jauh ke depan. Sebuah insight tentang kehidupan masa depan bisa ia bayangkan. Luar biasa menurut saya. Ini obrolan berat sekali.

Kami akan selidiki darimana konsep ini berasal. Bisa jadi dari gurunya, bisa jadi dari teman-temannya. Bisa jadi dari tantenya. Bisa jadi dari Uti-Akungnya. Entahlah. Besok akan kami caritahu darimana informasi itu bisa masuk, dan melekat terpatri di dalam pemikirannya.

Hari ini Afiqah pokoknya dewasa sekali deh. Cara ngomongnya itu seperti orang yang haus belajar. Ia tik-tok ngobrol dengan Manda Andin terus-menerus. Jika kurang puas, ia tanya lagi. Manda Andin sampai bilang begini ke saya setelah Afiqah tidur, “Ini seperti….anakku bukan anakku….Ini beneran ga sih Afiqah? Kok dia tahu konsep-konsep yang kita belum pernah ajarkan (baca: nikah)?” Begitulah keheranan dan penasaran Manda Andin terhadap pembicaraannya dengan Afiqah malam itu.

IMG-20160122-WA0024

Pembelajaran Anak Metode Sentra

Kadang ketika anak menyampaikan pemikiran-pemikirannya, kita selaku orangtua harus bisa bijaksana menanggapinya. Jangan sampai kita terburu-buru langsung men-judge pemikirannya salah. Cari tahu dulu penyebab atau asal-usul mengapa ia bisa berpikiran seperti itu. Kami pasti akan cari tahu, darimana ia bisa punya pemikiran itu. Uniknya di pendidikan Ber-Metode Sentra, meski anak terlihat main-main saja kegiatannya di sentra-sentra tersebut, sebenarnya di saat bersamaan, ia sedang dalam proses download dan instalasi konsep-konsep yang ia dengar dan lihat, yang dipandu oleh guru. Bahkan mungkin tidak dari gurunya saja. Dari temannya juga bisa jadi acuan dan masuk untuk dipikirkan makna dari kejadian-kejadian yang ia amati.

Misalnya bisa dari Sentra Main Peran. Dari sana, bisa jadi saat main peran, konsep-konsep tentang bagaimana peran seorang anak, ibu, bapak, kakak, adik, semuanya bisa terserap dan terinstall di dalam kepala anak, meski ia hanya melihat dan mendengar saja keterangan guru saat main peran. Serpihan-serpihan berupa puzzle tentang konsep kehidupan itu, dimaknai secara mendalam oleh anak dengan Metode Sentra karena itulah inti dari pendidikan: mampu membaca kejadian. “Iqra”. Kejadian bukan sekedar kejadian yang lolos dari pengamatan mata. Kejadian, jika kita jeli melihatnya, bisa jadi suatu pembelajaran yang berharga.

Lalu, jika ada kemungkinan-kemungkinan yang anak yakini saklek harus begini atau begitu, kita bisa luruskan pemahamannya terhadap suatu konsep. Misalnya pada kasus di atas konsep menikah, konsep bekerja antara perempuan dan laki-laki harus diluruskan agar ia tak hanya punya satu perspektif saja.

Perkara insight yang jauh ke depan itu juga dialami Andin saat jadi pengajar di SD Batutis Al-Ilmi di semester I tahun 2015. Waktu itu ada siswa kelas 3 bertanya, “Bu, diperkosa itu apa sih?” Sebagai guru science, Andin tidak reaktif menanggapi pertanyaan dengan topik tersebut. “Diperkosa itu dipaksa melakukan hubungan suami-istri, oleh orang yang bukan pasangan suami-istri,” jelas Andin pada siswanya.

Lalu para siswi malu-malu menanggapi pembicaraan itu. Sementara itu para siswa biasa saja menanggapinya. Andin mengingatkan para perempuan agar tidak berjalan sendiri, kalau ada orang yang mencurigakan atau memaksa, teriak saja. Bisa lari ke tempat ramai. Perempuan juga harus bisa bela diri, pertahankan diri.

Tiba-tiba saja seorang siswa bernama Fajri bilang, “Kalau aku nanti pasti akan lindungi istri aku bu.”

“Oh ya. Harus itu,” respon Andin sambil menelan ludah karena kaget. Anak kelas 3 sudah punya insight jauh ke depan tentang kehidupan berumah tangga dengan tekad yang mulia.

Ada lagi siswa lain yang memang emosinya bergejolak, bilang, “Kalau aku, kuhajar dia (pelaku pemerkosaan),” sambil memperagakan gaya menghantam seseorang. Benar-benar deh. Anak Batutis itu baik yang Bayi, Toddler, Playgroup, TK, dan bahkan SD, selalu punya pemikiran dengan pemaknaan mendalam atas suatu kejadian. Dipikiriiiiiiiin banget.

Kami berdua senang sekali, Afiqah bisa eksplorasi berbagai konsep-konsep yang berputar di dalam otaknya. Meskipun tidak semua pemikirannya tepat, tapi paling tidak, ia berani mengungkapkan apa yang ia pahami. Kami selalu menjunjung tinggi diskusi dua arah. Tak hanya satu arah. Ini sungguh asyik, menjalani dialektika dengan anak yang ikut serta dalam pendidikan Metode Sentra. Anda akan banyak kagetnya.

Ingin ngobrol dengan saya tentang apa dan bagaimana itu Metode Sentra? Silakan kontak saya di 08111170128 atau colek saya di @pukul5pagi

Sampai Jumpa! Baik di darat, laut, maupun udara!

Corporate Roadshow Batutis: ConocoPhillips

Setelah sharing ilmu tentang parenting di RCTI di bulan Maret 2015, maka Batutis pun melanjutkan program Corporate Roadshow-nya ke kantor lain. Kali ini, undangan datang dari teman-teman di ConocoPhillips. Kantornya terletak di TB Simatupang.

Undangannya dikirim resmi via email ke Bu Siska Massardi. Bu Siska membalasnya dengan memberi judul materi yang akan dishare kepada teman-teman di ConocoPhillips.

Foto Bersama di Depan Kantor ConocoPhilips

Saat hari-H, treatment dari supir kantor ConocoPhillips yang menjemput menarik untuk diceritakan. Pas Bu Siska dan Andin sudah naik, mobilnya tidak mau jalan. Sang supir mengingatkan dengan sopan bahwa sabuk pengaman harus dipakai terlebih dahulu, karena itu bagian dari SOP berkendara. Bu Siska dan Andin terlihat kaget karena mereka sebenarnya duduk di belakang. Tapi, memang benar juga ya. Meski duduk di belakang, seharusnya semua orang harus menggunakan sabuk pengaman agar aman ketika naik kendaraan. Saya jadi ingat SOP serupa ketika dulu naik kendaraan di wilayah operasional tempat ayah bekerja, Chevron. Ketatnya sama persis. Kalau ketahuan naik bus Chevron, tapi penumpang tidak pakai sabuk pengaman, sang supir bisa dipecat. Tidak ada kompromi untuk hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan berkendaraan.

Bu Siska dan Andin diturunkan di lobi kantor ConocoPhillips. Pengamanannya berlapis. Ada metal detector dan alat scan barang-barang seperti di bandara. Sebelumnya, mereka berdua dimintai KTP untuk ditukar dengan kartu visitor. Lalu pas mereka mau nyelonong masuk, masih ditahan lagi. Karena harus difoto terlebih dahulu. Wow. Pengalaman yang luar biasa. “Seperti masuk ke Kedubes mana gitu,” kata Bu Siska.

Setelah masuk ke lobi besar, lalu diarahkan satpam ke lobi ConocoPhillips. Lalu di sana ketemu satpam lagi dan kartu visitor ditukar dengan kartu visitor khusus ConocoPhillips. Mereka berdua diminta menunggu dijemput oleh panitia.

Setelah menunggu 5 menit, Mbak Erna yang memakai baju seragam bertuliskan House Keeper, datang menghampiri. Benar-benar profesional. Pemilihan lift-nya pun sangat complicated. Lalu akhirnya sampai di Library. Acara sharing ilmu parenting tersebut diadakan di sana. Kondisi di sana masih kosong dari peserta. Hanya ada pengurus kajian dan kursi-kursi yang belum ditempati. Baru ada Mbak Dinar dan Zakia. Keduanya masih belum menikah lho. #promosi

Kalau di ConocoPhillips, tidak boleh ada flash disk yang dicolok ke perangkat elektronik kantor. Karena jika dilakukan, maka akan ketahuan oleh sistem, karena pengawasannya dipantau live dari Houston. Maka, Bu Siska memakai laptop sendiri untuk presentasi.

Awalnya orang yang hadir sedikit sekitar 10 orang. Lalu menyusul selanjutnya saat sesi sharing sedang berlangsung. Jumlah total akhirnya sekitar 20-an. Maklum, hari itu gajian. Kalau gajian, biasanya pegawai pada makan di luar kantor. Seperti selebrasi kecil untuk memuaskan selera makan. Wajarlah. Jadi, mereka datangnya menyusul.

Bu Siska menyampaikan materi pas 1 jam. Memang waktunya sangat sempit. Jadi, harus buru-buru menyampaikan materinya. Peserta yang mendengarkan anteng, fokus, memperhatikan apa yang disampaikan. Sesekali, ada yang tertawa mendengar materi Bu Siska. Ada juga yang sudah menyadari waktunya mepet, lalu nekat bertanya di tengah penyampaian materi.

Bu Siska juga menyampaikan bahwa pakaian yang bermotif karakter, membuat si anak berlaku sesuai karakter tersebut. Misalnya, mukena Masha, maka anaknya akan berlaku seperti Masha. Jadi, buat orangtua, hati-hati memilihkan baju untuk anak. Jangan nodai anak dengan karakter kartun yang destruktif. Pilih baju baju dengan motif netral. Mengapa demikian? Ketika dia nonton film Masha, lalu ibunya membelikan baju, tempat minum, tas, bertema gambar Masha, maka di alam bawah sadarnya dia akan selalu ingat karakter Masha. Sehingga, secara spontan, dia akan menduplikasi karakter Masha. Hati-hati melangkah. Jangan kirim hadiah ke ponakan atau saudara baju berkarakter kartun tertentu. Ini isu kecil, tapi berpengaruh besar terhadap perkembangan jiwa seorang anak manusia.

Setelah selesai acara, teman-teman dari ConocoPhillips ada 2 orang yang bertanya tentang pelatihan Metode Sentra di Batutis Al-Ilmi Pekayon-Bekasi. Mereka berminat untuk ikut pelatihan di Batutis, meski sudah diberitahu bahwa durasi pelatihan berlangsung selama 5 hari. “Tidak apa-apa. Saya bisa cuti,” kata salah satu dari peserta penuh semangat.

Batutis Al-Ilmi memang menyediakan pelatihan metode sentra untuk guru, calon guru, orangtua murid, pengantin baru, calon pengantin, nenek-kakek, bahkan baby sitter atau siapa saja yang memang concern pada metode pembangunan jiwa dan kecerdasan jamak anak. Ada beragam jenis pelatihan dengan tema yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Jika memang belum sempat untuk ikut pelatihan metode sentra, maka bisa ikut kelas observasi. Di sana, kita bisa mengobservasi seharian bagaimana anak-anak di Batutis dididik dan dikembangkan kecerdasan jamaknya lewat metode sentra. Anda bisa mengamati bagaimana tingkat dewa-nya kesabaran guru-guru di sana, bagaimana anak-anak murid Batutis punya karakter yang kuat dalam interaksi sehari-hari di sekolah kepada guru dan murid lainnya. Anda akan terkaget-kaget melihatnya. Jaminan deh! Kalau bisa, kumpulkan beberapa orang, lalu berangkat observasi ke sana. Tentu saja kegiatan ini berbayar karena akan disediakan makan siang dan ada sesi tanya jawab di akhir observasi. Semua keuntungannya diperuntukkan bagi operasional Batutis yang 80% siswanya dari kalangan dhuafa.

Ketika hendak pulang, salah satu pegawai ConocoPhillips memberitahu bahwa di tempat mereka juga ada program CSR untuk pendidikan. Mereka mempersilakan Batutis untuk mengirimkan proposal tentang Batutis. Wah, Bu Siska dan Manda Andin sangat senang mendengarnya. Mudah-mudahan bisa terjadi kerjasama yang apik di masa depan ya, antara ConocoPhilips dan Batutis. Amin.

Terima kasih ConocoPhillips untuk pengalaman yang luar biasa dalam event Corporate Roadshow Batutis. Kami tunggu undangan serial seminar berikutnya. Mari belajar bersama membangun kecerdasan jamak anak dan membentuk karakter kuat mereka lewat metode sentra!

Yuk, kantor lain yang ingin dikunjungi oleh Batutis juga, silakan kontak ke nomor berikut:

Matatiya Taya: 081281304090

Ikhyandini Garindia: 081809602922

Afiqah Bertanggungjawab, Pak Ading!

Tiba-tiba saja malam itu, ada kata-kata yang tak biasa, muncul dari mulut kecil-imut Afiqah: “Afiqah bertanggungjawab, Pak Ading!”

Aneh sekali. Kenapa tiba-tiba lewat telepon genggam Afiqah ngomong seperti itu? Apakah itu kosakata baru yang ingin ia pamerkan padaku? Sejak sekolah di Batutis, Afiqah jadi kaya kosakata. Kosakatanya dari bahasa Indonesia yang sudah jarang terdengar di kehidupan sehari-hari. Misalnya warna orange disebut Afiqah dengan jingga.Lalu ada lagi kata “tidak akurat”, “matanya tidak fokus”, “mau berbagi”, “belum siap”, “Manda, lihat apa yang terjadi” dan lain sebagainya.

Lalu manda Andin menceritakan memang ada masalah. Saat itu, aku sedang berada di foodcourt masjid Darussalam Kota Wisata. Sementara manda Andin, Tante Icoet, dan Afiqah sedang otw ke Kota Wisata, setelah selesai mengantar 3 guru Batutis survey lokasi ke Sentul Fresh.

Afiqah di Sapulidi

Afiqah di Sapulidi

“Apa masalahnya?” tanyaku penasaran.

Manda Andin menjelaskan padaku, bahwa tadi Afiqah yang sedang dalam proses adaptasi untuk tidak pakai pampers, ternyata “kebobolan” pas ditinggal di dalam mobil bersama Tante Icoet. Afiqah ada di posisi di belakang supir. Ia mondar-mandir kesana-kemari sambil bernyanyi. Walhasil, pup-nya yang terdiri dari 2 gumpalan besar-kecil, jatuh mengenai lantai mobil. Untunglah tidak kena kursi, hanya lantai karpet saja. Masih lebih mudah dibersihkan karena bahannya terbuat dari karet yang mudah dicuci.

Manda Andin sempat marah (nada agak meninggi) kepada Apita terkait insiden pup di mobil tersebut. Parahnya lagi, karena ia bergerak kesana kemari, jadilah terinjak dan terseret kesana kemari pula pup tersebut. Mobil jadi bau sangat-lah. Wajar manda Andin rada marah. Afiqah terus bergerak gelisah, meski sudah diperingatkan oleh manda Andin.

Tak berapa lama setelah dimarahi manda Andin, tiba-tiba Afiqah berujar, “Manda, maafkan Afiqah. Afiqah bertanggung jawab. Afiqah mau cuci mobil.” Afiqah tidak mau pulang ke rumah. Ia tetap ngotot mau membersihkan mobil. Termasuk ketika ditawari untuk makan dulu di foodcourt masjid Darussalaam, ia tetap menolak. Ia ingin segera membersihkan mobil. Manda Andin memberitahu opsi bahwa membersihkan mobilnya bisa di tempat cuci mobil.

Ada rasa bersalah dari dalam diri Afiqah ketika ia pup di mobil. Itu point yang bagus yang harus disyukuri menurutku. Ketika Manda Andin mendengar pengakuan Afiqah yang mau bertanggungjawab, seketika itu juga ia meleleh. Sama persis sepertiku yang begitu tahu maksud dari kata-kata Afiqah tentang “mau bertanggungjawab” tadi.

Ternyata, sebagai anak yang dididik dengan metode sentra di Batutis, Afiqah sudah mengenal konsekuensi dari tindakannya. Pelajaran yang sangat berharga. Anak umur 2 tahun 5 bulan, dan ia sudah berani mengakui kesalahannya, dan hendak menebus kesalahannya dengan tindakan kongkret. Perfecto!

Tadinya aku kira aku akan marah juga karena mobil jadi kotor. Tapi, begitu mendengar komitmen yang kuat dan mantap dari Afiqah yang mau membersihkan mobil, tentu aku harus angkat topi terhadap sikapnya itu. Tak banyak anak kecil yang bisa dengan mudah membaca situasi yang terjadi.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, lalu ia mengakuinya, lalu ia berkomitmen untuk melanjutkan tindakan recoverynya, maka rasanya kita sudah tidak perlu lagi pusing untuk marah-marah. Semua masalah sudah solved jadinya. Afiqah dewasa sekali. I love you, nak! Aku juga ikut manda Andin, tak jadi ikutan marah tanpa tentu arah, meski mobil jadi kotor. Poin utama yang jadi pelajaran berharga, keberanianmu mengakui salah, lalu bertanggungjawab membereskan apa yang jadi masalah, itulah inti dari proses kehidupan. Semua masalah muncul, lalu dicari jalan solusinya. Kalau pada kasus afiqah ini, orangtua lanjut marah, buat apa? Marah tidak menyelesaikan masalah karena anaknya sudah bisa baca situasi dan berkomitmen membereskan masalah.

Ini adalah rangkaian tulisan series tentang “Akibat Trial di Batutis”. Terima kasih Allah, terima kasih Bu Siska, terima kasih Batutis, terima kasih guru-guru Batutis yang luar biasa membimbing Afiqah dalam menyuntikkan value dan membentuk karakter. Rasanya hidup jadi enteng jika anak kita mampu membaca situasi sosial, mau bertanggungjawab atas konsekuensi dari tindakannya. Kalau Anda lihat politisi, para pejabat negara sekarang, mereka banyak yang lari dari tanggung jawab. Kalau dia yang salah, cari-cari celah, lempar bola. You know lah siapa yang dimaksud.

Walhasil, setelah makan malam di foodcourt, kami meluncur ke tempat cuci mobil. Tidak tega rasanya kalau Afiqah yang benar-benar mencuci sendiri mobilnya. Hehehehe.

(Masa) Kalah Sama Panci?

Pagi ini aku menuliskan kisah perjuangan tim Batutis menyelenggarakan Seminar Parenting. Tentu belum semuanya yang kami ceritakan. Hanya beberapa saja yang terjangkau oleh radarku. Masih banyak cerita perjuangan dari anggota tim lainnya.

H-5 Seminar Parenting, kondisinya cukup menantang. Kami masih kekurangan 30 seat untuk mencapai angka 100. Memang, banyak yang nanya dan berkomitmen mau datang di hari-H saja alias go show daftar on the spot. Kalau dikalkulasi, jumlahnya mungkin sudah mendekati angka 100. Tapi dari sisi kepastian, itu yang belum bisa dipegang.

Ternyata, mengumpulkan 100 orang untuk ikut seminar parenting, bukan perkara mudah juga di Cileungsi. Cerita dari Nurhablisyah mungkin bisa jadi membuat Anda geleng-geleng kepala. Ketika ia menawarkan seminar parenting kepada ibu-ibu komplek yang sedang arisan, serta merta ibu-ibu menawar harganya agar ada diskon. Khas ibu-ibu yang berprinsip ekonomi garis ketat. Seketat ikat pinggang. “Kalau bisa diskon, kenapa tidak?”, begitu prinsipnya kira-kira. Padahal harga tiket seminarnya hanya Rp 50.000, dan masih ditawar lagi.

Seminar Parenting 7 Maret 2015 @Clubhouse Metland Cileungsi

Seminar Parenting 7 Maret 2015 @Clubhouse Metland Cileungsi

Kalau boleh dikomparasi, tidak ada seminar yang bisa seharga itu. Apalagi untuk pembicara sarat pengalaman yang sudah malang-melintang hampir 10 tahun di pendidikan kaum dhuafa seperti Bu Siska Massardi. Ia sudah kenyang asam-garam kasus kehidupan yang beragam dari peserta didiknya yang sangat complicated. Core competence beliau di bidang praktek meteode sentra di tataran sekolah dhuafa jadi value yang mahal ilmunya. Bu Siska Massardi membuktikan lewat metode sentra bahwa anak-anak dhuafa, jika dipakaikan tools pendidikan yang biasa dipakai di sekolah mahal, ternyata mereka bisa hebat juga kultural kapital-nya. Kok bisa? Nah, itu ilmu yang aku sebut ilmu mahal. FYI, seminar parenting yang hampir-hampir mirip, biasanya harga tiket ada di kisaran Rp 125.000- Rp 175.000.

Begitu Nurhablisyah tidak laku jualan tiket seminar, serta-merta datanglah tawaran lain kepada ibu-ibu di arisan tersebut, masih di tempat kejadian perkara (TKP) yang sama. “Ibu-ibu, siapa yang mau beli panci?…..” begitu kata seorang agen panci menawarkan dagangannya. Lalu serta-merta ibu-ibu tadi menyemut dan langsung pada beli panci yang harganya di kisaran Rp 150.000 – Rp 200.000-an.

Seminar vs Panci skornya: 0-1. Padahal dengan harga Rp 50.000, seminar itu memberikan banyak keuntungan. Selain sertifikat, snack, copy materi, ada juga goodie bag dari Energen dan Wardah. Kurang apalagi coba? Udahlah Rp 50.000, banyak bonusnya pula. Kalau dihitung sebenarnya panitia menyelenggarakan seminar parenting yang orientasinya bukan mencari untung finansial. Bisa dapat untung darimana margin-nya kalau Rp 50.000 lalu dapat fasilitas bonus sedemikian rupa? Anda bisa hitung sendiri. Itu baru keuntungan jangka pendek. Belum lagi kalau bicara keuntungan jangka panjang, tentu secara keilmuan, ada penambahan wawasan bagi Anda dalam mendidik anak agar terbangun kecerdasan jamaknya. Semangat utama penyelenggaraan seminar parenting ini adalah memperluas pemahaman ayah-bunda, ibu guru dan tenaga pendidik tentang bagaimana belajar bersama di dalam keluarga secara menyenangkan. Basis utamanya memakai tools analisis ilmu metode sentra.

Begitulah realita di masyarakat kita. Ketika isu pendidikan yang seharusnya dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk anak dan keluarga besar mereka, justru kalah sama panci. Panci menjadi top priority, sementara pendidikan anak, ada di nomor sekian. Maka, DI SITU KADANG SAYA MERASA SEDIH!!!

Masa Kalah Sama Panci?

Masa Kalah Sama Panci?

Tapi, apakah kesedihan di atas dijadikan alasan untuk menyerah? Tentu tidak. Sebagai orang yang bekerja di tv–dimana kreatifitas adalah modal utama untuk menang– aku malah makin tertantang untuk menaklukkan peserta seminar parenting di masa mendatang. Aku tak ingin menyalahkan ibu-ibu yang cs sama panci. Mungkin saja kami belum mampu mengemas teknik marketing kami dengan lebih menarik. Kami tidak bisa mengontrol faktor eksternal. Kami harus lihat lagi ke internal kami, seberapa siap, seberapa kreatif, seberapa cerdas, seberapa unik, seberapa dahsyat memberitahu acara ini ke khalayak. Di situ “PR” yang sesungguhnya. Kalau kami “lebih menggila” dan “lebih kreatif”, tentu kami bisa mengalahkan panci. Seminar Parenting di Metland ini baru awal dari perjuangan. Once kami sudah dapat pengalaman bagaimana selahnya, apa saja masalah yang akan dihadapi, dan bagaimana alternatif solusi yang bisa dibuat, tentu kami akan jauh lebih siap lagi nanti. Ini baru testing the water, belum apa-apa. Tim kami sangat kecil. Namun dalam waktu kilat sudah bisa dapat sponsor yang branded dan juga banyak yang mau partisipasi memberikan barang/ produk untuk doorprize, tentu itu merupakan catatan prestasi yang menggembirakan juga.

Main Peran

Hari Minggu lalu, aku, Andin, dan Afiqah mencoba menyebarkan flyer ke beberapa tempat. Pertama masjid. Kami pilih masjid Darussalam di Kota Wisata. Alhamdulillah respon orang yang diberi flyer cukup positif. Positif dalam arti apa? Paling tidak, mereka membaca flyernya lalu terlihat antusias. Ada juga yang bertanya balik lebih detail.

Lalu kami pindah ke sebuah cluster yang di depannya sedang ada bazar lelang baju artis. Di sana banyak ibu-ibu yang jualan baju artis, berjilbab, sedang rumpi. Namun, setelah Andin mendekat ke sana, rasanya tak ada chemistry. Orientasi mereka beda. Ditambah seketika itu juga di panggung hiburannya langsung penyanyinya mengajak goyang dumang. Maka, cepat-cepat kami kabur dari sana, sambil aku tutup telinga Afiqah agar tidak kena “lagu racun” itu. Kadang kalau dipikir-pikir secara mendalam, Cita Citata lewat lagunya itu selain merusak logika berpikir, ia juga melakukan kebohongan publik. Perhatikan lirik lagunya:

Ayo goyang dumang

Biar hati senang

Pikiranpun tenang

Galau jadi hilang

Ayo goyang dumang

Biar hati senang

Semua masalah jadi hilang

Kalau kami yang kesulitan mengisi quota peserta seminar parenting, lalu kami bergoyang dumang, rasanya goyang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalah. Masalahnya tidak jadi hilang. Ia akan tetap menjadi masalah. Action sesuai kebutuhanlah yang membuat masalah selesai. Cita Citata lewat lagunya mengajak orang untuk lari dari masalah. Ini sesuatu yang tak diajarkan di Batutis Al-Ilmi. Di Batutis, kalau siswa ada masalah, segera selesaikan, segera bicara! Hanya pengecut yang lari dari masalah. Itu yang dinamakan #sikap dan #karakter.

Destinasi berikutnya kami datang ke rumah sakit Hermina. Kami menitipkan flyer di meja resepsionis beberapa gepok. Kami izin terlebih dahulu ke resepsionis, dan ternyata dipersilakan tanpa masalah. Mudah-mudahan ada ibu-ibu yang tepat sasaran yang membacanya.

Selanjutnya kami jalan ke Giant Metland. Kerumunan manusia melimpah-ruah di sana. Maklum, Tgl 1 Maret, gaji baru turun. Banyak ragam manusia di sana. Kami mengamati mana kira-kira tipikal orang yang concern dengan pendidikan anaknya. Kami hanya memberikan flyer kepada orang-orang yang kami yakini merespon positif. Dari sini kami jadi tahu, bahwa waktu terbaik untuk memberikan flyer adalah ketika orang selesai belanja. Kalau kita berikan sebelum belanja, mereka tidak akan fokus. Fokusnya masih di list belanja yang ingin diselesaikan. Tatapannya jadi kosong pas baru datang.

Kami belajar berempati, bagaimana rasanya menjadi penjaja brosur produk di mal-mal. Bagaimana ditolak, didiamkan, dikacangin, atau bahkan direspon dengan positif. Pengalaman yang luar biasa. Main peran yang bermanfaat sore itu bersama manda Andin dan Afiqah.

Terakhir, kami berkunjung ke rumah trio Nurhablisyah, Imam Dermawan, Bang Farzan. Kami datang dalam rangka membahas urusan teknis di hari-H dan persiapan lainnya. Kami bertemu dengan panitia dari TK Salman Al-Farisi. Orangnya gesit juga. Kami berbagi peran kepanitiaan. Meski tim kecil, tapi Insya Allah solid dan banyak yang mau jadi relawan di saat hari-H. Mudah-mudahan lancar hingga akhir eksekusi di hari Sabtu, 7 Maret 2015. Amin.

Menjadi panitia seminar parenting kali ini benar-benar pengalaman yang seru buat keluarga kami. Liburan kami diisi dengan aktivitas marketing keliling. Sesuatu yang beda, dan belum pernah kami jalani sebelumnya. Tekad kami sudah jelas: Kami tak mau kalah sama panci!

Semoga Allah SWT merestui perjuangan kami. Semangat!!

Aku Iri Padamu, Apita

Apitaku sayang….Aku benar-benar iri padamu…

Pak Yudhistira menuliskan ini di status Facebook-nya….

Komentar Pak Yudhistira

Komentar Pak Yudhistira

Bu Siska juga menuliskan ini di status Facebook-nya…

Status Bu Siska

Status Bu Siska

Sejak melihat beberapa kali fotomu melakukan beragam kegiatan yang bermanfaat di Batutis, aku langsung iri padamu, nak.

Kenapa iri? Pertama, karena aku tak pernah mengenyam TK di masa kecil. Pak Ading langsung masuk SD. Waktu itu, keluarga Pak Ading jumlah anaknya ada 4. Pengeluaran keluarga cukup besar. Jadi, faktor ekonomi juga jadi pertimbangan. TK dianggap bukan prioritas utama. Waktu itu, keluarga Pak Ading berpikir, kalau hanya untuk mengajarkan anak baca-tulis, pasti bisa diajarkan sendiri. Tidak perlu disekolahkan di TK, yang kerjaannya menurut papanya pak Ading waktu itu, isinya hanya main-main saja. Sekarang pak Ading baru sadar, bahwa main-main di waktu kecil itu penting dan harus dijalani sepuas hati. Persis seperti dirimu di Batutis sekarang ini: main sepuasnya. So, please enjoy ya nak di Batutis.

Kedua, aku iri padamu Apita, karena aku tak pernah merasakan sekolah se-keren Batutis Al-Ilmi di Bekasi. Sekolah perjuangan dengan kurikulum paten punya. Kurikulum yang menerapkan metode sentra, untuk mengembangkan kecerdasan jamakmu kelak.

Industri-mu (daya juang) terus dilatih; konsentrasi-mu mulai terbangun; kesabaran-mu mulai hadir; daya kritis dalam berpikir-bertanya-mu mulai muncul; gaya Bahasa-mu yang SPOK (Subjek Prediket Objek Keterangan), membuatku tersenyum mendengarnya; kedewasaan-mu yang seperti orang tuir; kasih sayang-mu yang keluar secara spontan dan membuatku meleleh; semuanya lahir karena ada kurikulum yang tepat di Batutis dan pendampingan dari Manda Andin yang super telaten.

Kredit poin dan ucapan terima kasih tak lupa aku sampaikan kepada guru-guru pejuang di Batutis, yang mengajar dengan sepenuh hati, membangun karakter kuat pada siswanya. Kepada Bu Siska-Pak Yudhistira yang telah menginisiasi lahirnya sekolah Batutis, terima kasih. Para pengurus dan tim support Sekolah Batutis (Koki, Seksi Sibuk, TU, dan lain-lain), terima kasih. Semua yang ada di Batutis deh pokoknya, terima kasih banyak. Bapak-ibu-adek-dan semua pembaca blogku bisa lihat video tentang Batutis di youtube. Sudah sangat sering masuk tipi lho Batutis. Mulai dari Indosiar, KompasTV, NetTV, ANTV, MNCTV, dan lain-lain.

Sekolah ini juga menunjukkan arti sebenarnya dari sekolah inklusif. Sekolah yang terjadi interaksi yang natural antara siswa dari latar belakang ekonomi berkekurangan (80%) dengan siswa berlatar ekonomi berkecukupan (20%). Mereka berinteraksi dalam harmoni dan saling menghargai, tidak membeda-bedakan, apalagi sampai saling ejek-mengejek.

Bukan itu saja, di Sekolah Batutis juga menerima murid yang berkebutuhan khusus. Down Syndrome, Autis, terlambat tahap perkembangannya, dan lain sebagainya. Hebatnya lagi, siswa yang lain malah sangat sayang kepada mereka yang berkebutuhan khusus. Bahkan, secara otomatis, ada saja siswa yang merelakan dirinya “menjaga” siswa berkebutuhan khusus tersebut. Pak Ading tidak pernah melihat ketulusan orang lain (anak kecil) membantu temannya yang berkekurangan, kecuali di Batutis. Cinta yang tulus dari seorang teman. Ah, so sweet.

Koki Cilik Beraksi

Koki Cilik Beraksi di Batutis Al-Ilmi

Ketiga, aku iri padamu Apita, karena jika kecerdasan jamakmu dibangun terus-menerus seperti sekarang, aku tak bisa bayangkan akan seberapa optimal potensi kecerdasanmu, dan seberapa besar dampaknya untuk dirimu, dan lingkunganmu kelak. Syukur-syukur dampaknya bisa lebih luas ke level negara. Aku bicara begini bukan hanya membayangkan dirimu, nak. Tapi juga teman-teman di sekolahmu juga, kakak kelasmu yang di SD juga, para alumni Sekolah Batutis juga. Mereka benar-benar terbangun kecerdasan jamaknya, dan mudah-mudahan bisa mengubah Indonesia dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga mereka sendiri. Mereka harus jadi agen perubahan bagi keluarga mereka. Keluarga mereka harus jadi keren nantinya. Mereka yang mengangkat harkat-martabat-derajat keluarga mereka masing-masing.

Pak Ading sudah 2 kali melihat proses belajar di SD. Dalam observasi singkat itu, suasana belajar di Batutis itu memberikan suasana bebas, riang-gembira dalam belajar bagi siswanya. Di sekolah seperti tidak ada tekanan/ tuntutan yang berat. Belajar membaca puisi, ya bebas. Mau belajar memasak, ya langsung praktek. Batutis memberikan sarana siswanya untuk lebih ekspresif, tidak ditahan-tahan, apalagi malu-malu.

Meskipun kamu masih kelas Toddler, ternyata kamu bisa diajak kerjasama dalam memasak. Anak kecil pun ternyata jika kita selaku orang dewasa mampu mengomunikasikan informasi dengan baik, ternyata bisa diserap dengan optimal juga kok. Itu hebatnya sistem di Batutis. Segala sesuatu harus dikomunikasikan. Jika ada masalah, maka bicara. Bicara adalah salah satu cara menyelesaikan masalah. Sebaliknya, menangis tidak akan menyelesaikan masalah.

Alhamdulillah, setiap Afiqah nangis, kita dorong agar ia mampu mengomunikasikan apa yang ditangisinya, sehingga masalahnya bisa segera ditangani. Banyak anak yang menangis tanpa mau bicara apa akar masalahnya. Sehingga ia menangis sepanjang jalan, membuat orangtuanya jengkel, dan bahkan ia sampai menghardik, mencubit, atau memukul anaknya agar diam. Lebih parahnya lagi, supaya anaknya diam, si orangtua menakut-nakutinya dengan sesuatu yang salah kaprah, “Itu ada polisi….ih takut…nanti mau ditangkap polisi? Kalau nggak mau makan, ditangkap polisi..ayo makan..ih itu ada ambulance. Nanti dimasukkan ambulance, disuntik dokter…ayo makan..”

Dengan kemampuan berani mengungkapkan apa yang ada di pikiranmu nak, bisa dibayangkan, jika nanti kamu atau teman-temanmu menjadi politisi, kamu tidak akan mudah mutung. Kamu akan bicara jika ada masalah. Kamu dan teman-temanmu tidak akan memendam dendam tujuh turunan seperti Megawati ke SBY, karena kamu mengedepankan BICARA. Ya, bicara-lah yang menyelesaikan masalah. Kamu tidak akan seperti Pak Jokowi yang tidak berani terus terang kepada Megawati dalam polemik Kapolri. Jika ia tak sepakat dalam pemilihan KAPOLRI, ia akan bicara, karena bicaralah yang akan menyelesaikan masalah. Ia takkan sempat memilih “barang busuk”, yang mengakibatkan konflik POLRI-KPK berlarut-larut hingga membesar seperti saat ini.

Penutup

Kalau berkaca pada diri Pak Ading, rasanya aku banyak bolong-bolongnya proses tahap perkembangan diri dari masa kecil. Sehingga, aku merasa belum mengembangkan semua potensi di dalam diri secara optimal. Hal ini tentu tak boleh terjadi padamu nak. Ini kuberitahu sejak awal agar kau paham betul, bahwa dirimu ada di track yang tepat dan harus bersyukur atas itu.

Atas keirianku itu, aku dan manda Andin bertekad untuk membantu Batutis demi memperluas lagi informasi tentang Metode Sentra yang digarap oleh Batutis Al-Ilmi, agar banyak anak-anak Indonesia yang bisa mengenyamnya juga. Kalau bisa, makin banyak orangtua yang sadar tentang kesalahan-kesalahan fatal mereka ketika melakukan drilling terhadap anaknya dengan semena-mena. Mereka kerap memaksa anaknya agar cepat bisa membaca-menulis-berhitung. Mereka lupa, bahwa membentuk karakter yang kuat sebenarnya lebih utama daripada apapun. Itu yang harus dijadikan dasar pembangunan utama seorang anak. Drilling anak-anak untuk mampu membaca-menulis-berhitung, sebenarnya bisa dikebut dalam hitungan bulan. Itu bukan perkara sulit. Tapi, membentuk karakter agar ia berani bicara, sopan-santun, mampu membedakan mana tindakan yang kasih-sayang, mana yang anarkis, itu butuh pondasi mendasar. Kalau telat meng-install-nya, maka wassalam deh.

Mudah-mudahan semakin banyak orang yang tertarik mendaftar jadi Relawan untuk Batutis. Apapun jabatan, profesi, kemampuan, skill yang Anda punya, silakan disumbangkan ke Batutis, agar ilmu yang dibangun di Batutis bisa tersebar lebih cepat dan lebih luas ke masyarakat se-Indonesia. Ada teman Pak Ading, Wahyu Awaludin namanya (Digital Media Strategist), mau bergabung menyumbangkan perannya membantu Batutis dalam social campaign. Ada juga Adhe Alfan Nafi (Pengusaha Online) yang juga bersedia menyumbangkan waktu dan masukan untuk pengembangan Batutis ke depan. Ada juga Nurhablisyah, seorang dosen Komunikasi Visual yang membantu pembuatan video teaser tips dari Batutis untuk ditampilkan di Youtube. Ada Mas Imam yang menyumbangkan waktu dan tenaganya untuk mengelola channel Youtube Batutis. Nah, Anda juga berminat jadi relawan Batutis? Sila mention di twitter saya: @pukul5pagi atau kirim pesan ke: umarat.adlil@gmail.com

Semoga bisa jadi amal jariyah Anda kelak di hari akhir. Amin.

Alamat Sekolah Batutis Al-Ilmi:

Pondok Pekayon Indah Blok BB 29 No. 6
Jl. Pakis V B, Pekayon Jaya, Bekasi Selatan 17148
Telp. 021. 9827.3077 / 0813.8842.0811 (Yudhistira Massardi)

Fax 8206326, email: siskatkbatutis@yahoo.com / ymassardi@yahoo.com

childhoodoptimizer

"Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!"

One's Blog

Ucapan berhamburan - Tulisan akan bertahan

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Ollie dan Dunianya

"I read, I travel, and I become"

penjelajahmimpi

Terus menjelajahi mimpi, karena semua berawal dari sini

Chae's Blog

Life begins at the end of your comfort zone

Muhammad Jhovy Rahadyan

Be The Best Of Ourself

Ardisaz

Talk about Tech, Startup, Gadget, Travel, and My Daily Life

Kiki Barkiah

Ummi diary

Zaky Amirullah

Merapikan Serpihan Hikmah

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Pusat Refill Toner

Refill Toner Di Tempat

Febri Photography

Kadang keindahan diawali oleh kegilaan

dinysullivan92

This Is My Life

Tentang Hidup

Hidup sekali, Hiduplah yang berarti..

Seorang Pemuda Pendamba Ridho Ilahi

Pecinta Dzikir dalam Alunan Fikir

SilentManifest

Don't Trust Me. I'm not a Writer

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

Stev_vannie's blog

Apalah Arti Sebuah Kata

literasi . seni . lestari

untaian patahan kata bertaut menjadi narasi beresensi

direizz

Just another WordPress.com site

Komunitas Ngéjah

Desa Sukawangi - Kec Singajaya - Kab Garut

NANDA PRINTING DAN PERCETAKAN RAWAMANGUN – JAKARTA

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

sihaik

This WordPress.com site is the bee's knees

Azinuddinikrh's Blog

barangkali kau benar, hanya malaikat dan gemericik air lah yang dapat membawaku pergi berlalu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Kicau Kaki

Melangkah, memotret, menulis

serbaserbitoyota

information & news

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Yanto Musthofa

In this very short journey home, I dare not to dream of making a difference. The world is going to have a marker that I've ever been growing in it... that's all I have to dream of.

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Rindrianie's Blog

Just being me

Martina Nofra Panai

InsyaAllah 2017

SanWa Journeys

by Sandrine Tungka

rizasaputra

tempat kuring ngacapruk

Moh Darodjat

Muhammadiyah Gerakanku

Ruli Blogger

Wordpress.com

Life Journey

Catatan Perjalanan Kehidupan

JaTiara

A Diary To Review & Share My Random Memories

CCTV, AC, GPS, PABX, Brankas, Pemadam Api, JAMBI

Safety Spesialis, Bengkel Mobil, Material Bangunan, Jambi 0741-7350248, 085216881144

Imaji Tiada Batas!

Hidup sederhana, berkarya luar biasa.

Ridwanologi

Ruang Pandang Ridwan Aji Budi Prasetyo

De Dinis Stories

Si Sulung yang selalu beruntung

unspoken mind

if you can't tell, just write